Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.
Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikut
"Kau harus berjanji untuk jangan pernah berani mengancam di rumah sakit ini lagi," ucap Rayya tegas.
Marsel menyanggupi asal Rayya keluar bersamanya tanpa ada penolakan.
_______________
"Aku tidak mau ikut," kata Rayya datar.
Sekarang ini mereka sudah berada di depan mobil mewah milik Marsel. Bahkan pria itu langsung yang membukakan pintu mobil untuk gadis tersebut.
"Kalau masih enggan untuk pergi, ucapan ku di dalam tadi masih tetap berlaku. Rayya ku tidak mungkin tega membiarkan rumah sakit ini tinggal nama kan? Belum lagi akan banyak orang yang kehilangan pekerjaan."
Alex yang mendengar penuturan Bos nya hampir tidak percaya. Marsel yang biasa nya irit bicara kecuali tentang pekerjaan atau sebuah misi, kini berbicara di luar ruangan seperti rel kereta yang tidak putus.
Belum lagi ia masih enggan percaya Marsel rupanya bisa lembut juga pada seorang perempuan.
Kalau saja ia bukan tipe pria yang sangar, mungkin ia sudah mengeluarkan kata komentar takjubnya. Namun kata itu hanya terbesit dalam kepala, bahkan batin nya pun tidak berseru sedikitpun.
"Selain sok berkuasa, rupanya kau ini juga sangat suka mengancam orang," desis Rayya nyalang. Ia juga merasa jijik dengan sebutan Marsel untuk nya.
Marsel hanya tersenyum dan mendekati wanita itu, entah mengapa Ia sangat suka pada gaya Rayya, jual mahal dan menantang.
"Jika tidak ingin di ancam, maka menurut lah," bisiknya lembut. Rayya hanya bisa mengepalkan kedua tangannya geram karena Marsel membuat nya tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut. Ia tidak mungkin membiarkan orang lain mendapatkan imbas karena dirinya yang tidak mau ikut pergi.
Sebelum ia keluar dari rumah sakit bersama Marsel tadi, kepala rumah sakit sampai berlutut memohon agar Rayya mau membantu mereka. Saat pandangan nya menatap sekeliling, banyak para dokter dan perawat serta pekerja lain nya memasang wajah penuh harap padanya. Belum lagi para pasien yang sangat ketakutan
Karena hal itulah Rayya terpaksa ikut, begitu juga dengan sekarang ini. Gadis itu terpaksa memasuki mobil dengan raut tidak senang dan di susul oleh Marsel yang duduk di samping Rayya.
Setelah melihat Marsel dan Rayya telah duduk di kursi belakang, Alex ikut masuk di samping kemudi dan memerintahkan supir untuk segera menjalankan mobil tersebut.
________________
"Rayyaku tidak penasaran kita mau menjemput maut atau menemui penghulu?" tanya Marsel lembut.
Nampaknya Marsel tidak tahan karena Rayya hanya cuek dan sepanjang perjalanan hanya melihat ke arah luar tanpa menoleh sedikit pun pada pria itu.
Alex yang mendengar penuturan sang Bos melihat ke arah spion, Ia tampak penasaran ingin melihat ekspresi Marsel saat berseru pelan dan lembut bahkan rasanya melebihi sutra, kesannya Alex merasa bahagia bagai angin yang bertiup sejuk di tengah panasnya matahari, begitu adem terasa.
Belum juga memenuhi rasa penasarannya, Alex justru mendapat tatapan tajam dari sang Bos. Pria itu seketika mengalihkan pandangan ke arah depan dengan cepat.
"Rayya_"
"Stop menyebut namaku dengan mulut kotor mu itu!" potong Rayya marah dan kesal. Wanita itu tidak mau mendengar kata Rayyaku lagi dari mulut Marsel.
Bukan nya ikut marah, Marsel justru hanya tersenyum menanggapi perkataan Rayya. Nampaknya pria kejam itu memang sudah di butakan oleh cinta dalam sekejap. Baru saja mereka tidak sengaja bertemu semalam, tapi sepertinya Marsel sudah sangat bucin.
"Rayyaku ingin pergi ke mana? Ingin membeli sesuatu? Katakan saja. Kita akan langsung pergi membeli nya," kata Marsel dengan wajah ramah walau hal itu tidak bisa menghilangkan sorot tajam dari matanya. Ia berharap Rayya menanggapi perkataan Marsel sebelumnya dan memilih menemui penghulu.
"Aku hanya ingin turun dari mobil ini agar tidak melihat tampang mu lagi," ketus Rayya.
Marsel mengepalkan kedua tangannya yang ada di atas lutut nya saat ini. Tidak bisa kah Rayya berbicara dengan baik? Kalau orang lain yang berbicara seperti itu, mungkin Marsel sudah mengeluarkan pistol dan menembak kepala orang tersebut.
"Lex," seru Marsel dingin tanpa melihat pria tersebut.
"Berhenti," kata Alex pada supir.
Rayya menghela nafas pelan, akhirnya Ia akan segera menjauh dari pria gila ini. Begitu mobil berhenti, Rayya segera ingin membuka pintu namun tidak bisa. Justru Alex dan Supir malah keluar dengan mudah dari mobil itu.
Rayya membulatkan matanya dan menatap nyalang pada Marsel.
