Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 – Luka yang Tidak Terlihat
Hari-hari setelah duel itu…
tidak menjadi lebih baik.
Justru semakin buruk.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa secara langsung.
Tidak ada hukuman resmi.
Namun semua orang tahu Sakura telah jatuh.
Dan di tempat seperti Akademi Kerajaan Averion…
yang jatuh, akan diinjak.
“Masih bisa jalan ternyata.”
Suara itu terdengar tajam di lorong panjang akademi.
Sakura berhenti.
Namun tidak menoleh.
Langkah kaki mendekat.
Pelan. Sengaja.
Claudia.
“Aku kira setelah dipermalukan seperti itu…”
lanjutnya dingin,
“kau akan cukup sadar diri untuk tidak muncul lagi.”
Fuko tertawa kecil di belakangnya.
“Sepertinya dia tidak tahu malu.”
Yuki menyeringai tipis.
“Atau… tidak punya tempat lain untuk pergi.”
Sakura tetap diam.
Namun tangannya perlahan mengepal.
Bukan marah.
Lebih ke menahan sesuatu.
Claudia berhenti tepat di sampingnya.
Tatapannya turun.
Menilai.
“Lihat dirimu.”
“Tidak punya mana. Tidak punya kekuatan.”
“Bahkan setelah jatuh seperti itu… kau masih berdiri di sini.”
Ia mendekat sedikit.
Suaranya merendah.
“Tahu tidak?”
“Keberadaanmu itu menjijikkan.”
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Sakura tetap tidak menjawab.
Dan itu membuat Claudia kesal.
Tiba-tiba
DORONGAN KERAS
BRUK!
Tubuh Sakura terjatuh ke lantai batu.
Buku-bukunya berserakan.
Suara benturan menggema pelan di lorong.
Beberapa murid yang lewat hanya melihat… lalu berpaling.
Seolah itu hal biasa.
“Ambil sendiri,” ucap Claudia dingin.
“Jangan berharap ada yang membantumu.”
Langkah kaki mereka menjauh.
Tawa kecil perlahan menghilang.
Dan lorong kembali sunyi.
Sakura tidak langsung bergerak.
Ia hanya menatap lantai.
Dingin.
Keras.
Tangannya gemetar saat mulai mengambil buku-bukunya satu per satu.
Luka di bahunya kembali terasa.
Perih.
Menusuk.
Namun ia tidak mengeluh.
Tidak ada gunanya.
“…aku masih hidup…”
bisiknya pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun baginya itu alasan untuk tetap berdiri.
Ia bangkit perlahan.
Meski tubuhnya terasa berat.
Meski langkahnya goyah.
“…aku harus bertahan…”
Malam hari.
Akademi mulai sunyi.
Lampu-lampu redup menyala di sepanjang lorong.
Angin malam berhembus pelan melalui jendela tinggi.
Sakura berdiri di depan satu ruangan.
Ruang Alkhemis.
Tangannya terangkat.
Namun berhenti di udara.
Ragu.
Jika ketahuan ia bisa dihukum.
Namun jika tidak ia tidak akan berubah.
Hening beberapa saat.
Lalu ia mendorong pintu itu.
CREEAK—
Ruangan terbuka perlahan.
Aroma herbal langsung menyambut.
Hangat.
Tenang.
Berbeda dari dunia di luar.
Sakura melangkah masuk.
Pelan.
Matanya menyapu rak-rak berisi botol kaca, bubuk, dan tanaman kering.
Di tengah ruangan
meja kayu dengan buku tua terbuka.
Ia mendekat.
Tangannya menyentuh halaman itu.
Tulisan-tulisan rumit memenuhi kertas tua.
Namun
ia bisa memahaminya.
“Aliran energi tidak stabil…”
“Penekanan meridian…”
“Netralisasi racun…”
Napas Sakura sedikit tertahan.
“…ini…”
Ia langsung mulai.
Mengambil bahan.
Menghancurkan daun.
Mencampur cairan.
Percobaan pertama
Cairan menghitam.
Bau menyengat.
Gagal.
Percobaan kedua
Meledak kecil.
Lebih buruk.
Tangannya sedikit terluka.
Namun ia tidak berhenti.
Napasnya ditarik perlahan, Ia menutup mata sejenak.
Mengingat kembali langkah-langkahnya.
“…jangan terburu-buru…”
Kali ini lebih hati-hati.
Lebih tenang.
Cairan di dalam wadah perlahan berubah warna.
Hijau.
Lembut.
Stabil.
Sakura menatapnya.
Ragu.
Namun ia tetap mengoleskannya ke luka di tangannya.
Perih.
Namun
perlahan…
rasa sakitnya mereda.
Matanya sedikit melebar.
“…berhasil…”
“Tidak buruk.”
Suara itu muncul dari belakang.
Sakura langsung menoleh.
Jantungnya berdegup cepat.
Seorang pria berdiri di sana.
Jubah sederhana.
Rambut mulai memutih.
Tatapannya tajam.
