NovelToon NovelToon
Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Tubagus Abidin

Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar Kaca dan Jiwa yang Retak

Udara di Sektor Bawah Tanah berbau seperti kematian yang diawetkan. Aroma formalin bercampur dengan bau manis menusuk dari Tinta Inti yang menguap, menciptakan kabut tipis berwarna ungu pucat yang menggantung rendah di lantai. Dinding-dinding koridor terbuat dari batu obsidian hitam yang menyerap cahaya, membuat lampu-lampu merah darurat di langit-langit tampak seperti mata iblis yang sedang berkedip lambat.

Ren Zexian berlari, napasnya tersengal-sengal, namun langkahnya tidak goyah. Di dalam dadanya, buku catatan bersampul kulit itu terasa berat, seolah-olah berisi timah panas. Setiap nama di dalamnya adalah teriakan bisu, setiap tanggal adalah nisan bagi anak-anak yang dicuri dari masa kecil mereka. Tapi Ren tidak punya waktu untuk berduka. Ia hanya punya lima menit.

Suara tangisan itu semakin jelas. Itu bukan tangisan histeris, melainkan rengekan lemah, putus asa, seperti anak kucing yang terjebak dalam hujan badai. Suara yang hanya bisa dikenali oleh satu orang di dunia ini.

"Lin..." desis Ren, giginya bergemeretak menahan amarah yang mendidih.

Ia membelok ke sudut koridor terakhir. Di hadapannya, terbentang sebuah ruangan besar berbentuk silinder, dindingnya terbuat dari kaca tebal yang diperkuat dengan rune-rune pengunci berwarna emas. Di tengah ruangan, tergantung sebuah sangkar kristal yang digantung oleh rantai besi raksasa.

Dan di dalam sangkar itu, meringkuk sosok kecil.

Lin.

Gadis itu terlihat lebih kurus daripada terakhir kali Ren melihatnya. Kulitnya pucat hampir transparan, memperlihatkan pembuluh darah berwarna hitam pekat yang menjalar seperti akar pohon kering di seluruh tubuhnya. Rambutnya yang dulu hitam berkilau kini kusam dan rapuh. Matanya tertutup rapat, kelopak matanya bergetar karena mimpi buruk yang tak pernah berakhir.

Di sekitar sangkar, terdapat empat tabung kaca besar yang mengalirkan cairan ungu kental langsung ke tubuh Lin melalui selang-selang tipis yang tertancap di punggungnya. The Fade tidak sedang menghapusnya saat ini; ia sedang "dipanen". Klan Naga sedang menyedot esensi ketahanannya terhadap kepudaran untuk ditransfer ke subjek lain—mungkin para elit yang mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan spiritual.

Ren merasa mual. Darahnya membeku, lalu mendidih seketika. Ia menekan telapak tangannya ke dinding kaca dingin. Mata Void-nya aktif, menelanjangi struktur pengunci ruangan itu.

Rune-rune emas di dinding kaca bukanlah sekadar dekorasi. Mereka adalah jalinan Qi kompleks yang membentuk medan penolak. Jika ia mencoba mendobrak kaca dengan kekuatan fisik, ledakan balik Qi akan menghancurkan organ dalamnya. Jika ia menggunakan teknik kaligrafi standar, rune-rune itu akan menyerap energinya dan memperkuat diri.

Tapi Ren bukan praktisi standar. Ia adalah penghapus.

Ia mengamati pola rune-rune itu. Ada satu titik persimpangan di sudut kiri bawah panel kontrol, di mana aliran energi dari dua rune berbeda bertemu. Titik itu memiliki celah mikroskopis, ketidaksempurnaan dalam desain yang sempurna. Sebuah "typo" dalam kode keamanan Klan Naga.

Ren mengangkat kuas patahnya. Ia tidak menulis karakter besar. Ia menulis simbol kecil, tajam, dan presisi tepat di atas celah itu melalui kaca.

Karakter "Putus" (Duan).

