Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBALASAN SANG ARASYID
Waktu seolah merayap lambat di koridor rumah sakit, namun bagi Maheer, setiap detik adalah bahan bakar bagi api dendam yang membara di dadanya. Setelah dua minggu menjalani perawatan intensif dan serangkaian terapi pasca operasi, dokter akhirnya mengizinkannya untuk pulang. Meski fisiknya masih memerlukan bantuan kursi roda untuk mobilitas jarak jauh, sorot matanya sudah kembali tajam, sedingin es kutub.
Hal pertama yang terpatri di benaknya bukanlah pulang ke mansion untuk beristirahat, melainkan menemui sang paman. Pengakuan Assel tentang keterlibatan Khalid dalam kematian Muzammil telah menjadi racun yang mendidih dalam darahnya.
"Maheer, kau baru saja sembuh. Setidaknya istirahatlah satu malam lagi di rumah," bujuk Assel dengan raut wajah penuh kecemasan.
Maheer menggeleng pelan, lalu menggenggam tangan istrinya. "Aku tidak bisa tidur dengan tenang selama iblis itu masih bernapas lega tanpa melihat mataku, Assel. Aku harus mengakhiri ini sekarang."
William dan teman-temannya yang lain sempat mencoba menahan, namun mereka tahu watak Maheer. Jika pria itu sudah mengambil keputusan, bahkan badai pun tidak akan bisa menghentikannya. Akhirnya, mereka menyerah.
"Archie, bawa Assel dan Razka pulang ke mansion. Gandakan pengawalan. Jangan biarkan lalat sekalipun masuk tanpa izin," perintah Maheer tegas. "Aku tidak ingin mengambil risiko apa pun lagi."
"Baik, Tuan. Saya laksanakan," jawab Archie patuh.
Setelah memastikan istri dan anaknya aman dalam perlindungan ketat, Maheer bersama Noah, William, Leo, dan Oliver meluncur menuju markas rahasia tim elit. Tempat itu berada jauh di pinggiran kota, tersembunyi di bawah sebuah gudang logistik tua yang tampak tidak mencolok dari luar.
Lift barang membawa mereka turun ke lantai bawah tanah yang dingin dan lembap. Begitu pintu terbuka, aroma besi dan debu menyapa indra penciuman. Di tengah ruangan yang diterangi satu lampu gantung yang berayun, Khalid terikat kuat di sebuah kursi besi. Wajahnya babak belur, dan kaki kanannya terbalut perban putih akibat luka tembak saat operasi penyelamatan tempo hari.
Melihat Maheer didorong menggunakan kursi roda masuk ke ruangan, Khalid justru tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya menggema kasar di dinding beton.
"Lihatlah keponakanku yang agung ini! Akhirnya kau menjadi cacat seperti ini?" ejek Khalid dengan nada meremehkan. "Ternyata keberuntungan tidak selalu berpihak pada keluarga Arasyid yang sombong itu."
Maheer tetap diam, wajahnya datar tanpa ekspresi. Ia membiarkan pamannya terus meracau, menghina ayahnya dan mencaci maki silsilah keluarga mereka. Khalid bahkan mencoba menghasut teman-teman Maheer.
"Kalian salah membela orang! Maheer hanyalah sampah yang akan menyeret kalian ke dalam kehancuran!" seru Khalid pada William dan yang lainnya.
Maheer masih tak bergeming, menatap pamannya dengan tatapan kosong yang justru terasa lebih mengerikan daripada amarah yang meledak. Khalid, yang merasa pancingannya tidak berhasil, mulai mengeluarkan kartu asnya. Ia menyeringai keji, memperlihatkan giginya yang berlumuran darah.
"Kau ingin tahu rahasia kecil, Maheer? Apakah kau ingat peristiwa tujuh tahun yang lalu? Fitnah yang membuatmu membenci Assel dan dibenci oleh kakakmu sendiri, itu adalah mahakaryaku," bisik Khalid dengan bangga. "Aku yang mendanai dan menghasut teman-teman sekolahmu yang bodoh itu untuk menjebakmu. Aku ingin melihat kalian saling menghancurkan."
Rahang Maheer mengeras. Buku jarinya memutih saat mencengkeram lengan kursi roda.