"Cepat buka pintu mobilnya," katanya kesal. Kenapa juga Alex dan Supir malah keluar dan membiarkan mereka berdua terkunci di dalam. Rayya hendak pergi ke depan kemudi untuk membuka kunci pintu tersebut yang pasti tadi di sengaja oleh supir.
Belum juga berhasil berdiri, Marsel langsung menahan tubuh nya sampai wanita itu terjatuh dan terduduk di atas pangkuan Marsel.
Melihat itu, Marsel tersenyum penuh kemenangan, sangat berbeda dengan Rayya yang jika bisa di lihat, mungkin kepala nya sudah tertancap dua tanduk merah karena marah.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan!"
Rayya mendorong dada Marsel saat kedua tangan pria itu dengan santainya melingkar pada pinggang ramping milik Rayya.
"Menurut Rayyaku, apa yang akan kita lakukan?"
Bukannya menjawab, Marsel malah mempertanyakan pertanyaan Rayya pada wanita itu.
"Jangan macam-macam atau Aku teriak."
Bukannya takut, Marsel justru tertawa sembari salah satu tangan nya berganti menahan kedua tangan Rayya.
"Apa Rayyaku lupa siapa aku ini? Tenang lah Sayang, tidak akan ada yang berani mengganggu kita."
Cuih!
Tanpa rasa takut sama sekali, Rayya langsung meludahi wajah pria gila itu. Rayya bukan anak kecil dan tentu paham ke mana arah perkataan Marsel. Rayya lebih baik mati daripada menyerahkan diri pada orang seperti Marsel.
Marsel melepaskan tahanan nya pada Rayya dan terpaku sejenak setelah Rayya meludahi wajahnya. Dengan kasar salah satu jempol nya yang di lingkari oleh cincin mengusap kasar ludah tersebut.
Tatapan Marsel berganti pada Rayya membuat wanita itu berangsur menjauh dengan badan agak sedikit bergetar.
'Apa aku keterlaluan' batin nya saat mereka bertatapan dimana saat ini Marsel sudah seperti hewan buas yang melihat mangsanya.
Tapi, mengingat lagi bagaimana Marsel dan apa saja yang sudah pria itu lakukan, ketakutan Rayya kembali berganti rasa kesal. Seakan Ia sudah tidak takut mati kalau saja Bos Mafia itu membunuh dirinya saat ini seperti yang sudah terjadi pada Saudara tercintanya.
Kalau saja Ia tahu bahwa orang yang semalam di tolong nya adalah Marsel si Mafia itu, Rayya pasti lebih akan memilih untuk menancapkan belati di jantung nya.
Rayya sangat benci pada Mafia yang di ketuai oleh Marsel, adiknya harus meninggal karena bertugas memantau pergerakan Ilegal yang ternyata di lakukan oleh anggota Marsel, Cosa Nostra (nama kelompok mafia Marsel).
'Aku tidak salah apalagi keterlaluan. Memang nya dia siapa sampai harus memperlakukan ku seperti ini' batin Rayya lagi dan ketakutan yang tadi terbesit langsung menghilang entah kemana.
"Rayyaku memang pantas menjadi wanitaku," ujar Marsel dan kini Ia telah mengunci ruang gerak Rayya sampai mentok pada pintu mobil.
"Ka_kau..., menjauh dariku!" teriak Rayya di depan wajah Marsel namun pria itu tidak bergeming sama sekali dan tetap menatap intens wanita yang kini tidak bisa berbuat apa-apa lagi dalam penjara nya.
Perlahan tangan Marsel terulur ingin menyentuh wajah Rayya. Wajah pria itu masih sangat menakutkan.
Bugh.
Bugh.
Bertubi-tubi Rayya melayangkan pukulan pada pria itu agar menjauh darinya, tapi Marsel tetap bergeming, bahkan tangan Marsel kini sudah mulai menjalar perlahan menuruni leher Rayya.
Tangan kekarnya dengan mudah mengoyak pakaian yang saat ini wanita itu kenakan, seakan ia tidak terpengaruh dengan berontakkan Rayya.
Indra penciuman Rayya mencium aroma anyir dari balik lengan kemeja Marsel. Nampaknya luka tembakan pada lengan pria itu kembali berdarah karena banyak bergerak. Rayya teringat pada peristiwa tiga tahun lalu saat tubuh tak bernyawa adiknya kembali ke rumah. Tatapan Rayya kini sangat nyalang pada Marsel, Ia tetap tidak terima karena orang ini adalah penyebab Liam adiknya pulang tanpa nyawa.
Cuih!
Rayya kembali meludahi pria itu dengan dadanya yang naik turun karena amarah atas perlakuan tak senonoh dari Marsel.
Marsel semakin menatap tajam Rayya dan menghentikan gerakan yang ingin berbuat jauh pada gadis itu.
Ia kembali mengusap wajahnya dengan jempol seperti yang sebelumnya, tapi kali ini jari itu Ia masukkan dalam mulut lalu menjilat nya.
Rayya menelan ludah dengan berat melihat kelakuan menjijikan tersebut.
"Kau sa_"
"Diam!" potong Marsel dengan suara tegas.
Cling.
Bersamaan dengan teriakan Marsel, pisau lipat perak tiba-tiba terbuka di antara jari Marsel. Rayya tidak bergeming dengan situasi yang mengancam, ujung pisau hampir menyentuh nadi di leher Rayya.