Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Yang Lepas
Amanda tidak ingin membiarkan dendam ini berlarut-larut dalam kesunyian. Ia sudah lelah berpura-pura, lelah melihat kemesraan menjijikkan di layar ponselnya, dan lelah harus menahan amarah setiap kali Zidan memberikan perhatian palsu. Keputusannya sudah bulat; malam ini adalah akhir dari sandiwara mereka.
Dengan jemari yang tak lagi gemetar, ia mengetikkan pesan instruksi terakhir kepada Arya.
"Aku tidak bisa terlalu lama memendamnya, Arya. Malam ini datanglah di jam 2 malam untuk memergoki mereka berdua. Aku pastikan mereka telah terlelap dan berada dalam posisi yang tidak bisa mengelak lagi," tulis Amanda dengan penegasan yang dingin.
Tak butuh waktu lama, balasan dari Arya muncul, singkat dan penuh komitmen: "Aku akan sampai di sana tepat waktu. Aku akan membawa saksi dan bukti pendukung lainnya agar mereka tidak punya celah hukum untuk membela diri. Bersiaplah, Amanda. Malam ini akan jadi malam terakhir bagi kebohongan mereka."
Amanda meletakkan ponselnya, lalu bangkit berdiri. Ia berjalan menuju cermin, menatap bayangan dirinya sendiri—wanita yang sempat hancur, namun kini telah memegang kendali atas nasibnya sendiri. Ia mulai mengatur suasana rumah, memastikan pintu gerbang tidak terkunci rapat agar memudahkan Arya masuk tanpa suara, namun tetap menyembunyikan rencananya dari Zidan yang saat ini masih terbuai dalam dosa di kamar tamu.
Waktu seolah merayap begitu lambat. Amanda duduk di kursi ruang tamu dalam kegelapan total, menunggu jarum jam bergerak mendekati angka dua. Setiap detik yang berlalu adalah langkah menuju kehancuran total bagi dua pengkhianat di balik pintu kamar tamu itu. Amanda sudah menyiapkan hatinya; rasa sakitnya telah ia ubah menjadi batu yang siap menghantam siapa pun yang mencoba meruntuhkan harga dirinya. Malam ini, kebenaran akan dipaksa keluar dari persembunyiannya.
Jarum jam dinding ruang tamu tepat menunjuk angka dua. Hening mencekam menyelimuti rumah, hanya suara detak jam yang terdengar seperti hitung mundur menuju kehancuran. Amanda berdiri tegak di depan cermin, melepas kacamata hitam yang selama ini menjadi tameng kebohongannya. Bayangan di cermin kini memperlihatkan wanita yang sepenuhnya berbeda; matanya tajam, dingin, dan memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. Sandiwara kebutaan itu berakhir di sini, di titik ini.
Dengan gerakan mantap, ia berjalan menuju pintu depan. Suara kunci yang diputar pelan terdengar nyaring di tengah sunyi. Begitu pintu terbuka, siluet Arya berdiri di sana, didampingi oleh dua orang pria berbadan tegap—saksi yang dibawanya untuk memastikan tindakan ini sah dan tak terbantahkan. Arya menatap Amanda dengan tatapan yang menyiratkan dukungan penuh.
"Kamu siap?" bisik Arya rendah, suaranya nyaris tak terdengar namun sarat akan ketegasan.
Amanda tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, memberikan isyarat agar mereka segera bergerak. Langkah kaki mereka, yang tadinya terasa berat, kini melangkah dengan koordinasi yang senyap namun mematikan menuju kamar tamu. Amanda memimpin di depan, tangannya perlahan meraih gagang pintu kamar tamu yang tertutup rapat.
Di balik pintu kayu itu, dua manusia bejat yang sedang terlelap dalam dosa tidak menyadari bahwa mimpi indah mereka akan segera berubah menjadi neraka dalam hitungan detik. Amanda menoleh sekilas ke arah Arya, memberikan tatapan yang mengonfirmasi bahwa saatnya telah tiba. Dengan satu tarikan napas panjang, jemarinya memutar gagang pintu, siap menghancurkan segalanya malam ini.