ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.5--Konduktor Iblis: Jemari yang Menolak Kekalahan
'Sial ini salahku karena konser jadi berantakan! Maaf kana!’
“Sial apa-apaan konser ini!”
“BERANTAKAN BANGET!”
“TURUNKAN SI BAJU MERAH ITU, MERUSAK PANDANGAN SAJA!”
Suara itu tentu berasal dari SMA sebelah, sekolah sini mana berani, lagian mereka malah menyemangati alya. Alfian sebagian garden depan Alya merasa tak terima, namun dia saat ini adalah suporter dengan rumbai-rumbai. Ia tidak bisa asal baku hantam. Yang bisa dia lakukan adalah memberi dukungan.
“TURUN SAJA SANA MAK LAMPIR.”
Oke saatnya baku hantam, alfian sudah tidak tahan lagi. Alfian yang melihat Alya mematung di tengah panggung langsung melempar rumbai-rumbainya ke lantai. Wajahnya yang tadi konyol berubah menjadi bengis ke arah penonton dari sekolah sebelah yang mulai mengejek.
"DIEM LO SEMUA! ALYA LAGI IMPROVISASI, LU PADA MANA PAHAM SENI!" teriak Alfian sekuat tenaga, suaranya menggelegar berusaha menutupi cemoohan yang mulai membanjiri aula.
Pasukan "Garda Depan Alya" yang tadi sempat terdiam kini bangkit mengikuti Alfian. Mereka berteriak serempak, "ALYA! ALYA! SEMANGAT ALYA!" Nama itu menggema, mencoba menjadi benteng bagi mental gadis berbaju merah yang tengah di ambang kehancuran itu.
Namun di atas panggung, Alya sudah tidak bisa mendengar dukungan itu. Telinganya berdengung. Bayangan ribuan mata yang menatapnya penuh kebencian dan kekecewaan membuat dadanya sesak.
‘Aku merusaknya... Aku menghancurkan panggung Kanaya... Aku menghancurkan kerja keras Rahmat...’ batin Alya putus asa. Kristal bening mulai menggenang di sudut matanya. Ia ingin lari, ingin segera turun dari panggung yang kini terasa seperti bara api bagi kakinya.
Kanaya mencoba mendekat, tangannya terulur ingin menyentuh bahu Alya, tapi jarak mereka terlalu jauh dalam koreografi. Irama piano yang terus melaju kencang seolah mengejek kegagalannya.
Rahmat menyipitkan mata. Ia melihat kilatan air mata di sudut mata Alya. Gadis itu hampir menyerah.
[ SISTEM PERINGATAN! ]
━━━━━━━━━━━━━━━
Status: Sinkronisasi Tim turun ke 15%.
Resiko: Misi Gagal, Reputasi Hancur, saldo dibekukan selama 3 bulan.
—
‘berisik kalian semua … saatnya bintang tampil!’
TINGG
Tepat saat Alya hampir menurunkan mikrofonnya tanda menyerah, sebuah dentuman nada piano yang sangat dalam dan keras menggetarkan seluruh lantai aula
Nada itu makin cepat dan menyita semua perhatian penonton.
Rahmat tiba-tiba mengubah aransemen secara impromptu. Ia melompati dua bar melodi dan masuk ke bagian solo piano yang sangat agresif untuk memberi "ruang napas" bagi Alya.
"Alya! Lihat aku!" seru Rahmat tanpa suara, hanya melalui tatapan matanya yang tajam menembus punggung gadis itu.
Jemari Rahmat bergerak gila-gilaan, menciptakan melodi penuntun yang sangat jelas. Ia memperlambat tempo di bagian kiri (bass) dan mempercepat di bagian kanan (treble), seolah-olah sedang "menarik" vokal Alya secara paksa untuk kembali ke jalurnya..
Rahmat tidak mengurangi kecepatannya, ia justru melakukan improvisasi gila. Jari-jarinya bergerak seperti bayangan hitam di atas tuts putih, menciptakan melodi penuntun yang sangat dominan. Ia sengaja menekan nada-nada yang sangat selaras dengan frekuensi suara Alya.
Ia menatap alya tanpa kata-kata, namun gadis itu paham arti tatapan itu.
Seolah tersengat listrik, Alya mendongak. Ia melihat Rahmat yang berkeringat namun tetap terlihat tenang dan berwibawa di balik pianonya. Dentuman piano itu seolah berkata: 'Jangan berhenti. Aku di sini untuk menopangmu.'
Alya merasakan getaran piano itu di dadanya. Itu bukan sekadar musik; itu adalah perintah dari Rahmat. Ia menarik napas dalam, memejamkan mata, dan mengikuti instingnya
Musik piano itu perlahan-lahan menarik kembali kekacauan suara yang terjadi. Rahmat memanipulasi tempo secara mikro—melambatkan sedikit bagian Kanaya dan mempercepat transisi untuk Alya—hingga dalam hitungan detik, ruang kosong akibat ketidaksinkronan tadi tertutup rapat oleh melodi piano yang megah.
Alya menarik napas panjang, oksigen yang tadi terasa hilang kini kembali mengisi paru-parunya. Getaran piano Rahmat yang merambat dari lantai ke kakinya memberinya kekuatan baru.
( Kanaya & Alya:)
"Kita cahaya yang takkan redup!"
"Di tengah gelap—kita yang menyala!"
"Suara kita menembus langit!"
"Ini mimpi yang jadi nyata!"
Suara Alya meledak kembali, kali ini lebih jernih dan lebih kuat dari sebelumnya. Ia masuk tepat di ketukan piano Rahmat yang paling dominan. Harmoni merah dan perak itu menyatu kembali dengan ledakan energi yang sepuluh kali lebih dahsyat.
"G-GILA!" Alfian berteriak sampai urat lehernya keluar melihat transisi gila tersebut. "Rahmat... dia beneran narik tempo lagu sendirian?! Dia bukan manusia, dia konduktor iblis!"
Para penonton dari SMA sebelah yang tadi mencemooh kini terdiam seribu bahasa. Mereka tidak menyadari bahwa kesalahan tadi justru diubah oleh Rahmat menjadi sebuah "jeda dramatis" yang membuat klimaks lagu terasa jauh lebih emosional dan epik.
Bella di kerumunan sampai menangis sesenggukan. "Maya... Kak Rahmat... dia beneran ngelindungin mereka lewat musiknya ya?"
Maya hanya mengangguk pelan, jemarinya terkepal kuat menahan haru. "Dia nggak bakal biarkan siapa pun jatuh di panggungnya. Itulah aslinya si Sultan."
Di tengah panggung, Alya tersenyum tipis ke arah Rahmat. Rasa bersalahnya menguap, digantikan oleh rasa percaya diri yang mutlak. Panggung yang tadinya neraka, kini menjadi singgasananya.
Rozak yang sudah sadar sepenuhnya langsung berdiri di atas kursi. "LIHAT ITU! DEWI KITA KEMBALI BERSINAR! KANAYA! ALYA! LANJUTKAN!"