NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Selingkuh
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.

Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~

Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.

Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.

Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.

Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.

Rana tahu.

Rana melihat.

Ia menyadari.

Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.

Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?

Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26

Selamat membaca

°°°°°

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pucuk 6

Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul 12: 30 ketika Dipta mematikan mesin mobil di area parkiran RSUP Dr. Sardjito. Dua hari sudah Masayu dirawat intensif. Dua hari yang terasa lebih panjang dari minggu-minggu biasanya.

Di kursi penumpang, ada kantong makan siang yang masih hangat, pesanan sesederhana yang ia beli khusus untuk istrinya. Setidaknya, itu yang bisa dilakukan si sela jam istirahat kantor.

Pintu mobil terbuka, sehingga udara siang menyambutnya. Membawa aroma aspal panas dan samar-samar wangi obat dari arah gedung rumah sakit. Dipta melangkah menuju keluar, merapikan jasnya sebentar, sebelum ia melangkahkan kakinya.

beberapa langkah dari mobil, Dipta seketika berhenti ketika sosok itu berdiri beberapa meter darinya. Waktu seolah melambat ketika ia sadar jika sosok itu adalah Laras.

Perempuan itu terlihat pucat, bahkan menurutnya terlihat agak kurus dari terakhir ia lihat di depan toko dessert beberapa hari yang lalu. Ada bekas lebam di pipi kirinya, serta di sudut bibirnya. Rambutnya di ikat sederhana, namun wajah cantiknya masih terlihat sama.

Sepersekian detik kemudian, mereka saling menatap. Laras terlihat menelan ludah, terlihat salah tingkah ketika bertemu kembali dengan cinta lamanya.

Keduanya masih saling diam, tidak ada yang berani menyapa terlebih dahulu. Bahkan ada jarak yang tidak hanya tercipta oleh ruang di antara mereka, tapi juga oleh tahun-tahun yang telah berlalu.

Dipta mengalihkan pandangannya, berusaha memberikan ruang untuk dirinya agar bersikap biasa saja. Ia melangkah mendekat, dan berhenti ketika mereka berdiri beberapa jengkal.

"Apa kabar?" tanyanya basa-basi dengan suara datar, ciri khas dari seorang Adhikara Pradipta Mahendra.

Laras berkedip, terlihat jika wanita itu merasa malu ketika dirinya terlihat berantakan.

"Baik, kamu...sedang apa disini?" tanya Laras mencoba menahan suaranya agar terdengar biasa saja.

"Jenguk anakku, dia di rawat disini." Jawabnya seadanya.

Keduanya kembali saling diam, mengalihkan pandangan ke arah yang tidak jelas. Dipta kembali menatap Laras.

"Raka... bagaimana?" tanyanya terdengar masih basa-basi, mungkin bingungan harus bertanya apa lagi.

"Dia sama papanya," jawabnya singkat.

Hening kembali turun.

Dipta mengamati wajah itu lebih lama, ia melihat lebam yang tadinya hanya sekilas terlihat dari kejauhan. Namun saat jarak mereka lebih dekat, lebam itu semakin terlihat jelas.

"Oh, begitu...yang kemarin..." ucapnya ragu.

Laras tersenyum tipis. Akan tetapi bukan senyum bahagia, melainkan senyum sebagai bentuk penerimaan.

"Ya. Dia ayahnya Raka. Tapi...aku lagi proses cerai."

Kalimat yang di ucapkan Laras barusan jatuh begitu saja, tanpa di dramatisir.

"Sekarang...lagi rebutan hak asuh," lanjutnya. "Tapi rasanya...kayanya aku bakal kalah."

Kedua alis Dipta saling bertautan, "kenapa?"

Laras terkekeh lirih, pahit. "dia lebih punya segalanya." Ia mengangkat bahunya. "Keluarga yang nggak bisa di kalahkan, koneksi, uang...you know."

Old money.

Sesuatu yang bahkan tanpa dijelaskan pun, Dipta sudah mengerti betul dengan apa yang dimaksudkan Laras barusan.

Dipta terdiam.

