NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:22k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Yuda keluar dari kafe saat hujan mulai reda. Aroma kopi pahit masih tertinggal di lidahnya, bercampur dengan perasaan tidak nyaman setelah percakapan dengan Reynanda. Ia masuk ke mobil, menyesuaikan suhu, lalu duduk diam beberapa detik dengan kedua tangan di atas kemudi, berusaha menenangkan pikirannya yang sejak tadi tidak berhenti berfikir.

Ia tahu percakapan itu tidak akan memberinya jawaban. Justru sebaliknya, semakin banyak hal yang terasa ganjil. Dan untuk pertama kalinya, Yuda memilih untuk tidak menunggu. Ia akan mencari tahu sendiri sebenarnya ada hubungan apa antara Carisa dan Reynanda.

Di sisi lain kota, Carisa berdiri di depan jendela rumahnya dengan ponsel di tangannya. Layar itu masih menyala, menampilkan pesan dari Reynanda yang mengajaknya bertemu. Ia membacanya berulang kali, seolah berharap kata-kata itu berubah dengan sendirinya.

Ia tahu ini salah. Ia tahu ia seharusnya menolak.

Tapi ada bagian dari dirinya yang lelah menghindar. Ia tidak bisa terus membiarkan Reynanda muncul tanpa kejelasan, tanpa batas yang jelas. Di saat yang sama, rasa bersalah terhadap Yuda mulai menekan dadanya perlahan.

Akhirnya, ia membalas.

Di dalam mobilnya, Reynanda mengemudi dengan tenang. Musik mengalun pelan mengisi ruang yang sebenarnya tidak benar-benar sepi. Bibirnya melengkung tipis, cukup untuk menunjukkan bahwa ia puas dengan arah keadaan malam itu.

Sebenarnya ia tidak berniat merusak. Setidaknya itu yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.

Namun ia juga tidak bisa menyangkal satu hal ia belum selesai dengan Carisa. Dan mungkin, ia memang tidak pernah benar-benar selesai.

Keesokan Harinya.

Yuda berdiri di depan jendela kantornya. Secangkir kopi di tangannya sudah setengah dingin, tidak ia pedulikan. Matanya pada pemandangan kota di bawah sana. Gedung-gedung, jalan yang kecil dari ketinggian ini, orang-orang yang bergerak seperti semut tanpa tahu bahwa ada seseorang yang sedang mengamati dari atas dengan pikiran yang jauh lebih berantakan dari penampilannya.

"Pak Yuda."

Asistennya, Reno, berdiri di dekat pintu dengan tablet di tangan. Wajahnya ragu, ekspresi orang yang membawa informasi tapi tidak yakin apakah waktunya tepat.

"Bicaralah, ada apa?" Yuda tidak menoleh dari jendela.

Reno melangkah masuk. "Tadi, ketika saya mengantarkan dokumen ke Pratama Property untuk ditandatangani Pak Reynanda..." ia berhenti sebentar, "saya melihat Ibu Carisa di sana."

Yuda tidak bergerak.

"Di lobi?" tanyanya datar.

"Tidak, Pak." Reno menelan ludah. "Saya sempat melihat sebelum lift tertutup, Ibu Carisa masuk ke ruang kerja Pak Reynanda."

Kopi di tangan Yuda tidak ia minum. Tidak ia letakkan. Hanya digenggam semakin erat, sampai ujung jarinya memutih di sisi cangkir itu.

"Ada lagi?" Suara Yuda rendah.

"Pak, saya sudah mencari tahu tentang mereka, seperti yang Bapak perintahkan," lanjut asisten Yuda. "Ternyata, dulu mereka sepasang kekasih saat kuliah."

Yuda tidak langsung menanggapi.

Tatapannya tetap lurus ke depan, tapi fokusnya jelas sudah bergeser. Rahangnya mengeras sedikit, hampir tidak terlihat kalau tidak diperhatikan.

"Apa kamu yakin dengan informasi itu?" suaranya datar.

"Sudah saya pastikan, Pak. Beberapa sumber menyebutkan hal yang sama."

Yuda mengangguk pelan. Sekali, tanpa benar-benar menunjukkan apa pun.

