NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: DUO LAMBE TURAH RT 04

Satu per satu warga RT 04 mulai beranjak dari karpet bulu hijau lumut itu. Suara gesekan kaki meja dan langkah sandal jepit yang beradu dengan lantai teras menandakan bahwa malam yang panjang ini akhirnya usai. Pak Slamet, sang lurah, tampak menjabat tangan Aldi sekali lagi dengan senyum formal sebelum akhirnya melangkah keluar halaman sambil menuntun sepedanya.

"Mari, Bu RT Jasmine. Terima kasih banyak gorengan dan tempatnya," pamit beberapa bapak-bapak ronda sambil mengangguk sopan.

"Sama-sama, Pak. Hati-hati di jalan," jawab Jasmine lembut. Ia berdiri di ambang pintu, masih setia menggendong Nadeo yang matanya sudah sayu, setengah mengantuk sambil memeluk robot patahnya.

Aldi sendiri sengaja memperlambat langkahnya. Ia pura-pura sibuk membetulkan letak jam tangannya, lalu sengaja menoleh ke arah Jasmine dengan senyum selebar jalan tol. "Saya pamit dulu ya, Bu RT. Kalau besok jadwal kerja bakti perlu disiapin apa-apa, langsung chat saya aja. Nomor saya kan ada di grup Karang Taruna, atau kalau mau di-pin juga boleh," celetuk Aldi, tebar pesona tipis-tipis.

Jasmine hanya terkekeh pelan, mengangguk maklum. "Iya, Mas Aldi. Terima kasih ya buat malam ini."

"Diem lu, Pak Ketua! Malah nyari kesempatan dalam kesempitan!" bisik Kenan sambil merangkul leher Aldi dari belakang dan menarik paksa sahabatnya itu agar berjalan keluar halaman. Sendy mengikuti dari belakang sambil tertawa mengejek, meninggalkan Aldi yang hanya bisa misuh-misuh pasrah karena momen indahnya diganggu.

Namun, ketenangan di halaman rumah Jasmine tidak bertahan lama. Baru saja melangkah sekitar sepuluh meter dari pagar, langkah kaki Bu Baren mendadak tertahan. Lengan bajunya ditarik dengan sentakan pelan namun bertenaga. Siapa lagi kalau bukan duo agen intelijen RT 04, Bu Ratna dan Bu Widuri. Kedua wanita itu langsung memosisikan diri di kiri dan kanan Bu Baren, membentuk formasi lingkaran kecil di bawah temaram lampu tiang listrik jalanan komplek.

"Jeng Baren! Jeng, tunggu dulu dong, buru-buru amat sih jalan kayak dikejar tukang bank keliling," bisik Bu Ratna dengan volume suara yang sengaja ditahan, namun matanya melotot heboh.

Bu Baren menghentikan langkah, menoleh dengan dahi berkerut. "Ada apa toh, Jeng Ratna? Ini si Bapak udah jalan duluan di depan, saya mau buru-buru pulang, kaki udah pegel nih."

"Aduh, Jeng Baren ini gimana sih, kok tenang-tenang aja," timpal Bu Widuri, ikut memanaskan suasana sambil mengibas-ngibaskan jilbab instannya yang sewarna dengan kunyit. "Jeng Baren gak liat tadi kelakuan anak bujang si Aldi? Itu si Aldi matanya mau copot ngeliatin si Jasmine dari awal rapat sampai akhir! Mana pas salaman tadi, waduh... saya hitung ada kali lima detik gak dilepas-lepas tangannya si Jasmine. Jeng Baren harus hati-hati, jangan sampai anak bujangnya yang masih polos itu malah kecantol sama janda muda begitu!"

"Betul itu, Jeng!" sahut Bu Ratna bersemangat, seolah mendapat amunisi baru. "Si Jasmine itu kan dari dulu udah miring. Yatim piatu, gak jelas asal-usul keluarganya, terus dulu pas nikah sama almarhum suaminya kan kabarnya karena sudah 'isi' duluan. Makanya punya anak segede si Nadeo sekarang. Perempuan bentukan begitu mah pinter banget nyari mangsa, apalagi si Aldi kan anak kuliahan, masa depannya masih panjang. Jangan sampai dapet bekas orang, apalagi modelan begitu!"

Mendengar rentetan kalimat beracun itu, dada Bu Baren mendadak terasa sesak. Wajahnya yang semula biasa saja kini mulai berubah tegang. Pikiran sebagai seorang ibu langsung berkecamuk. Apa yang dikatakan duo lambe turah ini memang sempat melintas di kepalanya tadi saat di dalam rumah. Logika Bu Baren mulai goyah, termakan hasutan.

