NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Mendengar penuturan itu, tubuh Xin Fuyang seketika lemas. Kakinya gemetar hebat dan pandangannya kabur.

Jika tidak segera ditopang oleh Asisten Wang, ia pasti sudah ambruk di tempat."Tuan!"

Anak gadisnya... putri kecilnya yang ia manjakan... berani berkelahi melawan penjahat berbahaya?!

Di sebelahnya, wajah Huo Feilin berubah menjadi pucat pasi, tak ada setetes darah pun yang terlihat di pipinya.

Mulutnya terbuka sedikit namun tak bisa mengeluarkan suara.

Anakku... punggung kecilmu menerima pukulan kayu dan paku berkarat itu demi melindungi orang lain?!

Rasa syok, tak berdaya, marah, dan sakit hati bercampur menjadi satu hingga membuat kepalanya terasa mau meledak.

"Jadi... kenapa... dia menahan rasa sakit itu sendirian..." bisik Huo Feilin pelan dengan mata yang mulai memerah.

Bibi Ming yang juga berada di sana segera menahan nyonya nya dengan mata merah."Nyonya... Nona muda akan baik-baik saja... dia gadis yang kuat."

Wanita itu menggeleng kepalanya. "Aku tak selalu mengerti jalan pikiran anak itu...Apakah kami akan marah-marah dan mengomelinya karena mengira hal itu sepele?"

Suasana di ruang tunggu rumah sakit menjadi sangat hening, penuh kesedihan dari seluruh keluarga.

Dunia Quan Yubin seakan runtuh seketika saat panggilan telepon dari Xin Yuning masuk memberitakan kabar buruk itu.

Pria itu tidak bisa berpikir jernih lagi. Rasanya ia hampir kehilangan akal sehat dan menjadi gila mendengar fakta bahwa gadis yang baru saja ia bertengkar dan tinggalkan dengan emosi kini sedang berjuang melawan maut sendirian.

Tanpa mempedulikan apa pun, ia langsung memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal menuju rumah sakit, melanggar segala aturan demi bisa sampai secepat mungkin.

Saat ia sampai di ruang tunggu dan melihat kondisi keluarga Xin...

Napas Quan Yubin tertahan di tenggorokan.

Ia melihat Huo Feilin yang tampak hancur , Nyonya yang selalu menjaga penampilannya itu bahkan hanya memakai satu sendal dengan rambut berantakan.Paman Xin juga nampak putus asa, dan Xin Yuning yang tampak rapuh.

Pemandangan itu membuat jantung Quan Yubin terasa seperti diremas dan hendak meledak keluar dari dadanya.

Jika mereka yang sekuat baja saja bisa hancur begini... berarti kondisi Yi Yi benar-benar sangat mengerikan dan mengancam nyawa.

Segala macam pikiran buruk dan ketakutan terbesar menghantui pikirannya tanpa ampun.

Bagaimana jika dia tidak selamat? Bagaimana jika aku terlambat?

Bagaimana jika gadis itu pergi selamanya sebelum sempat menjelaskan segalanya?

Bayangan wajah Xin Yi yang tersenyum, yang marah, dan yang berani terus berputar di kepalanya, membuatnya merasa begitu tidak berdaya dan takut setengah mati.

"Yi Yi... tolong bertahanlah..." bisiknya parau dengan air mata yang hampir menetes. "Aku mohon... jangan tinggalkan aku. Aku tidak akan sanggup hidup... begitu pula dengan Paman dan orang lain."

Rasa cinta dan kepemilikan yang selama ini ia pendam kini meledak menjadi kekhawatiran yang membutakan akal sehatnya.

Ia bersumpah dalam hati, kali ini ia tidak akan pernah melepaskan gadis itu lagi.

Xin Yuning yang pertama sadar akan kedatangan temannya itu. Ia segera mengangkat wajahnya dan memanggil,

"Yubin..."

Quan Yubin melangkah mendekat dengan langkah berat. Wajahnya pucat namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang dan menguasai diri meski di dalam hatinya sedang hancur lebur.

