NovelToon NovelToon
Milly Sang Pelihat Terakhir

Milly Sang Pelihat Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mata Batin / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Kehidupan Milly yang tenang di sebuah kota kecil, Glenmore, perlahan mulai berubah menjadi mencekam. Perburuan demi perburuan mengejarnya. Ia harus lari, sejauh mungkin dari rumah, menjauhkan dari nenek Dorothy. Nenek yang mengadopsinya dari panti asuhan.
Pelarian demi pelarian membawanya ke sebuah misteri hidup yang selama ini ia pertanyakan. Siapa dirinya? Darimana asalnya? Kenapa ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang sekitarnya? Mengapa mereka mengejarnya?

Akankah takdir akan membawa Milly menemukan jawaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Tarikan Benang Merah dari Tangan Terluka

Milly terpaksa bangun lebih pagi demi berangkat lebih awal hari ini. Semalam sepedanya tertinggal di hutan. Ia sengaja tidak mencari dan mengambilnya saat hendak pulang. Bagaimanapun ia tidak mungkin mempertaruhkan nyawanya sendiri demi sepeda. Mempertahankan hidup jauh lebih penting daripada harus kehilangan harta benda--ini prinsip yang tidak bisa ditawar baginya.

Udara pagi itu sungguh sejuk. Kabut dan embun masih menyelimuti daerah pinggiran kota. Milly harus berjalan kaki setidaknya 45 menit ke sekolah. Karena rumahnya ada di pinggir kota, sedang sekolah ada di pusat kota.

Rumah itu peninggalan Kakek Arman. Dinding kayu dihiasi ornamen-ornamen hasil kerajinan penduduk dusun. Rumah bergaya vintage dan pegunungan yang kental berasimilasi menjadi satu.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan Wayne dan Alletta. Mereka juga jalan kaki seperti dirinya.

"Kemarin kau kemana?" tanya Alletta tanpa basa-basi begitu melihat Milly mendekat.

"Aku pulang duluan," kata Milly tak berminat bercerita ulang kejadian yang menimpa dirinya.

"Kukira kau kemarin marah karena kata-kataku," celetuk Wayne ikut bergabung dalam percakapan mereka.

Milly menoleh ke arah Wayne. Wajahnya memang cakep, tapi ucapannya sejauh ini selalu bikin jengkel dirinya berkali-kali. Dan sejak kapan ia mulai menganggap dirinya bagian dari pertemanan kami--sungguh tak habis pikir.

"Tentu tidak, buat apa aku marah padamu," timpal Milly setengah hati. Karena sesungguhnya ia memang marah.

"Lalu kenapa kau pergi menghilang begitu saja," desak Wayne masih memburu.

"Aku tidak menghilang," jawab Milly terputus, jeda, "Aku hanya pulang," lanjutnya.

"Random sekali," komentar Wayne spontan. "Mau datang ya datang, mau pergi ya pergi."

Alletta dan Milly bersamaan menoleh kepada Wayne. Sungguh unpredictable kata-katanya.

"Mungkin saja, kemarin itu Milly tiba-tiba ada urusan di rumah," ujar Alletta mencairkan suasana yang mendadak jadi asing.

Milly tak menyangkal juga tak mengiyakan.

"Kelihatannya tanganmu luka?" Alletta memperhatikan punggung tangan Milly yang tak tertutup jaket. Ada bekas beberapa goresan melintang tak beraturan disana.

"Terkena onak duri," jawab Milly asal. Ia menyembunyikan tangannya ke belakang punggung.

"Kamu ceroboh sekali, Milly," desah Alletta menghentikan langkah Milly. Tangannya memegang punggung tangan Milly dan meniupnya. "Masih sakit?" katanya kawatir.

"Hanya luka kecil," kata Milly menarik kembali tangannya.

"Nanti kuantar pergi ke UKS, obati lukamu disana," timpal Wayne acuh tak acuh. Seolah ia berhak mengatur Milly.

"Tidak perlu, tadi di rumah sudah kuoles salep," tolak halus Milly.

Wayne lagi-lagi mengedikkan bahu. "Ok."

"Hari ini kau gak naik sepeda?" tanya Alletta, teringat kemarin Milly pergi menjauh dari mereka dengan mengayuh sepeda. Lagipula pikirnya, jarak rumah Milly jauh, berbeda dengan jarak rumahnya yang lebih dekat. Meski sama-sama terletak di pinggir hutan, tapi rumah Alletta masih termasuk lingkup pusat kota.

"Tertinggal di hutan," cetus Milly tak berusaha menutupi.

Wayne menatap lurus ke Milly. Keningnya berkerut, seolah baru menangkap ada yang janggal. Sepeda--Hutan--Luka. Ia menarik garis merah diantara ketiganya. Kemarin jelas sesuatu yang buruk telah terjadi--batinnya--tapi kenapa Milly tak mau menceritakan--pertanyaan itu sungguh mengusik pikirannya.

"Kok bisa?" Alletta geleng-geleng kepala. "Aku tahu kau ceroboh, tapi pulang tanpa sepeda, itu sungguh tindakan berani," imbuhnya.

"Terpaksa," desis Milly lirih, tapi Wayne mendengarnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu kemarin?" Tangan Wayne menyambar tangan Milly, menghentikan langkahnya.

"Sakit," ujar Milly sedikit berteriak pelan. Bekas lukanya masih terbuka. Dan Wayne baru saja menekannya. Itu menyakitkan.

Wayne terkejut mendengar teriakan Milly. Ia segera melepaskan tangannya. Alletta juga tak kalah terkejutnya. Ketiganya sempat membeku beberapa detik.

Tak menunggu penjelasan dari Milly, Wayne menyibak separo lengan jaket Milly. Dan betapa kagetnya mereka berdua. Karena menemukan banyak sayatan luka disana. Itu memang jenis luka akibat terseret onak duri. Tapi pertanyaannya kok bisa ada luka sebanyak itu.

"Kemarin apa yang terjadi?" desak Wayne mengunci tatapan Milly.

"Tidak ada," jawab Milly kaku. Ia menepis tangan Wayne dan melepas gulungan lengan jaketnya.

"Bohong!!!" kata Wayne keras.

"Milly," panggil Alletta dengan suara lirih.

"Apa yang terjadi Milly?" Suara Alletta terdengar lembut. Ia mengambil tangan Milly yang satunya, perlahan menyibak jaketnya dan melihat luka yang sama.

"Hanya goresan onak duri," desisnya.

"Kenapa bisa sebanyak ini?" tanya Alletta tak menyerah. Ia juga ingin tahu.

"Ceroboh saja," jawab Milly asal.

"Itu bukan luka akibat tindakan ceroboh," celetuk Wayne menyanggah.

"Lalu apa yang kau pikirkan?" balas Milly kesal. Ia kembali melepas gulungan lengan yang satunya.

"Itu luka akibat serangan," cetus Wayne tepat sasaran. Ia menunggu reaksi Milly. Dan benar seperti dugaannya.

Milly tidak menjawab. Ia hanya mendengus lalu mengalihkan topik, "Kita akan telat, jika terus mengobrol disini."

Milly berlari mendahului mereka berdua. Tebakan Wayne memang benar. Tapi bagaimana Wayne tahu dan menebak dengan tepat. Apakah Wayne juga bagian dari bayangan hitam kemarin? Ia tidak mau berspekulasi lebih jauh. Ia memilih menghindari menjawab pertanyaan Wayne.

Alletta menahan Wayne ketika Wayne masih ingin mengejar Milly.

"Jangan dikejar! Nanti dia bukannya bercerita tapi malah makin menjauh dari kita," kata Alletta yang mengerti sifat sobatnya ini. Bagaimanapun mereka sudah berteman hampir enam tahun.

Wayne menahan diri dan mundur. Ia kemudian menyamakan langkah kakinya dengan Alletta. Mereka berjalan bersama sambil mengobrol.

***

Di kelas, ketika jam istirahat, Wayne menghampiri bangku Alletta dan Milly yang terletak di seberangnya.

"Ayo ke UKS," ujar Wayne mengajak Milly. Ia memberi kode ke Alletta untuk membujuk Milly pergi ke UKS juga.

"Lukaku tidak separah itu," jelas Milly enggan pergi ke UKS.

"Tapi lukamu perlu dibersihkan dan dioles obat lagi," sanggah Wayne bersikukuh.

"Tidak perlu," tolak Milly halus. Ia merapikan buku di atas meja.

"Milly, sebaiknya kita pergi ke UKS sebentar," saran Alletta ikut membujuk.

