Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Tindakan Nekat
Alena mengangkat wajah, matanya tegas. “Saya tidak peduli hukuman. Saya hanya ingin memastikan dia aman. Lilina dan Seana… saya tidak percaya pada mereka.”
Kael mengangguk pelan. “Saya mengerti. Saya akan cari celah. Untuk sementara, Yang Mulia sebaiknya berpura-pura menurut. Jangan beri mereka alasan tambahan.”
Setelah Kael pergi, Alena duduk kembali di tepi tempat tidur. Dia memegang cincin di jarinya erat-erat. “Raka… tunggu aku,” bisiknya. “Aku tidak akan membiarkan mereka menjauhkan kita terlalu lama.”
Di luar, kabut abadi terus bergolak. Istana Bulan Emas yang mewah itu kini terasa seperti sangkar yang semakin menyempit baginya. Dan di sisi lain istana, di kamar yang tadi menjadi tempatnya menjaga Raka… Lilina terus tersenyum lembut sambil merawat raja yang masih terlelap, sementara Seana menyaksikan dengan puas.
Pemisahan itu hanya permulaan. Di Paviliun Tamu sayap timur, Alena tidak bisa tidur sepanjang malam. Setiap kali memejamkan mata, bayangan Raka yang terbaring lemah muncul, diikuti wajah sinis Seana dan senyum lembut Lilina yang justru terasa lebih berbahaya.
Pagi harinya, dia memutuskan tidak tinggal diam. Dengan memakai jubah sederhana, Alena keluar dari paviliun dan berjalan menuju koridor utama. Dua prajurit jaga langsung menghalangi.
“Yang Mulia Ratu, maaf. Dewan melarang Anda mendekati sayap utara tanpa izin resmi.”
Alena menatap mereka tajam. “Saya ingin menjenguk Raja. Itu hak saya.”
“Perintah dewan bersifat mutlak,” jawab prajurit itu datar. “Silakan kembali.”
Alena terpaksa berbalik. Di belakangnya, dia mendengar bisikan dayang yang sengaja dikeraskan. “Sudah diusir dari kamar raja… memang pantas. Statusnya saja masih menggantung.”
Kemarahan mengumpul di dada Alena, tapi dia menahannya.
Sementara itu, di kamar Raka, Lilina sudah hadir sejak pagi. Dia duduk di kursi samping tempat tidur, mengusap dahi Raka dengan kain basah sambil sesekali berbicara pelan seolah pria itu bisa mendengar. “Yang Mulia… semoga luka Anda cepat sembuh. Saya akan tetap di sini.”
Seana masuk tanpa mengetuk, tersenyum puas melihat pemandangan itu. “Bagus, Lilina. Jauh lebih tenang tanpa kehadiran orang itu.”
Lilina tersenyum tipis. “Saya hanya ingin membantu. Tapi… saya mendengar Yang Mulia Ratu sempat mencoba mendekati sayap ini tadi pagi. Prajurit menolaknya.”
Seana tertawa rendah. “Bagus. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya dijauhkan. Ibu bilang kita harus membuatnya frustrasi dulu sebelum langkah berikutnya.”
Tiba-tiba Raka mengerang pelan. Alisnya berkerut, jari-jarinya bergerak lemah. Lilina langsung berdiri. “Yang Mulia?”
Raka belum membuka mata sepenuhnya, tapi bibirnya bergerak. Suara seraknya hampir tidak terdengar. “A…lena…”
Seana dan Lilina saling berpandangan. “Dia memanggil namanya,” kata Lilina pelan, ada sesuatu yang sulit dibaca di matanya.
Seana mengerutkan kening. “Abaikan. Dia masih setengah sadar. Nanti kalau sudah benar-benar bangun, kita bilang Alena yang meminta dipisahkan demi adat.”
Siang harinya, konflik semakin panas di ruang dewan. Kael berdiri di tengah ruangan, menyerahkan laporan lengkap tentang kematian Lira dan dugaan keterlibatan Putri Seana. Beberapa anggota dewan mulai bergolak.
“Ini tuduhan serius, Jenderal,” kata salah satu tetua. “Putri Seana adalah darah kerajaan.”
“Saya hanya menyerahkan fakta,” jawab Kael tegas. “Dayang pribadi Putri Seana mencoba meracuni Raja, lalu bunuh diri. Catatan di kamarnya mengarah ke perintah dari atas. Jika dewan memilih menutup mata, saya akan membawa ini ke hadapan Raja sendiri saat beliau sadar.”
