Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
Tinggal di panti asuhan membuat gadis itu terbiasa menjalani hidup sederhana,Jauh dari kata kemewahan,Namun satu hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum adalah kelinci kesayangannya.
Hingga suatu hari,Kelinci itu tiba-tiba kabur.
Tanpa berpikir panjang,Ayla berlari mengejarnya hingga keluar ke jalan raya,Karena terlalu fokus mengejar,ayla tak menyadari sebuah motor melaju ke arahnya.
Brak!
Dalam hitungan detik,Hidupnya seolah berubah.
Beruntung,Seseorang datang menolongnya sebelum keadaan menjadi lebih buruk,Pertemuan yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan itu ternyata menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar.
Siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya?
Dan apakah setelah pertemuan itu,Takdir seolah terus mempertemukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira Maulidah salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Keesokan harinya,saat jam istirahat,Suasana perpustakaan sekolah terasa tenang,Ayla duduk bersama rina dan salsa,Sibuk mencari referensi tugas.
Di tengah suasana perpustakaan yang tenang,Ayla sedang mencatat materi dari buku referensi.
Tiba-tiba ponselnya yang berada di atas meja menyala karena notifikasi.
Salsa yang duduk di sebelahnya tanpa sengaja melirik,Beberapa detik kemudian matanya membesar.
"Tunggu."
Rina menoleh.
"Apa?."
Salsa menunjuk ponsel di meja ayla.
"Handphone baru?."
Ayla yang sedang menulis langsung berhenti.
"Oh...iya."
Rina ikut melihat,Beberapa detik kemudian rina langsung mendekat.
"Boleh lihat?."
Ayla mengangguk pelan,Rina mengambil ponsel itu dengan hati-hati.
"Ya ampun."
Salsa langsung ikut merapat.
"IPhone 17 Pro Max."
Rina membalik-balik ponsel itu.
"Mulus banget."
Salsa mengangguk cepat.
"Sebentar,Jangan bilang."
"Bagas."
"Bagas."
Mereka mengucapkannya bersamaan.
Ayla hanya menunduk malu.
Salsa langsung menepuk meja pelan.
"Aku tahu!."
Rina tertawa.
"Aku juga."
Ayla menghembuskan nafas.
"Dia memaksaku menerimanya."
Salsa mengangkat alis.
"Memaksa?."
Ayla mengangguk.
"Aku menolak berkali-kali."
"Lalu?."
"Dia langsung bayar."
Salsa langsung tertawa lebih keras.
"Itu memang Bagas."
"banget."
Ayla hanya bisa tertawa kecil.
Rina kemudian memperhatikan layar ponsel itu.
"Jujur saja,Ini jauh lebih bagus daripada handphone lamamu."
Salsa langsung mengangguk.
"Iya,Yang lama itu layarnya sudah retak."
Ayla membela diri.
"Masih bisa dipakai."
Rina langsung menatapnya.
"Ayla."
Salsa ikut menatap.
"Ayla."
Ayla tertawa.
"Iya,Iya."
Rina mengembalikan ponsel itu.
"Bagas sebenarnya benar."
Salsa mengangguk setuju.
"Kalau tiba-tiba handphonemu mati dan tidak bisa dihubungi,Dia pasti yang paling panik."
Ayla tersenyum kecil.
"Dia juga bilang."
Salsa langsung tertawa.
"Tuh kan."
Rina lalu menyenggol pelan bahu ayla.
"Jadi sekarang kalau bagas telepon harus langsung diangkat."
Ayla tersenyum jahil.
"Belum tentu."
Rina menggeleng.
"Berani sekali."
Salsa ikut menambahkan.
"Nanti lima detik tidak diangkat,Langsung ditelepon lagi."
Ayla tertawa.
"Dia tidak separah itu."
Rina dan salsa langsung menatapnya bersamaan.
Ayla terdiam.
"Mungkin."
Mereka bertiga langsung tertawa pelan.
Tak lama kemudian layar iphone ayla kembali menyala,Nama bagas muncul di notifikasi pesan.
Salsa langsung menunjuk layar itu.
"Nah!."
Rina tertawa.
"Baru saja dibahas."
Ayla buru-buru mengambil ponselnya.
Salsa menyeringai jahil.
"Cepat dibalas."
"Kenapa?."
"Nanti bisa-bisa dia nyamperin kesini."
Wajah Ayla langsung memerah.
"Salsa!."
Rina sampai menahan tawa agar tidak terlalu keras di perpustakaan.
Salsa masih menyeringai jahil.
"Aku serius,Lho."
Ayla menggeleng pasrah.
"Kalian berdua benar-benar tidak ada kerjaan selain menggodaku."
Rina langsung menunjuk buku-buku di meja.
"Ada,kita suka mengerjakan tugas."
Salsa mengangguk.
