NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 25

Keheningan perpustakaan itu terasa semakin menekan, hanya interupsi suara detak jam dinding kuno yang menemani Ilwa di sudut ruangan yang remang-remang.

Ilwa menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu jati yang keras, matanya tetap terpaku pada halaman buku yang terbuka.

Pikirannya melayang jauh ke masa lalunya sebagai Albus—sosok yang pernah mengguncang dunia dengan kekuatannya sendiri.

"Senjata berjiwa..." gumamnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Ia teringat satu memori pahit di masa jayanya. Kala itu, ia harus berhadapan dengan seorang pendekar pedang dari wilayah Timur yang menggenggam sebuah katana merah tua berjiwa haus darah.

Ilwa yang saat itu berada di puncak kekuatannya pun merasa sangat terdesak. Setiap tebasan musuhnya bukan sekadar serangan fisik, melainkan serangan yang mengincar esensi jiwanya.

Melawan satu orang dengan senjata berjiwa terasa seperti melawan dua master ksatria dalam satu tubuh yang terkoordinasi secara sempurna.

Baginya, membasmi ribuan prajurit biasa jauh lebih mudah daripada harus berurusan dengan satu pengguna senjata jiwa yang mahir.

Ia kembali menunduk, jarinya meraba barisan kalimat di buku **"Anima In Ferro"** tersebut.

---

Di halaman selanjutnya, buku itu menjelaskan dengan detail yang mengerikan tentang hubungan antara senjata dan tuannya.

"Senjata berjiwa bukanlah benda mati yang statis. Ia adalah organisme metafisik yang tumbuh berdampingan dengan sang pemilik. Seiring dengan meningkatnya level kultivasi dan kekuatan mana sang tuan, jiwa di dalam bilah tersebut akan ikut berevolusi, memperluas jangkauan serangannya, dan menajamkan insting tempurnya."

Ilwa membaca bagian itu dengan dahi yang berkerut dalam.

Di sana dijelaskan bahwa senjata ini memiliki dua tuntutan besar yang sangat berbahaya bagi orang biasa:

Pasokan Mana Tanpa Batas: Senjata berjiwa bertindak seperti lubang hitam bagi energi mana.

Setiap kali kemampuannya diaktifkan, ia akan menyedot mana dari inti tuannya dengan kecepatan yang mengerikan. Jika mana sang tuan habis, senjata itu akan mulai memakan daya hidup (vitalitas) penggunanya.

Ketahanan Fisik yang Absolut: Bukan hanya mana, fisik sang penggunanya harus sekuat baja. Mengapa? Karena saat jiwa di dalam senjata itu melepaskan kekuatannya, terjadi "beban balik" atau *recoil* spiritual yang menghantam tubuh fisik.

Jika tulang dan otot penggunanya lemah, raga mereka akan hancur berantakan karena tidak mampu menanggung bobot energi dari dimensi lain tersebut.

"Inilah alasan kenapa aku harus melakukan mandi purifikasi sumsum kemarin," bisik Ilwa, menyadari bahwa takdir seolah telah menuntunnya.

"Tanpa fisik yang diperkuat, ular hitam itu akan meremukkan tulang-tulangku dalam sekejap saat aku mencoba memanggil kekuatannya."

---

Bagian yang paling membuat Ilwa takjub adalah tentang kemampuan **Manifestasi Tempur**.

Di jelaskan bahwa pada tingkat sinkronisasi yang tinggi, jiwa di dalam senjata itu dapat bermanifestasi keluar dari bilahnya—dalam bentuk energi atau sosok bayangan—dan

bertarung bersama tuannya secara simultan. Ini bukan lagi soal bertarung dengan senjata, tapi bertarung dengan rekan yang berbagi pikiran dan nyawa.

Dan yang paling krusial: **Eksklusivitas Kepemilikan.** Senjata berjiwa tidak akan pernah bisa digunakan oleh orang lain.

