Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Resep Cinta
Bab 9
“Pesan aja sesuka kalian, yang penting tahu diri,” seru Anji. “Ren, pesen Ren, Yuli pesenin juga. Bilang dari Anji orang paling ganteng di IGD.”
Rendi mencibir meski pandangannya sibuk mencari menu paling mahal. Asoka sibuk menelpon, siapa lagi kalau bukan dengan Lisa. Definisi budak cinta paling akut di geng itu.
“Edward my man, kok diam aja. Mules ya nahan pengen kentut,” ejek Anji sambil merangkul Edward.
Gegara momen Aya mengantarkan kopi ke IGD, Anji malah inisiatif mengumpulkan anggota geng di cafe usai tugas. Alasannya dia lagi bahagia, semua tagihan akan dibayar olehnya.
Edward dan yang lainnya, sudah melepas atribut dokter. Penampilan Edward dengan kemeja maroon dan celana panjang hitam. Begitu pun dengan Asoka dan Rendi yang juga rapi seperti Edward. Berbeda dengan Anji, nyaman dengan polo shirt dan celana jeans.
Pelayan cafe akan mencatat pesanan, tapi Anji menolak. “Nanti aja mbak, lagi lihat dulu mana menu yang pas.”
“Kayak ada yang kurang ya,” seru Anji menatap sekeliling.
“Apaan?” tanya Rendi yang belum paham dengan situasi.
“Cahaya, kayaknya agak redup nie ruangan.” Anji sampai memandang lampu yang bergantung di tengah ruangan.
“Nggak ah, cukup terang ini. Udah pas cahayanya.”
“Nah itu, pas ‘kan cahayanya.”
Edward berdecak melirik dengan tatapan kesal. Diantara mereka berempat Anji memang menyebalkan. Kebetulan Aya baru keluar dari arah dapur lalu menghampiri meja kasir dan berbincang di sana.
“Nah ini, sempurna. Pencahayaan di ruangan ini makin sempurna,” ucap Anji. Asoka sampai mengernyitkan dahi.
“Apaan sih, ada yang udah gue lewatkan ‘kah?”
“Udah lo nelpon Lisa aja sampe budeg,” seru Anji. “Dek Cahaya, kemari dong,” panggil Anji.
“Si Anj1ng,” lirih Edward.
“Eh, mulutnya. Nggk boleh gitu, nanti dedek ilfeel sama pak dokter yang mulutnya nggak difilter.”
“Cahaya?” Asoka dan Rendi serempak.
Aya menghampiri, wajahnya tersenyum dan menyapa ke empat pria itu.
“Sore juga. Udah sore masih cantik aja.”
“Nji,” tegur Asoka.
“Kita mau pesan nih, kamu catat baik-baik ya,” ucap Anji lagi.
“Oke. Silahkan.”
Rendi, Asoka dan Rendi sudah menyampaikan pesanannya. Edward masih membuka lembaran buku menu.
“Yaelah, udah khatam juga. Sampe ke harga gue yakin lo udah hafal. Untuk temen saya yang jomblo ini, nasi goreng dan es jeruk aja. Jangan kopi, nanti melek terus malah bahaya.”
“Serius Om, mau nasi goreng lagi? Tadi siang juga sudah nasi goreng loh.”
Anji ternganga, Asoka dan Rendi saling tatap. Edward berdeham. Setelah ini ia akan dibully lagi, sudah pasti. Keterkejutan para pria itu bukan masalah nasi goreng, tapi panggilan yang ditujukan oleh Aya untuk Edward.
“Om,” ucap Anji dan Rendi terkekeh, sedangkan Asoka tersenyum simpul.
“Mau diganti atau ….”
“Ganti aja,” ujar Anji. “Menurut dede Cahaya, om Edward bagusnya makan apa? Rekomendasi dari kamu.”
“Aku pesan …..”
“Pasta,” sela Aya. “Carbonara. Cocok dinikmati di jam sekarang. Tidak berat, tapi lumayan mengenyangkan. Gimana Om?”