"Bukan hanya itu," lanjut Khalid, tawanya semakin gila. "Kematian orang tua Assel? Itu juga bagian dari rencanaku. Aku membayar orang untuk menyabotase mobil mereka. Aku ingin Assel sendirian kesedihan dan menderita setelah kepergianmu dan orang tuanya, agar Muzammil terbebani, dan kalian berdua semakin terjepit dalam adu domba yang aku ciptakan."
Hening. Ruangan itu mendadak terasa begitu sempit hingga oksigen seolah menghilang. Maheer perlahan melepaskan pegangannya dari kursi roda. Dengan gerakan yang pasti dan tenaga yang seolah muncul dari amarah terdalam, ia berdiri.
Khalid terkesiap, tawanya terhenti seketika. "Kau... kau tidak lumpuh?"
Maheer tidak menjawab. Ia melangkah maju, setiap tapakan kakinya terdengar seperti lonceng kematian bagi Khalid. William dan yang lainnya mundur selangkah, memberikan ruang bagi sang Arasyid untuk menuntaskan dendamnya.
BUGH!
Satu tinju keras mendarat tepat di rahang Khalid, membuat kursi besinya berderit hebat. Belum sempat pria tua itu bernapas, Maheer menghujaminya lagi dengan pukulan bertubi-tubi. Ia melepaskan segala rasa sakit, pengkhianatan, dan kerinduan pada kakaknya yang selama ini ia pendam.
"Ini untuk Kak Muzammil!" bentak Maheer sambil melayangkan pukulan kiri.
BUGH!
"Ini untuk orang tuanya Assel!"
PLAK!
Maheer meraih sebuah cambuk kulit yang tergantung di dinding ruang interogasi. Tanpa ampun, ia mengayunkannya ke tubuh Khalid. Setiap lecutan adalah bayaran bagi tujuh tahun penderitaan dan fitnah yang telah menghancurkan hidupnya.
"Ampun, Maheer! Ampun!" jerit Khalid, suaranya kini melengking ketakutan.
"Ampun?" Maheer tertawa dingin, matanya berkilat seperti iblis. "Kau meminta ampun setelah membunuh kakakku? Setelah menghancurkan kebahagiaan Assel? Setelah hampir membunuh anakku?"
Maheer kembali mencambuk pria itu hingga baju Khalid robek dan kulitnya mulai mengeluarkan darah. Dendamnya sudah sampai ke ubun-ubun. Pria di hadapannya ini bukan lagi seorang paman, melainkan monster yang telah merampas segalanya dari hidupnya.
Teman-teman Maheer hanya bisa menonton dalam diam. Mereka tahu, Maheer butuh ini. Ia butuh mengeluarkan monster dalam dirinya agar ia bisa kembali menjadi manusia untuk Assel dan Razka.
"Kau tidak pantas mati dengan cepat, Khalid," desis Maheer tepat di depan wajah pamannya yang sudah tak berbentuk. "Aku akan memastikan kau merasakan setiap tetes penderitaan yang aku dan Assel rasakan selama tujuh tahun ini. Kau akan memohon kematian, tapi aku tidak akan memberikannya padamu."
Maheer membuang cambuk itu ke lantai dengan napas yang memburu. Ia menoleh ke arah William. "Simpan dia di sini. Jangan biarkan dia mati, tapi jangan biarkan dia merasa nyaman. Besok, aku ingin seluruh bukti kejahatannya siap untuk diserahkan ke pihak yang paling kejam di negeri ini setelah aku selesai dengannya."
"Oke Maheer, kau tenang saja, Aku sudah mengutus bawahan kita, untuk mengumpulkan semua data kejahatannya. Dan ku pastikan dia tidak akan bisa lolos pada hukum di negara ini." balas Wiliam, sambil mendekatkan kursi roda Maheer. "Sekarang sebaiknya kita pulang, karena sudah waktunya kau beristirahat, agar secepatnya kau pulih kembali "
Maheer akhirnya kembali ke kursi rodanya, energinya terkuras habis namun hatinya sedikit lega. Di balik kegelapan lantai bawah tanah itu, sebuah babak kelam akhirnya mulai ditutup dengan darah. Namun, bagi Maheer dan Assel, perjalanan untuk menyembuhkan luka yang telah menganga selama bertahun-tahun baru saja dimulai. Ia harus segera pulang, menemui cahaya hidupnya, dan memastikan bahwa tidak akan ada lagi bayang-bayang Khalid yang menghantui masa depan mereka.
di bikin novel sendiri aja Thor