NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:883
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

"Aku jual diri demi 1 Miliar Emas, tapi aku TIDAK JUAL HARGADIRI!"

Lin Qingyan menerima pernikahan kontrak dengan pria lumpuh tak berdaya demi menyelamatkan keluarganya. Semua orang menertawakan dia, mengira dia akan hidup menderita selamanya.

Tapi siapa sangka? Di balik tubuh lemah itu tersembunyi sosok Raja Dunia yang paling ditakuti! Dan dia hanya tunduk pada satu wanita: Lin Qingyan!

Siapa berani meremehkan istri kontrak ini? Bersiaplah digilas habis! Karena aku bukan wanita biasa, aku adalah Ratu yang akan menguasai segalanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Sumpah di Bawah Langit Kelam

## 📖 BAB 27: Sumpah di Bawah Langit Kelam

Dinginnya angin laut yang menyapu Pulau Phoenix malam itu tidak sebanding dengan rasa dingin yang merayap di punggung Lin Qingyan. Di dalam pondok kayu yang hanya diterangi cahaya remang-remang lampu minyak, ia berdiri mematung di dekat jendela. Kata-kata pertama putrinya, *"Ayah... api,"* bukan sekadar gumaman bayi biasa bagi Qingyan. Itu adalah sebuah peringatan naluriah yang mengerikan.

Di kejauhan, titik-titik lampu kapal yang mendekat bergerak dengan formasi mengepung. Mereka mematikan lampu navigasi saat jarak semakin dekat, mencoba menyatu dengan kegelapan samudera. Qingyan tahu, waktu untuk menangis telah habis. Ia bukan lagi wanita yang bisa terus bersembunyi di dalam menara gading yang dibangun suaminya.

"Chenyu, kemari," bisik Qingyan dengan suara rendah namun penuh otoritas.

Putra sulungnya mendekat dengan mata memancarkan ketakutan sekaligus keberanian yang dipaksakan. Qingyan memegang kedua bahu kecil anaknya itu.

"Bawa adik-adikmu ke ruang sempit di balik rak buku. Ingat apa yang Ayah ajarkan? Jangan bersuara sedikit pun, bahkan jika kau mendengar suara ledakan di luar. Jika pintu itu tidak dibuka oleh Ibu atau Ayah, jangan pernah keluar. Mengerti?

Chenyu mengangguk cepat. Dengan sigap, ia membantu ibunya memindahkan boks bayi si kembar ke dalam ruang rahasia yang tersembunyi di balik dinding kayu ganda. Setelah memastikan anak-anaknya aman dan terkunci, Qingyan melangkah menuju meja kayu utama. Ia mengambil pistol pemberian Beichen, menarik pelatuknya untuk memastikan peluru sudah naik ke kamar mesin. Dua belas peluru. Hanya dua belas peluru untuk mempertahankan nyawa mereka.

Ia kemudian membuka laci rahasia yang disebutkan dalam surat terakhir Beichen. Di sana terdapat beberapa granat asap dan sebuah busur panah modern dengan anak panah yang ujungnya telah diolesi cairan pelumpuh saraf. Beichen selalu bersiap untuk skenario terburuk, dan dalam hati Qingyan bersyukur suaminya adalah pria yang sangat paranoid.

"Siapa pun kalian," gumam Qingyan sambil menarik tuas senjata,

"kalian harus melewati mayatku sebelum menyentuh anak-anakku."

Di pantai, tiga sekoci karet mendarat tanpa suara di atas pasir putih. Sosok-sosok berpakaian hitam dengan topeng taktis mulai bergerak merayap di antara pepohonan kelapa. Mereka adalah unit *striker* Klan Tua, tim elit yang dikirim khusus oleh Mo Ran untuk melakukan "pembersihan bersih".

Namun, Qingyan tidak menunggu mereka mencapai pondok. Ia keluar melalui pintu belakang dan merayap di bawah bayangan semak-semak yang rimbun. Ia sangat mengenal medan pulau ini; Beichen pernah memaksanya menghafal peta topografinya saat mereka berlibur tahun lalu—yang ternyata adalah sesi latihan bertahan hidup terselubung.

