NovelToon NovelToon
Jalan Keabadian Penuh Darah

Jalan Keabadian Penuh Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kompetisi Murid Luar

Lin Han berjalan menuju lapangan utama Sekte Singa Perak. Lapangan itu luas, dikelilingi oleh tribun batu yang mulai dipenuhi murid murid. Di tengah lapangan, sebuah panggung batu besar menjulang setinggi dua meter. Di atasnya sudah berdiri beberapa tetua sekte yang akan mengawasi kompetisi.

Para murid luar berkumpul di sisi timur lapangan. Mereka dibagi berdasarkan asrama masing masing. Lin Han bergabung dengan kelompok asramanya.

Fang Yu melambai ke arahnya.

"Dhu Feng, cepat ke sini. Kita dapat giliran pertama." Suara Fang Yu terdengar gugup.

Lin Han mendekat. "Giliran pertama melawan siapa?"

Fang Yu menunjuk ke arah sekelompok murid di sisi lain.

"Asrama Paviliun Barat. Mereka selalu kuat. Murid terkuat mereka, Wei Kang, bahkan sudah setengah langkah ke Core Formation."

Lin Han mengikuti arah tunjukan Fang Yu. Seorang pemuda berbadan tegap dengan rambut pendek berdiri di depan kelompoknya. Wajahnya datar, tapi matanya memancarkan kepercayaan diri yang tinggi.

Itulah Wei Kang.

Zhuge muncul di belakang mereka.

"Kalian semua dengarkan. Kompetisi ini bukan tentang menang atau kalah. Ini tentang menunjukkan kemampuan kalian di depan para tetua. Jika kalian tampil bagus, mungkin ada tetua yang tertarik membimbing kalian secara pribadi. Jadi jangan main main."

Para murid mengangguk. Beberapa terlihat bersemangat, sebagian lain gugup. Lin Han hanya diam, memperhatikan sekelilingnya.

Sebuah gong besar dipukul.

DOOONG!

Suaranya menggelegar ke seluruh lapangan. Seorang tetua berjubah biru tua dengan sulaman emas di bahunya naik ke atas panggung. Kultivasinya Core Formation Akhir. Rambutnya sudah setengah putih, tapi wajahnya masih terlihat muda.

"Aku Tetua Shen, pengawas kompetisi kali ini. Aturannya sederhana. Setiap asrama akan mengirimkan lima murid terbaiknya untuk bertarung melawan lima murid dari asrama lain. Sistem gugur. Kalah, keluar. Menang, lanjut. Asrama yang muridnya bertahan paling akhir akan mendapatkan hadiah berupa seratus batu roh tingkat menengah dan satu pil Pemurnian Inti."

Suara gemuruh terdengar dari para murid. Seratus batu roh tingkat menengah adalah jumlah yang besar untuk murid luar. Pil Pemurnian Inti bahkan lebih berharga. Pil itu bisa meningkatkan peluang menerobos ke Core Formation.

"Pertandingan pertama asrama Timur melawan Asrama Paviliun Barat. Kirimkan wakil pertama kalian."

Zhuge menatap murid muridnya. "Siapa yang mau maju pertama?"

Seorang pemuda kurus bernama Mao Chen mengangkat tangannya.

"Aku akan maju, Kakak Senior."

Zhuge mengangguk. "Hati hati. Lawanmu pasti kuat."

Mao Chen naik ke panggung. Dari sisi Paviliun Barat, seorang pemudi berambut pendek naik. Mereka saling memberi hormat, lalu pertarungan dimulai.

Pertarungan berlangsung cepat. Mao Chen menggunakan teknik pedang yang cukup baik, tapi lawannya lebih cepat. Hanya dalam sepuluh jurus, pedang Mao Chen terlempar dari tangannya. Ia kalah.

Zhuge menghela napas. "Selanjutnya."

Satu per satu murid Asrama Timur maju. Fang Yu maju ketiga. Ia berhasil mengalahkan satu lawan sebelum akhirnya dikalahkan oleh murid kedua Paviliun Barat. Murid keempat Asrama Timur juga kalah.

Sekarang giliran Lin Han. Ia melangkah naik ke panggung. Di atas panggung seorang pemuda berwajah dingin dengan pedang di pinggangnya, sudah menunggu.

Mereka saling memberi hormat.

"Aku tidak akan mengalah dengan mudah," kata pemuda itu.

Lin Han tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan pedang peraknya dari cincin penyimpanan. Pedang itu biasa saja, sama seperti milik kebanyakan murid luar.

Tetua Shen memberi isyarat.

"Mulai."

Pemuda itu langsung menyerang.

Shing! Shing! Shing!

Pedangnya melesat cepat ke arah dada Lin Han, gerakannya lumayan terlatih.

Lin Han menggeser tubuhnya sedikit ke samping. Pedang lawannya meleset. Ia membalas dengan satu tebasan horizontal sederhana.

Pemuda itu mengangkat pedangnya untuk menangkis. Tapi tebasan Lin Han lebih berat dari yang ia duga. Pedangnya terpental, dan sebelum ia bisa bereaksi, ujung pedang Lin Han sudah berhenti satu inci dari lehernya.

"Kau kalah," kata Lin Han datar.

Pemuda itu menelan ludah. "Aku... aku mengaku kalah."

Para murid yang menonton terkejut. Satu jurus, hanya satu jurus lawan menyerah.

Wei Kang yang berdiri di sisi Paviliun Barat menyipitkan matanya. Ia menatap Lin Han dengan tatapan baru.

Murid kedua Paviliun Barat naik. Seorang pemuda dengan golok besar. Ia langsung menyerang dengan tebasan keras begitu pertandingan dimulai.

Lin Han tidak menghindar. Pedangnya bergerak cepat, menusuk ke arah pergelangan tangan lawannya. Pemuda itu terpaksa membatalkan tebasannya dan menarik tangannya. Saat itulah Lin Han melangkah maju dan menendang lututnya. Pemuda itu jatuh berlutut, dan pedang Lin Han sudah berada di atas kepalanya.

"Kau kalah."

Pemuda itu mengangguk kaku. Ia bangkit dan turun dari panggung dengan wajah pucat.

Murid ketiga Paviliun Barat naik. Kalah dalam dua jurus. Murid keempat naik. Kalah dalam tiga jurus.

Sekarang tinggal Wei Kang.

Pemuda tegap itu naik ke panggung. Matanya menatap Lin Han dengan campuran rasa penasaran dan kewaspadaan.

"Kau bukan Dhu Feng yang biasa," katanya pelan, hanya cukup keras untuk didengar Lin Han.

Lin Han tidak menjawab.

Wei Kang melanjutkan. "Dhu Feng yang aku kenal tidak mungkin sekuat ini. Teknik pedangmu sederhana, tapi setiap gerakanmu sempurna. Siapa kau sebenarnya?"

"Aku Dhu Feng," jawab Lin Han datar. "Hanya saja aku sudah lelah menjadi lemah."

Wei Kang menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk.

"Bagus. Aku suka jawaban itu. Sekarang tunjukkan padaku kekuatanmu yang sebenarnya."

Ia mengeluarkan pedangnya. Bukan pedang biasa. Pedang itu berwarna biru gelap dengan aura dingin yang samar.

Tetua Shen memberi isyarat.

"Mulai."

Wei Kang langsung menyerang dengan kecepatan yang jauh di atas murid murid sebelumnya. Pedangnya bergerak dalam tiga arah sekaligus, menyulitkan lawan untuk menebak arah serangan sebenarnya.

Lin Han mundur selangkah. Matanya mengikuti setiap gerakan pedang Wei Kang. Ia melihatnya, tiga bayangan pedang, tapi hanya satu yang nyata.

Pedangnya bergerak. Bukan untuk menangkis, tapi menusuk lurus ke depan, ke arah bahu kanan Wei Kang.

Wei Kang terpaksa membatalkan serangannya dan menghindar. Serangan balasan Lin Han selalu tepat di titik yang memaksanya bertahan.

