NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 MATA KETIGA TERBUKA

Waktu berhenti.

Mata merah itu, sebesar kepalan tangan, melot ke arah kami. Pupilnya vertikal seperti ular, mengecil dan membesar, mengunci gerakan kami. Dengkuran beratnya berhenti. Ganti jadi geraman pelan. Grrrr...

Sial.

Di atas, Sinta menggigit bibirnya sampai berdarah, nahan jeritan. Di bawah, tanganku meremas tali tambang sampai buku jariku putih. Kami berlima menggantung di atas Anjing Gerbang yang sekarang bangun. Satu gerakan salah, kami jadi makan malamnya.

Mata merah itu bergerak. Melirik Rendi, lalu Bayu, lalu aku di paling bawah. Seperti menghitung. Atau memilih siapa yang digigit duluan.

Tiba-tiba, dari kantong kain di leherku, tercium bau menyengat. Garam, kunyit, bawang putih tunggal. Ramuan Paklik Joyo.

Anjing Gerbang itu mengernyit. Moncongnya yang seperti banteng kempot ke belakang. Dia benci bau itu.

Geraman Grrrr... berubah jadi erangan tertahan. Hrrrggghhh...

Dia tidak suka, tapi dia tidak takut. Mata tengahnya tetap kebuka, menatap kami. Dua mata lainnya masih merem. Berarti dia belum bangun sepenuhnya. Purnama hitam masih melindungi kami.

Rendi, dengan gerakan sehalus mungkin, memberi isyarat pakai telunjuk. _Turun. Pelan-pelan._

Kami turun satu sentimeter, satu sentimeter. Tali tambang berderit pelan. Krekk...

Mata merah itu mengikuti.

Tepat saat kakiku sejajar dengan kepala Anjing Gerbang, dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Dia bicara.

Bukan gonggongan. Bukan geraman. Tapi suara manusia. Berat, serak, seperti dua batu diadu.

“...PULANG...”

Satu kata. Tapi hawa di sumur langsung turun 10 derajat. Napasku berkepul jadi uap.

Kami beku. Tidak ada yang berani turun lagi.

Anjing Gerbang itu mengangkat kepalanya pelan. Moncongnya hampir menyentuh sepatuku. Dari lubang hidungnya keluar uap panas yang bau belerang. Mata tengahnya menyipit.

“...KALIAN... BUKAN... MAKANAN... KU...”

Bukan makanan? Lalu kami apa?

“...KALIAN... TUMBAL...”

Sama saja anjing!

Dia membuka mulutnya. Bukan untuk gigit. Di dalam mulutnya, di lidahnya yang hitam, ada ukiran. Aksara Jawa menyala merah redup seperti bara. Tulisan yang sama dengan yang Sinta lihat di penjara bawah.

Sebelum aku sempat baca, dari atas, Fajar panik. Tangannya yang megang tali selip karena keringat dingin.

“Akh!”

Dia melorot setengah meter. Otomatis kami semua ketarik ke bawah.

BUGH!

Kakiku mendarat tepat di punggung Anjing Gerbang.

Hening sedetik.

Lalu dunia kiamat.

GRAAAAAAARRRRGGGHHH!!!

Dua mata Anjing Gerbang yang lain terbuka mendadak. Merah menyala semua. Dengkuran berubah jadi raungan yang bikin dinding sumur bergetar. Lumut-lumut rontok.

Dia bangun. Sepenuhnya.

“SIALAN! TURUN CEPAT!” teriak Rendi.

Tidak ada waktu pelan-pelan lagi. Kami melorot di tali tambang seperti pemadam kebakaran, tidak peduli telapak tangan perih kebakar.

Anjing Gerbang itu berdiri. Besar sekali. Punggungnya hampir menyentuh dinding sumur. Dia tidak bisa muter badan di ceruk itu, terlalu sempit. Keuntungan buat kita.

Dia mendongak ke atas, ke arah kami yang sudah 5 meter di bawahnya. Ketiga matanya menyala. Dia buka mulut, dan dari tenggorokannya keluar api. Biru. Sama seperti api yang membakar beringin waktu itu.

Api neraka.

“PECAH!” teriak Bayu.

Kami berlima langsung ayun badan, nempel ke dinding sumur. Semburan api biru lewat di samping kami, panasnya bikin alisku serasa gosong. Api itu menghantam dinding sumur di atas, melelehkan batu andesit jadi seperti lilin.

Tidak bisa naik lagi. Jalan ditutup lahar.

Satu-satunya jalan: ke bawah. Ke dasar sumur. Ke penjara.

Kami terus melorot. 15 meter. 20 meter. Bau anyir dan belerang semakin pekat.

BRUK.

Kakiku menyentuh tanah. Dasar sumur.

Gelap total. Tapi bukan gelap biasa. Gelap yang hidup. Menekan dari segala arah. Bau karat, darah kering, dan putus asa memenuhi udara.

Rendi menyalakan senter HP. Baterai 8%. Cahayanya lemah, tapi cukup untuk melihat.

Kami tidak di dasar sumur tanah. Kami di sebuah ruangan. Luas. Lantainya batu hitam, dindingnya juga. Di langit-langit, 20 meter di atas, ada lubang tempat kami turun tadi. Dan di dinding, berjejer... pintu-pintu sel. Terbuat dari jeruji besi berkarat. Puluhan.

Penjara. Ini penjara yang Sinta bilang.

Dan dari dalam sel-sel itu, di kegelapan, muncul mata. Puluhan pasang mata. Menatap kami. Tidak berkedip.