Energi Qi-nya mengalir tipis seperti benang sutra, menyusup ke dalam celah rune, lalu memotong ikatan logis antara kedua aliran energi tersebut.

Krek.

Suara retakan halus terdengar dari panel kontrol. Lampu merah di ruangan berkedip liar, lalu padam. Medan penolak runtuh seketika. Kunci elektronik pada pintu kaca terbuka dengan bunyi klik mekanis yang nyaring.

Ren menerobos masuk. Udara di dalam ruangan jauh lebih dingin, menusuk tulang. Ia berlari menuju sangkar kristal. Tangannya gemetar saat ia memeriksa selang-selang di punggung Lin. Mencabutnya secara paksa bisa menyebabkan pendarahan internal atau syok fatal.

"Tenang, Lin," bisik Ren, suaranya bergetar. "Kakak di sini."

Ia menggunakan ujung kuasnya untuk melonggarkan penjepit selang dengan hati-hati, satu per satu. Cairan ungu berhenti mengalir. Tubuh Lin tersentak kecil, lalu rileks. Ren membuka kunci sangkar kristal. Pintunya terbuka dengan engsel yang berderit.

Dengan lembut, Ren mengangkat tubuh ringan adiknya. Lin terasa dingin, seperti boneka porselen yang retak. Gadis itu membuka matanya perlahan. Iris matanya yang dulu cokelat hangat kini sebagian telah berubah menjadi abu-abu hampa.

"Kak... Kakak?" suaranya serak, hampir tak terdengar. "Apakah... apakah aku sudah hilang?"

Air mata Ren akhirnya tumpah. Ia memeluk Lin erat-erat, mengubur wajahnya di bahu gadis kecil itu. "Tidak, Lin. Kau belum hilang. Kakak datang. Kakak membawa pulang."

"Tapi... gelap sekali di sini," isak Lin, tangannya mencengkeram baju Ren dengan lemah. "Orang-orang berbaju putih... mereka mengambil warna-warnaku."

Ren mengepalkan tangan bebasnya, kuku-kukunya menembus telapak tangan hingga berdarah. Rasa sakit itu nyata. Rasa sakit itu mengingatkan dirinya bahwa ia masih hidup, dan ia akan memastikan orang-orang yang melakukan ini membayar dengan nyawa mereka.

Ting!

Suara alarm keras tiba-tiba memecah kesedihan mereka. Lampu darurat berubah menjadi merah menyala, berputar-putar dengan kecepatan gila. Suara sirene meraung-raung, menggema di seluruh fasilitas bawah tanah.

"Peringatan! Pelanggaran Keamanan Tingkat Satu! Semua unit penjaga, menuju Sektor 9! Tutup semua akses keluar!"

"Waktu kita habis," gumam Ren. Ia mengangkat Lin, menggendongnya di punggungnya seperti saat mereka masih kecil. Tubuh Lin sangat ringan, terlalu ringan.

Pintu utama ruangan terbuka lebar. Sepuluh penjaga bersenjata tombak qi menyerbu masuk, dipimpin oleh seorang kapten berwajah garang. Di belakang mereka, bayangan dua Elder Penjaga yang tadi ia lawan di perpustakaan mulai muncul.

"Bocah sialan!" teriak Kapten Penjaga. "Serahkan subjek eksperimen itu, atau kami akan mengubahmu menjadi debu!"

Ren tidak menjawab. Ia menatap mereka dengan Mata Void-nya. Ia melihat formasi mereka. Mereka berdiri rapat, mengandalkan kekuatan jumlah. Tapi lantai ruangan ini... lantai ini memiliki saluran pembuangan limbah tinta tua di tengahnya, tepat di bawah kaki mereka. Saluran itu ditutup oleh pelat besi yang sudah berkarat.

Ren tersenyum dingin. Senyuman yang tidak mencapai matanya yang hampa.

