Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASA PINGIT DAN ACARA PENGAJIAN
Waktu berjalan begitu cepat, seolah berlari kencang meninggalkan hari-hari yang mereka lewati bersama. Setelah pertengkaran beberapa waktu lalu, Angkasa benar-benar menepati janjinya.
Dia mengatur waktu dengan sangat rapi, membagi tugas antara pekerjaan dan persiapan pernikahan dengan sempurna. Tak ada lagi kekecewaan, tak ada lagi keraguan. Angkasa selalu ada di sisi Arum, menemani ke mana saja, memastikan setiap detail sesuai keinginan calon istrinya itu.
Dan kini, tanpa terasa, segalanya sudah selesai. Dekorasi pelaminan sudah dipesan dan desainnya sudah disetujui, baju pengantin untuk mereka berdua sudah pas dan indah, katering untuk ratusan tamu sudah dikonfirmasi, tenda-tenda besar sudah siap didirikan, undangan sudah disebar, dan semua perlengkapan rumah tangga sudah tertata rapi. Tak ada lagi yang kurang, tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
Tinggal hitungan jari. Tiga hari lagi, Angkasa dan Arum akan resmi bersatu di hadapan Tuhan, keluarga, dan orang banyak.
Namun, masuk ke hitungan hari terakhir ini, adat dan kebiasaan orang tua mulai berlaku. Sesuai saran Pak Bimo, Bu Saras, juga Bapak dan Ibu Dewa, Angkasa dan Arum tidak boleh bertemu lagi sampai hari H pernikahan tiba. Mereka harus menjalani masa pingit.
Tujuannya sederhana, agar kedua mempelai bisa istirahat cukup, menenangkan hati dan pikiran, serta menjaga kesakralan momen pertemuan pertama mereka nanti di pelaminan menjadi lebih istimewa dan berkesan.
Bagi Arum, masa pingit ini terasa berat. Dia yang selama ini sudah terbiasa ditemani suara Angkasa, ditemani canda tawanya, atau sekadar ditemani tatapan lembutnya, tiba-tiba harus berhari-hari tanpa melihat wajah itu sama sekali.
Di rumah, Arum hanya bisa diam di kamarnya, atau duduk di beranda belakang, menatap kosong ke halaman, sambil menahan rasa rindu yang makin lama makin memuncak. Pesan singkat dan telepon masih diperbolehkan, tapi rasanya tetap berbeda. Mendengar suara Angkasa lewat telepon justru membuatnya makin ingin berlari ke rumah laki-laki itu dan memeluknya erat.
"Mas... Kamu lagi apa? Pasti lagi kangen juga ya sama aku?" tulis Arum di pesan singkat, lalu menunggu balasan dengan jantung berdebar.
Tak lama kemudian balasan masuk: "Banget, Sayang. Rasanya tiap detik ini kayak sehari rasanya. Sabar ya, tinggal tiga hari lagi. Nanti pas hari H, aku bakal tatap kamu sepuasnya, bakal peluk kamu seharian penuh. Istirahat yang cukup ya cantiknya mas, jaga kesehatan, biar nanti pas hari H kamu jadi pengantin paling cantik."
Membaca pesan itu, Arum tersenyum sendiri sambil mengusap air mata yang menetes. Rasa rindu ini ternyata berat sekali, tapi rasa bahagia menanti hari itu jauh lebih besar.
Di sisi lain, Angkasa pun merasakan hal yang sama. Di rumahnya yang kini sudah diperbaiki dan ditata ulang menjadi tempat tinggal baru yang layak untuk dihuni berdua. Angkasa juga banyak menghabiskan waktu dengan diam dan merenung.
Dia sering kali berdiri di depan cermin, melihat tato nama Arum di lengannya, tersenyum sendiri membayangkan bagaimana nanti nama itu akan melekat selamanya bersatu dengan dirinya. Dewa sering datang menemani, mengajak ngobrol atau sekadar duduk diam, tahu betul sahabatnya itu sedang menahan rasa rindu yang luar biasa.
Dan pagi itu, tepat tiga hari sebelum hari pernikahan, suasana di rumah Arum berubah menjadi sangat ramai, khidmat, dan penuh makna.
Sudah menjadi tradisi dan kebiasaan di sana, menjelang hari bahagia akan diadakan acara Pengajian dan Tahlilan. Acara ini bertujuan untuk memohon keberkahan, memanjatkan doa bersama agar segala urusan dimudahkan, serta sebagai bentuk sedekah dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia yang telah diberikan.
Sejak pagi buta, Bu Saras sudah sibuk di dapur bersama para tetangga dan kerabat wanita yang datang membantu. Aroma masakan yang lezat dan harum menyebar ke seluruh penjuru rumah. Di halaman depan, tenda sudah dipasang sebagian, kursi-kursi berbaris rapi menunggu kedatangan para tamu undangan yang terdiri dari tetangga sekitar, kerabat dekat, serta para tokoh agama dan pemuka masyarakat desa.
