Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Perjanjian Setahun
Tiga hari setelah Nathan memerintahkan perburuan terhadap JK, pesan dari Renata masuk ke ponselnya.
Aku punya tawaran soal Vila Kenari. Satu kali pertemuan. Bawa notaris.
Nathan membacanya saat tim teknis masih memeriksa puluhan akun lama. Ia membalas dengan satu alamat dan waktu, lalu kembali bekerja seolah pesan itu tidak mengganggunya.
Siang berikutnya, Renata datang ke ruang pertemuan Prima Aeroteknik membawa draf baru.
Nathan sudah duduk di ujung meja. Seorang notaris independen berada di sebelahnya dengan dokumen identitas dan laptop terbuka.
“Kamu minta pertemuan,” kata Nathan. “Bicara.”
Renata duduk tanpa melepas map dari tangannya. “Opa meneleponku kemarin.”
Tatapan Nathan berubah sedikit. “Kamu bilang apa?”
“Aku bilang sedang sibuk kerja.”
Opa William belum tahu ia meninggalkan Puri Teratai. Lelaki tua itu hanya mengira jadwal penerbangan Renata sedang padat. Jika kabar tentang perceraian sampai kepadanya sekarang, Opa pasti turun tangan dan membuat seluruh keluarga ikut campur.
Seolah dipanggil oleh pembicaraan mereka, nama Opa muncul di layar ponsel Nathan.
Nathan mengangkatnya. “Opa.”
“Kamu di mana?” suara Opa William terdengar keras dari seberang.
“Kantor.”
“Rena ada di sana?”
Nathan menatap Renata sebelum menjawab. “Ada.”
“Bagus. Bilang padanya jangan ambil jadwal hari Minggu. Kalian makan malam di rumah.”
Renata bisa mendengar jelas meski sambungan tidak memakai pengeras suara.
“Kami akan datang,” kata Nathan.
“Bukan cuma datang. Jangan pulang cepat seperti terakhir kali. Opa sudah minta Bik Inah siapkan kamar kalian.”
Sambungan berakhir sebelum Nathan sempat menolak.
Keheningan singkat jatuh di ruang pertemuan. Notaris menundukkan wajah, berpura-pura memeriksa dokumen.
“Sekarang kamu tahu kenapa kita perlu aturan tertulis,” ujar Renata.
“Aku bisa datang hari Minggu dan berpura-pura semuanya baik-baik saja,” lanjut Renata.
“Sebagai imbalan?”
“Satu tahun.”
Nathan menyandarkan tubuh. “Jelaskan.”
Renata mengeluarkan draf perjanjian. “Selama satu tahun, aku akan bekerja sama menjaga pernikahan ini di depan Opa dan keluarga. Aku datang ke acara yang memang perlu, tidak membuat keributan, dan tidak membicarakan perceraian kepada beliau.”
“Lalu?”
“Setelah satu tahun, aku mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Negeri. Kamu tidak menghalangi prosesnya. Vila Kenari dipindahkan kembali atas namaku sebelum gugatan diajukan.”
Nathan membaca halaman pertama. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum.
“Jadi kamu mau menipu Opa selama setahun demi sebuah rumah.”
“Aku mau menyelesaikan masalah tanpa membuat kesehatan Opa terganggu.”
“Kamu tetap meminta rumah.”
“Rumah Mama.”
“Yang sekarang terdaftar atas namaku.”
“Karena itu ada klausul pengalihan.”
Notaris mengangkat tangan kecil. “Saya perlu menegaskan, perjanjian ini tidak membubarkan perkawinan. Perceraian pasangan Kristen tetap harus diputus Pengadilan Negeri melalui gugatan dan proses mediasi.”
“Saya paham,” jawab Renata.
Notaris menoleh kepada Nathan. “Tuan Nathan juga perlu memahami bahwa klausulnya hanya mengatur sikap para pihak di masa depan, termasuk kewajiban tidak menghalangi gugatan dan pengalihan Vila Kenari. Ini bukan akta cerai.”
Nathan mengangguk singkat. “Lanjutkan.”
Mereka membahas setiap pasal. Renata meminta kalimat tentang Vila Kenari dibuat tegas: dokumen pengalihan harus selesai paling lambat tiga puluh hari sebelum gugatan diajukan. Salinan asli disimpan notaris, sementara masing-masing pihak mendapat satu salinan bermeterai.
Notaris juga menambahkan prosedur jika salah satu pihak melanggar: peringatan tertulis, waktu empat belas hari untuk memenuhi kewajiban, lalu hak membawa sengketa perjanjiannya ke jalur perdata. Dengan begitu, kertas itu tidak bergantung pada janji lisan Nathan.
Nathan hanya mengajukan satu perubahan.
“Selama satu tahun, kalau Opa meminta kami tinggal bersama, Renata harus kembali ke Puri Teratai.”
Renata menatapnya. “Kamar terpisah.”
“Tulis.”
Notaris menambahkan batas tersebut. Tidak ada kewajiban hubungan fisik, tidak ada hak saling memeriksa pekerjaan pribadi, dan tidak ada larangan tinggal terpisah jika Opa tidak meminta sebaliknya.
“Ada tambahan?” tanya notaris.
“Tidak,” jawab Renata.
Nathan menutup draf. “Aku masih tidak percaya kamu sungguh ingin bercerai.”
“Itu bukan syarat sahnya perjanjian.”
“Kamu mendapat rumah miliaran rupiah, tetap memegang perhatian Opa, lalu pergi setelah setahun. Rencana yang bagus.”
Renata hampir menjelaskan bahwa ia baru saja menjual benda bernilai dua puluh miliar tanpa meminta satu rupiah pun darinya. Ia juga hampir mengatakan uang bukan alasan dirinya pergi.
Namun penjelasan hanya berguna bagi orang yang ingin memahami.
“Kalau kamu menganggapku mata duitan, perjanjian ini justru menguntungkanmu,” katanya. “Setelah Vila Kenari dikembalikan, aku tidak meminta harta lain.”
Nathan menatapnya beberapa detik, lalu mengambil pena.
Ia menandatangani tanpa membaca ulang halaman terakhir.
Renata menandatangani setelahnya. Notaris membubuhkan pengesahan, mencatat nomor akta, lalu memasukkan naskah asli ke dalam map penyimpanan.
Satu tahun resmi menjadi jarak antara Renata dan kebebasannya.
Ketika ia keluar dari ruang pertemuan, Cheryl berdiri di dekat meja sekretaris. Perempuan itu menatap map salinan di tangan Renata, lalu pada Nathan yang masih berada di dalam.
“Kalian tanda tangan apa?”
“Tanya Nathan.”
Renata berjalan melewatinya.
Cheryl bergerak hendak masuk, tetapi suara notaris dari dalam membuatnya berhenti. Ia hanya sempat mendengar kata “satu tahun” dan “Puri Teratai”. Wajahnya perlahan kehilangan ketenangan.
Renata turun dengan lift dan keluar dari gedung SCBD seorang diri. Langit Jakarta berwarna abu-abu kebiruan, menahan hujan yang belum jatuh.
Ia membuka map untuk memastikan salinannya masih ada.
Satu tahun itu bukan kesempatan untuk merebut Nathan kembali.
Itu harga yang harus ia bayar agar bisa pergi dengan Vila Kenari di tangannya.