"Kalian ingin bermain dengan tinta?" tanya Ren, suaranya tenang di tengah kekacauan. "Mari kita lihat siapa yang bisa berenang."

Ia menghentakkan kakinya ke lantai, tepat di atas pelat besi berkarat itu. Bersamaan dengan itu, ia menulis karakter "Hancur" di udara dengan seluruh sisa Qi-nya.

Ledakan energi terkonsentrasi menghantam lantai. Pelat besi meledak ke atas. Lubang besar terbuka, menyemburkan gelombang limbah tinta hitam pekat dan beracun ke atas.

Para penjaga kehilangan keseimbangan, terpeleset ke dalam lubang atau terhuyung mundur karena semburan cairan korosif. Teriakan kesakitan terdengar saat tinta itu menyentuh kulit mereka.

Dalam kekacauan itu, Ren melompat. Bukan ke arah pintu keluar yang dijaga ketat, tapi ke arah ventilasi besar di langit-langit ruangan—jalur yang sama yang digunakan Su Yan untuk mengalihkan perhatian, tapi sekarang menjadi jalan larinya.

Dengan teknik Jembatan Hampa, ia menginjak udara, meloncat tinggi melewati kepala para penjaga yang panik. Ia membawa Lin di punggungnya, melayang seperti hantu di tengah hujan tinta hitam.

"Tangkap dia!" teriak salah satu Elder dari kejauhan, melepaskan bola api biru yang melesat ke arah Ren.

Ren memutar tubuhnya di udara, menggunakan kuasnya untuk menepis serangan itu ke samping. Bola api itu menghantam dinding, meledakkan pipa uap nearby. Uap panas menyembur, menciptakan tirai putih tebal yang menghalangi pandangan para pengejar.

Ren mendarat di atas pipa ventilasi, lalu merangkak cepat ke dalam kegelapan saluran. Napasnya berat, darahnya mengucur dari luka-luka kecil di tubuhnya, tapi ia tidak berhenti. Di depannya, cahaya bulan pucat terlihat dari ujung saluran utara.

Dan di sana, berdiri sesosok figur berjubah biru muda. Su Yan.

Wajahnya pucat, ada luka gores di pipinya, tapi matanya bersinar lega saat melihat Ren muncul dari kegelapan.

"Kau berhasil," kata Su Yan, uluran tangannya membantu Ren keluar dari saluran. "Tapi kita harus pergi. Sekarang. Seluruh Klan Naga sudah dalam keadaan siaga penuh."

Ren menyerahkan Lin ke pelukan Su Yan yang terkejut. "Jaga dia," perintah Ren, suaranya parau. "Aku akan menutup jejak kita."

Sebelum Su Yan bisa protes, Ren berbalik kembali ke arah saluran ventilasi. Ia mengambil gulungan kertas kosong dari sakunya—halaman kosong dari buku catatan curian itu. Dengan cepat, ia menulis karakter "Runtuh" berulang-ulang, lalu melemparkannya ke dalam sistem ventilasi utama.

Ledakan berturut-turut terdengar dari dalam fasilitas. Langit-langit bawah tanah mulai retak. Debu dan reruntuhan akan mengubur bukti-bukti eksperimen itu, setidaknya untuk sementara waktu.

Ren berlari kembali ke sisi Su Yan. Ia memandang sekali lagi ke arah lubang ventilasi, ke arah neraka yang baru saja ia tinggalkan.

"Ayo," kata Ren, membalikkan badan. "Perjalanan kita belum selesai. Ini baru permulaan."

Mereka menghilang ke dalam kegelapan malam, membawa serta seorang gadis yang retak dan sebuah rahasia yang bisa menghancurkan kekaisaran. Di belakang mereka, Klan Kaligrafi Naga terbakar dalam kemarahan, dan Ren Zexian tahu: ia tidak lagi bisa kembali menjadi pemulung. Ia telah menjadi target. Dan bagi seorang penulis yang berani mengedit takdir dewa, tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Hanya ada maju, atau terhapus.

1
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!