Novel Korean ala Author ❤️❤️
Cheon-Ji-In: Terjebak di Dunia Murim
Aku Diah, tersedak air saat baca novel Cheon-ji-in hingga sadar di dunia Murim sebagai Han So-Bin, cannon fodder yang ditakdirkan mati di tangan pemeran utama pria, Kang Hyu-Jin.
Sadar bakal jadi tumbal, aku milih kabur sejauh mungkin. Tapi alih-alih dibunuh, si pendekar es itu malah ngejar aku separuh mati ke ujung dunia!
Sialnya lagi, bukannya ditebas, aku malah berakhir dicintai setengah mati sama si cowok dingin itu. Rencana awal mau bebas hidup damai gagal total, karena sekarang aku malah jadi pawang si tokoh utama!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan sang Pendekar Es di Pagi Buta
Embun pagi masih menempel lebat di ujung-ujung daun bambu ketika fajar mulai merekah di ufuk timur. Udara di sekitar perkemahan kecil kami terasa begitu dingin, menusuk hingga ke tulang. Sisa-sisa bara api unggun semalam telah padam sepenuhnya, meninggalkan kepulan asap tipis yang bergesekan pelan dengan udara pegunungan.
Aku menggeliat pelan, merentangkan kedua tanganku untuk melemaskan otot-otot tubuh yang kaku setelah tidur beralaskan tanah keras.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Duh, rasanya pegal semua! Tidur di alam terbuka ala petualangan Murim ini emang estetik buat dibaca di novel, tapi aslinya bikin encok sekujur badan. Kapan ya terakhir kali aku tidur di kasur empuk ber-AC?”
Saat aku membuka mata sepenuhnya, aku mendapati Lee Do-Yun masih tertidur pulas di sampingku. Di sisi lain perkemahan, Choi Min-Hyuk tampak sedang duduk bersila bermeditasi dengan tenang, menjaga jarak aman sesuai dengan aturan ketat yang kubuat semalam.
Namun, ada satu sosok yang tidak kelihatan di posisinya.
Aku mengernyitkan dahi, mengedarkan pandangan ke sekeliling sudut area perkemahan. Kang Hyu-Jin tidak ada di tempat ia bersila tadi malam.
"Mencari siapa, So-Bin?"
Sebuah suara bariton yang berat, dingin, namun terdengar sangat dekat tiba-tiba berbisik tepat di samping telingaku.
Deg!
Aku terperanjat kaget, refleks melompat mundur sejauh dua hasta sambil memasang kuda-kuda telapak tangan yang memancarkan pendar api kecil. Jantungku berdegup kencang karena kaget luar biasa.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun, Gusti! Jantungku hampir copot! Ini orang jalannya pakai ilmu meringankan tubuh tingkat dewa atau gimana?! Tiba-tiba udah nongol di sebelah kayak hantu es!”
Di hadapanku, Kang Hyu-Jin berdiri dengan postur tubuh yang sangat tenang. Pria berbalut jubah putih bersulam benang perak itu sama sekali tidak memasang ekspresi bersalah. Sebaliknya, sebuah senyuman tipis yang sangat langka dan mematikan tersungging di sudut bibirnya—senyuman yang belum pernah diperlihatkannya kepada siapa pun di sekte.
Di tangan kanannya, Hyu-Jin membawa sebuah mangkuk bambu sederhana yang berisi air hangat segar, serta sehelai kain bersih yang sudah dibasahi embun pagi.
Aku menurunkan tangan perlahan, menatapnya dengan sebelah alis terangkat tinggi-tinggi.
"Hyu-Jin!" gerutuku setengah berbisik karena tidak ingin membangunkan Do-Yun yang masih pulas. "Bukannya semalam kita sudah bikin perjanjian soal menjaga jarak?! Kenapa kamu tiba-tiba nyelonong masuk ke zona pribadiku tanpa izin, hah?!"
Hyu-Jin tidak mengindahkan protesku. Pria itu justru melangkah maju satu langkah pelan, melanggar batas jarak aman yang kubuat, membuatku terpaksa mundur selangkah hingga punggungku hampir membentur batang pohon.