Ada sesuatu yang mengganjal, bukan karena cinta lama yang tiba-tiba datang kembali. Bukan pula perasaan yang belum selesai, atau lebih tepatnya ia paksa selesai karena keadaan.

Akan tetapi, rasa iba yang datang saat melihat seseorang yang ia kenal tengah berada di titik serendah ini.

Dipta menghela napas pelan, lalu kembali menatap Laras.

"Pengacara kamu siapa?"

Laras mengangkat wajahnya, sedikit terkejut dengan pertanyaan Dipta.

"Belum tetap," jawabnya seadanya. "Masih nyari yang...ya, yang aku mampu."

Suasana kembali hening.

Hingga pada akhirnya, Dipta mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, membuka layar, lalu mengulurkannya sedikit ke arah Laras.

"Nomor kamu masih yang lama?"

Laras ragu, tapi akhirnya menggeleng kecil. Ia menyebutkan nomor barunya. Sedangkan Dipta mengetik, lalu menghubunginya sekali untuk memastikan.

Ponsel di tangan Laras bergetar.

Sederhana.

Tapi makna berlebih.

Lebih seperti... seseorang yang akhirnya menemukan sedikit pijakan setelah terlalu lama jatuh.

"Kenapa?" tanyanya pelan.

Dipta terdiam sebentar, lalu mengalihkan pandangan ke arah rumah sakit.

"Karena aku bisa." Jawabnya tanpa banyak kata.

Dipta melirik jam tangan yang melilit di pergelangan tangannya. Waktu istirahat tidak banyak, sebentar lagi ia harus kembali ke kantor lagi karena pekerjaan menumpuk.

"I have to go." Ujarnya singkat.

Laras mengangguk pelan. "Iya...kalau begitu... makasih banyak."

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya memberi anggukan kecil, lalu berbalik melangkah menuju pintu rumah sakit.

Entah mengapa kantong makan siang di tangannya terasa sedikit lebih berat dari sebelumnya.

~

Lorong menuju ruang VIP di RSUP Dr. Sardjito terasa lebih sunyi dibanding biasanya. Hanya suara langkah kaki dan dengung halus alat medis yang samar terdengar dari balik pintu-pintu tertutup.

Dipta berhenti sejenak di depan pintu kamar rawat inap. Tangannya sempat menggenggam gagang pintu sedikit lebih lama dari seharusnya...sebelum akhirnya ia mendorong perlahan.

Di dalam, suasana tenang.

Lampu tidak terlalu terang. Tirai jendela setengah terbuka, membiarkan cahaya siang masuk dengan lembut.

Masayu tertidur di atas ranjang, wajah kecilnya tampak lebih pucat dari biasanya. Selang infus masih terpasang di tangannya yang mungil.

Di sampingnya, Rana berdiri.

Perempuan itu menoleh sekilas saat mendengar pintu terbuka.

"Setengah jam lalu di suntik obat," ucapnya datar, tanpa benar-benar menatap Dipta.

Hanya itu.

Lalu kembali diam.

Dipta mengangguk pelan, meskipun Rana tidak melihatnya. Ia melangkah masuk, mendekati ranjang, lalu meletakkan kantong makan siang yang ia bawa di atas nakas kecil di samping tempat tidur.

Ia menatap Masayu cukup lama.

Ada sesuatu di dadanya yang terasa menekan...campuran antara lega karena anaknya masih di sini, dan rasa bersalah yang tidak ingin ia akui sepenuhnya.

Sementara itu, Rana sudah beralih ke dekat jendela.

Ia berdiri membelakangi, menatap keluar tanpa benar-benar melihat apa pun.

Jarak itu kembali terasa.

Bukan hanya secara fisik.

Dipta menarik napas pelan.

Lalu, tanpa banyak kata, ia melangkah mendekat.

Berhenti tepat di belakang Rana.

beberapa detik...ia hanya berdiri di sana. Menimbang, mencoba memastikan lalu kedua tangannya terangkat dan melingkar perlahan di pinggang ramping Rana.

pelukannya itu tiba-tiba saja mengencang. Seperti orang yang tidak mau kehilangan. Tubuh Rana sedikit menegang di awal. Rana menelan ludahnya, ia tidak melepaskan dirinya dari pelukan itu. Lalu Dipta menundukkan wajahnya, mendekat ke bahu istrinya.