"Bagaimana kondisinya?" tanyanya cepat dengan suara rendah dan bergetar.

Belum sempat Xin Yuning menjawab, suara langkah kaki lain terdengar berlarian mendekati ruang tunggu.

Ternyata Zhao Yun dan Rong Yuan juga sudah sampai.

Mereka berdua tampak panik bukan main setelah mendengar kabar bahwa adik kesayangan mereka terkena tetanus dan dalam kondisi kritis.

"Yi Yi! Bagaimana Yi Yi?!" seru Zhao Yun dengan napas terengah-engah.

Suasana di ruang tunggu kini semakin mencekam, dipenuhi oleh orang-orang yang sangat menyayangi Xin Yi dan kini sedang menahan napas menunggu kabar keselamatan gadis itu.

Huo Feilin memegang cangkir teh hangat yang disodorkan oleh Bibi Ming dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri dan juga orang-orang di sekitarnya.

"Dokter sudah menangani dia dengan baik sekarang. Luka di punggung sudah dibersihkan secara menyeluruh dan obat penawar serta antibiotik sudah diberikan. Dia sedang dalam proses pemulihan intensif," ucapnya pelan namun berusaha terdengar tegas.

Zhao Yun segera menyela dengan nada optimis untuk menghibur mereka. "Betul sekali, Paman, Bibi. Yi Yi itu anaknya kuat dan rajin berolahraga. Tubuhnya pasti punya daya tahan yang bagus. Dia pasti akan cepat pulih dan kembali ceria seperti biasa. Percayalah, dia bukan anak biasa yang mudah menyerah."

Kata-kata itu sedikit mengurangi beban di hati mereka.

Sementara itu, Rong Yuan memperhatikan kondisi Xin Fuyang dan Huo Feilin. Wajah mereka terlihat sangat lelah, pucat, dan jelas sekali sudah mencapai batas ketahanan mental mereka setelah syok berat tadi.

"Paman, Bibi," panggil Rong Yuan lembut namun tegas.

"Kalian sudah lelah sekali dan terlalu syok. Lebih baik kalian cari hotel di dekat sini untuk istirahat sebentar. Tidurlah, tenaga kalian juga sangat dibutuhkan nanti. Biarkan kami berempat di sini yang menjaga Yi Yi dulu."

Quan Yubin segera mengangguk setuju."Benar, Kalian pulanglah ke tempat istirahat. Saya berjanji, begitu Yi Yi sadar atau jika ada apa-apa, saya akan menelpon kalian. Percayakan padaku."

Mendengar janji itu dan melihat tatapan sungguh-sungguh dari para pemuda itu, Xin Fuyang menghela napas panjang. "Terima kasih..."

Ia menatap istrinya yang tampak hancur dan lelah luar biasa, rasa sayang dan kasihan membuatnya tak tega membiarkan Huo Feilin terus begadang di sini.

"Ya sudah... istri kita ikuti saran mereka," ajak Xin Fuyang sambil memeluk bahu istrinya. Wanita itu tahu kapan harus menyerah, jadi dia bangun dari kursinya.

"Mari kita istirahat sebentar agar nanti bisa menjaga dia dengan kondisi fit. Bibi Ming, Asisten Wang, ayo pergi."

Akhirnya, keluarga inti dan pembantu rumah tangga pun meninggalkan ruang tunggu untuk mencari tempat peristirahatan sementara.

Kini, suasana menjadi hening.

Hanya tersisa Xin Yuning, Quan Yubin, Zhao Yun, dan Rong Yuan yang duduk berjaga di depan ruang perawatan.

Empat pria yang tersisa.

Awalnya Rong Yuan sempat berniat menawarkan hal yang sama kepada Xin Yuning, memintanya ikut istirahat di hotel bersama orang tuanya. Namun ia urungkan niat itu.

