NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:376
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Esok harinya, Fania pulang dari butik miliknya. Iya memasuki rumah yang Ia tinggali bersama Ronald. Suasana rumah besar itu terasa sunyi seperti biasanya.

Fania melangkahkan kakinya memasuki ruang utama dengan wajah tenang. Tas kecil di tangannya ia letakkan di atas meja, lalu ia berjalan melewati ruang keluarga tanpa menoleh sedikit pun.

Di waktu yang hampir bersamaan, Ronald masuk dari pintu lain. Langkahnya tegas seperti biasa, aura dingin itu kembali menyelimuti dirinya.

Mereka berada di rumah yang sama. Namun terasa seperti dua dunia yang berbeda.

Ronald sempat menangkap sosok Fania dari sudut matanya. Hanya sekilas. Tanpa jeda. Tanpa reaksi.

Fania pun sama, tak ada sapaan, tak ada pertanyaan, dan tak ada yang berubah dari kesepakatan mereka.

Seorang pelayan yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa menunduk pelan. Namun dalam diam, matanya sempat mengerjap bingung.

Ia masih ingat betul bagaimana dulu Tuan dan Nyonya terlihat begitu dekat. Hangat. Bahkan sering berbagi tawa kecil di ruang makan.

Kini semuanya terasa asing.

“Makan malam sudah siap, Nyonya” ucap pelayan hati-hati.

Fania mengangguk ringan. “Terima kasih.”

Beberapa menit kemudian, Fania duduk dengan anggun di kursi makan. Tak lama, Ronald datang dan duduk di hadapannya seperti biasa. Jarak mereka tak berubah, namun rasanya jauh.

Suara dentingan sendok kembali mengisi ruangan, sunyi, dingin. Fania fokus pada makanannya. Ronald pun demikian. Keduanya seperti tenggelam dalam dunia masing-masing.

Tak ada percakapan. Bahkan sekadar basa-basi pun tidak. Seorang pelayan yang berdiri di sudut ruangan, menatap pemandangan itu dengan perasaan tak menentu.

“Apa ada yang salah dengan mereka?” gumamnya dalam hati.

Ia melirik ke arah pelayan lain, yang juga terlihat sama bingungnya.

“Bukannya dulu Tuan selalu…” bisik temannya pelan.

Pelayan itu menggeleng tipis, memberi isyarat agar ia diam. Namun rasa heran itu tak bisa disembunyikan.

Di meja makan, Ronald meletakkan sendoknya lebih dulu. Gerakannya tenang, ekspresinya tetap datar. Fania menyadari itu, namun tak bereaksi.

Ronald bangkit berdiri, tanpa sepatah katapun membawa kakinya melangkah meninggalkan ruang makan.

Ronald pun berlalu meninggalkan ruang makan. Langkahnya menjauh tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Fania masih duduk di tempatnya. Tangannya berhenti sejenak di atas meja. Ada jeda yang tak terlihat, namun terasa. Lalu ia kembali melanjutkan makan. Seolah tak terjadi apa-apa.

Pelayan yang sejak tadi mengamati mereka menatap pemandangan itu dengan dada yang terasa sedikit sesak.

“Apa mereka bertengkar?” pikirnya.

Namun tidak, tak ada nada tinggi, tak ada emosi yang meledak, yang ada justru ketiadaan. Dan itu terasa jauh lebih dingin.

Beberapa saat kemudian, Fania pun selesai. Ia meletakkan sendoknya dengan pelan, lalu berdiri. Meninggalkan ruang makan.

Fania melangkah pergi, meninggalkan ruang makan yang kini kembali sunyi. Pelayan menatap kepergian Nyonyanya, lalu menghela napas pelan.

“Nyonya terlihat sedih” lirihnya.

***

Di lantai atas, Ronald berdiri di balkon kamarnya. Tatapannya kosong menatap gelapnya malam.

Di sisi lain, Fania duduk di ranjangnya, menatap layar tablet tanpa benar-benar membaca.

Dua orang, satu rumah, satu ruangan, dan satu hubungan. Namun tak ada yang benar-benar saling menyentuh.

Angin malam berhembus pelan, menyapu tirai tipis di balkon kamar. Pria itu masih berdiri di sana, tubuhnya tegak namun pikirannya tak benar-benar berada di tempat.