Pukul delapan pagi, tamu mulai berdatangan. Suasana menjadi hangat dan akrab. Saling menyapa, saling bertukar kabar, disambut dengan senyum ramah dari Pak Bimo dan Bu Saras yang berdiri di depan rumah.
Arum sendiri, sebagai calon pengantin wanita, duduk di ruang tengah yang sudah dipasangi tirai pembatas. Dia duduk bersila dengan sopan, mengenakan pakaian yang sederhana namun tertutup rapi dan anggun, ditemani oleh Bu Saras dan para bibi serta kerabat wanitanya. Dia tidak ikut berbaur langsung di hadapan tamu, tapi tetap berada di sisi sebagai pusat doa.
Di sisi lain, meski tidak boleh bertemu, Angkasa juga ada di sana. Dia duduk di barisan paling depan di sisi laki-laki, didampingi oleh Bapak dan Ibu Dewa yang berdiri sebagai wali dan keluarga pengganti, serta Dewa yang duduk tepat di sebelahnya. Angkasa duduk dengan tenang, menundukkan pandangan, hatinya penuh rasa syukur dan haru. Rasanya luar biasa, melihat begitu banyak orang berkumpul hanya untuk mendoakan kebahagiaannya dan kebahagiaan Arum.
Acara pun dimulai. Dipimpin oleh Pak Modin dan para tokoh agama, suara lantunan ayat suci Al-Qur'an, shalawat, dan doa bergema lembut namun penuh kekuatan di udara. Suasana menjadi hening, khidmat, dan damai. Setiap kata doa yang terucap, setiap harapan yang dipanjatkan, seolah menembus langit, memohon agar rumah tangga yang akan dibangun Angkasa dan Arum nanti menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
Di balik tirai, Arum memejamkan matanya, mengaminkan setiap doa yang terdengar. Air mata haru menetes pelan di pipinya. Ia merasa sangat beruntung, sangat dicintai, dan sangat diberkahi. dia teringat perjalanan panjang mereka, mulai dari pertemuan tak terduga, kesalahpahaman, rasa rindu, pertengkaran, hingga akhirnya sampai di titik penuh berkah ini.
Di luar tirai, Angkasa juga merasakan getaran yang sama. Saat doa dipanjatkan agar Angkasa menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab, yang bisa membimbing dan menyayangi istrinya, serta agar Arum menjadi istri yang sholehah, penurut, dan bahagia... hati Angkasa bergetar hebat. dia mengusap wajahnya dengan tangan, menahan rasa haru yang meluap. Ia berjanji dalam hatinya, di hadapan Tuhan dan semua orang yang mendoakan, ia akan menepati segala janjinya. Ia akan menjaga Arum lebih dari nyawanya sendiri.
Acara pengajian dan tahlilan itu berlangsung hingga siang hari. Setelah doa selesai, dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan penutup, lalu ditutup dengan jamuan makan siang yang disajikan dengan penuh rasa syukur. Semua tamu tampak gembira, banyak yang mendatangi Pak Bimo dan Bu Saras untuk memberi selamat, serta menyapa Angkasa yang tampak tenang dan berwibawa.
Bapak Dewa menepuk bahu Angkasa dengan bangga. "Sudah dekat ya, Nak. Tinggal sedikit lagi. Semua doa baik sudah terkumpul. Kamu anak baik, pantas dapat kebahagiaan ini. Jaga baik-baik amanah ini ya."
Angkasa mengangguk dalam, menatap mata Bapak Dewa dengan penuh rasa terima kasih. "Siap, Pak. Terima kasih untuk semuanya. Tanpa Bapak, tanpa Ibu, tanpa Dewa, saya mungkin gak akan sampai di titik ini."
Siang itu berlalu dengan penuh berkah. Namun, aturan masa pingit tetap berlaku. Setelah acara selesai dan tamu pulang, Angkasa harus kembali ke rumahnya, meninggalkan rumah Arum. Sebelum pergi, ia sempatkan berdiri sejenak di depan beranda, menatap ke arah jendela kamar Arum yang tertutup tirai. Ia tahu, di balik jendela itu, Arum sedang menatapnya juga.
Hanya tatapan itu yang bisa mereka saling tukar, tatapan yang penuh arti, penuh rindu, dan penuh janji.
"Tiga hari lagi, Sayang... Tunggu aku," batin Angkasa sebelum akhirnya berbalik badan melangkah pergi.
Dan di dalam kamar, Arum mengusap air matanya, tersenyum manis. "Tiga hari lagi, Mas... Aku siap menunggu."
Masa pingit ini memang berat, tapi mereka tahu, rasa rindu ini akan menjadi hadiah terindah saat mereka bertemu kembali nanti, di hari paling indah dalam hidup mereka.