"Tapi menggodamu lebih menarik."
"Sal!."
Salsa tertawa kecil.
Tiba-tiba ayla melirik daftar referensi di bukunya.
"Oh iya."
"Apa?"tanya Rina.
"Buku yang kita cari tadi ada di rak atas."
Rina mengikuti arah pandangnya.
"Oh yang itu."
Ayla menaruh ponselnya di meja.
"Iya,Bentar."
Ayla lalu berjalan ke rak buku yang berada tidak jauh dari meja mereka.
Salsa memperhatikan dari kejauhan.
"Kenapa dia selalu memilih buku yang paling atas?."
"Karena dia keras kepala"jawab rina santai.
"Aku dengar itu!"sahut ayla dari depan rak.
Rina dan salsa langsung tertawa.
Ayla berdiri di depan rak lalu berjinjit,Mencoba meraih buku yang berada di bagian paling atas.
"Sedikit lagi."
Ujung jarinya hampir menyentuh buku itu,Namun karena terlalu fokus,Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
"Eh-."
Tubuh ayla tiba-tiba oleng ke belakang.
Seketika,Sebuah tangan menangkapnya dari belakang.
Ayla terkejut.
Bayu berdiri tepat di belakangnya, satu tangannya menahan punggung ayla,yang lain refleks menahan bahunya,Posisi mereka sangat dekat dan terlalu dekat.
Dari sudut tertentu terlihat seperti mereka hampir berciuman.
"Awas jatuh"ucap bayu santai.
Ayla langsung tersadar dan buru-buru menjauh.
"Makasih."
Namun ternyata.
"Bagus."
Suara dingin itu membuat semuanya membeku Bagas berdiri di ujung rak,menatap mereka dengan tatapan tajam.
Suasana langsung berubah tegang.
Bagas melangkah mendekat perlahan.
"Di perpustakaan?."
Ayla langsung menggeleng cepat.
"Bagas,Ini nggak seperti yang kamu pikir-."
"Aku lihat sendiri"potong bagas dingin.
"Itu cuma-."
"Dekat banget sampai kayak gitu?"lanjut potong bagas,Suaranya mulai meninggi.
Beberapa siswa mulai melirik.
Ayla mulai panik.
"Aku hampir jatuh!Dia cuma nolong!."
Bayu mengangkat tangan sedikit.
"Bener kalau nggak aku tahan,Dia-."
"Gue nggak nanya lo"bentak bagas.
Ayla langsung berdiri di depan bagas.
"Bagas,Cukup!Kamu salah paham!."
Bagas menatapnya dalam,penuh emosi.
"Salah paham?Kamu sadar posisi kalian tadi?."
Ayla terdiam sesaat.
"Itu nggak sengaja."
"Selalu aja nggak sengaja"jawab bagas dingin.
Kalimat itu menusuk.
Ayla mengepalkan tangan.
"Kamu tuh kenapa sih?Kenapa harus mikir sejauh itu?."
"Karena aku peduli!"suara bagas naik.
Hening.
Ayla kaget mendengar nada itu.
"Tapi kamu malah kayak gini"lanjut bagas,lebih pelan tapi penuh tekanan.
Air mata mulai menggenang di mata ayla.
"Aku nggak ngelakuin apa-apa."
Bagas mendekat satu langkah
"Tapi aku lihat kamu hampir-."
"NGGAK!"potong ayla,suaranya bergetar.
"Itu cuma kelihatan aja!Kamu bahkan nggak denger penjelasanku!."
Suasana makin panas.
Rina dan salsa hanya bisa diam.
Bayu menatap mereka berdua,Tapi tidak ikut campur.
Bagas menghela napas kasar,Emosinya memuncak.
"Aku capek,Ayla capek lihat kamu selalu dekat sama dia."
Ayla langsung menatapnya, sakit.
"Aku nggak pernah milih dia!."
"Terus kejadian barusan itu apa?"balas bagas.
Ayla terdiam lalu air matanya jatuh.
"Aku cuma hampir jatuh."
Hening.
Beberapa detik terasa lama.
Tiba-tiba Bagas menarik tangan ayla.
Ayla kaget.
"Bagas,kamu"
Bagas menatapnya dalam,emosinya masih terlihat jelas.
"Kalau kamu pikir aku bakal diam aja"ucapnya pelan.
Sebelum ayla sempat bereaksi,Bagas mendekat dan mencium ayla.
Ayla langsung membeku.
Beberapa siswa terkejut.
Rina menutup mulutnya.
"Ya ampun."
Beberapa detik kemudian,Bagas melepaskan.
Ayla masih terpaku,matanya berkaca-kaca bukan karena bahagia,Tapi karena kaget dan campur aduk.
"Sekarang jelas?"ucap bagas dengan suara berat.
Ayla menatapnya tak percaya.