Tangannya bertumpu pada pagar balkon, tatapannya jauh dan kosong.

Di dalam kamar, lampu menyala redup. Memberikan bayangan samar yang mempertegas kesunyian. Ronald memejamkan matanya sejenak.

Seolah mencoba menenangkan sesuatu yang tak ingin ia akui. Namun tak lama, ia kembali membuka matanya. Datar dan terkendali, selalu seperti itu.

Sementara itu, di dalam kamar, Fania masih duduk di tepi ranjang. Tablet di tangannya sejak tadi tak benar-benar ia perhatikan.

Layarnya menyala namun pikirannya tidak. Perlahan, Fania menurunkan tablet itu ke sampingnya. Tangannya terdiam di atas kasur. Ia menatap lurus ke depan, sunyi.

Hanya suara detak jam yang terdengar pelan.

Fania menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ada sesuatu yang menekan di dadanya. Namun Ia memilih untuk tidak menggubrisnya.

“Aneh” gumamnya pelan.

Namun entah apa yang ia maksud. Dirinya?Atau keadaan ini?

Fania berdiri, berjalan menuju cermin besar di sudut kamar. Ia menatap bayangannya sendiri. Rapi dan tenang, tak ada yang salah. Namun juga tak ada yang terasa hidup.

Ia menyentuh ujung rambutnya sebentar, lalu tersenyum tipis. Senyum yang tak bertahan lama, kembali hilang.

Di balkon kamar, langkah kaki terdengar pelan. Ronald berjalan memasuki kamarnya bersama Fania. Langkahnya sempat melambat, namun hanya sesaat saat ekor matanya menangkap keberadaan Fania di depan cermin kamarnya.

Ia mengalihkan pandangannya, lalu melanjutkan langkah. Pandangan fokus ke depan, Ia naik ke ranjang dan bersiap untuk mengistirahatkan diri. Tanpa suara, tanpa keputusan.

Sementara Fania Ia sempat membeku sejenak kala menyadari Ronald mengetahui kelakuannya yang sedang berdiri di depan cermin. Hingga akhirnya Ia kembali ke ranjang, menarik selimut, lalu merebahkan tubuhnya.

Lampu belum Ia matikan. Matanya menatap langit-langit, kosong.

Beberapa menit berlalu, Ia memejamkan matanya. Namun tak benar-benar terlelap.

Ronald yang awalnya terpejam terlihat membuka matanya. Ia mendekat ke arah Fania, meninggalkan kecupan hangat di kening istrinya.

"Good night, Sayang" gumamnya lirih.

Waktu berjalan, malam semakin larut. Di dapur, seorang pelayan masih membereskan sisa-sisa makan malam. pelayan lainnya membantunya dalam diam.

“Masih kepikiran?” tanya salah satu pelayan pelan.

Pelayan yang ditanya mengangguk kecil. “Iya"

“Menurutmu mereka baik-baik saja?”

Pelayan itu terdiam sejenak, lalu menghela napas.

“Kalau dilihat, sepertinya iya,” jawabnya pelan. “Tapi kalau dirasa sepertinya tidak.”

Pelayan itu mengerutkan kening. “Maksudnya?”

Pelayan yang satunya menatap meja makan yang kini sudah bersih.

“Terlalu rapi dan terlalu tenang,” lanjutnya. “Seperti bukan rumah yang sama seperti dulu.”

Pelayan itu terdiam, tak ada yang bisa Ia bantah.

"Sudahlah, biarlah itu urusan mereka."

"Ya, aku takut mereka mendengar dan kita akan dipecat." Ujar pelayan satunya.

Di kamar, Ronald tak langsung tertidur. Setelah melabuhkan kecupan hangat di kening Fania. Ronald menatap penuh wajah cantik Fania dengan perasaan tak menentu.

Dengan tatapan lembut, Ronald mengangkat tangannya mengusap pipi Fania dengan lembut menggunakan ibu jarinya.

"Apa yang salah, hingga kamu bosan dengan hubungan kita?" gumamnya lirih, masih membelai lembut wajah Fania.

Hanya keheningan yang menjawab pertanyaan Ronald, karena Fania sudah terlelap sejak tadi.

Ronald menghembuskan nafas kasar, dan mematikan lampu kamar mereka menyisakan lampu tidur saja. Ia pun ikut terlelap setelah puas menikmati keindahan paras istrinya.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!