“Deal,” sahut Anji.
“Oke itu, aja. Om Edward suka.” Kali ini Rendi ikut-ikutan.
Aya mengulangi pesanan mereka lalu menyerahkan list ke bagian dapur. Rendi tidak bisa menahan tawa, ia tergelak sedangkan Asoka terkekeh.
“Heran, udah sejauh mana maen lo? Sampe dipanggil om dan dia tahu makanan kesukaan lo. Si vampir bisaan.”
“Tidak seperti yang kalian pikirkan, hanya kebetulan.”
“Kebetulan lo suka sama itu bocah. Berapa umurnya? Lo nggak ped0file ‘kan?”
“Si4lan, dia bukan bocah.” Edward menendang kaki Anji di bawah meja.
“Bukan bocah, malah udah bisa bikin bocah ya Ward.” Rendi terkekeh lagi. “Dari tadi gue pikir ada apa sampai gue nggak nyambung, taunya disambung-sambungin. Dasar 4njing.”
“Terserah kalian.” Edward pasrah, percuma juga menjelaskan. Anji dan Rendi kadang menjadi biang kerok dan sekarang terbukti.
“Woi, udah ngumpul nih.”
Ia menghela nafas, tambah lagi orang sakit jiwa. Rama masih dengan setelan nurse scrub menghampiri meja.
“Rama my man, lambat lo. Mau pesen apa?”
“Ck, gue lagi rehat mau ngerokok malah di telpon suruh kemari. Ada apaan sih?” tanya Rama masih berdiri di samping meja.
“Anji mau traktir, ya ngobrol-ngobrol dulu lah kita. Kayaknya Edward mau kasih tahu berita baik,” jelas Rendi.
“Berita apaan?” tanya Rama memandang Edward.
Asoka terkekeh. “Bercanda mereka.”
“Teman kita ini udah nggak jomblo lagi.” Anji merangkul bahu Edward yang langsung didorong menjauh.
“Iyakah. Baguslah. Heran aja gue, udah sekian tahu kok lo kuat sih punya pedang nggak diasah. Gue suruh puasa pas neng cinta nifas aja kayak mau gigit pintu rasanya.”
“Dek Cahaya, ini temen Om Edward mau pesan lagi,” cetus Anji melambai pada Aya memanggilnya.
“Cahaya apaan? Cahaya Ilahi? Kok Om Edward sih. Ponakan lo?” cecar Rama pada Edward, yang dijawab dengan dessahan.
“Iya, mau pesan lagi?” tanya Aya.
Rama menatap gadis yang berdiri di sampingnya. “Kamu ponakannya Edward?”
“Bukan,” sahut Aya.
“Kok panggil Om?”
“Karena udah om-om, masa saya panggil mas. Ndak pantes, wajahnya bule.” Aya terkikik sambil menutup mulutnya.
“Dia Cahaya, adiknya Andin,” ujar Edward mengenalkan Cahaya pada Rama, menghentikan debat kusir memojokan dirinya.
“Oh, elo adiknya Andin.”
“Iya. Kakak kenal,” seru Aya, Anji dkk pun kembali terbahak kecuali Edward. “Kayaknya masih muda makanya saya panggil kakak.”
“Iya, gue emang masih muda. Gue Rama, Andin kenal kok. Lo kerja di sini? Katanya sakit?”
“Udah sembuh kak. Berobat ke Om Dokter,” tunjuk Aya pada Edward.
“Sembuh dong, dikasih resep cinta. Bukan begitu om dokter,” ejek Anji. “Cie cie, resep cinta. Dosisnya gimana tuh.”
Edward menatap Aya yang tersenyum dengan lesung pipinya. Suara teriakan dan tawa dari cong0r Anji, Rendi dan Rama seolah tidak terdengar. Telinganya mendadak tuli, terpana oleh senyuman Aya. “Cantik,” batinnya.
😛😛
ini mana nih rombongan kk Darma...
kapan surat penangkapan nya datang
janji setelah ini kau masuk penjara yg bener itu 🤣🤣🤣