Namun, sebelum Bu Baren sempat mengeluarkan sepatah kata pun, sebuah suara berdeham keras terdengar dari arah belakang mereka.

"Ehem! Ibu-Ibu, kalau mau bikin komite ghibah nasional jangan di tengah jalan dong, menghalangi jalan orang mau pulang tahu," sindir Mbak Catur yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka sambil meninjing tas belanjaan berisi sisa kue apem.

Bu Ratna dan Bu Widuri langsung memutar tubuh mereka, memasang wajah defensif. "Lho, Jeng Catur, kita kan cuma lagi ngobrol santai, kok sewot sih?" dengus Bu Ratna.

Mbak Catur melangkah maju, posisinya kini sejajar dengan Bu Baren. Ia menatap Bu Ratna dan Bu Widuri dengan pandangan lurus tanpa rasa takut.

"Bu, tolong ya, jangan suka memfitnah orang. Lagi pula tentang gosip Bu Jasmine dan masa lalunya itu, dia tidak pernah mengiyakan hal itu terjadi ke telinga bapak-bapak atau ibu-ibu di sini. Itu kan cuma isu yang sengaja ditiup sama orang-orang yang sirik aja," ujar Mbak Catur dengan nada suara yang tenang, membuat suasana di bawah lampu jalan itu mendadak hening.

Bu Widuri hendak memotong, namun Mbak Catur dengan cepat mengangkat telapak tangannya, mengisyaratkan agar wanita berkunyit itu diam dulu.

"Kalau dilihat-lihat selama dua tahun ini, Bu Jasmine itu orangnya biasa-biasa saja dan ramah sama semua warga. Cara pakaiannya juga sopan, dasteran ya daster rumahan biasa karena dia punya anak balita yang lagi aktif-aktifnya. Bukan gatal kayak kembang desa sebelah itu, si Irene! Nah, kalau si Irene itu baru gatal, tiap sore bedakan tebal-tebal nangkring di depan gang nungguin suami orang lewat. Kenapa bukan si Irene aja yang diomongin?" cecar Mbak Catur.

Bu Ratna mendengus remeh. "Halah, Jeng Catur mah selalu aja belain si Jasmine. Emang ada hubungan apa sih?"

"Saya bukan maksud membela," potong Mbak Catur cepat, matanya kini beralih menatap lurus ke arah Bu Baren yang sejak tadi hanya diam menyimak. "Tapi kita semua harus sesuai fakta, Bu. Bu Jasmine itu orang berpendidikan tinggi, dia itu lulusan sarjana akuntansi dari universitas negeri terkenal, makanya pembukuannya rapi dan dipercaya sama Pak Lurah. Mana mungkin juga perempuan berpendidikan tinggi dan mandiri seperti dia punya kelakuan rendahan seperti yang kalian gosipkan itu. Pikir pakai logika dong."

Kalimat terakhir dari Mbak Catur seolah menghantam tepat di ulu hati Bu Baren. Wanita paruh baya itu tertegun. Kata-kata tentang "berpendidikan tinggi" mendadak membuka sudut pandang lain di kepala Bu Baren. Sebagai seorang ibu, dia tentu protektif pada Aldi, tapi dia juga tahu bahwa Jasmine selama menjabat sebagai ketua RT tidak pernah sekalipun membuat masalah di lingkungan, bahkan iuran warga dikelola dengan sangat transparan tanpa ada duit yang kurang sepeser pun.

Bu Baren menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan. Ketegangan di wajahnya perlahan mencair. Ia menatap Bu Ratna dan Bu Widuri bergantian dengan pandangan yang kini jauh lebih jernih.

"Betul juga kata Jeng Catur," ucap Bu Baren akhirnya, membuat Bu Ratna dan Bu Widuri langsung melotot tidak percaya. "Memang kayaknya kita ini yang terlalu sensitif dan gampang kemakan omongan orang, Ibu-Ibu. Si Jasmine itu selama ini kalau ketemu saya di tukang sayur juga selalu cium tangan, sopan banget. Masalah Aldi yang ngeliatin dia terus tadi... ya namanya juga anak muda baru puber, liat perempuan cantik ya pasti matanya jelalatan. Bukan salah si Jasmine-nya."

Mendengar respons Bu Baren yang justru berbalik arah, wajah Bu Ratna langsung berubah masam, sementara Bu Widuri mendecak kesal di dalam hati. Harapan mereka untuk melihat Bu Baren ngamuk dan melabrak rumah Jasmine malam ini runtuh total.

"Ah, Jeng Baren mah gampang banget diyakinin sama omongan Jeng Catur," cibir Bu Ratna sambil melipat kedua tangannya di dada, memalingkan muka dengan angkuh. "Ya sudah kalau gak mau dengerin peringatan kita. Nanti kalau si Aldi beneran minta kawin sama janda muda, jangan nangis-nangis datang ke rumah saya ya!"

"Iya, terserah Jeng Baren sajalah. Kita kan cuma niatnya mengingatkan sesama anggota PKK," timpal Bu Widuri dengan nada ketus yang kentara banget. Bukannya sadar atau merenungkan ucapan Mbak Catur, kedua dedengkot gosip komplek itu justru malah merasa harga diri mereka diinjak-injak. Jiwa julid mereka bukannya padam, malah makin membara.

Tanpa pamit dengan sopan, Bu Ratna dan Bu Widuri langsung membalikkan badan mereka serempak, berjalan cepat meninggalkan Bu Baren dan Mbak Catur dengan langkah kaki yang sengaja dihentak-hentakkan ke aspal tanda dongkol setengah mati.

"Dih, dibilangin yang bener malah ngambek," gumam Mbak Catur menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan duo lambe turah tersebut. "Sabar ya, Jeng Baren. Mulut mereka berdua itu emang perlu disumpal pakai keset keset komplek sepertinya."

Bu Baren hanya tersenyum tipis, agak getir. "Iya, Jeng Catur. Makasih ya sudah diingatkan. Saya duluan ya, si Bapak pasti udah nyariin di rumah."

"Mangga, Jeng Baren."

Bu Baren pun melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda menuju rumahnya yang berada di ujung gang. Sepanjang jalan yang sepi, pikirannya tidak bisa berhenti berputar. Di satu sisi, dia lega karena Jasmine ternyata tidak seburuk yang digosipkan orang-orang. Namun di sisi lain, naluri keibuannya tetap menaruh sedikit rasa cemas. Dia tahu betul watak anak bujangnya, Aldi. Kalau Aldi sudah menyukai sesuatu atau seseorang, anak itu bakal mengejarnya sampai dapat dengan segala cara yang kadang di luar nalar.

Beneran naksir si Jasmine kah si Aldi? batin Bu Baren cemas sambil membuka pagar rumahnya yang berdecit pelan.

Sementara itu, di bawah lampu tiang listrik yang jaraknya sudah agak jauh, Bu Ratna dan Bu Widuri rupanya belum bener-bener pulang ke rumah masing-masing. Mereka sengaja berhenti di dekat belokan pos ronda yang sepi untuk melanjutkan misi julid mereka yang sempat terputus.

"Sumpah ya, Jeng Widuri, saya gedek banget sama si Catur tadi! Sok suci banget bawa-bawa masalah pendidikan tinggi segala!" omel Bu Ratna dengan nada berbisik tapi penuh penekanan.

"Sama, Jeng! Kesal saya dengarnya. Mau sarjana kek, mau profesor kek, yang namanya janda kembang dasteran ketat di depan bapak-bapak mah tetep aja tujuannya pamer!" sahut Bu Widuri berapi-api, memanas-manasi. "Lagian Jeng Ratna liat gak sih, tadi pas rapat ditutup, pas si Jasmine jalan ke dapur, pinggulnya itu sengaja digoyang-goyangin gitu. Genit banget, ih, najis saya liatnya!"

"Nah, bener kan! Berarti mata saya gak salah liat!" balas Bu Ratna kegirangan karena mendapat sekutu yang sepemikiran. "Awas aja ya, kita pantau terus itu rumah si Jasmine. Apalagi si Aldi sekarang udah sah jadi Ketua Karang Taruna. Pasti bakal ada aja alasan itu berondong buat bolak-balik datang ke rumah si Jasmine dengan alasan 'koordinasi kegiatan'. Kita lihat aja, sepintar-pintarnya bangkai disimpan, pasti bakal tercium juga baunya!"

Kedua wanita itu saling melempar senyum penuh kelicikan di kegelapan malam, bersiap menyusun strategi baru untuk mengawasi setiap gerak-gerik sang Bu RT idaman komplek dan berondong bucinnya. Mereka tidak tahu saja, bahwa perang gosip di RT 04 ini baru saja resmi dimulai.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!