Dari atas dahan pohon besar yang rimbun, Qingyan membidikkan busurnya dengan napas tertahan. *Wusss!* Anak panah pertama melesat mulus, mengenai leher salah satu penyerang. Pria itu jatuh tanpa suara, sarafnya lumpuh seketika sebelum ia sempat menarik pelatuk senjatanya.

"Ada penembak jitu! Cari perlindungan!" teriak pemimpin tim penyerang dalam bahasa kode yang tajam.

Suasana senyap seketika pecah oleh rentetan tembakan membabi buta ke arah pepohonan. Qingyan menjatuhkan diri, berguling di tanah yang lembap, dan segera berpindah posisi dengan gesit. Adrenalin mengalir deras di nadinya, menghapus rasa lelah dan trauma.

Ia menggunakan teknik *hit and run*. Setiap kali para pengepung itu mencoba mendekati pondok, Qingyan melepaskan tembakan atau anak panah dari sudut yang tak terduga, menciptakan ilusi seolah-olah pulau itu dijaga oleh banyak orang.

Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Satu peluru nyasar menggores lengan atas Qingyan, merobek kain bajunya dan meninggalkan rasa perih yang membakar. Ia meringis menahan sakit, namun tidak berhenti. Ia harus terus memancing mereka menjauh dari tempat persembunyian anak-anaknya.

Sementara itu, ratusan mil dari sana di daratan utama, Gu Beichen berdiri di atas atap gedung tua yang menghadap ke pelabuhan logistik terbesar milik Klan Tua. Luka di bahunya yang dijahit kasar mulai berdenyut hebat, namun ia mengabaikannya. Di tangannya terdapat sebuah *detonator* dan radio komunikasi yang ia rampas dari seorang informan.

Penemuan dokumen tentang ibunya telah mengubah permainan ini sepenuhnya. Baginya, ini bukan lagi sekadar pelarian; ini adalah misi penghancuran total.

"Tetua Agung, kau dengar aku?" suara Beichen memecah frekuensi radio terenkripsi klan.

Di seberang sana, terjadi keheningan sejenak sebelum suara berat sang Tetua menjawab,

"Kau masih hidup, Longwei. Kau benar-benar kecoa yang sulit diinjak."

"Berhenti mengirim orang ke pulau itu," kata Beichen dingin. Suaranya mengandung getaran kekuatan yang mematikan.

"Jika satu helai rambut istri atau anakku hilang, aku tidak akan hanya membunuhmu. Aku akan meratakan setiap jengkal tanah yang menyandang nama keluarga Gu. Aku akan menghapus sejarah kita dari muka bumi."

"Kau mengancam klan yang membesarkanmu?"

"Aku mengancam sebuah institusi yang sudah membusuk," balas Beichen tajam.

"Dan satu lagi... di mana ibuku? Jika kau berbohong tentang statusnya, aku akan memastikan kematianmu menjadi pertunjukan yang sangat lambat."

Tanpa menunggu jawaban, Beichen menekan tombol *detonator*. Di bawah sana, deretan kontainer berisi peralatan komunikasi dan aset digital klan meledak serentak dalam bola api raksasa. Beichen menghilang ke dalam kegelapan, bergerak menuju target berikutnya: kediaman pribadi Mo Ran. Ia tahu wanita itu adalah kunci untuk mengetahui lokasi pasti keluarganya saat ini.

Kembali ke Pulau Phoenix, amunisi Qingyan kini tinggal tersisa dua peluru terakhir. Ia terpojok di balik reruntuhan gudang kayu tua di dekat pantai. Para penyerang telah mengepungnya dari segala penjuru.

"Menyerahlah, Nyonya Gu," sebuah suara wanita terdengar dari balik kerumunan pria bersenjata. Mo Ran melangkah maju dengan pakaian taktis hitam yang elegan. Belati panjang di tangannya berkilau terkena cahaya bulan yang pucat.

"Beichen sudah mati. Kau hanya melindungi sebuah kenangan yang akan segera terkubur."