Hyu-Jin menghentikan langkahnya tepat satu jengkal di hadapanku. Bau wangi kayu manis dan dinginnya salju bercampur lembut di udara sekitar tubuhnya.
"Aku memang menjaga jarak dari kerumunan kalian," jawab Hyu-Jin tenang, suaranya terdengar sangat rendah dan menghanyutkan. "Tapi aturan itu tidak berlaku untuk memastikan apakah gadis ku bisa tidur dengan nyenyak semalam."
(Batin Diah / Han So-Bin): “Duh... Gila! Ini orang tiba-tiba jago banget ngomong gombalan maut ala novel romantis! Mana mukanya ganteng banget lagi kalau dilihat dari jarak dekat begini. Bisa runtuh iman figuranku kalau terus-terusan digoda gini!”
Aku mencoba memasang ekspresi seseram mungkin, menatapnya tajam untuk menutupi rasa salah tingkah di dadaku.
"Jangan mulai merayu, Tuan Muda Kang," ancamku sambil menunjuk-nunjuk dadanya dengan jari telunjukku. "Statusku masih tunangan resmi Lee Do-Yun. Kalau kamu terus mendekat dan berbuat aneh-aneh, kuanguskan jubah putih mahalmu itu jadi abu!"
Alih-alih takut dengan ancamanku, Hyu-Jin justru menundukkan sedikit kepalanya. Manik matanya yang kelam menatapku lekat-lekat, penuh dengan intensitas yang membuat lututku terasa lemas seketika.
Hyu-Jin mengangkat tangan kanannya yang membawa kain basah, lalu dengan sangat hati-hati—tanpa sedikit pun unsur paksaan—mengusap pelan debu halus yang menempel di pipiku.
Sentuhannya begitu lembut, kontras dengan hawa es di sekitarnya.
"Wajahmu kotor karena perjalanan kemarin, So-Bin," bisik Hyu-Jin lirih, suaranya bagai desiran angin malam yang membelai telinga. "Dan mengenai status itu... biarkan waktu yang membuktikan siapa di antara kami berdua yang benar-benar ditakdirkan untuk melindungimu di dunia ini."
Mendengar godaan telak yang dilancarkan secara terang-terangan itu, pipiku merona merah padam hingga menjalar sampai ke telinga.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Tolong... Siapa pun selamatkan aku dari serangan psikopat bucin ini! Kenapa tokoh utama cowok kalau sudah bucin tingkat akut jadi semengerikan dan sesadis ini pesonanya?!”
Di ujung area perkemahan, Choi Min-Hyuk yang sejak tadi duduk bermeditasi membuka matanya perlahan. Senior kaku itu melirik tajam ke arah kami berdua, melihat Hyu-Jin yang berdiri terlalu dekat denganku. Alis tebal Min-Hyuk bertaut kesal, dan ia langsung berdiri dari duduknya, bersiap melangkah menghampiri kami untuk membubarkan adegan gombalan pagi itu.
Sebelum Min-Hyuk sempat mendekat dan sebelum aku sempat melayangkan tinju berapi ke wajah Hyu-Jin, aku buru-buru menepis tangan pria itu dari pipiku.
"Cukup, Hyu-Jin! Mundur sepuluh langkah sekarang atau kukerahkan Lima Elemenku buat ngubur kamu di dalam es abadi!" ancamku galak, meskipun suaranya sedikit bergetar karena salah tingkah.
Hyu-Jin akhirnya tersenyum miring—sebuah senyuman penuh kemenangan kecil yang membuat ketampanannya berkali-kali lipat bertambah. Ia melangkah mundur perlahan sesuai batas jarak aman, meninggalkan mangkuk bambu berisi air hangat itu di atas batu datar di hadapanku.
"Gunakan air itu untuk membersihkan wajahmu, So-Bin," ucap Hyu-Jin tenang sebelum membalikkan badan dan berjalan menjauh menghampiri sisi hutan yang lain. "Aku akan menunggumu di depan."
Aku berdiri terpaku di depan batu datar, menghela napas panjang sambil memegangi dadaku yang berdegup kencang tidak karuan.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Wah... Kalau setiap pagi diawali dengan godaan jantung copot kayak begini, umurku di dunia Murim sepertinya bakal nggak lama lagi gara-gara jantungan!”