NovelToon NovelToon
Poena

Poena

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#29

Ruang rawat VIP di Rumah Sakit St. Mary’s siang itu terasa lebih hidup dari biasanya. Cahaya matahari musim semi London menembus jendela besar, menerangi sudut-sudut ruangan yang selama lima tahun hanya dihuni oleh kesunyian dan deru mesin monitor yang monoton.

Nikolas Martinez bersandar pada tumpukan bantal. Wajahnya masih pucat, dan sebuah masker oksigen sesekali ia tempelkan ke hidung saat napasnya terasa pendek dan sesak. Paru-parunya, yang dulu terbiasa menghirup angin kencang di atas motor balap, kini harus belajar kembali cara mengembang dengan sempurna.

"Pelan-pelan, Nik. Napas mu masih berat," tegur Raquel, sang Mommy, sambil mengusap kening putranya yang berkeringat dingin.

Nik hanya mengangguk lemah. Matanya beralih ke pintu saat mendengar suara gaduh yang sangat ia kenal. Pintu terbuka, dan masuklah Dion, Clark, dan Leonard. Mereka tampak jauh lebih dewasa sekarang—tubuh mereka lebih tegap, cara berpakaian mereka lebih rapi, meski aura "berandal" itu masih tersisa di mata mereka.

"Lihat siapa yang sudah bangun! Si Raja Tidur dari Mayfair!" seru Dion dengan tawa khasnya. Ia membawa sebungkus besar makanan dari luar, namun Raquel segera memberikan tatapan maut.

"Jangan berikan dia makanan aneh-aneh, Dion. Dia masih dalam diet ketat rumah sakit," tegas Raquel.

"Siap, Tante!" Dion segera menyembunyikan bungkusan itu di belakang punggungnya.

Nikolas tersenyum tipis, meski dadanya terasa sedikit nyeri saat tertawa. "Kalian... tampak tua," bisiknya parau di balik masker oksigen.

"Sialan kau, Nik. Kami ini sedang berada di puncak ketampanan," sahut Clark sambil memperbaiki letak kacamatanya. Ia biasanya tidak pernah lepas dari tablet canggihnya, namun hari ini tangannya kosong melongpong.

"Kapan aku bisa keluar dari sini?" tanya Nik, matanya menatap kakinya yang terbalut selimut. "Aku merasa kakiku seperti bukan milikku lagi."

"Minggu depan, Nik. Dokter bilang kau akan mulai latihan berjalan," ujar Raquel lembut. "Koma lima tahun membuat otot-ototmu sedikit lupa cara bekerja. Tapi kau Martinez, kau pasti bisa melakukannya lebih cepat dari pasien lain."

Nikolas menghela napas panjang. Pikirannya melayang jauh melampaui tembok rumah sakit ini. Sejak tersadar, satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah melihat wajah Salene. Ia ingin tahu bagaimana rupa gadis porselennya setelah lima tahun berlalu. Apakah rambutnya masih sewangi mawar? Apakah tatapan angkuhnya masih sedingin es?

"Clark... pinjamkan aku tabletmu," pinta Nik tiba-tiba. "Aku ingin melihat berita... atau sosial media. Aku ingin melihat apa yang terjadi di London selama aku tidur."

Clark terdiam sejenak, melirik Raquel yang berdiri di belakang Nik. Raquel menggelengkan kepala dengan tegas, memberikan kode "jangan" yang sangat jelas.

"Ah... itu, Nik. Aku lupa membawanya. Tertinggal di mobil," bohong Clark dengan nada yang sangat tidak meyakinkan. Clark, si jenius teknologi yang tidak pernah lepas dari perangkatnya, mendadak "lupa"? Nik bukan orang bodoh.

"Lalu kau, Dion? Berikan aku ponselmu. Aku ingin menelpon seseorang," tuntut Nik lagi, suaranya mulai terdengar kesal.

Dion meraba saku celananya dengan gerakan kaku. "Aduh, Bos... kau tidak akan percaya. Ponselku baru saja jatuh di parkiran tadi, layarnya hancur total. Mati total!"

Nikolas menyipitkan mata. Ia beralih menatap ibunya. "Mom... kenapa semua orang mendadak menjadi pelupa dan ceroboh hari ini? Kau sengaja melarang mereka memberiku ponsel, kan?"

Raquel mendekat, memegang tangan Nik yang kurus. "Nik, dokter bilang kau tidak boleh terkena stimulasi berlebihan dulu. Radiasi ponsel, berita-berita yang membuat stres... itu tidak baik untuk pemulihan sarafmu. Sabarlah, hanya satu minggu lagi. Fokuslah pada kakimu dulu."

Nikolas mendengus kesal, menyandarkan kepalanya kembali ke bantal. "Satu minggu terasa seperti selamanya saat aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana."

Ia menatap langit-langit, membayangkan Salene yang katanya sedang berada di New York. Dalam pikirannya, Salene mungkin sedang duduk di sebuah kafe di Manhattan, memegang buku catatan, dan mungkin—hanya mungkin—sesekali menatap ke arah timur, ke arah London, memikirkannya.

"Bagaimana rupamu sekarang, Sal?" bisik Nik dalam hati. "Apa kau masih memakai jaket kulitku? Atau kau sudah menemukan desainer New York yang lebih baik?"

Dion dan Clark saling lirik di ujung ranjang. Ada rasa bersalah yang besar di dada mereka. Mereka tahu di dalam saku mereka, ponsel-ponsel itu penuh dengan berita terbaru tentang Salene Lumiere—atau sekarang dikenal sebagai Salene Johnson. Foto-foto Salene yang sedang menggendong bayi di sebuah acara amal di California, atau foto romantisnya bersama Taylor Johnson di depan properti mewah mereka.

Jika Nik melihat itu sekarang, pemulihannya bukan hanya akan terhenti, tapi mungkin akan hancur berkeping-keping.

"Kapan dia akan pulang, Mom?" tanya Nik lagi, suaranya terdengar sangat rapuh. "Apa Lauren tidak bisa menyuruhnya pulang sebentar saja? Katakan padanya aku sudah bangun. Aku butuh melihatnya agar aku punya alasan untuk belajar berjalan minggu depan."

Raquel merasakan tenggorokannya tercekat. Ia mengusap rambut Nik dengan penuh kasih sayang, meski hatinya perih luar biasa. "Dia akan pulang saat waktunya tepat, Sayang. Sekarang, fokuslah untuk menjadi kuat. Kau ingin dia melihatmu berdiri tegak saat dia kembali, kan?"

Nikolas menutup matanya, mencoba membayangkan momen pertemuan itu. Ia tidak tahu bahwa jendela menuju dunia luar ditutup rapat-rapat bukan untuk melindunginya dari radiasi, melainkan untuk melindunginya dari kenyataan bahwa gadis yang menjadi alasannya untuk bangun, telah menjadi milik orang lain dan membangun hidup yang tak lagi menyisakan ruang untuknya.

"Cepatlah pulang, Sal..." gumam Nikolas sebelum akhirnya jatuh kembali ke dalam tidur yang dipicu oleh kelelahan fisiknya. "Aku merindukanmu lebih dari lima tahun yang hilang ini."

Dion menarik napas panjang saat melihat Nik tertidur. "Tante... ini semakin sulit. Dia akan terus bertanya."

"Aku tahu, Dion," bisik Raquel sambil menatap putranya dengan getir. "Tapi biarkan dia memiliki harapan itu sedikit lebih lama. Harapan adalah satu-satunya obat yang membuatnya tetap bernapas sekarang."

🌷🌷🌷

1
winpar
thorrrrr update lgi plissssss
Ros🍂: Ashiappp kak🙏🥰
total 1 replies
ren_iren
sukaknya bikin huru hara dirimu kak.... 🤭😁😂
Ros🍂: Auuuw🥰🤣
total 1 replies
winpar
terus kk 💪💪💪💪
Ros🍂: Ma'aciww kak🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!