"Aku minta maaf." Ucapnya dengan suara rendah.

Suaranya terdengar sangat tulus, meskipun Rana menangkap getar canggung pada nada suaminya.

Rana tidak langsung menjawab, ia menghela napas berat.

"Mas seharusnya nggak nyalahin kamu," lanjut Dipta pelan. "Itu bukan salah kamu sepenuhnya, kemarin Mas kebawa emosi. Maafkan Mas,"

Hening. Beberapa detik terasa sangat panjang dari biasanya, Rana menutup matanya sejenak.

"Memang aku yang salah," jawabnya akhirnya, suaranya lirih. "Aku yang beli kue kacang itu. Seharusnya aku lebih mengerti kalian."

"Rana," sela Dipta dengan suara tegas. "Aku bilang bukan."

Pelukan itu semakin kuat, seolah ingin menunjukkan bahwa ia sedang tidak ingin berdebat.

Rana terdiam lagi. Dan kali ini ia tidak berusaha melepaskan diri dari pelukan itu.

Dipta kembali menghela napas pelan, lalu tanpa benar-benar berpikir panjang, Ia memiringkan wajahnya untuk mendekat ke sisi pipi Rana.

Lalu, pria itu tanpa harus meminta izin lagi mencium istrinya lembut.

Ketika pertahanan Rana yang semula kokoh itu runtuh karena ciuman yang di berikan suaminya. Tiba-tiba saja...

...****************...

Bersambung...

1
Ma Em
Ayo Rana cari bukti sebanyak banyak kalau Laras dekat dgn Dipta bkn karena msh cinta tapi Laras ada niat jahat pada perusahaan Dipta dan setelah semua terkumpul bukti kelicikan dan kejahatan Laras bongkar semua kejahatan Laras lalu Rana gugat cerai Dipta .
Ma Em
Ayo Rana kumpulkan bukti sebanyak banyaknya bahwa Dipta ada main hati dgn Laras setelah itu baru buat Dipta menyesal .
Gemuruh riuh
Go Rana!!! bikin calon pelakor itu tahu diri!!!!
Gemuruh riuh
turut berdukacita thor
Gemuruh riuh
waw, apakah Rana bakal menjebak Dipta dan Laras?
Ma Em
Turut berduka juga Thor , semoga almarhumah Husnul hotimah diampuni dosanya ditempatkan di surganya Allah 🤲🤲🤲.
Yehppee: makasih kak🫶
total 3 replies
Ma Em
Bagus Rana si Laras suruh masuk saja ke perusahaan Dipta agar mudah dipantau nya dan setelah Dipta ketahuan ada Main dgn Laras lalu jatuhkan saja agar nama Dipta dan Laras tercemar dan hancur .
Gemuruh riuh
wkwkwkkwk Hamdan jangan ke geeran entar patah hati sendiri
Gemuruh riuh
sa ae lu Hamdan🤣
Gemuruh riuh
hati-hati Ran, suamimu terpikat lagi sama cinta lamanya
Gemuruh riuh
wkwkw sarkas nih Rana
Gemuruh riuh
poor Rana
Gemuruh riuh
jodoh, mati, rezeki udah ada yang atur
Gemuruh riuh
li xian😍
Gemuruh riuh
waduh, Rana!!! hati-hati, sepertinya ada udang di balik bakwan
Gemuruh riuh
wkwkwk viralin guys🤣
Gemuruh riuh
cocok bener Kim ji won jadi Rana, pokonya bikin Rana Badas thor
Gemuruh riuh
makin seru, jangan di bikin menye-menye Rana nya thor😍
Ma Em
Rana lambat banget gerak nya dan membiarkan Dipta jln bareng sama selingkuhan nya .
Ma Em
Thor jgn lama2 Dipta membohongi Rana , semoga Rana tau semua kebohongan yg Dipta lakukan pada Rana termasuk Dipta tdk mencintai Rana agar Rana sadar dan tdk jadi istri yg bodoh ditipu dan dibohongi .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!