Mereka bertukar jurus. Wei Kang menyerang dengan teknik pedang Sekte Singa Perak yang cukup rumit. Lin Han membalas dengan teknik pedang dasar yang ia sempurnakan selama bertahun tahun. Sederhana, tapi mematikan.

Pertarungan berlangsung lebih lama dari sebelumnya. Para murid yang menonton terdiam, terpaku oleh adu pedang yang intens.

Di tribun, Tetua Shen memperhatikan dengan mata yang mulai berbinar. "Murid luar yang menarik. Teknik pedangnya dasar, tapi penguasaannya luar biasa."

Wei Kang semakin terdesak. Setiap serangannya selalu dipatahkan. Setiap pertahanannya selalu ditembus. Perlahan ia menyadari bahwa lawannya ini belum mengeluarkan kekuatan penuhnya.

Ia melompat mundur. "Aku mengaku kalah. Tidak ada gunanya melanjutkan ini."

Lin Han menurunkan pedangnya. "Kau bertarung dengan baik."

Wei Kang tersenyum tipis. "Kau menghinaku atau memujiku?"

"Memuji."

Wei Kang tertawa kecil. "Nama Dhu Feng akan selalu kuingat."

Ia turun dari panggung. Para murid Asrama Timur bersorak. Mereka tidak menyangka rekan seasrama mereka bisa mengalahkan seluruh wakil Paviliun Barat sendirian.

Tetua Shen naik ke panggung. "Pemenang pertandingan pertama adalah Asrama Timur. Mereka akan maju ke babak berikutnya."

Zhuge menatap Lin Han dengan tatapan tidak percaya. Tapi ia tidak bertanya apa apa. Hanya mengangguk kecil.

Kompetisi berlanjut, dan asrama lain bertarung. Lin Han duduk di sisi lapangan, memperhatikan setiap pertandingan. Ia mempelajari teknik teknik yang digunakan para murid.

Babak berikutnya tiba. Asrama Timur melawan Asrama Selatan. Lin Han kembali maju dan mengalahkan semua lawannya. Babak final melawan Asrama Utara. Hasilnya sama.

Ketika matahari mulai condong ke barat, kompetisi berakhir. Asrama Timur keluar sebagai pemenang. Semua berkat Lin Han.

Tetua Shen memanggilnya ke atas panggung.

"Dhu Feng, bukan?"

Lin Han mengangguk.

"Teknik pedangmu luar biasa untuk ukuran murid luar. Siapa yang mengajarimu?"

"Aku belajar sendiri, Tetua. Dari buku buku dasar di perpustakaan sekte."

Tetua Shen menatapnya lama. "Belajar sendiri bisa mencapai tingkat ini? Kau berbakat." Ia mengeluarkan sebuah token perak dari lengan bajunya. "Ini token murid dalam. Jika kau mau, kau bisa masuk ke Paviliun Pedang dan belajar di sana. Tapi kau harus melewati ujian masuk dulu. Apa kau tertarik?"

Lin Han menatap token itu. Paviliun Pedang adalah salah satu divisi elit di Sekte Singa Perak. Hanya murid murid berbakat yang bisa masuk.

Ia menerima token itu dengan kedua tangannya. "Terima kasih, Tetua. Aku tertarik."

Tetua Shen tersenyum tipis. "Bagus. Ujian masuk diadakan tiga hari lagi. Persiapkan dirimu."

Lin Han mengangguk dan menyimpan token itu. Setelah itu pembagian hadiah, dan Zhuge mengambil untuk disimpan, itu katanya. Lin Han tidak peduli, dan tidak ingin berdebat, dia langsung kembali ke asrama.

Malam harinya, Lin Han duduk di ranjangnya. Asrama ramai dengan perayaan kemenangan. Fang Yu dan yang lainnya membeli arak dan makanan dari kota terdekat. Mereka tertawa dan bercerita.

Lin Han tidak ikut. Ia duduk bersila, bermeditasi. Pikirannya melayang pada token perak di cincin penyimpanannya. Paviliun Pedang. Itu kesempatan bagus untuk berkembang lebih cepat.

Tapi bukan itu yang membuat pikirannya tidak tenang.

Bayangan Liu Mei muncul lagi. Wajahnya, suaranya dan air matanya.

Lin Han mengepalkan tangannya di atas lututnya. "Aku akan kembali. Aku pasti akan kembali." Bisiknya pada diri sendiri.

Ia menarik napas dalam dan memejamkan matanya. Qi dari batu roh mengalir ke dalam tubuhnya. Kultivasinya perlahan tapi pasti semakin kokoh.

Jalan menuju Core Formation masih panjang. Tapi ia akan menempuhnya.

1
yos helmi
👍👍👍👍👍💪💪💪💪
Adriel Benedict
Tim yang solid dan keren 👍
YAKARO: Betul kak/Determined//Determined/
total 1 replies
Adriel Benedict
🥹🥹🥹🥹🥹
Dragon🐉 gate🐉
Author crazy Up nya bnr" crazy .. ugal-ugalan... gw suka gaya Lo... thanks Thor.. ngopi ☕ dulu biar ttp semangat 👍🏻
YAKARO: Oke, terimakasih bro🙏
Ini bakal ugal-ugalan sampai 150k kata. NIAT NYA LOH YA. Kadang udah niat, kondisi di rl meleset🤣
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
Thor ..kenapa jd Lun Ham, Ham apakah ini ... Ham ster,Ham burger atau Ham burhamburan😁😁🤣
Dragon🐉 gate🐉: siippp 👍🏻
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
tigaaa.... empaaaattt.... liiiiiiiiiMA!!🤣
Dragon🐉 gate🐉: meletus kabeh🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Adriel Benedict
seruu dan menegangkan 😁
YAKARO: Hehe mantap/Determined//Determined/
total 1 replies
Adriel Benedict
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Adriel Benedict
strategi aneh 🤣🤣
YAKARO: Aneh tapi berhasil🤣
total 1 replies
Luthfi Afifzaidan
up
Dragon🐉 gate🐉
moga aja murid" yg lain (kl masih ada yg selamat) selain mereka gak merebut "jalan" saat mereka pingsan
YAKARO: Aman aman saja/Determined//Determined/
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
aaawww ... waduh /Gosh/
YAKARO: /Cry//Cry//Cry/
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
gw mulai suka sm Mu Wan,... move on dari ayang Minlie 😁
Dragon🐉 gate🐉: gw suka sikap & cara berfikir dia Thor.. dia bijaksana, kl soal kepribadian & karakter gw ttp Love sm ayang Minlie...
awal muncul Mu Wan gw jg gak terlalu suka soalnya dia kyk Jaim, tp ternyata emang bawaannya 😁
total 2 replies
Fajar Fathur rizky
thor bikin mcnya mendapatkan teknik klon kaya xuhao thor bikin nanti yang ketemu liumei tubuh klone
Fajar Fathur rizky
thor bikin sifat linhan dingin
YAKARO: Masih lemah kalau terlalu dingin... pembaca benci bro🤣
total 1 replies
Adriel Benedict
wkwkwkwkwk rebutan permen 🤣🤣
YAKARO: Wkwkkw🤣
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
🤣🤣🤣 benar-benar kekacauan ...
tp gw seneng sm murid sekte, mereka rebutan tp ttp rasional, mereka gak ada niat membunuh( sejauh ini) ..
YAKARO: Hhehehe iya bro. SEJAUH INI😆
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
hasil dr kerja keras & ketekunan yg dijalani Lin Han .. ( bisa di praktekkan di RL)
YAKARO: Harus sih bro. Lin Han walaupun kultivasi mandek, dia tetap latihan pedang dasar setiap hari. Hasilnya dia jadi Di tingkat kesempurnaan penguasaan nya🤣🤣
total 1 replies
Sarip Hidayat
mantaap kk
septian arista
lanjut boss 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!