"Terima kasih atas informasinya. Lanjutkan pekerjaanmu."

"Baik. Saya permisi." Asistennya pergi dari ruangan Yuda.

Yuda masih berdiri di tempat yang sama.

Pagi tadi Carisa bilang ada pertemuan dengan klien. Ia sudah menduganya kalau Carisa akan menemui Reynanda.

Ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Pelan. Sangat pelan. Seperti seseorang yang sedang mengendalikan sesuatu yang kalau dilepas sedikit saja akan mengambil bentuknya sendiri.

Ia meraih ponselnya.

Membuka nama Carisa di layar, lama menatapnya, ibu jarinya berhenti satu milimeter di atas tombol panggil. Lalu ia meletakkan ponselnya kembali.

Peringatan yang ia sampaikan kepada Reynanda kemarin malam dengan kalimat yang terukur, dengan nada yang terkontrol, dengan cara yang ia pikir cukup jelas untuk seorang dewasa ternyata tidak cukup. Atau Reynanda memang tidak berniat mendengarnya dari awal.

Yuda duduk di kursi kerjanya. Membuka laptop, menatap layar yang sudah dipenuhi dokumen yang harus selesai sebelum sore.

Matanya bergerak mengikuti baris-baris laporan. Tapi yang terbaca bukan itu. Yang muncul justru wajah istrinya pagi tadi, terlalu rapi, terlalu wangi, dengan senyum yang tidak benar-benar sampai ke mata. Cara ia berjalan keluar rumah, mengatakan itu hanya pertemuan klien.

Ada sesuatu yang terasa tidak tepat. Yuda berhenti mengetik. Rahangnya mengeras. Untuk sesaat, ia tidak bergerak. Perasaan itu datang pelan, tapi jelas. Bukan sekadar curiga. Lebih dalam dari itu.

Seperti ada sesuatu yang seharusnya miliknya, kepercayaan, kejujuran yang diam-diam mulai bergeser tanpa ia sadari.

Ia tidak suka perasaan itu. Tidak suka kemungkinan bahwa dirinya sedang dibohongi. Atau lebih buruknya dikhianati.

Yuda menarik napas panjang, menahannya sejenak sebelum akhirnya dilepaskan perlahan. Tangannya kembali ke keyboard. Ia mulai mengetik lagi.

1
Elsa friska sisilia
masa tamat
Elsa friska sisilia
belum k tauan busukx s kiara
Elsa friska sisilia
g sabar liat reynnda hncur sama kiara
Elsa friska sisilia
up lagi donk mumpung libur thor
Elsa friska sisilia
ayo Thor jgn terlalu berbelit2 kasi pelajaran reynanda,,Kiara biar kapok malu
Elsa friska sisilia
katax s kiara memang kerja sama reynanda
Elsa friska sisilia
ayo Thor mumpung libur g sabar bikin kapok s kiara sama reynnda
Elsa friska sisilia
ayo nunggu in Kiara ketauan sebaran gosip
Elsa friska sisilia
aduh Thor g sabar episode klw.kiara k tauan adu domba,,sebar fitnah d kantor
Nanik Arifin
sekarang ngerikan Yuda, gmn harus bersikap ma Kiara ?
Nanik Arifin
suara Carissa terdengar para karyawan yg tadi ngatain Carissa menyukai milik orang g ?? klo terdengar, mereka jd ngertikan siapa yg pelakor ?
Elsa friska sisilia
aduh cepat2 deh k tauan klw kmren s.kiara yg nyebarin gosip sama menghasut mamax humaira
Elsa friska sisilia
emang enakk maluuuuu
Elsa friska sisilia
jreng jreng rasain tu kiara
Elsa friska sisilia
semangat lagi bacax
Elsa friska sisilia
Yaya ada perlawanan
Elsa friska sisilia
dasar laki2 g laku ngejar istri org
Elsa friska sisilia
tampar muka reynanda yg sok ganteng carisa
Nanik Arifin
aaahh .... aku padamu Carisa 😘
Elsa friska sisilia
bikin cepat ketauan Kiara jahatx reynanda d tangkap polisi carisa hamil anakx tuda hidup bahagia selesai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!