NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Telepon Yang Menghancurkan

Ardi tahu cara membaca ruangan.

Dan ruangan ini sudah lama tidak berkata jujur.

Grafik naik. Angka-angka hijau. Tepuk tangan tipis dari para direktur yang sudah bosan bahkan sebelum duduk. Tiga tahun menjadi CEO termuda di Hartono Group, dan Ardi sudah hafal ritme pertemuan ini seperti hafal napasnya sendiri—tunjukkan keuntungan, tutup yang lain, pulang. Tidak ada yang perlu didengar selain uang.

"Dengan efisiensi biaya operasional sebesar tujuh belas persen—" Ardi menekan tombol. Grafik berikutnya muncul. "—kita diproyeksikan mencapai—"

Ponselnya bergetar.

Bukan sekali. Panjang. Menggigit ritme bicaranya dari dalam saku jas.

Ardi mengabaikan. Tapi getaran itu tidak berhenti. Tidak sopan, keras, mendesak.

Berhenti.

Satu detik.

Bergetar lagi.

Dua panggilan dalam sepuluh detik. Sesuatu yang tidak pernah terjadi di jam kerja.

"Sebentar." Ardi mengangkat tangan. Anggukan kecil ke arah para direktur. Profesional. Terkendali.

Dia mengeluarkan ponsel.

Ayah.

Satu kata. Tiga huruf. Ardi sempat berpikir—mungkin salah sambung. Mungkin laporan bulanan. Mungkin—

Dia menyentuh ikon hijau.

"Ya, Pak?"

Suara di seberang bukan suara yang biasa dia dengar di rapat. Bukan instruksi. Bukan nada tanya tentang angka. Suara Bram Hartono terdengar berbeda—ragu, seolah sedang membaca kalimat yang bahkan dia sendiri tidak yakin cara mengucapkannya.

"Ardi, saya baru saja menikah. Namanya Maya. Saya harap kamu bisa menerimanya."

Layar presentasi masih menyala di belakangnya. Angka-angka hijau itu masih berdiri tegak, tak peduli.

Ardi tidak menjawab.

Telepon sudah mati. Ayahnya menutupnya—tanpa menunggu respons, tanpa *bagaimana kabarmu*, tanpa *maaf aku tidak memberitahu sebelumnya*. Hanya pernyataan. Sebuah fakta yang sudah terjadi, sudah selesai, sudah diputuskan—tanpa sepengetahuannya.

Seolah Ardi hanyalah salah satu pihak yang perlu diberitahu. Bukan orang pertama. Bukan orang penting.

"Pak Ardi?"

Suara sekretarisnya memotong dari ujung meja.

Ardi mengangkat wajah. Mata para direktur menatapnya—penasaran, bosan, satu atau dua terlihat sedikit khawatir. Tidak ada yang bertanya. Mereka terlalu terlatih untuk tidak peduli.

"Lanjut."

Dia menekan tombol. Grafik berikutnya muncul. Suaranya kembali datar. Tangannya tidak gemetar. Punggungnya tetap tegak.

Tapi di dalam kepalanya, satu kalimat berputar.

Namanya Maya.

 

Empat jam kemudian, Ardi masih di kursi yang sama.

Bukan kursi ruang rapat—kursi ruang kerjanya sendiri, di lantai dua puluh tujuh, menghadap kaca yang menawarkan langit senja Jakarta berwarna jingga terbakar. Matanya terbuka, tapi tidak melihat apa-apa. Pikirannya jauh—di sebuah rumah besar di Menteng, tempat dia dibesarkan, tempat ibunya meninggal, tempat ayahnya kini membawa wanita asing.

Pintu terbuka tanpa ketukan.

Sari masuk membawa dua gelas kopi, senyumnya cerah seperti matahari yang tidak tahu cuaca sedang buruk. Rambut diikat tinggi. Sweater krem. Sepatu kets putih yang selalu bersih, selalu cerah, selalu Sari.

Dia meletakkan satu gelas di meja Ardi, lalu duduk di sofa—menyilangkan kaki, natural, seperti ruangan ini miliknya juga.

"Aku dengar presentasimu lancar." Sari menyeruput kopinya. "Ibu senang. Katanya proyek itu bisa naikin harga saham."

Ardi tidak menjawab.

Sari menatapnya lebih lama. Senyumnya perlahan redup. "Di? Kamu dengar?"

"Iya. Lancar."

"Lalu kenapa mukamu kayak habis dipecat?"

Ardi hampir tertawa. *Dipecat.* Seandainya sesederhana itu. Seandainya yang hilang hanya jabatan—bukan sesuatu yang bahkan dia tidak tahu namanya sendiri.

"Ayahku menikah lagi."

Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa filter, tanpa persiapan. Ardi tidak tahu kenapa dia mengatakannya keras-keras—mungkin karena dia lelah menyimpan. Atau mungkin karena Sari adalah satu-satunya orang di gedung ini yang tidak akan menghakiminya dengan grafik.

Sari berhenti menyeruput. Gelas kopi menggantung di udara.

"Apa?"

"Barusan. Di tengah rapat." Ardi meraih gelasnya sendiri. Hanya memutarnya, tidak meminum. "Bilang, 'Saya baru saja menikah. Namanya Maya. Saya harap kamu bisa menerimanya.'"

Sari meletakkan kopinya. Berdiri. Berjalan mendekat, lalu duduk di tepi meja Ardi—sebuah tindakan yang biasanya membuat Ardi kesal karena tidak profesional. Tapi malam ini dia tidak peduli.

"Kamu nggak tahu sebelumnya?"

"Tidak."

"Siapa dia?"

"Tidak tahu."

Sari diam. Tangannya meraih tangan Ardi, menggenggamnya. Hangat. Ardi membiarkan.

"Ardi..." Sari berbicara perlahan, seperti menginjak lantai yang rapuh. "Mungkin ada alasannya. Ayahmu sudah lama sendiri. Mungkin dia butuh—"

Ardi menarik tangannya.

"Bukan itu masalahnya." Suaranya keluar lebih tajam dari yang dia rencanakan. Dia melihat Sari sedikit terkejut, dan dia menyesal—tapi kalimat itu sudah terlanjur terbang. "Maaf. Aku hanya... aku tidak tahu harus berpikir apa."

Sari tidak marah. Dia hanya mengangguk, kembali ke sofa dengan jarak yang lebih aman.

"Kamu mau pulang? Aku anter."

"Tidak usah. Masih ada kerjaan."

"Ardi."

"Aku serius, Sari." Ardi sudah membuka laptop, meskipun layarnya masih gelap. "Kamu pulang saja."

Sari berdiri. Mengambil tasnya. Berhenti sebentar di depan pintu, seperti ragu apakah harus pergi atau tetap tinggal.

"Kamu tahu kan kalau aku ada untuk kamu?"

"Iya."

"Aku sayang kamu."

Ardi mendongak.

Wajah Sari tulus—matanya sedikit basah meski dia tersenyum. Dan untuk sesaat, Ardi ingin menariknya kembali. Ingin memeluknya, membiarkan dirinya jatuh, membiarkan dirinya lemah di hadapan perempuan yang selama tiga tahun tidak pernah pergi.

Tapi dia hanya mengangguk.

"Iya. Aku juga."

Sari pergi. Pintu tertutup—bunyi klik yang lembut, tapi terasa seperti penutup sesuatu yang Ardi belum tahu namanya.

Pukul setengah sembilan. Laptop masih menyala. Satu laporan pun belum selesai.

Matanya bergerak di antara baris angka yang sama. Membaca paragraf yang sama. Tidak mengerti isinya.

Maya.

Dia tidak tahu kenapa nama itu begitu mengganggu—seperti duri kecil di bawah kulit, tidak cukup besar untuk teriak kesakitan, tapi cukup untuk terus terasa. Dia tidak punya gambaran apa-apa. Wajahnya seperti apa. Usianya berapa. Apakah dia tahu Ardi ada. Apakah dia peduli.

Atau mungkin bukan nama itu yang mengganggu. Mungkin yang mengganggu adalah cara ayahnya menyampaikannya—lewat telepon, di tengah rapat, seperti memo yang bisa dikirim kapan saja. Seperti pernikahan adalah urusan administrasi. Seperti Ardi adalah orang terakhir di daftar yang perlu tahu.

Ardi membuka laci meja. Mengeluarkan buku catatan bercover hitam.

Pena menyentuh kertas.

Dia menikah lagi. Tidak ada yang bilang. Tidak ada yang tanya. Seperti biasa, aku tahu paling akhir. Mungkin karena aku memang tidak penting. Mungkin karena baginya, memiliki anak hanya kewajiban, bukan keinginan. Aku ingat umur tujuh tahun, menunggu di teras dengan kue ulang tahun. Aku ingat umur dua belas tahun, presentasi IPA yang kubanggakan. Aku ingat umur delapan belas tahun, wisuda. Dia tidak datang. Tidak pernah datang. Dan sekarang dia membawa wanita lain ke rumah itu. Rumah yang dulu milik Mama. Apakah dia lupa? Apakah dia sengaja lupa? Atau mungkin dia hanya tidak pernah peduli sejak awal.

Pena berhenti.

Ardi membaca ulang tulisannya. Lalu menutup buku dengan kasar—seperti ingin memenjarakan kata-kata itu sebelum sempat menjadi kenyataan.

Ini bukan dia. Ini versi lemah yang tidak dia kenali.

Dia memasukkan jurnal ke dalam tas, mengambil kunci mobil, keluar ruangan. Tidak ada yang menghalangi. Sekretaris sudah pulang. Koridor lantai eksekutif kosong—hanya lampu redup yang menyala otomatis, seperti saksi bisu yang tidak punya mulut.

Di lift, dia membuka ponsel.

Satu pesan dari Sari: "Aku sudah sampai. Jangan lupa makan. I love you."

Dia membalas dengan emoticon hati. Lalu membuka kontak ayahnya. Jempolnya menggantung di atas nama itu, tidak bergerak.

Telepon? Tanya apa? Marah? Diam?

Ardi mematikan layar.

Belum malam ini.

 

Kemacetan Jakarta sudah menipis. Lampu-lampu kota berpendar di kaca spion—seperti bintang-bintang yang jatuh terlalu cepat untuk dihitung, terlalu banyak untuk dipedulikan.

Ardi bisa saja pulang ke apartemennya di Kuningan. Sunyi, dingin, aman dari ingatan. Tapi kakinya menginjak pedal gas lebih dalam, dan mobil berbelok ke arah yang tidak dia rencanakan.

Menteng.

Dia tidak tahu kenapa dia ke sini. Mungkin hanya ingin melihat. Memastikan bahwa lampu rumah itu menyala—bahwa ada tanda-tanda kehidupan, kebahagiaan, sesuatu yang dia tidak diundang untuk bagian darinya.

Rumah Hartono di Jalan Diponegoro terlihat seperti biasanya: pagar besi hitam tinggi, taman rapi, lampu taman menyala redup. Tapi ada yang berbeda. Di teras—dua koper kecil berwarna krem. Dan di sampingnya, seorang wanita berdiri membelakangi jalan, berbicara dengan seseorang di pintu.

Ardi memarkir di seberang jalan. Mematikan mesin.

Wanita itu berbalik.

Jaraknya jauh, tapi cukup untuk melihat: rambut sebahu, jaket jeans biru, celana putih. Wajahnya tidak jelas—tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri. Tegap, tapi rapuh. Seperti seseorang yang sudah lama terbiasa berdiri sendiri dan memutuskan tidak akan meminta bantuan siapapun.

Dia menunduk. Mengambil kopernya. Masuk ke dalam rumah.

Pintu tertutup.

Ardi masih di mobil. Tangan di setir. Napas yang tidak dia sadari ditahan, perlahan keluar.

Maya.

Jadi ini dia. Wanita yang dinikahi ayahnya. Wanita yang akan tinggal di rumah yang sama tempat Ardi kecil menunggu-nunggu suara langkah di koridor. Wanita yang mungkin akan menempati posisi yang bahkan Ardi sendiri tidak tahu apakah pernah benar-benar ada.

Dia membuka jurnal. Halaman baru.

Bukan pencari harta. Kalau pencari harta, tidak akan datang dengan koper kecil dan jaket jeans. Tapi aku tetap waspada. Aku tidak akan membiarkan dia merusak apapun yang tersisa.

Ardi membaca tulisannya dua kali. Lalu dia tersenyum—bukan senyum bahagia. Senyum pahit yang sudah lama dia kenali sebagai pelindung dirinya sendiri.

Mobil melaju meninggalkan Jalan Diponegoro. Meninggalkan rumah besar dengan dua koper krem di teras. Meninggalkan wanita asing bernama Maya.

Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang tidak ikut pergi. Sesuatu kecil yang mengganggu—bukan kebencian, bukan kemarahan. Hanya rasa ingin tahu yang tidak dia minta.

Mengapa, di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagianya, wanita itu berdiri seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu?

Ardi mengusap wajahnya. Mencoba menghapus pertanyaan itu.

Tapi pertanyaan itu sudah terlanjur punya rumah di kepalanya.

Dan belum mau pergi.

 

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!