Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Jaga Malam Yang Tengang
"Dengar, semuanya... kita harus tetap waspada. Bahaya itu bisa datang kapan saja," ucap Danu tegas, suaranya rendah namun menembus keheningan ruangan.
Andri menarik selimut lebih erat ke dada, wajahnya masih pucat menahan takut. "Semoga mereka tidak bisa masuk ke sini... aku sudah mulai merasa tenang berada di tempat ini. Tak ingin semuanya hancur lagi."
Jodie tersenyum tipis, berusaha menenangkannya. "Jangan khawatir, bro. Kau tetap aman di sini. Tenang saja." Ia lalu melemparkan pistol yang dipegangnya ke arah Andri, melambat sedikit agar tidak mengejutkannya. "Simpan ini. Kalau ada apa-apa, kau punya cara untuk membela diri."
Perlahan satu per satu kembali berbaring, mencoba memejamkan mata. Namun tidur yang datang bukanlah istirahat yang tenang—hanya tidur yang dangkal, penuh kecemasan, telinga tetap terbuka lebar menangkap setiap suara di luar.
Penjagaan malam ini dipegang oleh Rafli dan Jodie. Danu dan Natalia memutuskan untuk beristirahat sebentar, mengumpulkan tenaga sebelum giliran tiba. Di sisi lain, Toni tak ikut berbaring. Ia memilih duduk di dekat jendela, menemani adiknya dan rekan-rekan baru itu berjaga, matanya terus memantau kegelapan di luar, seolah takut kehilangan satu pun gerakan yang mungkin terjadi.
Hening kembali menyelimuti ruangan itu, namun ketenangan itu hanyalah topeng. Di luar sana, angin berdesir pelan, dan di kejauhan... samar terdengar suara langkah-langkah yang perlahan mendekat.
****
Keesokan paginya, sinar matahari pagi menembus celah jendela, membawa cahaya lembut yang sedikit menenangkan suasana. Para wanita menyibukkan diri di sudut ruangan, menyiapkan sarapan sederhana dari persediaan yang ada, berusaha mengembalikan sedikit kehangatan di tengah keadaan yang masih mencekam. Sementara itu, para lelaki turun ke halaman sekolah untuk memeriksa keadaan—terutama area samping, tempat Toni dan Hendrik berhasil masuk semalam lewat pintu kecil yang kurang dijaga.
"Kita pasang palang kayu kuat di sini," tunjuk Danu ke arah pintu samping itu, wajahnya serius dan tegas. "Jaga-jaga agar tidak ada satu pun zombie yang bisa masuk lewat celah ini."
Rafli langsung mengatur langkah. "Kayu-kayu yang kita pakai semalam sepertinya masih tersimpan di belakang. Jodie, Simon—kalian ambil balok-balok itu sekarang," perintahnya. Lalu ia menoleh ke arah kakaknya. "Aku bersama Toni akan mengambil meja dan kursi berat untuk penguat tambahan."
Mereka pun bergerak serentak. Jodie dan Simon bergegas menuju bagian belakang sekolah, langkah kaki mereka terdengar cepat namun teratur. Rafli dan Toni berjalan masuk kembali ke gedung, menuju ruang-ruang kelas untuk mengeluarkan perabotan yang cukup kokoh untuk menahan pintu itu dari luar.
Udara pagi terasa segar namun tetap dingin. Setiap orang bekerja dengan hati-hati, sesekali menengok ke arah jalanan yang masih sepi—memastikan tak ada bayangan makhluk yang mendekat. Pintu samping itu kini menjadi prioritas utama; jika tempat itu aman, mereka pun bisa bernapas lebih lega.
Sarapan sederhana itu akhirnya siap. Kelompok Danu duduk berkelompok di lantai yang bersih, menerima makanan di tangan masing-masing. Di tengah dunia yang telah berubah menjadi neraka ini, duduk bersama dan menikmati sesuap nasi terasa seperti anugerah yang tak ternilai. Mereka makan dengan tenang, penuh rasa syukur—masih bernapas, masih bersama, masih memiliki sesuatu untuk dimakan pagi ini.
Mega dan Natalia duduk berhadapan dengan Danu dan Rafli. Di sela-sela makan, pembicaraan beralih ke hal yang tak bisa dihindari: kawanan zombie yang dikabarkan bergerak teratur, yang mungkin saja akan melewati sekolah ini kapan saja.
"Semua peluru yang kita miliki masih cukup untuk berjaga-jaga nanti," ucap Mega pelan, menatap senjata di sampingnya. "Ingat, sebagian besar amunisi ini diambil dari persediaan kelompok Rio sebelum mereka... sebelum kami berpisah."
Danu mengangguk perlahan. "Semoga memang cukup. Dan mulai malam ini, kita akan bergiliran berjaga lebih ketat dari sebelumnya. Tak boleh ada celah sedikit pun."
Suasana tiba-tiba menjadi hening. Rafli menunduk menatap bekal di tangannya, suaranya bergetar pelan. "Seandainya Hilda ada di sini bersama kita sekarang..."
Seketika ketiganya menunduk. Nama itu membawa kenangan pahit yang masih segar.
"Kita tak tahu apakah dia masih hidup atau tidak," ujar Danu memecah keheningan, suaranya lembut namun penuh kesedihan. "Terakhir kali kami berpisah dengan nya di jalan tol... saat kekacauan itu memuncak dan maafkan aku Rafli jika aku tak sempat kembali menolongnya."
Natalia menghela napas panjang, menahan bening di sudut matanya. "Aku paham... kau tak bisa melakukan apa-apa saat itu. Semoga saja dia masih hidup, dan entah bagaimana caranya, dia akan menemukan jalan ke tempat yang aman."
"Ya..." Danu menatap ke arah jendela, ke arah jalanan yang masih sepi. "Semoga saja."
Mereka kembali makan dalam diam, setiap helaan napas kini terasa lebih berat. Di luar sana, bahaya mengintai, namun yang lebih menyakitkan adalah ketidakpastian—apakah teman yang mereka tinggalkan itu masih berdiri, atau sudah berubah menjadi bagian dari kegelapan yang mengancam mereka semua
Bersambung