Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Meninggalkan Menteng
Pada malam terakhir di Menteng, gema langkah terdengar lebih keras daripada biasanya.
Karpet sudah digulung. Lukisan, vas, dan foto keluarga telah diturunkan. Ruang tamu yang dulu dipenuhi tamu kini hanya menyisakan bekas kaki meja di lantai dan beberapa koper di dekat pintu.
Tidak ada sopir menunggu di garasi. Para pekerja rumah tangga telah menerima pesangon dan pulang sehari sebelumnya. Mobil dinas ditarik siang tadi. Untuk perjalanan ke Jawa Tengah, Arya menyewa sebuah kendaraan keluarga yang cukup besar untuk lima orang dan barang seperlunya.
Laras duduk di lantai kamar, dikelilingi kantong belanja dan daftar panjang.
Obat demam, antiseptik, perban, oralit, vitamin kehamilan, makanan kering, susu, pembalut, senter, baterai, korek api, jas hujan tipis, uang tunai pecahan kecil, serta beberapa perlengkapan bayi yang belum akan dipakai dalam waktu dekat.
Semua dibeli dari apotek dan toko menggunakan uangnya sendiri. Tidak ada barang yang muncul dari udara. Keunggulan Laras hanya satu: ia tahu apa yang kelak sulit ditemukan di Girimulyo.
Rukmini berdiri di pintu sambil membaca salinan daftar. “Kamu membeli termometer dua?”
“Satu untuk rumah, satu di tas perjalanan. Kalau listrik padam, kita tetap bisa memeriksa suhu.”
“Dan garam rehidrasi sebanyak ini?”
“Jalan ke kecamatan jauh. Lebih baik tidak terpakai daripada dibutuhkan saat hujan dan tidak punya.”
Rukmini mengangguk perlahan. Kemarin ia mungkin akan mengira Laras sedang berlebihan. Hari ini ia mengambil satu tas kosong dan mulai membantu mengelompokkan obat berdasarkan fungsi.
Sekar masuk membawa dua jaket. “Di Jawa Tengah tidak ada musim dingin.”
“Di kaki bukit malamnya tetap dingin, apalagi saat hujan.”
“Mbak Laras pernah tinggal di sana?”
“Belum. Tapi aku bisa membaca perkiraan cuaca.”
Sekar mendengus, lalu memasukkan jaket ke koper tanpa mengeluarkannya lagi.
Arya muncul dengan kotak besi peninggalan Maharani. “Ini jangan masuk bagasi belakang.”
Laras menerima kotak tersebut. Piagam sudah dibungkus lapisan tahan air, sedangkan buku kulit disimpan dalam pouch di tas tangan.
“Aku bawa sendiri.”
Arya memeriksa berat tasnya. “Terlalu berat.”
Ia memindahkan dokumen lain ke ranselnya, menyisakan buku, dompet, dan obat pribadi Laras. Setelah itu ia menutup ritsleting tanpa meminta izin.
“Mas Arya, itu tasku.”
“Dan kamu sedang hamil.”
Sekar menutup mulut untuk menyembunyikan senyum. Laras memilih tidak berdebat.
Di ruang kerja, Guntur berdiri sendirian di depan lemari kaca. Seragam upacara, tanda jasa, dan foto-foto penugasan masih tersusun rapi. Ia mengambil satu bingkai yang memperlihatkan dirinya bersama prajurit muda, lalu membungkusnya dengan koran.
Laras berhenti di ambang pintu.
“Bapak tidak membawa semuanya?”
“Barang yang tercatat akan tetap di sini sampai pemeriksaan selesai.” Guntur meletakkan bingkai ke dalam kotak kecil. “Yang kubawa hanya milik pribadi.”
Suaranya tenang. Namun jari yang memegang koran menekan terlalu kuat hingga kertas sobek.
Laras tidak mengatakan bahwa dua tahun lagi ia akan kembali ke ruangan ini dengan nama dipulihkan. Penghiburan tanpa bukti hanya terdengar kosong.
Ia mengambil lembar koran baru dan membantu membungkus bingkai.
“Foto ini akan kembali digantung,” katanya.
Guntur menatapnya. “Kamu bicara seolah tahu masa depan.”
Jantung Laras berdenyut satu kali lebih keras.
“Saya hanya tidak percaya fitnah menang selamanya.”
Untuk pertama kalinya, Guntur tersenyum tipis kepadanya.
Di lantai bawah, bel berbunyi. Rukmini sempat mengira salah satu sahabat pengajiannya datang berpamitan. Yang berdiri di depan pagar ternyata hanya pengemudi ojek online membawa kantong berisi dua wadah saji milik Rukmini.
