Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 Nandini Juga Disidang
Mahmud menggelengkan kepala. Putra bungsunya itu memang emosional sehingga kadang jadi bodoh. Mengaku kalau dekat dengan yang bukan mahrom itu cuma sama Nandini, apa bukan bunuh diri namanya?
"Gus Yasa... maksud Ahsan itu, dia ndak gampang akrab sama yang bukan mahrom. Dia bisa jaga marwah dia sebagai seorang gus.
Kenapa dia bisa berani sama Mbak Dini, ya karna pembawaan Mbak Dini, montir, seperti laki-laki. Jadi dia menganggap Mbak Dini seperti temen bengkel. Bisa ngobrol macem-macem tentang motor, mesin.
Apalagi dulu penampilan Mbak Dini belum seperti sekarang, ya tho?" Mahmud menatap semua yang ada di ruang dalam bergantian.
"Kesan itu terus nempel di otak Ahsan. Dan mungkin Mbak Dini juga masih bersikap seperti dulu di bengkel. Jadi, nanggepin Ahsan ngobrol. Tanpa... sepengetahuan... Gus Taka." Mahmud menatap dingin Santaka.
Ahsan menatap ayahnya. Senyum tipis terbit di bibir kecokelatannya. Matanya bersirat terima kasih. Sang ayah memang selalu ada untuknya, walau terkadang keras.
Santaka menunduk. Rahangnya mengetat. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Mahmud pasang badan untuk Ahsan. Seharusnya ia menunda melabrak sepupunya itu, saat Mahmud sudah pergi dari Ndalem.
"Nyuwun pangapunten, Paklik. Taka yakin istri Taka ndak seperti itu." Santaka menatap pamannya lalu menunduk kembali.
"Yaa, Paklik ndak bilang Mbak Dini itu goda Ahsan... Ndak lah, masa menantu Mas Mansur serendah itu..." Mahmud menyeringai. Mansur terdiam. Santaka mengepalkan tangannya.
"Maksud Paklik, bisa saja Mbak Dini itu nanggepin Ahsan, seru, seperti waktu di bengkel. Jadi Ahsan terbawa suasana." Mahmud mengangkat alis sambil mengembuskan napas.
"Tapi kan tetep ndak boleh seperti itu, Paklik. Apalagi Gus Ahsan juga guru di Al Fatih. Kalau santri tau bagaimana sikap Gus Ahsan, dan akhirnya meniru, bagimana?" Abyasa menipiskan bibirnya.
"Iya, Paklik ndak membenarkan tindakan anak Paklik. Ahsan tetap salah. Cumaa... salahnya ndak sepihak. Ada pihak yang ngasih angin juga. Sebagai gus muda yang masih banyak harus belajar, kalah dia!" Mahmud menatap putranya yang tertunduk.
Pelipis Santaka berdenyut. Mengapa tudingan itu jadi berputar pada istrinya? Pakliknya itu memang pandai memutar fakta. Lidahnya tak bertulang.
"Benar apa yang Abah Ahsan bilang. Maksudnya kenapa cuma sama Mbak Dini, Ahsan berani, ya karna Mbak Dini itu seperti temen tongkrongan saja. Maaf kalau itu kurang berkenan.
Selama ini obrolan kami nyambung soalnya. Bisa ngobrol banyak tentang motor...." Ahsan menatap sambil menyeringai ke arah Santaka.
Santaka mengepalkan tangannya. Ahsan benar-benar telah menyiram bensin pada api cemburunya. Mentang-mentang ia dan Nandini berbeda dunia.
"Semisal benar, istri Taka ngasih angin ke Gus Taka, kenapa sebagai orang yang lebih paham agama, Gus Ahsan ndak ngasih tahu Taka sebagai suaminya?
Atau, ya ndak usah ditanggepin. Ini kan Gus Ahsan yang deket-deketin Mbak Dini di garasi. Berarti kan memang Gus Ahsan yang cari perkara duluan.
Istri Taka memang awam, bukan ning atau santri, tapi Taka yakin dia bisa jaga marwahnya. Jangan disamakan dengan ning atau santri yang benar-benar nutup diri.
Mungkin benar ada respon dari istri Taka pas diajak ngobrol Gus Ahsan. Tapi... paling itu cuma basa-basi saja. Gus Ahsan saja yang gede rasa. Padahal Mbak Dini ndak ada maksud apa-apa." Santaka memandang datar sang sepupu.
Ahsan merapatkan bibirnya. Ia tak suka kebenaran yang diucapkan Santaka. Tiba-tiba ia mendapatkan ide untuk membuat keretakan kecil. Hanya retak bukan pecah.
Bisa jadi ujian untuk Santaka dan Nandini. Kalau ternyata hubungan mereka tak sekuat itu, ia jadi punya celah untuk masuk.
"Ahsan GR? Hahaha... Ngapain GR, Ahsan tahu diri kok. Tapi ya... dasarnya Mbak Dini juga nganggep Ahsan temen baiknya. Buktinya waktu Ahsan bilang motor Ahsan bermasalah, Mbak Dini mau bantu." Ahsan menyeringai.
