Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Yuda keluar dari kafe saat hujan mulai reda. Aroma kopi pahit masih tertinggal di lidahnya, bercampur dengan perasaan tidak nyaman setelah percakapan dengan Reynanda. Ia masuk ke mobil, menyesuaikan suhu, lalu duduk diam beberapa detik dengan kedua tangan di atas kemudi, berusaha menenangkan pikirannya yang sejak tadi tidak berhenti berfikir.
Ia tahu percakapan itu tidak akan memberinya jawaban. Justru sebaliknya, semakin banyak hal yang terasa ganjil. Dan untuk pertama kalinya, Yuda memilih untuk tidak menunggu. Ia akan mencari tahu sendiri sebenarnya ada hubungan apa antara Carisa dan Reynanda.
Di sisi lain kota, Carisa berdiri di depan jendela rumahnya dengan ponsel di tangannya. Layar itu masih menyala, menampilkan pesan dari Reynanda yang mengajaknya bertemu. Ia membacanya berulang kali, seolah berharap kata-kata itu berubah dengan sendirinya.
Ia tahu ini salah. Ia tahu ia seharusnya menolak.
Tapi ada bagian dari dirinya yang lelah menghindar. Ia tidak bisa terus membiarkan Reynanda muncul tanpa kejelasan, tanpa batas yang jelas. Di saat yang sama, rasa bersalah terhadap Yuda mulai menekan dadanya perlahan.
Akhirnya, ia membalas.
Di dalam mobilnya, Reynanda mengemudi dengan tenang. Musik mengalun pelan mengisi ruang yang sebenarnya tidak benar-benar sepi. Bibirnya melengkung tipis, cukup untuk menunjukkan bahwa ia puas dengan arah keadaan malam itu.
Sebenarnya ia tidak berniat merusak. Setidaknya itu yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.
Namun ia juga tidak bisa menyangkal satu hal ia belum selesai dengan Carisa. Dan mungkin, ia memang tidak pernah benar-benar selesai.
Keesokan Harinya.
Yuda berdiri di depan jendela kantornya. Secangkir kopi di tangannya sudah setengah dingin, tidak ia pedulikan. Matanya pada pemandangan kota di bawah sana. Gedung-gedung, jalan yang kecil dari ketinggian ini, orang-orang yang bergerak seperti semut tanpa tahu bahwa ada seseorang yang sedang mengamati dari atas dengan pikiran yang jauh lebih berantakan dari penampilannya.
"Pak Yuda."
Asistennya, Reno, berdiri di dekat pintu dengan tablet di tangan. Wajahnya ragu, ekspresi orang yang membawa informasi tapi tidak yakin apakah waktunya tepat.
"Bicaralah, ada apa?" Yuda tidak menoleh dari jendela.
Reno melangkah masuk. "Tadi, ketika saya mengantarkan dokumen ke Pratama Property untuk ditandatangani Pak Reynanda..." ia berhenti sebentar, "saya melihat Ibu Carisa di sana."
Yuda tidak bergerak.
"Di lobi?" tanyanya datar.
"Tidak, Pak." Reno menelan ludah. "Saya sempat melihat sebelum lift tertutup, Ibu Carisa masuk ke ruang kerja Pak Reynanda."
Kopi di tangan Yuda tidak ia minum. Tidak ia letakkan. Hanya digenggam semakin erat, sampai ujung jarinya memutih di sisi cangkir itu.
"Ada lagi?" Suara Yuda rendah.
"Pak, saya sudah mencari tahu tentang mereka, seperti yang Bapak perintahkan," lanjut asisten Yuda. "Ternyata, dulu mereka sepasang kekasih saat kuliah."
Yuda tidak langsung menanggapi.
Tatapannya tetap lurus ke depan, tapi fokusnya jelas sudah bergeser. Rahangnya mengeras sedikit, hampir tidak terlihat kalau tidak diperhatikan.
"Apa kamu yakin dengan informasi itu?" suaranya datar.
"Sudah saya pastikan, Pak. Beberapa sumber menyebutkan hal yang sama."
Yuda mengangguk pelan. Sekali, tanpa benar-benar menunjukkan apa pun.
"Terima kasih atas informasinya. Lanjutkan pekerjaanmu."
"Baik. Saya permisi." Asistennya pergi dari ruangan Yuda.
Yuda masih berdiri di tempat yang sama.
Pagi tadi Carisa bilang ada pertemuan dengan klien. Ia sudah menduganya kalau Carisa akan menemui Reynanda.
Ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Pelan. Sangat pelan. Seperti seseorang yang sedang mengendalikan sesuatu yang kalau dilepas sedikit saja akan mengambil bentuknya sendiri.
Ia meraih ponselnya.
Membuka nama Carisa di layar, lama menatapnya, ibu jarinya berhenti satu milimeter di atas tombol panggil. Lalu ia meletakkan ponselnya kembali.
Peringatan yang ia sampaikan kepada Reynanda kemarin malam dengan kalimat yang terukur, dengan nada yang terkontrol, dengan cara yang ia pikir cukup jelas untuk seorang dewasa ternyata tidak cukup. Atau Reynanda memang tidak berniat mendengarnya dari awal.
Yuda duduk di kursi kerjanya. Membuka laptop, menatap layar yang sudah dipenuhi dokumen yang harus selesai sebelum sore.
Matanya bergerak mengikuti baris-baris laporan. Tapi yang terbaca bukan itu. Yang muncul justru wajah istrinya pagi tadi, terlalu rapi, terlalu wangi, dengan senyum yang tidak benar-benar sampai ke mata. Cara ia berjalan keluar rumah, mengatakan itu hanya pertemuan klien.
Ada sesuatu yang terasa tidak tepat. Yuda berhenti mengetik. Rahangnya mengeras. Untuk sesaat, ia tidak bergerak. Perasaan itu datang pelan, tapi jelas. Bukan sekadar curiga. Lebih dalam dari itu.
Seperti ada sesuatu yang seharusnya miliknya, kepercayaan, kejujuran yang diam-diam mulai bergeser tanpa ia sadari.
Ia tidak suka perasaan itu. Tidak suka kemungkinan bahwa dirinya sedang dibohongi. Atau lebih buruknya dikhianati.
Yuda menarik napas panjang, menahannya sejenak sebelum akhirnya dilepaskan perlahan. Tangannya kembali ke keyboard. Ia mulai mengetik lagi.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak