Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Jelaga Masa Lalu dan Jarak yang Kembali Membentang
Sepeninggal Sinaca, udara di dalam perpustakaan terasa berubah menjadi ruang hampa yang mencekik. Jenawa Adraw berdiri mematung di sisi meja kayu jati tersebut, pandangannya terkunci pada selembar kain putih yang tergeletak bisu di atas meja. Noda darah yang telah mengering dan berubah warna menjadi kecokelatan itu tampak kontras menodai kesucian warna kainnya.
Itu adalah darahnya sendiri. Darah yang menetes akibat kebodohan dan arogansinya di pabrik tua. Dan lebih menyakitkannya lagi, noda itu mengotori saputangan yang pernah disetrika dan dirawatnya dengan penuh kelembutan demi seorang gadis yang kini kembali menjauh darinya.
Jenawa mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia sadar, menanggalkan gelar panglima dan membubarkan barisan tidak lantas menghapus jejak rekamnya. Masa lalu yang berlumuran kekerasan itu layaknya jelaga; meski apinya telah padam, noda hitamnya masih akan menempel dan mengotori apa pun yang disentuhnya.
Perlahan, pemuda itu meraih saputangan kotor tersebut. Ia meremasnya, lalu melangkah keluar dari perpustakaan. Tepat di samping pintu, terdapat sebuah tempat sampah. Tanpa keraguan sedikit pun, Jenawa membuang saputangan itu ke dalamnya. Ia tak butuh kenang-kenangan dari sebuah pertempuran kotor, dan ia tak akan membiarkan benda itu kembali menghantui pandangan Sinaca.
Sisa jam pelajaran hari itu dilalui Jenawa bagaikan pesakitan yang menanti vonis. Lonceng kepulangan berdentang nyaring pada pukul dua siang, memecah kesunyian dan membebaskan ratusan siswa. Jenawa adalah orang pertama yang melangkah keluar dari kelas dua belas. Ia tak menuju pelataran parkir untuk mengambil sepeda motornya. Alih-alih, ia melangkah menuju koridor lantai satu, berdiri bersandar pada pilar batu di dekat gerbang utama, menanti presensi yang paling ia harapkan.
Hilir mudik siswa perlahan menyurut. Barisan Seno telah berlalu sejak sepuluh menit yang lalu dengan deru motor mereka yang angkuh, sengaja mengabaikan eksistensi Jenawa di gerbang. Sang mantan panglima tak acuh, fokusnya hanya terpusat pada pintu lorong kelas sepuluh.
Akhirnya, siluet itu muncul. Sinaca Tina melangkah dengan ritme yang lebih lambat dari biasanya. Buku-buku tebal masih setia berada di dekapannya, layaknya sebuah perisai yang melindunginya dari dunia luar. Wajah gadis itu tampak lelah, dan tak ada binar antusiasme yang biasanya menyertai langkah pulangnya.
Ketika jarak mereka tersisa beberapa meter, langkah Sinaca terhenti. Ia melihat Jenawa berdiri menunggunya, tanpa sepeda motor, tanpa atribut kebesarannya. Hanya seorang pemuda berseragam rapi dengan raut wajah yang memancarkan penyesalan mendalam.
"Selamat sore, Sinaca," sapa Jenawa, suaranya mengalun pelan dan teramat hati-hati, seolah takut suaranya akan membuat gadis itu kembali berlari menjauh.
Sinaca tak membalas sapaan itu seketika. Ia menundukkan pandangannya, menatap ujung sepatunya sendiri. "Di mana kendaraanmu, Jenawa? Bukankah kau berjanji untuk memastikan kelancaran jalan pulangnya hari ini?"
"Kendaraanku masih terparkir di tempatnya," jawab Jenawa, tak bergeser dari posisinya untuk memberikan ruang aman bagi gadis itu. "Aku sengaja tak membawanya ke mari. Aku khawatir, deru mesinnya hanya akan mengingatkanmu pada kebisingan jalanan yang membuatmu ketakutan siang tadi."
Sinaca menghela napas panjang. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap sepasang netra kelam milik Jenawa.
"Kau membuang saputangan itu?" tanya Sinaca lugas, tak ada intonasi menuduh, hanya sebuah pertanyaan yang menuntut kepastian.