Di layar ponsel muncul pesan singkat.
`Maaf tidak bisa datang, Bu. Situasi sedang sensitif. Semoga sehat selalu.`
Tidak ada salam panjang seperti biasanya. Tidak ada pertanyaan ke mana mereka pergi.
Rukmini menerima kantong itu dan menutup pagar perlahan.
“Tiga hari lalu dia masih meminta Mama menjadi tuan rumah arisan bulan depan,” gumam Sekar.
“Jangan salahkan orang yang takut,” jawab Rukmini, tetapi suaranya terdengar rapuh.
Laras mengambil wadah dari tangannya. “Kita bawa satu. Yang satu terlalu berat.”
Mereka berdiri di dapur, memilih apa yang benar-benar berguna. Peralatan makan mahal ditinggalkan sesuai daftar inventaris. Rukmini membawa panci kecil yang sudah dipakainya sejak awal menikah, bukan set porselen yang biasa dipuji para tamu. Sekar memilih pisau dapur, talenan, dan dua kain lap. Benda-benda sederhana itu tiba-tiba lebih bernilai daripada seluruh pajangan di lemari.
Telepon Guntur bergetar. Seorang mantan ajudan menelepon, suaranya terdengar sampai lorong karena rumah sudah terlalu kosong.
“Mohon izin, Jenderal. Saya tidak bisa membantu soal pemeriksaan, tetapi kendaraan sewaan sudah saya pastikan layak. Pengemudinya juga bersedia mengantar sampai kota kabupaten.”
“Terima kasih. Jangan mempertaruhkan pekerjaanmu untuk saya,” jawab Guntur.
Setelah panggilan berakhir, lelaki itu menatap keluarganya. “Kita tidak membawa orang lain ke dalam masalah ini. Semua yang bisa kita kerjakan sendiri, kita kerjakan.”
Arya mengangguk. Sekar mengangkat satu kardus meski lengannya gemetar. Rukmini kembali ke dapur. Laras mencoret daftar barang yang ditinggalkan dan menuliskan lokasi setiap dokumen agar kelak tidak ada yang menuduh mereka membawanya.
Kehormatan mereka sedang dirampas di depan banyak mata. Ketelitian adalah satu-satunya pertahanan yang masih bisa disusun malam itu.
Menjelang subuh, rumah itu akhirnya senyap. Rukmini melakukan sholat lebih lama dari biasanya. Sekar tertidur di sofa di antara dua koper. Arya masih memeriksa rute, tempat istirahat, dan prakiraan hujan.
Laras tidak benar-benar tidur. Dari jendela kamar, ia melihat lampu rumah tetangga menyala satu per satu.
Saat fajar datang, beberapa orang sudah berdiri di seberang pagar. Ada yang berpura-pura menyapu, ada yang mengangkat ponsel, ada pula yang berbisik tanpa menurunkan suara.
“Katanya seluruh rekening dibekukan.”
“Pasti kabur sebelum ditangkap.”
“Dulu sombong sekali. Sekarang lihat.”
Arya membawa koper ke kendaraan tanpa menoleh. Guntur keluar dengan kemeja rapi. Tidak ada topi untuk menyembunyikan wajah, tidak ada langkah tergesa seorang pelarian.
Rukmini berhenti di teras, memandang rumahnya untuk terakhir kali. Tangannya gemetar saat mengunci pintu.
Sekar merangkul lengan ibunya. “Kita akan kembali, Mama.”
Rukmini mengangguk meski matanya penuh air.
Laras berjalan paling akhir. Arya sudah menunggu di dekat pintu kendaraan, satu tangan siap menyangga sikunya. Sebelum naik, Laras menoleh kepada para tetangga yang masih berbisik.
“Kami pergi karena mengikuti proses pemeriksaan,” katanya cukup keras. “Bukan melarikan diri.”
Tak seorang pun membalas.
Arya membantunya duduk, memasang sabuk pengaman di bawah perut, lalu menutup pintu. Kotak besi Maharani berada di bawah kaki Laras. Daftar obat tersimpan di tas Rukmini. Semua yang benar-benar mereka perlukan muat dalam beberapa koper.
Mesin kendaraan menyala.
Ketika gerbang Menteng mengecil di belakang mereka, tidak ada seorang pun di dalam mobil yang bicara.
Jakarta perlahan tertinggal.
Di depan mereka terbentang jalan panjang menuju kehidupan yang sama sekali berbeda.