Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Rasa sakit
Pagi itu datang tanpa cahaya.
Langit di atas Akademi Kerajaan Averion tertutup awan kelabu yang tebal. Udara terasa lebih berat dari biasanya, seolah sesuatu yang tidak terlihat sedang menekan seluruh wilayah itu dari atas.
Namun bagi Sakura
yang terasa bukan hanya berat.
Melainkan… panas.
Ia berjalan menuju kelas dengan langkah pelan.
Setiap langkah terasa seperti menapak di atas sesuatu yang tidak stabil. Tubuhnya ringan, namun di saat yang sama… terasa terlalu penuh.
Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak memiliki tempat.
Napasnya tidak teratur.
Dadanya berdenyut pelan.
duk…
Ia berhenti sejenak di lorong.
Tangan kecilnya mencengkeram dinding batu di sampingnya.
Rasa itu datang lagi.
Bukan sekadar sakit.
Lebih dalam dari itu.
Seperti panggilan.
Atau… jawaban.
Sakura menutup matanya sebentar.
“Ini bukan sakit biasa…”
Bisiknya lirih.
Namun ia tetap berjalan.
Ia tidak punya pilihan lain selain terus berjalan.
Saat ia memasuki kelas, suasana tidak banyak berubah.
Beberapa murid sudah duduk.
Beberapa masih berdiri sambil berbicara.
Namun ketika Sakura melangkah masuk
suara itu langsung menurun.
Bukan hening sepenuhnya.
Tapi cukup untuk membuat keberadaannya terasa.
Ia berjalan ke tempat duduknya di sudut ruangan.
Tidak melihat siapa pun.
Tidak berharap apa pun.
Namun...
duk…
Rasa itu kembali.
Lebih kuat.
Tangannya langsung mencengkeram meja.
Kayu itu berderit pelan di bawah genggamannya.
Ia menunduk cepat.
Menahan napas.
Menahan suara.
Namun tubuhnya mulai gemetar.
“Dia lagi…”
“Kenapa selalu terlihat seperti mau mati?”
Tawa kecil terdengar.
Langkah kaki mendekat.
Sakura tidak perlu mengangkat kepala.
Ia sudah tahu siapa itu.
“Kenapa?”
Suara Claudia jatuh tepat di atasnya.
Dingin.
Tenang.
Namun tajam.
“Kau sakit lagi?”
Sakura tidak menjawab.
Ia tidak punya tenaga untuk itu.
Claudia sedikit menunduk, mencoba melihat wajahnya.
Lalu menyeringai tipis.
“Bagus.”
Sakura mengangkat wajahnya sedikit.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada simpati di mata Claudia.
Hanya penilaian.
“Lebih baik kau terbiasa,” lanjutnya pelan.
“Tempat ini bukan untuk orang sepertimu.”
Ia berhenti sejenak.
Lalu menambahkan
lebih rendah.
Lebih tajam.
“Dan orang sepertimu… tidak akan bertahan lama.”
Kata-kata itu jatuh perlahan.
Namun lebih berat dari apa pun yang dirasakan Sakura saat itu.
Sakura mengepalkan tangannya.
Namun sebelum ia sempat merespon
duk!
Rasa sakit itu meledak.
Lebih kuat dari sebelumnya.
Lebih dalam.
Lebih tajam.
Seolah sesuatu di dalam dirinya
menabrak batas yang tidak terlihat.
Napasnya terhenti.
Dunia di sekitarnya memudar.
Dan tubuhnya jatuh.
Suara kursi berderak keras saat tubuhnya menghantam lantai.
Kelas langsung gaduh.
Beberapa murid mundur.
“Apa dia pingsan?”
“Menjijikkan…”
“Jangan dekat-dekat…”
Namun semua suara itu terasa jauh.
Seperti berasal dari tempat lain.
Sakura tidak benar-benar mendengarnya.
Yang ia rasakan hanya panas dan dingin, Bersamaan
Dadanya seperti diremas dari dalam.
Seolah ada sesuatu yang terus menekan keluar
namun dipaksa tetap tertahan.
Seperti…
dua kekuatan yang saling bertabrakan di dalam dirinya.
Dan tubuhnya hanya wadah.
Saat Sakura membuka matanya
langit-langit kayu terlihat samar di atasnya.
Ia berada di ruang perawatan.
Udara di dalam ruangan itu lebih hangat.
Namun tidak cukup untuk menghilangkan rasa dingin di dalam tubuhnya.
Seorang guru berdiri di sampingnya.
Tatapannya datar.
“Tubuhmu lemah,” ucapnya singkat.
“Jangan memaksakan diri.”
Sakura tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap langit-langit.
Lemah.
Kata itu kembali.
Namun kali ini ia tidak merasa itu benar.
Tubuhnya memang lemah.
Tapi apa yang terjadi di dalam dirinya…
bukan karena kelemahan.
“Ini bukan… karena aku lemah…”
Bisiknya pelan.
Namun terlalu pelan untuk didengar siapa pun.
Sore hari, setelah diizinkan kembali,
Sakura tidak langsung menuju asrama.
Langkahnya berbelok.
Tanpa rencana.
Tanpa tujuan yang jelas.
Namun ia tahu, ia sedang mengikuti sesuatu.
Lorong yang ia lewati semakin sepi.
Semakin jauh dari area utama akademi.
Cahaya semakin redup.
Udara semakin dingin.
Dan..
duk…
Rasa itu muncul lagi.