"Aku membuangnya ke tempat sampah perpustakaan sesaat setelah kau pergi," jawab Jenawa tanpa ragu. "Benda itu telah ternoda. Ia tak pantas lagi berada di tanganmu, apalagi menyandang aroma melatimu. Ia adalah sisa dari dunia kelam yang telah kutinggalkan."
"Namun dunia kelam itu memiliki kaki, Jenawa," balas Sinaca, suaranya bergetar halus. "Ia mengejarmu hingga ke sudut paling sunyi di sekolah ini. Tatkala aku melihat noda darah itu, pikiranku kembali ditarik pada kenyataan bahwa laki-laki yang duduk di hadapanku pernah menyakiti dan disakiti sedemikian rupa. Dan aku... aku tak tahu apakah mentalku cukup kuat untuk terus bersinggungan dengan bayang-bayang itu."
Mendengar pengakuan yang sarat akan ketakutan itu, dada Jenawa terasa diremas. Ia mengambil satu langkah maju, tak lebih.
"Masa lalu tak bisa dihapus, Sinaca. Aku tak bisa memutar waktu dan membatalkan setiap pukulan yang pernah kulontarkan atau kuterima," ucap Jenawa dengan suara baritonnya yang memohon pengertian. "Namun masa depan adalah kertas putih. Dan aku berani bersumpah, tak akan ada lagi setitik pun noda merah yang menetes di atasnya. Agam datang bukan untuk menabuh genderang perang, ia datang untuk menyerah. Dan setelah hari ini, tirai perseteruan itu telah benar-benar ditutup."
Angin sore berembus, menggugurkan beberapa helai daun dari pohon beringin di dekat mereka. Keheningan yang membentang terasa lebih panjang dari biasanya. Dua manusia yang diikat oleh afeksi namun dipisahkan oleh sejarah itu saling menatap dalam diam.
Sinaca menggigit bibir bawahnya, kebiasaan yang tak pernah bisa ia hilangkan kala hatinya dilanda bimbang. Ia melihat ketulusan yang telanjang di mata Jenawa. Ia tahu pemuda ini tak membual. Jenawa telah membuktikan kata-katanya di pasar malam simpang tiga.
Perlahan, ketegangan di bahu gadis itu mengendur. Ia memperbaiki letak buku di dekapannya.
"Sebuah kertas putih akan sangat mudah terlihat kotor walau hanya terkena setitik debu, Jenawa," ucap Sinaca dengan bahasa bakunya yang kembali mengalun, meruntuhkan dinding jarak di antara mereka. "Kau harus menjaganya dengan teramat hati-hati."
Sebuah senyum kelegaan perlahan merekah di wajah Jenawa, mencapai kedua sudut matanya yang sedari tadi meredup.
"Akan kujaga dengan segenap nyawaku, Sinaca," janji Jenawa mantap. "Nah, karena sore ini aku tak membawa kuda besiku untuk mengawalmu, apakah Nona berkenan jika aku menemanimu berjalan kaki menyusuri trotoar hingga ke depan pagar rumahmu?"
Sinaca menyembunyikan senyum kecilnya di balik buku yang ia dekap. Ia memutar tubuhnya, bersiap melangkah keluar gerbang.
"Jarak dari sekolah ke perumahanku cukup jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki, Jenawa. Aku harap fisik mantan panglimamu tak kehabisan napas di tengah jalan."
"Bahkan jika harus menempuh jarak sepuluh kali lipat dari ini, aku tak akan pernah mengeluh," Jenawa terkekeh pelan, melangkah menyusul dan berjalan tepat di sisi kiri gadis itu, memosisikan tubuhnya sebagai pelindung dari laju kendaraan di jalan raya.
Sore itu, mereka berjalan kaki berdampingan. Tak ada deru sepeda motor, tak ada kecepatan yang membelah angin. Hanya ada derap langkah kaki yang seirama, mengukur aspal kota perlahan-lahan. Bayang-bayang masa lalu mungkin masih mengintai di sudut-sudut jalan, namun selama mereka melangkah bersisian, Jenawa percaya, tak ada satu pun jelaga yang sanggup mengotori kisah mereka kembali.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