Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.
Sisa Persaingan di Balik Panggung
Suasana riuh tepuk tangan perlahan mereda saat mereka berjalan keluar dari panggung, disambut pelukan hangat dan ucapan selamat dari teman-teman serta guru. Rasa bangga masih menyelimuti hati setiap orang di kelompok itu, namun di sudut lain, api persaingan yang dulu sempat meredup ternyata belum sepenuhnya padam.
Saat teman-teman lain berpisah sebentar untuk membersihkan riasan dan merapikan alat di ruang persiapan, tersisa Rara dan Laras yang berjalan beriringan menuju lorong sepi di belakang aula. Langkah mereka terdengar bersahutan, namun tidak ada satu pun kata yang terucap di antara keduanya. Rara melirik sekilas ke arah Laras yang sesekali tersenyum sendiri seolah sedang membayangkan sesuatu yang indah, dan rasa tidak suka itu kembali muncul di hatinya.
Laras berhenti tiba-tiba di dekat jendela besar yang menghadap ke taman sekolah. Ia membetulkan kerah bajunya dengan perlahan, lalu menoleh tepat saat Rara hendak berjalan melewatinya.
"Berhenti dulu sebentar lo," ucap Laras tiba-tiba, suaranya ketus dan matanya menatap sinis seolah topeng keramahannya tadi sudah ia buang jauh-jauh. "Jangan kira karena kita udah satu panggung dan saling minta maaf, terus lo bisa merasa menang duluan ya."
Rara berhenti melangkah, menatap balik dengan tatapan yang sama tajamnya. Ia menyilangkan tangan di dada, menyandarkan punggungnya ke dinding tembok yang dingin. "Maksud lo ngomong gini apa sih? Gue nggak pernah merasa menang atau kalah sama lo. Yang jelas pertunjukan kita sukses berkat kerja sama semua orang, bukan cuma jasa lo doang," jawab Rara singkat menggunakan kata ganti lo dan gue seperti biasa.
Laras mendengus kasar, melangkah selangkah mendekat. "Jangan pura-pura nggak ngerti deh Ra. Kita sama-sama tau kenapa lo semangat banget mau gabung sama kelompok ini. Dan kita juga sama-sama tau kenapa aku berusaha sekeras ini buat bisa ikut. Soal Dimas itu belum selesai ya. Jangan kira dia senyum ke lo berarti dia milih lo."
"Lo ngomong apa sih Lar? Gue nggak pernah mikir sejauh itu," bantah Rara cepat, meski dalam hatinya ia tahu ada rasa berdebar setiap kali berdekatan dengan Dimas. "Gue cuma mau ikut kegiatan sekolah aja. Kalau lo mau ngejar Dimas, silakan aja. Gue nggak ngalangin lo kok. Tapi jangan harap gue bakal mundur cuma gara-gara lo ngomong gini."
"Nah itu dia!" Laras menyeringai sinis, menunjuk dada Rara dengan jarinya. "Akhirnya lo ngaku juga kan? Kita bersaing ya Ra. Siapa yang paling pantas ada di samping dia. Lo pikir dengan sikap lo yang dingin dan kaku gitu, Dimas bakal tertarik? Salah besar. Aku lebih tahu cara bikin dia senang dan nyaman daripada lo yang cuma bisa diam dan buang muka."
Rara tersenyum mengejek, menatap lurus ke mata Laras tanpa gentar sedikit pun. "Bukannya begitu ya. Cuma lo jangan salah sangka. Dimas itu cowok yang cerdas dan dewasa. Dia nggak bakal cuma liat cara orang ngomong atau senyum doang. Dia bakal liat isi hati dan kelakuan aslinya. Dan soal bersaing... oke aja buat gue. Gue nggak takut. Kita liat aja nanti siapa yang bakal dia pilih. Yang pasti gue nggak bakal main kotor atau pura-pura baik cuma buat dapetin perhatian dia kayak yang lo lakuin."
"Lo berani ya ngehina gue lagi!" wajah Laras memerah menahan emosi. "Inget ya Ra, dulu lo cuma bisa diam dan takut sama gue. Sekarang lo udah berani ngelawan? Tapi inget, persahabatan kita di panggung itu cuma sandiwara. Di luar sana kita tetep saingan. Dan aku nggak akan biarin lo menang gampang."
"Gue juga nggak mau menang curang," balas Rara tenang namun tajam. "Persaingan boleh, tapi tetep jaga sikap. Kalau lo main kasar atau nyakitin gue lagi, jangan harap gue bakal maafin lo kedua kalinya. Dan satu hal lagi Dimas itu bukan barang yang bisa diperebutkan kayak gini. Dia punya hati sendiri buat milih siapa yang dia suka."
Tepat saat itu terdengar langkah kaki mendekat. Mereka berdua seketika terdiam dan membuang muka ke arah berbeda saat melihat Dimas muncul dari ujung lorong. Dimas tersenyum ramah melihat mereka berdua.
"Kok berhenti di sini? Pada cari apa?" tanyanya polos.
Laras segera mengubah wajahnya menjadi senyum manis, melangkah mendekat dengan lembut. "Nggak kok Dimas, aku cuma bilang sama Rara kalau hasil kita tadi bagus banget. Aku seneng banget bisa kenal kalian lebih dekat," ucapnya dengan nada yang berubah total menjadi sangat halus.