Suara rantai diseret terdengar. Kleneng... kleneng...

“S-selamat datang...” suara parau terdengar dari sel paling dekat.

Sorot senter Rendi ke sana.

Di dalam, duduk seorang cowok. Bajunya kaos KKN, sudah rombeng dan cokelat karena darah kering. Mukanya tirus, matanya cekung. Tapi aku kenal muka itu.

“ARDI!” jerit Sinta, mau lari ke jeruji.

Aku tahan dia. “Jangan! Bisa jadi bukan dia!”

Cowok di sel itu nyengir. Gigi-giginya runcing. “Sinta... kau datang juga akhirnya... jadi temanku...”

Itu suara Ardi. Tapi cara ngomongnya... bukan Ardi.

“Bodo! Itu bukan Ardi!” teriakku. “Ardi yang asli mana?!”

Giliran sel di sebelahnya yang ribut. Kleneng... kleneng... Dari kegelapan, muncul sesosok lagi. Lebih kurus, rambutnya gondrong, matanya kosong. Dia memegang jeruji, jarinya berdarah.

Dia tidak bicara. Hanya menatap kami, lalu menunjuk ke arah tengah ruangan dengan dagunya.

Senter Rendi mengikuti.

Di tengah ruangan, ada panggung batu setinggi dada. Di atasnya, ada lonceng.

Lonceng Kyai Setan Kober.

Besarnya seukuran gentong. Warnanya hitam, kusam, penuh ukiran aksara Jawa yang tadi kami lihat di mulut Anjing Gerbang. Di samping lonceng, tergeletak pemukulnya.

Tulang paha. Putih, panjang, ujungnya diikat kain mori yang sudah menghitam. Pemukul dari tulang Genduk, anak Kuncen pertama.

Dan berdiri di depan lonceng, membelakangi kami, adalah Mbak Dewi.

Kebaya merahnya masih sama. Rambutnya terurai. Dia menunduk, tangannya memegang pemukul tulang itu. Tidak bergerak. Seperti patung.

Di sekeliling panggung, duduk bersila tujuh sosok. Tujuh Penabuh Gamelan. Topeng kayu mereka menghadap ke lonceng. Diam. Menunggu.

Kami sudah masuk ke sarang mereka.

“Oke, rencana berubah,” bisik Rendi, suaranya bergetar. “Kita ambil pemukulnya, terus lari.”

“Lari ke mana? Atas udah ditutup lahar Anjing Gerbang,” sergah Fajar.

Belum sempat jawab, Mbak Dewi bergerak.

Pelan, dia mengangkat kepalanya. Lalu, tanpa memutar badan, kepalanya berputar 180 derajat ke belakang. Krek. Krek. Krek.

Matanya yang putih semua itu menatap kami.

Bibirnya bengkak itu menyeringai.

“Kalian... melanggar... aturan... kedua...” suaranya menggema di seluruh penjara.

Aturan kedua?

“Masuk ke sini... sebelum waktu...”

Purnama hitam. Kami masuk saat gerhana. Aturan kedua: dilarang masuk saat gerhana.

“Hukumannya...” Mbak Dewi mengangkat pemukul tulang itu tinggi-tinggi. “...jadi penonton... selamanya...”

Dia tidak mau mukul lonceng. Dia mau mukul kami.

Tujuh Penabuh Gamelan serentak berdiri. Klek. Klek. Klek. Suara tulang mereka.

Dari lubang di atas, terdengar raungan lagi. Anjing Gerbang tidak bisa turun, tapi dia bisa menutup jalan keluar. Kami terjebak.

Rendi panik. Dia ingat keris kuningan Paklik Joyo. Dia cabut dari pinggang, lalu...

Tuk. Tuk. Tuk.

Dia ketok tanah tiga kali.

Seketika, dari lubang di atas, cahaya senter yang sangat terang menyorot masuk. Cahaya Paklik Joyo.

Bersamaan dengan itu, Paklik Joyo teriak dari atas, suaranya menggema. “LESTARI! SEKARANG!”

Lestari? Adiknya Mbak Dewi?

Dari sel paling pojok, yang paling gelap, ada pergerakan. Jeruji besinya... terbuka sendiri.

Keluar seorang cewek. Rambutnya pendek sebahu. Wajahnya mirip Mbak Dewi, tapi sorot matanya tajam, pemberontak. Persis seperti di foto.

Lestari.

Dia tidak lihat kami. Matanya lurus menatap kakaknya, Mbak Dewi.

“Mbak... cukup,” suaranya berat, tapi tegas.

Mbak Dewi mendesis. Seperti ular. “Adik kecil... kau mau lawan mbakmu...?”

Lestari melangkah maju. Selangkah demi selangkah ke panggung batu. Tujuh Penabuh Gamelan mau menghadang, tapi Lestari cuma mengangkat tangan. Mereka semua terlempar ke dinding. Bruak!

Lestari adalah kuncinya. Dia keturunan. Dia bisa pegang pemukul.

Dia berhenti tepat di depan Mbak Dewi. Dia ulurkan tangan.

“Sini, Mbak. Pemukulnya. Biar Lestari yang akhiri semua ini.”

Mbak Dewi mendesis semakin keras. Pemukul tulang di tangannya bergetar. Dia bimbang. Antara naluri ‘Sipir’ dan ikatan darah adik.

Waktu kami cuma sisa 5 menit sebelum gerhana selesai.

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!