Jika seseorang mencoba mencurinya, senjata itu akan menjadi seberat gunung atau bahkan mengeluarkan api hitam yang akan membakar tangan si pencuri hingga menjadi abu.

Ia hanya patuh pada satu frekuensi jiwa yang ia akui sebagai tuan.

"Senjata ini bisa berevolusi..." Ilwa membalik halaman terakhir, matanya berkilat penuh ambisi.

"Dagger hitam yang terlihat seperti sampah itu... jika benar dia adalah senjata jiwa, maka retakan-retakan di bilahnya bukanlah tanda kerusakan, melainkan cangkang yang menunggu untuk pecah saat dia berevolusi nanti."

Ilwa menutup buku tebal itu dengan suara *bum* yang berat, memicu sedikit debu beterbangan di udara.

Ia memejamkan matanya sejenak, membayangkan belati hitam yang kini tersimpan di kamarnya.

"Jadi, ular hitam semalam bukan hanya sekadar mimpi buruk," ucapnya dengan nada dingin namun penuh kepastian.

---

Ilwa berdiri dari kursinya, merapikan letak buku tersebut kembali ke rak rahasianya. Langkah kakinya terdengar mantap saat ia berjalan keluar dari perpustakaan.

Martha yang sedang mengelap vas bunga di koridor melihat wajah Ilwa yang tampak berbeda—lebih fokus, lebih tajam, seolah ada api yang baru saja dinyalakan di dalam matanya yang abu-abu.

"Tuan Muda, Anda sudah selesai?" tanya Martha lembut.

"Ya, Martha. Aku sudah mendapatkan apa yang kucari," jawab Ilwa tanpa menghentikan langkahnya.

Lina, yang sedang berpura-pura membersihkan debu di dekat tangga, melirik Ilwa dengan penuh selidik.

Ia merasa ada aura yang berbeda yang memancar dari anak itu. "Apa yang dia baca di dalam sana?"

Ilwa menuju kamarnya dengan satu tujuan yang jelas.

Ia tidak akan lagi memandang belati hitam itu sebagai alat bantu latihan biasa.

Ia akan memperlakukannya sebagai entitas yang harus ia taklukkan sepenuhnya.

"Kau ingin manaku? Kau ingin fisik yang kuat? Akan kuberikan," gumam Ilwa saat tangannya menyentuh gagang pintu kamarnya.

"Tapi sebagai gantinya, kau akan menjadi taringku yang paling mematikan. Kita lihat siapa yang akan lebih dulu mencapai puncak."

-------

Lantai kayu kamar Ilwa berderit pelan saat ia melangkah menuju tempat tidur.

Di atas seprai linen putih yang rapi, bilah hitam itu tergeletak diam, tampak begitu kontras dan mengancam.

Ilwa menarik napas dalam-dalam, memastikan pintu telah terkunci rapat dan tirai jendela tertutup sempurna.

Ia tahu, apa yang akan ia lakukan saat ini adalah perjudian nyawa.

Ia duduk bersila, meraih gagang belati tersebut. Logamnya terasa sedingin es, seolah-olah benda itu menyedot panas dari telapak tangannya.

Ilwa mengingat dengan saksama baris kalimat dari buku kuno di perpustakaan tadi: *"Jiwa di dalam bilah adalah entitas yang angkuh; ia tidak akan bicara pada mereka yang tidak memiliki persembahan. Berikan manamu, dan ia akan membukakan gerbang dunianya."*

"Mari kita lihat seberapa besar nafsu makanmu," bisik Ilwa dengan tatapan dingin yang tajam.

Ia mulai memejamkan mata, memusatkan fokus pada inti mananya yang masih rapuh akibat *Aura-Lock*.

Dengan hati-hati namun pasti, Ilwa memompa mananya keluar, menyalurkannya langsung ke dalam gagang belati melalui pori-pori kulitnya. Jantungnya seketika berdenyut kencang, memberikan rasa sakit tumpul yang familiar, namun Ilwa mengabaikannya.

Ia terus menuangkan energinya, lebih banyak dan lebih dalam.

---

Seketika, cahaya matahari yang mengintip dari celah tirai meredup.

Suara angin di luar paviliun menghilang, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan.

Kegelapan mulai merayap dari sudut-sudut mata Ilwa, perlahan-lahan menelan perabotan kamar, tempat tidur, hingga akhirnya seluruh ruangan itu lenyap.

Ilwa kini berdiri di tengah hamparan kegelapan yang tak berujung.

Lantainya terasa seperti air yang kental dan dingin.

Di hadapannya, kegelapan itu memadat, berputar-putar membentuk sebuah spiral yang mengerikan hingga akhirnya mewujud menjadi sosok yang ia lihat dalam mimpinya: **Ular Hitam Raksasa.**

Sisik ular itu berkilauan seperti batu obsidian yang basah, dan matanya yang berwarna kuning vertikal menatap Ilwa dengan tekanan yang luar biasa berat.

Aura kematian yang terpancar dari makhluk itu membuat bulu kuduk Ilwa berdiri. Udara di dimensi ini terasa begitu berat, seolah-olah paru-paru Ilwa dipaksa menghirup timah cair.

Ilwa mengepalkan tangannya, mencoba menjaga ketenangannya meskipun keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

Ini adalah pertemuan pertamanya dengan kesadaran sebuah senjata jiwa secara sadar.

"Aku tahu kau bisa mendengarku," ucap Ilwa, suaranya bergema di ruang hampa tersebut.

"Kau telah memilih untuk bangun saat darahku menyentuh bilahmu. Sekarang, apakah kau bersedia tunduk padaku? Apakah kau mau membuat kontrak denganku dan menjadi taring yang membantuku menghancurkan musuh-musuhku?"

Ular hitam itu tidak menjawab.

Ia hanya terus menatap Ilwa, kepalanya yang besar bergerak maju perlahan hingga hanya berjarak beberapa inci dari wajah Ilwa.

Lidah bercabangnya keluar masuk, mengeluarkan suara desisan yang terasa seperti ribuan jarum yang menusuk otak Ilwa.

Tatapannya bukan hanya sekadar melihat, melainkan sedang membedah setiap sudut jiwa Ilwa, mencari kelemahan di balik topeng ketenangannya.

Namun, sebelum Ilwa mendapatkan jawaban, sosok ular itu tiba-tiba memudar.

Dunia hitam itu retak seperti kaca yang pecah, dan dalam sekejap mata, Ilwa kembali berada di kamarnya yang terang.

--

"Ugh!"

Ilwa tersedak hebat. Darah segar yang kental mendadak menyembur dari mulutnya, mengotori telapak tangan dan seprai tempat tidurnya.

Tubuhnya lemas seketika, seolah-olah seluruh tulang di raga mungilnya telah dicabut paksa. Ia tersungkur dari posisi duduknya, terengah-engah dengan wajah yang pucat pasi, lebih pucat dari biasanya.

Jantungnya berdebar tidak beraturan, memberikan rasa perih yang luar biasa. Dengan tangan gemetar,

Ilwa mencoba memeriksa inti mananya. Matanya membelalak dalam keterkejutan yang nyata.

*Kosong.*

Inti mananya benar-benar kering kerontang. Tidak ada setetes pun energi yang tersisa.

"Bagaimana mungkin..." gumam Ilwa dengan suara serak, menyeka darah di dagunya.

"Aku hanya berada di sana selama beberapa detik... tapi dia menghisap seluruh cadangan manaku hingga ke tetes terakhir?"

Ia menatap belati hitam yang kini kembali terlihat seperti benda mati di atas kasur. Rasa ngeri yang dingin merayap di hatinya.

Ilwa tidak menyangka bahwa biaya untuk sekadar berkomunikasi dengan senjata jiwa pada tingkat kekuatannya saat ini adalah seluruh kapasitas mananya.

Senjata itu adalah jurang tanpa dasar yang haus akan energi.

Bersambung....

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!