Rara hanya mendengus pelan, ikut tersenyum tipis namun matanya sempat melirik tajam sekilas ke arah Laras sebelum menatap Dimas. "Iya bener Dim. Kita lagi ngobrolin rencana buat selanjutnya," jawab Rara singkat.
Dimas tampak tidak menyadari ketegangan yang masih tersisa di udara. Ia tertawa kecil. "Bagus deh kalau kalian udah akur. Yuk kita kumpul sama yang lain, Bu Ratna mau kasih ucapan selamat sekaligus hasil penilaian sementara."
Mereka berjalan beriringan mengikuti Dimas, namun di antara Rara dan Laras masih ada jarak yang tak terlihat. Meskipun mereka sudah berhenti bermusuhan dan mau bekerja sama, persaingan hati untuk mendapatkan perhatian satu orang yang sama ternyata masih menjadi hal yang belum selesai di antara mereka berdua.
Sepanjang jalan menuju ruang kelas, Rara berbisik pelan tanpa menoleh ke samping. "Inget ya Lar, gue nggak mundur. Kita liat aja nanti."
Laras menjawab pelan sambil tetap tersenyum melihat punggung Dimas di depan. "Silakan aja. Gue juga nggak akan kalah dari lo, dia pikir gue menyerah begitu saja? Enggak sama sekali gue enggak akan pernah menyerah sampai gue dapetin apa yang gue pengen!!”
***
Setelah suasana di depan kelas mulai tenang dan Rara serta Laras akhirnya berpisah kembali ke bangku masing-masing, Arga dan Bima langsung menyergap Dimas yang baru saja duduk di kursinya. Wajah mereka penuh kekaguman sambil menepuk-nepuk pundak sahabat itu berkali-kali.
"Wih gila Dim! Gue bener-bener salut banget sama lo tadi!" seru Arga dengan mata berbinar, suaranya cukup keras namun tetap berusaha tidak mengganggu teman lain. "Cara lo ngadepin mereka berdua itu bener-bener mantap banget tau! Gue aja udah deg-degan liatnya, takut salah ngomong malah bikin salah satu nangis atau marah besar. Tapi lo bisa tenangin tanpa bikin salah satu tersinggung sama sekali."
Bima mengangguk mantap sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Bener banget kata Arga. Lo emang nggak pernah salah sikap deh. Bisa-bisanya lo ngomong baik ke Rara, ngomong manis ke Laras, tapi tetep kelihatan netral dan jujur. Nggak ada yang ngerasa dipilih atau dikalahin. Itu skill yang jarang dimiliki cowok tau!"
Dimas hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala, tangannya merapikan buku di atas meja. "Ah kalian berlebihan aja. Gue cuma ngomong apa adanya kok. Mereka berdua kan sama-sama temen gue, sama-sama punya kelebihan. Masa iya gue harus ngejelekin yang satu cuma buat senengin yang lain? Nggak adil dong namanya."
"Nah itu dia!" potong Arga cepat. "Itu yang bikin lo beda dari cowok lain. Banyak cowok kalau dihadepin dua cewek yang lagi bersaing gitu, pasti langsung panik atau malah milih salah satu aja biar cepet kelar. Lo malah bisa ngerti posisi mereka berdua. Gue makin ngerti kenapa banyak banget cewek di sekolah ini yang naksir dan kagum sama lo. Bukan cuma karena ganteng atau pinter aja, tapi sikap lo yang dewasa dan nggak sembarangan itu lho yang bikin mereka lemes!"
"Iya bener," timpal Bima sambil terkekeh. "Lo emang jago main peran? Atau emang beneran segitu bijaknya lo? Tadi pas mereka saling sindir tajam, gue udah siap-siap nyari alasan buat kabur aja biar nggak kena dampaknya. Tapi lo malah bisa bikin mereka berdua diam dan malah seneng denger omongan lo. Luar biasa banget deh!"
Dimas tersenyum malu-malu sambil menepuk pelan lengan sahabatnya. "Gue nggak main peran kok. Gue cuma inget, namanya juga cewek. Kalau lagi ada perasaan yang terlibat, hati mereka itu rapuh banget. Sekali lo salah kata, bisa berbekas lama. Jadi lebih baik hati-hati dan adil. Lagian gue juga pengen persahabatan kita tetep rukun, nggak mau gara-gara masalah perasaan malah jadi musuhan lagi."
Arga dan Bima saling berpandangan, lalu tersenyum lebar. "Udah deh Dim, jangan heran kalau nanti makin banyak yang naksir. Lo emang paket lengkap deh. Pantesan Rara sama Laras sama-sama nggak mau mundur buat dapetin perhatian lo. Siapa sih yang nggak bakal jatuh hati liat sikap sebaik dan seadil itu?"
Mereka pun tertawa bersama, sementara Dimas hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Ia memang tidak bermaksud memikat siapa pun, ia hanya berusaha menjadi teman yang baik bagi semua orang. Tapi bagi Arga, Bima, dan siapa pun yang melihatnya, sikap sederhana namun penuh pengertian itulah pesona asli Dimas yang tak tertandingi.