Seana yang hadir di sisi Ibu Suri langsung berdiri. “Jenderal Kael semakin berani! Dia memfitnah saya di depan dewan hanya untuk melindungi Alena! Wanita itu membawa kutukan dari dunia manusia. Sejak dia kembali, istana kacau!”
Ibu Suri menenangkan dengan suara dingin. “Cukup. Penyelidikan boleh dilanjutkan, tapi jangan sampai mengguncang stabilitas istana. Putri Seana tetap tidak bersalah sampai ada bukti mutlak.”
Kael menatap Ibu Suri lama, lalu memberi hormat kaku. “Baik. Saya akan terus mencari bukti mutlak itu.”
Saat keluar dari ruang dewan, Kael berpapasan dengan Alena yang sedang dipaksa kembali ke paviliun oleh dua dayang. “Yang Mulia,” bisik Kael cepat saat melewatinya, “Raja sempat memanggil nama Anda. Beliau mulai sadar.”
Alena membeku. “Benarkah?”
“Ya. Tapi Lilina dan Putri Seana ada di sana. Mereka tidak akan membiarkan Anda masuk dengan mudah.”
Malam harinya, Alena nekat. Dengan bantuan Kael yang mengatur pergantian jaga, dia menyelinap melalui koridor rahasia menuju kamar Raka. Jantungnya berdegup kencang. Saat berhasil masuk, ruangan itu redup. Lilina tidak ada karena dia sudah kembali ke paviliunnya untuk istirahat.
Alena segera ke sisi tempat tidur. “Raka…”
Raka menggerakkan kepala. Matanya terbuka sempit, sayu, tapi langsung mengenali wajah di depannya. “A…lena…” suaranya parau. “Kau... kemana saja?”
Alena memegang tangannya erat, air mata hampir tumpah. “Mereka memisahkan kita. Dewan, Ibu Suri, Seana… mereka pakai alasan adat. Tapi aku kembali. Aku di sini.”
Raka mencoba menggerakkan tangan untuk menyentuh pipinya, tapi terlalu lemah. “Jangan… tinggalkan aku lagi.”
Tepat saat itu, pintu terbuka. Seana berdiri di ambang pintu, wajahnya berubah murka dalam sekejap. Di belakangnya, Lilina dan dua prajurit.
“Jadi memang benar,” kata Seana dingin. “Kau menyelinap masuk seperti pencuri. Melanggar keputusan dewan.”
Alena berdiri di depan tempat tidur, melindungi Raka. “Dia membutuhkan aku. Bukan kalian.”
Seana melangkah masuk. “Prajurit, tahan Ratu Alena. Dia melanggar perintah dewan dan mengganggu istirahat Raja.”
Prajurit maju. Alena tidak mundur. “Jika kalian menyentuhku, aku akan berteriak sampai seluruh istana mendengar bahwa Putri Seana mencoba meracuni kakaknya sendiri!”
Seana memerah. “Mulutmu!”
Lilina yang selama ini diam akhirnya berbicara dengan suara lembut namun menusuk. “Yang Mulia Ratu… tolong jangan buat Yang Mulia Raja semakin lelah. Beliau butuh ketenangan. Kehadiran Anda yang penuh emosi justru memperburuk keadaan. Lebih baik kembali ke paviliun… demi kebaikan beliau.”
Raka yang masih lemah mencoba berbicara. “Lepas…kan dia… Seana…”
Tapi suaranya terlalu pelan. Seana pura-pura tidak mendengar. Keributan semakin besar. Prajurit memegang lengan Alena. Alena memberontak. “Raka! Aku tidak akan pergi!”
Dalam kekacauan itu, Raka tiba-tiba mengerang keras. Tubuhnya kejang kecil karena tegang. Lilina segera berteriak, “Hentikan! Yang Mulia Raja kambuh!”
Semua orang berhenti. Alena dengan panik melepaskan diri dan kembali ke sisi Raka, memegang bahunya. “Raka… tenanglah… aku di sini…”
Kael yang mendengar keributan akhirnya menyerbu masuk. Dia melihat situasi dan langsung memberi perintah. “Semua keluar! Kecuali yang benar-benar dibutuhkan untuk menolong Raja!”
Seana menolak. “Jenderal, Alena yang menyebabkan ini!”
Kael menatapnya tajam. “Yang Mulia Putri, jika Anda tidak keluar sekarang, saya akan catat bahwa Anda menghalangi penanganan darurat Raja.”
Seana marah karena sikap Kael yang terlalu berani, "Kau pasti akan menyesal Jenderal... Lihat saja... Suatu saat nanti akan aku buat kau sadar dengan statusmu!"