Milly menggeleng.

"Bagaimanapun lukamu memang perlu dibersihkan, apalagi hampir seharian ini pengab tertutup jaket," lanjut Alletta menambahkan panjang lebar.

"Kau mau pergi sendiri, atau aku perlu menggendongmu pergi," celetuk Wayne yang nyaris kehabisan kesabaran.

Milly memelototi Wayne. Alletta dari sampingnya, berbisik, "Wayne cuma bercanda."

"Aku tidak sedang bercanda," tegas Wayne yang mendengar.

"Ok, ok aku pergi," sahut Milly mengalah. Ia melihat raut muka Wayne yang serius dan dingin. Seperti akan melakukan apa yang dikatakan.

Mereka bertiga pergi ke UKS. Di UKS tidak ada dokter jaga, Alletta mengambil kotak obat luka luar dari lemari. Ia membantu Milly membersihkan luka serta mengoleskan obat merah.

"Banyak sekali lukanya, Milly," ujar Alletta tak tega. Ia meniup-niup lukanya sembari tangannya bergerak mengobati.

Milly mengernyit menahan sakit. Ia tak membalas ucapan Alletta.

"Siapa yang melakukannya?" tanya Wayne yang sudah duduk di depan Milly.

"Onak duri hutan," jawab Milly tanpa pikir panjang. Baru dua hari anak baru ini datang, sudah mengusik dirinya setiap kali ada kesempatan. Sungguh menjengkelkan--batin Milly.

"Masih belum mau cerita juga?!" komentar Wayne greget.

Milly menyeringai menirukan gaya seringai Wayne di kelas.

"Ok, jika tidak mau cerita," kata Wayne. "Tapi sebaiknya nanti biar aku saja yang mengambilkan sepedamu."

"Tidak perlu," tolak Milly halus.

"Mungkin, orang yang sama yang kau lihat kemarin, sudah menunggu di dekat sepedamu," beritahu Wayne tanpa mau menakuti Milly.

"Belum tentu," sangkal Milly.

"Mau taruhan??" tantang Wayne.

Tanpa sadar Milly menggigit bibirnya sendiri. Ia menatap Wayne yang masih tak bergeming memandangnya. Kata-kata Wayne memang masuk akal. Bagaimana jika bayangan hitam kemarin memang menunggunya disana. Sekalipun kemarin ia berhasil lolos, tapi ia tidak akan pernah tahu kapan keberuntungannya habis dan ia tertangkap.

"Baiklah, kalau begitu, tolong ambilkan sepedaku," desis Milly lirih.

Wayne tersenyum menang. "Hal mudah kenapa kau buat jadi rumit."

Milly sebenarnya mau membalas tapi ditahan oleh Alletta.

"Berikan alamatmu, nanti sore ku antar sepedamu," kata Wayne sembari bangkit dari tempat duduknya.

Milly menuliskan alamatnya pada secarik kertas, yang ia temukan di atas meja UKS. Ia lalu menyerahkan ke tangan Wayne, sebelum Wayne pergi dari ruangan itu. Ada teman seangkatan yang mengajaknya tanding basket di lapangan.

***

1
Liza Navy
Jangan lupa tinggalkan like dan command yaa.. 🙏😍
Devi..
tetap punya kebebasan dan klo mau perjuangin yaa dg asah kemampuanmu smpai bisa melindungi diri sendiri dan bersikap dewasalah Milly😬
Devi..
knpa Milly rewel banget klo sama Wayne..nurut aja napa sih??toh utk ngelindungin dia tanpa menyakitinya..hiiiohhh🙄😬
Devi..
haahh lagi" Milly ceroboh,.. harusnya nenek Dorothy dikasih tau kondisi yg sebenarnya dan pindah k tempat yg aman biar gk dijadikan ancaman utk Milly..😌
Devi..
ceritanya seru thor.. gk bisa ditebak alur dan endingnya gmana.. semoga ceritanya terus berlanjut smpai selesai dan byk pembaca yg menikmati cerita ini🤗
Liza Navy: makasii Kak.. terus ditunggu yaa kelanjutannya 🫰🏻😉
total 1 replies
Davina Aurora
cerita nya bagus semangat ka😊🩷
Liza Navy: thank you Kak 🫰🏻💞
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!