"Kamu ngapain sih."
Air matanya jatuh semakin deras.
"Ini bukan cara kamu"suaranya lirih.
Bagas terdiam,Untuk pertama kalinya bagas terlihat ragu.
Ayla mundur pelan.
"Aku nggak suka kamu kayak gini."
Lalu ia berbalik dan pergi,Langkahnya cepat, meninggalkan suasana yang masih dipenuhi ketegangan.
Bayu menghela napas pelan.
"Lo salah cara,Gas."
Bagas tidak menjawab,Tatapannya kosong menatap ke arah ayla pergi dan saat itu juga bagas sadar,Emosinya barusan mungkin sudah melukai ayla lebih dalam dari yang bagas kira.
Perpustakaan masih terasa sunyi tapi bukan lagi tenang.
Bagas berdiri diam di tempatnya, napasnya masih belum teratur,Tatapannya kosong,tapi pikirannya kacau.
Rina langsung mendekat.
"Bagas kamu keterlaluan."
Salsa mengangguk pelan.
"Ini bukan cara yang benar."
Bagas tidak menjawab.
Sementara bayu hanya berdiri dengan ekspresi serius,tidak lagi santai seperti biasanya.
"Kalau lo benar-benar peduli sama dia harusnya lo dengerin dia dulu,Bukan malah kayak gitu."
Bagas mengepalkan tangannya tanpa berkata apa-apa,Bagas langsung berbalik dan berjalan keluar perpustakaan.
Di koridor sekolah.
Ayla berjalan cepat,berusaha menahan tangisnya,Tangannya gemetar,napasnya tidak teratur,Ayla berhenti di sudut sepi,lalu akhirnya tidak kuat lagi,Air matanya jatuh.
"Aku cuma hampir jatuh"bisiknya pelan.
Tangannya menyentuh bibirnya sendiri,masih terasa kejadian barusan,Bukan hangat tapi justru membuat dadanya sesak.
Beberapa detik kemudian—
"Sayang."
Suara itu membuatnya tersentak.
Bagas berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Ayla tidak langsung menoleh.
"Pergi."
Bagas mendekat pelan.
"Aku mau jelasin-."
"Apa lagi yang mau dijelasin?"potong ayla,suaranya bergetar.
"Kamu bahkan nggak mau denger aku tadi!."
Bagas terdiam.
Ayla akhirnya menoleh,Matanya merah.
"Kamu marah tanpa alasan terus kamu lakuin itu ke aku."
Bagas menunduk sedikit.
"Aku kebawa emosi."
"Itu bukan alasan!"suara Ayla meninggi.
"Aku bukan tempat kamu luapin emosi!."
Hening.
Kata-kata itu menampar,Bagas mengangkat wajahnya.
"Aku cuma nggak suka lihat kamu sama dia."
Ayla tertawa pahit.
"Aku juga nggak suka kamu nggak percaya sama aku."
Beberapa detik mereka saling diam.
"Aku udah bilang itu cuma salah paham"lanjut Ayla pelan.
"Tapi kamu lebih percaya sama apa yang kamu lihat daripada aku."
Bagas tidak langsung menjawab.
Dan itu membuat hati ayla makin sakit.
"Aku capek,Gas"ucap ayla lirih.
"Capek harus jelasin terus tapi kamu tetap ragu."
Bagas melangkah mendekat.
"Ayla,aku-."
Potong ayla mundur satu langkah.
"Jangan."
Langkah bagas terhenti.
"Aku butuh waktu"lanjut ayla,Suaranya melemah.
"Sekarang aku nggak mau lihat kamu dulu."
Kalimat itu membuat bagas terdiam total,Untuk pertama kalinya bagas tidak tahu harus menjawab apa.
Ayla mengusap air matanya,Lalu berbalik dan pergi,Kali ini tanpa menoleh lagi.
Bagas tetap berdiri di tempatnya tangannya perlahan mengepal,Lalu melemah rasa marahnya sudah hilang digantikan oleh satu hal yaitu penyesalan dan di saat itu juga,Bagas sadar kalau kali ini,bagas mungkin benar-benar menyakiti ayla lebih dalam dari sebelumnya.
Siang hari itu,suasana sekolah mulai sepi,Langit berubah jingga,dan satu per satu siswa sudah pulang.
Di depan gerbang,Ayla berdiri sendiri,Tasnya sudah tersampir di bahu,tapi kakinya belum juga melangkah pergi,Tatapannya kosong.
,pikirannya masih terjebak pada kejadian tadi.
"Aku butuh waktu"
Kata-katanya sendiri terngiang di kepalanya,Namun entah kenapa, hatinya justru terasa semakin berat.