Qingyan berdiri dengan susah payah, meski kakinya gemetar karena kehilangan banyak darah. Ia menatap Mo Ran dengan kebencian yang murni.

"Dia tidak mati. Aku bisa merasakannya. Dan bahkan jika dia mati, rohnya akan menyeretmu ke neraka sebelum kau bisa menyentuh anak-anakku."

Mo Ran tertawa kering, suara yang penuh kedengkian.

"Cinta yang manis. Tapi di dunia kami, cinta adalah kelemahan yang mematikan. Biarkan aku menunjukkan padamu bagaimana rasanya kehilangan segalanya."

Mo Ran menerjang dengan kecepatan luar biasa. Qingyan melepaskan satu tembakan, namun Mo Ran menghindar dengan gerakan akrobatik yang terlatih. Belati Mo Ran terayun, menggores pipi Qingyan hingga darah segar menetes.

Di saat kritis itu, sebuah raungan mesin memecah langit. Bukan dari klan, melainkan sebuah helikopter tanpa lambang muncul dari balik awan badai. Lampu sorot raksasa berkekuatan tinggi membutakan mata semua orang di pantai.

"Target teridentifikasi! Amankan Nyonya dan anak-anak! *Free fire* pada musuh!" suara tegas menggelegar dari pelantang suara helikopter.

Itu adalah Phoenix. Tim tentara bayaran elit yang disebutkan dalam surat Beichen telah tiba tepat pada waktunya. Tali-tali turun dari helikopter, dan sepuluh operator bersenjata lengkap meluncur turun dengan presisi militer yang mematikan.

Melihat situasinya berbalik secara drastis, Mo Ran menggeram kesal. Ia mencoba meraih Qingyan untuk dijadikan sandera, namun sebuah tembakan peringatan menghantam tanah tepat di depan kakinya.

"Mundur, Jalang!" teriak salah satu operator Phoenix sambil mengarahkan moncong senjatanya.

Mo Ran terpaksa memberikan kode mundur pada anak buahnya. Mereka menghilang ke dalam kegelapan hutan menuju kapal sekoci cadangan, meninggalkan Qingyan yang jatuh terduduk karena lemas dan lega.

Beberapa jam kemudian, di dalam helikopter yang membawa mereka menuju lokasi aman, Qingyan mendekap ketiga anaknya yang masih syok. Pemimpin tim Phoenix, seorang pria dengan bekas luka bakar yang dikenal sebagai 'Commander', menyerahkan sebuah ponsel satelit.

"Ada seseorang yang ingin bicara dengan Anda," katanya dengan nada hormat.

Qingyan mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar.

"Halo?"

"Sayang..." suara di seberang sana sangat serak dan penuh kelelahan.

"Maafkan aku karena terlambat mengirim mereka."

"Beichen..." tangis Qingyan pecah seketika.

"Kau hidup... kau benar-benar hidup."

"Aku tidak akan mati sebelum memastikan kalian bisa tersenyum lagi tanpa rasa takut," kata Beichen lembut.

"Dengarkan aku, Qingyan. Phoenix akan membawamu ke sebuah benteng di pegunungan Alpen. Di sana kau akan aman. Aku harus menyelesaikan sesuatu di sini. Sesuatu tentang masa laluku... tentang ibuku."

"Beichen, apa yang kau temukan? Kenapa semuanya menjadi begitu rumit?"

"Aku menemukan bahwa aku bukan satu-satunya 'Anak Takdir' yang mereka ciptakan," suara Beichen mendingin kembali.

"Aku sedang menuju ke markas rahasia di bawah tanah kota ini. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan selama tiga puluh tahun. Aku mencintaimu, Qingyan. Tetaplah kuat."

Sambungan terputus. Qingyan menatap keluar jendela helikopter, melihat fajar yang mulai menyingsing di cakrawala. Ia tahu suaminya sedang menuju ke jantung kegelapan, dan ia hanya bisa berdoa agar cahaya cinta mereka cukup kuat untuk menuntun Beichen kembali pulang. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasa bahwa apa pun yang ditemukan Beichen nanti akan mengubah hidup mereka selamanya.

**BERSAMBUNG KE BAB 28**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!