"Maksudnya apa, Le?" tanya Mahmud.
"Ya, Ahsan cerita motor Ahsan mbrebet-mbrebet. Mbak Dini tanggap, langsung bantu Ahsan. Periksa motor Ahsan."
Rahang Santaka mengetat. Tangannya kembali mengepal. Ia bertanya-tanya, kenapa istrinya tak bercerita padanya mengenai motor Ahsan.
"Bohong!" Napas Santaka terlihat memburu. Abyasa menepuk pundak adiknya.
"Buat apa Ahsan bohong? Silakan tanya sama Mbak Dini, benar apa tidak, dia bantu Ahsan." Ahsan tersenyum sinis pada Santaka.
Mansur merasa pelipisnya berdenyut. Ia tahu menantunya itu masih perlu banyak belajar. Ada kemungkinan cerita keponakannya benar.
"Gus Taka..." panggil Mansur. Santaka menoleh ke arah ayahnya.
"Panggil istri sampeyan. Kita dengar cerita versi Mbak Dini."
Santaka terdiam. Malam ini benar-benar kacau. Malam yang seharusnya romantis, malah jadi penuh tekanan. Semua karena Ahsan yang tak tahu batas dan dirinya yang telanjur terbakar cemburu.
"Inggih Abi. Nyuwun pangapunten, Taka panggil istri Taka." Dengan langkah berat, Santaka berjalan ke arah kamarnya.
Nandini sedang terduduk di kamarnya. Ia menggunakan tanktop dan celana pendek. Menunggu kedatangan suaminya. Tadinya mau menuntaskan janji mereka.
Tapi sepertinya malam ini janji itu batal. Ia berdecak. Sudah hampir setengah dua, suaminya belum juga masuk kamar.
Pintu kamar terbuka. Wajah kusut Santaka terlihat di depan pintu. Nandini menoleh.
Mata Santaka membelalak melihat penampilan sang istri. Ia benar-benar menyesal telah gegabah berkonfrontasi dengan Ahsan sehingga melewatkan kesempatan emas malam ini.
Nandini menghampiri suaminya. "Mas, maafin aku." Ia langsung memeluk Santaka.
Santaka memejamkan matanya. "Aku yang minta maaf, Sayang. Kita ada masalah sekarang." Ia balas memeluk tubuh Nandini.
"Masalah apa?" Nandini mengurai pelukan mereka.
"Adek dipanggil sama Abi ke ruang dalam." Mata Santaka menelusuri wajah istrinya dan berhenti di bagian depan tubuh Nandini. Tanktop itu memiliki belahan rendah. Santaka menelan ludah.
"Jam segini? Diajak ngeronda?" Nandini memiringkan bibirnya.
Santaka tersenyum kecil. "Ndak sayang. Tadi... aku... ribut sama... Gus Ahsan."
"Hah? Kok bisa?" Nandini mengerutkan dahinya.
Santaka menceritakan kronologis kejadian secara sekilas. Nandini menggelengkan kepalanya. "Sebentar aku ganti baju." Ia menjauhkan tubuhnya yang tadi menempel dengan Santaka.
Santaka menarik tangan sang istri. "Jangan diganti. Didobel saja. Biar... nanti... gampang..." Santaka meringis.
Nandini tersenyum kaku. "Iya, Mas. Sebentar."
Nandini mengambil gamis di belakang pintu. Santaka tak melepas tatapan. Gerakan demi gerakan Nandini ia pindai.
Andai boleh, Santaka ingin tak mengacuhkan titah ayahnya. Tak lagi ambil peduli pada sidang tengah malam itu. Lebih baik menghabiskan malam panjang bersama Nandini.
Nandini selesai memakai kerudung instan. "Yuk, Mas." Nandini memegang handle pintu, bersiap keluar.
"Sebentar." Santaka menarik tubuh istrinya. Ia menyatukan bibir mereka. Agak lama dan sedikit emosional. Ia menyalurkan kekalutan hatinya sejak tadi lewat sentuhan itu.
Nandini mendorong dada suaminya. "Mas, udah. Abi dan yang lain nunggu. Ndak enak."
Santaka mengelus bibir Nandini yang bertambah merah. Ada bekas di organ itu. Terlihat jelas. Rupanya ia bermain kasar. Mana mau disidang lagi. Semoga semua tak menyadari karena menjaga pandangan mereka.
"Sakit ya? Maaf aku kasar." Santaka kembali membelai bagian yang membekas itu.
"Lumayan." Nandini meringis. "Tapi ada yang lebih penting kan sekarang. Yuk, Mas." Akhirnya Nandini membuka pintu kamarnya.
Berdua mereka berjalan di lorong Ndalem. Tangan mereka saling mengenggam kencang. Saling menguatkan. Seperti yang sudah-sudah.
"Kenapa lama sekali, Gus Taka?" Wajah Abyasa terlihat kesal.
Ahsan menoleh ke arah pasangan itu. Tangannya mengepal melihat bibir Nandini yang tampak lebih merah dan menebal dibanding biasanya. Santaka tadi pasti tidak sekadar memanggil istrinya.
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj