Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Bu Wina Jatuh Sakit
Bu farel dan beberapa pelayan lainnya, mereka menyambut kedatangan Tiaras yang datang kearah mereka semua, dengan hati yang deg degan bu Farel menyambut sang nyonya rumah itu.
“bi! Dimana embun?” Tanya Tiaras dengan terlihat sangat tergesa gesa.
Dengan deg degan bu Farel menjawab pertanyaan dari sang tuan rumah “emm.. dia sedang berada dikamarnya Nyonya” jawab bu Farel dengan cepat.
Setelah mendengar jawab dari bu Farel, Tiaras langsung pergi menuju kearah kamarnya embun dengan langkah yang sedikit berlarian.
Bu Farel berharap cemas semoga saja anak itu tidak mendapatkan masalah yang lebih serius lagi ‘hufft’ desis bu Farel sambil dia mengelus dadanya.
“tok tok tok” suara ketukan pintu tedengar, ketika Tiaras mengetuk pintu kamar embun solai.
Embun langsung bergerak membukakan pintu yang sedang di ketuk dari luar, dia sangat terkejut ketika melihat Tiaras sedang berada di depan pintu kamarnya.
“Nyo, nyonya? Ada apa nyonya? Apa ada yang terjadi?” Tanya embun dengan terbata bata, dia juga penasaran dengan kedatangan orang penting dirumah ini.
Tiaras menggelengkan kepalanya, kemudian dia menatap embun dengan melemparkan senyuman indahnya, setelah itu dia meraih tangan embun dengan penuh kehangatan.
“boleh gak saya berbicara sama kamu, hanya kita berdua saja” ucap Tiaras masih dengan mode senyuman indahnya.
Embun mengerutkan sedikit keningnya, kemudian tanpa menunggu lama dia menganggukkan kepalanya.
Namun sebelum mereka berdua melangkahkan kakinya dari tempat itu, tiba tiba saja beberapa pelayan berteriak dengan sangat keras “Tolong! Tolong!”.
Mendengar ada yang meminta pertolongan, sontak saja embun dan tiaras saling pandang namun dengan cepat embun dan tiaras langsung berlari kecil kearah sumber suara itu.
“kenapa bi? Kok minta tolong?” Tanya embun ketika dia melihat bu triskan sedang menangis histeris.
“nak embun, itu, itu bu wina sudah pingsan didalam kamar mandi, mungkin penyakit jantungnya kambuh lagi” ucap bu triska yang sedang menunggu para satpam datang untuk membantu.
Embun langsung berlari cepat kedalam kamar mandi, dia berlari bagaikan seorang atlet lari maraton di Negara Konoha, embun berlari tanpa memperdulikan orang orang di sekitarnya.
“Bu! Bu wina?! Kenapa bu wina?” Tanya embun sambil dia mengangkat kepala bu wina kedalam pangkuannya, namun bu wina sama sekali menyahut dengan pertanyaan dari embun.
Tidak berselang lama para satpam sudah datang ke TKP, mereka langsung melakukan evakuasi secara terencana. Bu wina langsung dilarikan kerumah sakit, yang langsung di ikuti oleh embun solai.
Tiaras hanya bisa menatap punggung embun dengan hanya menggeleng, dia tidak pernah berpikir kalau anak ini adalah anak yang baik, dia selalu sigap membantu orang lain ketika sedang membutuhkan pertolongan.
Rencana tiaras terpaksa harus ditunda berhubung embun sudah berlalu pergi kerumah sakit, tiaras hanya bisa menghela napasnya dalam.
Sampainya di rumah sakit, bu wina langsung ditangani oleh dokter, bu wina dimasukan di dalam ruangan IGD.
Sementara embun hanya bisa menunggu diluar dengan di penuhai rasa kekhawatiran sambil dia meremas jari jarinya.
“Semoga saja ibu wina tidak kenapa napa! Karena hanya dia orang yang aku miliki di dunia saat ini” gumam embun dengan sedih.
Tidak lama ruangan IGD terbuka dan keluarlah sang dokter, embun langsung menghampirinya ketika dia melihat sang dokter telah keluar.
“Bagaimana kondisi bibi saya dokter?” Tanya embun dengan tidak sabaran.
Dengan menghela nafas beratnya sang dokter berkata “Kondisi ibu itu sudah membaik untuk sementara, tapi dia harus segera ditangani dengan serius, dia harus di operasi sesegera karena penyakitnya sudah sampai pada tahap yang sangat serius” sahut sang dokter langsung.
“Emangnya berapa biaya kalau dia di operasi dok?” Tanya embun dengan mata yang sudah mulai berkaca kaca.
“emmm,, sekitar 50 juta saja” jawab sang dokter. Kemudian dia meneruskan “kalau bisa segera siapkan biayanya, supaya dalam minggu ini dia sudah dioperasi, karena kalau tidak! Saya tidak menjamin dia hidup sampai 1 bulan lagi”.
“baik dok” jawab embun dengan gemetar, kakinya lemas bagaikan tidak punya tenaga sama sekali.
Embun sangat sedih dengan penyakit yang di derita oleh Bi Wina, karena dia sudah menganggap bi wina sebagai ibunya sendiri, karena hanya bi winalah yang memberikan kasih sayang seorang keluarga untuknya.
Embun mengusap matanya yang sudah sembab, kemudian dia berjalan kdalam ruang rawat bu wina, dia melihat bu wina sudah sadar dari pingsannya.
“Bagaimana keadaanmu bu?” Tanya embun sambil dia melangkahkan kakinya kearah ranjang bu wina.
“hem, nak embun! Keadaan ibu baik baik saja kok, sudah mendingan, mungkin sebentar lagi bisa pulang kerumah” sahut bu wina dengan tersenyum bahagia.
Bu wina menggenggam tangan embun dengan sangat erat, dia mengelus puncak kepala embun dengan penuh kasih sayang, yang membuat embun langsung berhambur memeluk wanita paruh baya itu dengan dipenuhi deraian air mata.
Bu wina tidak kalah saingnya dengan embun, bu wina mengeluarkan air matanya yang tidak bisa dibendung lagi, sambil dia mengelus pundak embun.
“Embun sangat sayang sama bu wina! Karena embun sudah menganggap bu wina sebagai ibu sendiri, embun tidak mau kalau ibu kenapa napa” seru embun tanpa melepas pelukannya dari bu wina.
Bu wina menganggukan kepalanya sambil dia mengusap air mata bening itu “ibu juga sangat sayang sama kamu, ibu juga sudah menganggap kamu sebagai anak ibu sendiri, jadi kamu harus kuat ya” jawab bu wina dengan memaksakan senyuman manisnya.