Ia tahu betul sifat kakaknya ini—keras kepala dan sangat protektif. Di saat seperti ini, mana mungkin Xin Yuning mau beranjak sedikitpun dari depan pintu ruang perawatan itu. Pasti ia akan menolak mentah-mentah.

Maka Rong Yuan hanya duduk di sampingnya, menepuk pelan bahu temannya itu.

"Tenang saja, Yi Yi itu tangguh. Dia pasti akan melewati masa kritis ini dengan baik. Kita di sini bersamanya," ucapnya meyakinkan.

Xin Yuning hanya mengangguk pelan, wajahnya masih tampak tegang namun sedikit lebih tenang mendengar kata-kata itu.

Tak lama kemudian, Zhao Yun berdiri dari tempat duduknya.

"Aku pergi sebentar, kalian jaga di sini dulu," ucapnya pelan.

"Aku mau beli beberapa perlengkapan dan baju ganti buat Yi Yi. Siapa tahu nanti setelah kondisi stabil, dia bisa segera dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Biar pas dia sadar, semuanya sudah siap dan dia tidak perlu kerepotan."

Xin Yuning berterima kasih padanya; mereka bahkan lupa hal ini karena terlalu panik. Pria itu melambaikan tangannya dan berkata tidak masalah, karena Xin Yi sudah seperti adik mereka sendiri.

Zhao Yun pun berjalan cepat meninggalkan ruang tunggu, berniat memastikan segala kebutuhan adik kesayangannya itu tersedia lengkap dan nyaman.

Kini tinggal bertiga, namun kehangatan persahabatan dan kasih sayang mereka membuat suasana tidak lagi terasa sepi dan menakutkan.

Pukul sebelas malam, akhirnya pintu ruang perawatan intensif terbuka. Napas semua orang tertahan menanti kabar.

"Pasien sudah stabil dan berhasil melewati masa kritis. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap VIP agar lebih nyaman," ucap perawat dengan senyum lega.

Mendengar itu, beban berat di dada Quan Yubin, Xin Yuning, dan Rong Yuan seakan langsung terangkat. Mereka segera mengikuti ranjang tempat Xin Yi terbaring.

Saat masuk ke kamar VIP yang luas dan mewah, pemandangan di hadapan mereka membuat hati kembali terasa perih.

Xin Yi terbaring lemah di atas ranjang besar. Wajahnya pucat pasi, tak ada sedikitpun warna darah yang terlihat.

Matanya terpejam rapat, infus masih menancap di punggung tangannya, dan selang oksigen tipis membantu pernapasannya yang masih terdengar sedikit berat.

Ia terlihat begitu kecil dan rapuh di tengah ranjang yang luas itu.

Dokter yang menangani memberikan penjelasan singkat. "Kondisinya sudah jauh lebih baik. Demam mulai turun dan infeksi terkontrol. Kalian boleh menjaga di sini. Jika ada apa-apa atau jika dia sadar dan merasa kesakitan, segera panggil perawat yang berjaga di sebelah."

"Terima kasih banyak, Dokter. Terima kasih sudah menyelamatkannya," ucap Xin Yuning tulus dengan nada penuh rasa syukur.

Setelah dokter dan tim medis meninggalkan ruangan, suasana menjadi hening.

Xin Yuning menarik kursi dan duduk di sisi ranjang, menatap lekat-lekat wajah damai namun menyedihkan dari adiknya itu.

Tangannya terulur, menyentuh pipi gadis itu yang terasa hangat namun masih sedikit demam.

"Yi Yi... kau benar-benar membuat kami ketakutan setengah mati..." bisiknya pelan dengan suara parau.

"Syukurlah... syukurlah kau baik-baik saja. Istirahatlah yang banyak. Kali ini... Kakak janji tidak akan membiarkan apa pun menyakiti kamu lagi."

Di belakangnya, Quan Yubin berdiri mematung menatap sosok itu dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.

Rasa lega bercampur dengan rasa keinginan memiliki yang lebih kuat terus menggerogoti hatinya.

 

1
Little Miao
Tinggalkan jejak🙏
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!