Kali ini lebih jelas.
Lebih dekat.
Seperti berasal dari arah bawah.
Sakura berhenti.
Menatap ke arah lantai batu.
Hening.
Namun bukan hening yang kosong.
Ia bisa merasakannya.
Getaran halus.
Sangat halus.
Namun nyata.
“Ini… sama seperti kemarin…”
Bisiknya.
Ini bukan pertama kalinya ia merasakan ini.
Ini sama seperti malam itu.
Seperti sesuatu di bawah akademi…
sedang meresponnya.
Namun ia tidak melangkah lebih jauh.
Tidak mendekat.
Tidak mencari.
Ia hanya berdiri.
Merasakan.
Lalu ia berbalik.
Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang berkata belum waktunya.
Langkahnya berlanjut.
Hingga ia tiba di sebuah lorong kecil yang jarang digunakan.
Di ujungnya sebuah pintu kayu tua.
Ukirannya sudah memudar.
Namun masih terlihat sisa-sisa simbol kuno di permukaannya.
Di atasnya, tulisan lama masih terbaca samar:
Ruang Alkemis
Sakura berhenti.
Menatap pintu itu.
Ragu.
Namun berbeda dari lorong sebelumnya
tempat ini tidak terasa menekan.
Justru…
tenang.
Seperti tempat untuk berpikir.
Seperti tempat untuk… bertahan.
Perlahan ia mendorong pintu itu.
Ruangan itu sunyi.
Dipenuhi rak-rak kayu tua.
Botol kaca berbagai ukuran tersusun rapi.
Beberapa berisi cairan berwarna aneh.
Beberapa kosong.
Aroma tajam dari berbagai bahan memenuhi udara.
Namun tidak mengganggu.
Justru terasa… familiar.
Sakura melangkah masuk perlahan.
Matanya menyapu ruangan.
Dan berhenti di meja tengah.
Sebuah buku tua terbuka.
Seolah… menunggu.
Ia mendekat.
Tangannya ragu sejenak.
Namun akhirnya menyentuh halaman itu.
Tulisan di dalamnya rumit.
Simbol dan catatan yang tidak semua orang bisa pahami.
Namun anehnya Sakura mengerti.
“Ramuan penstabil aliran energi internal…”
Ia membaca pelan.
Napasnya tertahan.
Halaman itu menjelaskan tentang kondisi di mana energi dalam tubuh tidak seimbang.
Tentang tekanan yang muncul ketika sesuatu di dalam tubuh mencoba keluar namun terhalang.
Tentang rasa sakit yang terus berulang.
Tentang…
dirinya.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Ini… aku…”
Bisiknya.
Untuk pertama kalinya ,ia menemukan sesuatu yang menjelaskan apa yang ia rasakan.
Hari-hari berikutnya Sakura kembali ke ruangan itu.
Diam-diam.
Tanpa diketahui siapa pun.
Ia belajar.
Menghafal bahan.
Memahami reaksi.
Mencoba meracik.
Berkali-kali gagal.
Cairan berubah warna.
Mengeluarkan bau aneh.
Kadang bahkan mengeras.
Namun ia tidak berhenti.
Karena untuk pertama kalinya ia tidak hanya menahan rasa sakit.
Ia melawannya.
Dengan caranya sendiri.
Suatu malam di bawah cahaya lilin kecil,
ia berhasil.
Cairan bening di dalam botol kecil berkilau samar.
Tenang.
Stabil.
Tangannya gemetar saat mengangkatnya.
Ia menatapnya lama.
Seolah memastikan bahwa ini nyata.
Lalu ia meminumnya.
Beberapa detik berlalu.
Hening.
Lalu napasnya berubah.
Lebih ringan.
Lebih dalam.
Rasa sakit di dadanya mereda.
Tidak hilang sepenuhnya.
Namun…
tenang.
Sakura menutup matanya perlahan.
Untuk pertama kalinya
ia bisa bernapas tanpa rasa tercekik.
Air mata jatuh tanpa suara.
Bukan karena sakit.
Tapi karena lega.
Namun jauh di bawah akademi di balik lapisan batu dan segel kuno sesuatu merespon.
Getaran kecil muncul.
Sangat halus.
Seperti detak.
Seperti…
jawaban.
Di luar ruangan seseorang berdiri dalam bayangan.
Claudia.
Tatapannya tertuju ke arah pintu yang tertutup.
Ia tidak masuk.
Namun ia tahu.
Sakura berubah.
Bukan menjadi lebih kuat.
Tapi…
tidak lagi pasif.
Dan itu berbahaya.
Claudia berbalik perlahan.
Wajahnya dingin.
“Kalau kau mulai bertahan…” gumamnya pelan,
“aku akan memastikan… kau tetap hancur.”
Langkahnya menghilang dalam gelap.
Di dalam ruangan Sakura menggenggam botol kecil itu erat.
Dadanya masih terasa berat.
Namun tidak lagi menyesakkan.
Dan untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu.
Ia tidak perlu menjadi kuat seperti mereka.
Ia hanya perlu…
tidak mati.
Dan perlahan itu sudah cukup untuk memulai segalanya.
---------
Hai semua
mimin mau bilang maaf dulu nih jika cerita kurang menarik atau ceritanya hampir sama dengan novel mimin sebelumnya yang masih tentang balas dendam.
Jangan terlalu berharap ya
Mimin baru mencoba membuat Novel kembali setelah beberapa lama off.
Terima kasih🥰🥰🥰