Dari kejauhan,Bagas berdiri memperhatikannya,Bagas sudah di sana sejak beberapa menit lalu tapi tidak berani mendekat,Tangannya mengepal,lalu mengendur lagi,Ragu,Untuk pertama kalinya,Bagas benar-benar ragu.
Namun kali ini bagas tidak memaksakan diri.
Bagas mengeluarkan ponselnya,Menatap layar beberapa detik,lalu
mengetik sesuatu.
Beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti di depan gerbang.
Ayla sedikit kaget.
Sopir membuka jendela.
"Ini untuk atas nama ayla?."
Ayla mengernyit bingung.
"Iya saya ayla."
"Sudah dipesankan."
Ayla terdiam,ayla menoleh ke sekeliling dan melihat bagas berdiri agak jauh dari sana.
Tatapan mereka bertemu.
Bagas tidak mendekat,Hanya berdiri memberi jarak.
Ayla mengerti.
Perlahan,ayla membuka pintu mobil,Sebelum masuk,Ayla sempat menatap bagas sekali lagi.
Bagas mengangguk kecil,seolah berkata hati-hati tanpa suara.
Ayla tidak mengatakan apa-apa,Namun kali ini ekspresinya tidak lagi sekeras tadi,Ayla masuk ke dalam taksi.
Mobil itu perlahan melaju,Meninggalkan gerbang sekolah.
Bagas tetap berdiri di tempatnya,Bagas tidak mengejar dan tidak memanggil,Karena untuk pertama kalinya bagas memilih menahan diri untuk memberi ayla ruang.
...••••••...
Suasana kantin cukup ramai, tapi di sudut taman belakang sekolah terasa lebih tenang.
Ayla duduk sendiri di bangku, memandangi botol minumnya tanpa benar-benar meminumnya.
Langkah kaki mendekat.
Ayla sudah tahu siapa itu bahkan sebelum melihat.
"Boleh duduk?"tanya bagas pelan.
Ayla terdiam sejenak lalu mengangguk kecil.
Bagas duduk di sampingnya,masih menjaga jarak.
Hening beberapa detik.
"Aku nggak mau maksa kamu langsung maafin aku"ucap bagas pelan.
"Aku cuma mau jelasin tanpa emosi."
Ayla menatap ke depan.
"Aku dengerin."
Bagas menarik napas dalam.
"Kemarin aku salah,Aku lihat sesuatu terus langsung ambil kesimpulan."
Hening.
"Aku harusnya percaya sama kamu"lanjutnya.
Ayla menunduk sedikit.
"Dan aku harusnya nggak langsung emosi ke Bayu juga."
Bagas menoleh.
"Kamu kaget,Itu wajar."
Ayla menggeleng pelan.
"Tapi tetap aja,Jadi berantakan."
Mereka sama-sama terdiam.
Suasana tidak setegang kemarin,Tapi masih canggung.
Bagas kembali bicara,kali ini lebih pelan dan lebih serius.
"Ada satu hal lagi."
Ayla menoleh sedikit.
"Soal kemarin di perpustakaan"suara Bagas terdengar menyesal.
“Aku minta maaf.”
Ayla langsung terdiam.
"Aku nggak seharusnya lakuin itu ke kamu dalam keadaan marah"lanjut bagas.
“Itu salah aku.”
Hening.
Ayla menggenggam botol minumnya lebih erat.
"Itu"suaranya pelan,hampir berbisik.
"itu pertama kali buat aku,Gas."
Bagas langsung menoleh cepat.
Mata ayla sedikit berkaca-kaca,Tapi kali ini ayla tidak menangis.
"Aku nggak pernah bayangin bakal terjadi kayak gitu"lanjutnya lirih.
Kata-kata itu membuat bagas benar-benar terpukul,Bagas menunduk dalam.
"Maaf."
Kali ini lebih pelan lebih tulus.
"Aku bener-bener nyesel."
Hening cukup lama.
Angin siang berhembus pelan di antara mereka.
Ayla menghela napas panjang,Mencoba menenangkan dirinya.
"Aku nggak marah karena itu aja"ucapnya pelan.
"Aku marah karena caranya."
Bagas mengangguk.
"Aku ngerti."
Ayla akhirnya menoleh,menatap bagas.
"Tapi kalau kamu mau kita lanjut"katanya pelan,
"kamu harus berubah."
Bagas langsung menjawab tanpa ragu.
"Aku akan."
Beberapa detik mereka saling menatap.
Lalu ayla mengangguk kecil.
"Ya sudah kita coba lagi."
Bagas menghembuskan napas lega,Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Terima kasih."
Ayla tidak tersenyum lebar,tapi kali ini ada kehangatan yang kembali perlahan.
Dari kejadian itu,mereka akhirnya mengerti satu hal bukan tentang mencari siapa yang salah,Tapi tentang bagaimana saling memahami dan memperbaiki semuanya tanpa menyakiti satu sama lain.