"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Cahaya temaram dari lampu tidur di nakas menciptakan bayangan lembut di wajah Runa yang mulai terlihat tenang. Azel masih setia di posisinya, jemarinya bergerak lembut mengusap telapak kaki Runa, memastikan ketegangan otot istrinya benar-benar luruh.
Namun, meski matanya terpejam, pikiran Runa tidak sepenuhnya istirahat. Rasa nyaman yang diberikan Azel justru memicu sisi emosionalnya yang terdalam. Runa bergerak sedikit, menarik kakinya pelan lalu berbalik menghadap Azel.
"Zel..." panggil Runa lirih.
"Belum tidur?" Azel menghentikan pijatannya, beralih menarik selimut hingga menutupi bahu Runa. "Apa pijatanku kurang enak? Atau perutmu sakit lagi?"
Runa menggeleng. Ia menatap wajah suaminya yang sangat dekat. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa melihat gurat kelelahan di mata Azel yang dipaksakan untuk tetap siaga demi dirinya.
"Kenapa kamu baik banget sama aku? Kadang aku merasa... aku nggak punya apa-apa buat membalas semua ini. Aku cuma guru biasa yang sering bikin kamu repot."
Azel menghela napas pendek. Ia merebahkan tubuhnya sepenuhnya di samping Runa, menyangga kepalanya dengan lengan. "Runa, aku sudah bilang kan? Aku tidak butuh balasan berupa materi atau prestasi. Aku hanya butuh kamu ada di sini, bernapas dengan benar, dan makan dengan teratur. Itu sudah lebih dari cukup buat membayar semua asisten dan kurir yang kukirim ke sekolahmu."
"Tapi, Zel... kamu tahu kan silsilah keluargaku? Kamu tahu kalau aku bukan lahir dari cinta yang indah seperti yang orang-orang bayangkan," suara Runa bergetar, bayangan tentang Ibu dan Ayahnya kembali muncul. "Aku takut... aku takut kalau sebenarnya aku ini cuma 'beban' yang dititipkan ibuku ke kamu sebelum dia pergi. Aku takut kalau suatu saat kamu sadar kalau aku nggak sebanding sama duniamu."
Azel terdiam. Ia bisa merasakan keraguan yang masih berakar kuat di hati istrinya. Pria itu mengulurkan tangan, menarik Runa masuk ke dalam dekapannya hingga wajah wanita itu terbenam di dadanya.
"Dengar baik-baik," bisik Azel, suaranya bergetar rendah di dada bidangnya. "Ibumu tidak menitipkanmu padaku. Aku yang mengambilmu kembali. Aku yang memaksa kontrak itu ada. Kamu bukan warisan atau titipan, Runa. Kamu adalah satu-satunya tujuan yang membuatku ingin sukses. Lima tahun lalu aku gagal menjagamu karena aku belum punya kekuatan. Sekarang, setelah aku punya segalanya, apa kamu pikir aku akan membiarkanmu merasa kecil lagi?"
Runa tidak menjawab, ia hanya mengeratkan pelukannya pada pinggang Azel. Air matanya meresap ke kemeja yang dikenakan suaminya.
"Soal orang tuamu... itu bukan salahmu," lanjut Azel sambil mengelus rambut Runa dengan ritme yang menenangkan. "Mungkin ayahmu melakukan kesalahan, tapi bagiku, kehadiranmu adalah hal paling benar yang pernah terjadi. Kalau kamu merasa tidak diinginkan oleh dunia, ingatlah kalau ada satu pria sombong di Jakarta yang rela menghentikan rapat miliaran rupiah hanya karena istrinya belum minum vitamin. Apa itu kurang membuktikan kalau kamu sangat diinginkan?"
Runa tertawa kecil di balik tangisnya. Ucapan Azel selalu saja menyelipkan sisi narsis namun sangat menenangkan.
"Iya, Tuan CEO. Aku tahu..."
"Bagus kalau tahu. Sekarang, berhenti menangis. Menangis itu membuang energi, dan kamu butuh energi untuk mengawas ujian besok," Azel mengecup dahi Runa dengan lembut. "Besok pagi aku minta supir bawakan termos kecil isi sup iga. Kamu harus makan siang yang berat. Dan tolong... jangan bicara terlalu dekat dengan guru olahraga itu. Bau keringatnya bisa mengganggu konsentrasimu."
"Zel! Masih bahas Pak Dimas?" Runa mendongak, menatap Azel dengan wajah cemberut namun matanya bersinar jenaka.
"Aku hanya mengingatkan," sahut Azel datar, meski sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang sangat tulus. "Sudah, tidur. Aku akan di sini sampai kamu benar-benar terlelap."
Malam itu, di tengah kemegahan kamar yang biasanya terasa dingin, kini penuh dengan kehangatan yang nyata. Azel terus memeluk Runa, menjaga wanita itu dari mimpi buruk dan rasa ragu, hingga akhirnya napas Runa menjadi teratur dan tenang.
Azel menatap wajah Runa yang tertidur dengan damai. Ia berbisik pelan, hampir menyerupai doa, "Kamu nggak butuh siapa-siapa lagi buat minta nasihat, Runa. Kamu punya aku. Selamanya."
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