Seolah bisa melihat sampai ke dalam.
Master Kaelen Arcturus.
Guru alkimia dan Pria misterius tadi
“Kau masuk tanpa izin,” katanya datar.
Sakura langsung menunduk.
“…maaf…”
Namun Kaelen tidak langsung marah.
Ia melangkah mendekat.
Matanya tertuju pada ramuan.
Ia mengangkatnya.
Mengamati.
Lama.
“Terlalu kasar,” katanya akhirnya.
“Komposisinya tidak stabil.”
Ia menaruhnya kembali.
“Kalau digunakan terus… malah merusak jaringan tubuh.”
Sakura terdiam.
Namun ia tidak membantah.
Kaelen meliriknya.
Menatap luka-lukanya.
Lalu
“Siapa yang melakukannya?”
Bukan nada marah.
Bukan peduli.
Hanya… fakta.
Sakura tidak menjawab.
Hening.
Beberapa detik.
Kaelen menghela napas pelan.
“Kalau kau hanya ingin menyembuhkan luka luar…”
“kau tidak perlu belajar sejauh ini.”
Ia mengambil botol kecil dari rak.
Menyerahkannya.
“Gunakan ini.”
Sakura menerimanya dengan hati-hati.
“…terima kasih…”
Kaelen menatapnya.
“Kenapa kau belajar ini?”
Sakura menggenggam botol itu.
Tangannya sedikit gemetar.
“…supaya aku tidak mati.”
Jawaban itu keluar tanpa ragu.
Tanpa dramatis.
Hanya… jujur.
Hening.
Untuk pertama kalinya tatapan Kaelen berubah.
Sedikit.
Lebih dalam.
“Jawaban yang benar.”
Namun ia tidak tersenyum.
“Kalau begitu buktikan.”
Sakura mengangkat wajahnya sedikit.
Kaelen menunjuk meja.
“Buat ulang ramuan itu.”
“Lebih stabil.”
“Tanpa kesalahan.”
Sakura langsung bergerak.
Tanpa protes.
Tanpa ragu.
Ia mulai lagi.
Namun kali ini lebih hati-hati.
Lebih fokus.
Beberapa menit berlalu.
Kaelen tidak membantu.
Hanya mengawasi.
Setiap gerakan.
Setiap kesalahan kecil.
Keringat mulai muncul di dahi Sakura.
Namun ia tidak berhenti.
Akhirnya cairan itu terbentuk lagi.
Hijau.
Lebih jernih.
Lebih stabil.
Kaelen mengambilnya.
Mengamati.
Lalu—
“…cukup.”
Sakura sedikit menahan napas.
“Datang lagi besok malam.”
Sakura terdiam.
“…saya?”
“Kalau kau ingin bertahan di akademi ini,” lanjut Kaelen dingin,
“kau butuh sesuatu selain bertahan.”
Ia menatapnya lurus.
“Aku akan mengajarimu.”
Jantung Sakura berdegup kencang.
Namun Kaelen belum selesai.
“Tapi dengar baik-baik.”
Suaranya turun.
Lebih berat.
“Aku tidak mengajar orang lemah.”
Hening.
Sakura mengangkat wajahnya.
Matanya masih lelah.
Tubuhnya masih rapuh.
Namun tatapannya tidak goyah.
“Saya akan bertahan.”
Tidak keras.
Tidak dramatis.
Namun cukup kuat.
Kaelen menatapnya beberapa detik.
Lalu berbalik.
“Datang tepat waktu.”
Sakura menggenggam botol kecil itu erat.
Untuk pertama kalinya ada arah.
Di luar akademi…
Di balik bayangan pepohonan tinggi…
Beberapa sosok berdiri diam.
Jubah hitam menyatu dengan kegelapan.
Tanpa suara.
Tanpa wajah.
Prajurit bayangan.
Salah satu dari mereka berbicara pelan.
“Target masih hidup.”
Yang lain menjawab
namun nadanya berbeda.
Lebih tegang.
“Bukan hanya hidup.”
“…dia berubah.”
Hening.
Angin berhembus.
Namun mereka tidak bergerak.
“Perintah Ratu jelas.”
“Mengawasi.”
“Menunggu.”
Salah satu dari mereka menatap ke arah jendela ruang alkimia.
Matanya menyipit.
“Terakhir kali kita mendekat…”
“…seseorang mati.”
Yang lain tidak membantah.
Mereka ingat.
Kegagalan itu.
Dan sesuatu yang tidak bisa mereka pahami.
“Jika dia benar-benar menjadi kunci…”
Suara itu menggantung.
Lalu
“kita tidak cukup.”
Hening kembali.
Lebih berat.
Lebih dalam.
Namun akhirnya keputusan tetap sama.
“Kita tetap mengawasi.”
“Dan saat waktunya tiba…”
“Tidak ada yang boleh gagal lagi.”
Mata mereka tetap tertuju ke satu titik.
Sakura.
Dan malam itu tanpa disadari siapa pun
jalur takdirnya…
mulai berubah. 🌸