NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Fondasi yang Mengakar

Pagi di "Ruang Temu" kini memiliki irama yang lebih sibuk namun teratur. Suara denting sendok yang beradu dengan cangkir porselen dan desis susu yang diuapkan oleh mesin kopi menjadi musik latar yang menenangkan bagi Hana. Ia berdiri di pojok ruangan, memperhatikan deretan foto di dinding "Galeri Harapan"—sebuah sudut kecil yang ia dedikasikan untuk karya-karya tangan para wanita yang mengikuti kelas kreatif di lantai dua.

Ada kain sulam dengan motif bunga yang rumit, ada lukisan cat air yang masih tampak amatir namun penuh emosi, dan ada beberapa lembar puisi yang dibingkai rapi. Bagi orang lain, ini mungkin hanya hiasan. Bagi Hana, ini adalah monumen kemenangan atas rasa tidak berdaya.

"Mbak Hana, stok biji kopi Arabika kita menipis lebih cepat dari dugaan. Pelanggan sore kemarin benar-benar ramai," lapor Sari, salah satu staf pertama Hana yang kini sudah mahir mengoperasikan bar.

Hana mengangguk sambil mencatat di buku agendanya. "Jangan khawatir, Sari. Aku sudah menghubungi Pak Danu dari perkebunan di Jawa Barat. Dia akan mengirimkan pasokan baru siang ini. Oh ya, pastikan toples kue kering di depan selalu penuh, ya. Banyak ibu-ibu yang datang membawa anak-anak mereka pagi ini."

Sari tersenyum ceria. "Siap, Mbak! Senang rasanya melihat tempat ini selalu hidup."

Setelah Sari kembali ke balik bar, Hana melangkah menuju lantai dua. Ia ingin memastikan persiapan untuk kelas "Literasi Keuangan bagi Wanita" yang akan diadakan siang nanti. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat seorang pria berdiri di dekat rak buku, sedang mengamati salah satu bingkai foto dengan saksama.

Itu Raka. Ia mengenakan kemeja abu-abu yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang kuat—tangan yang telah membangun hampir seluruh furnitur di tempat ini.

"Kamu datang lebih awal, Ka," sapa Hana lembut.

Raka menoleh, matanya berbinar saat melihat Hana. "Aku baru saja mengantar pesanan meja ke ruko sebelah, jadi aku pikir mampir sebentar tidak ada salahnya. Aku juga membawakanmu sesuatu."

Raka merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah gantungan kunci kayu kecil berbentuk bunga melati—bunga kesukaan Hana. "Ini sisa kayu jati dari meja besar kemarin. Aku mengukirnya semalam sambil memikirkanmu."

Hana menerima pemberian itu dengan perasaan hangat yang membuncah. "Bagus sekali, Ka. Terima kasih. Kamu selalu punya cara untuk membuat hal sederhana terasa sangat berharga."

Raka mendekat, suaranya merendah. "Karena kamu berharga, Na. Aku baru sadar, selama beberapa bulan ini, kamu bukan hanya membangun kafe. Kamu membangun komunitas. Aku bangga melihatmu seperti ini."

"Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukunganmu, Ka," jawab Hana tulus. "Kamu yang meyakinkanku bahwa aku punya hak untuk sukses dengan cara-cara yang jujur."

Namun, kesuksesan selalu membawa bayang-bayang baru. Saat Hana sedang membantu Sari melayani pelanggan di jam makan siang, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti di depan ruko. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal keluar, diikuti oleh seorang asisten yang membawa koper kecil.

Pria itu masuk ke dalam kafe, matanya menyapu ruangan dengan tatapan menilai yang dingin—tipe tatapan yang dulu sangat akrab bagi Hana di kalangan kolega Aris.

"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Hana dengan suara profesional.

"Anda pemilik tempat ini? Ibu Hana?" tanya pria itu tanpa basa-basi. "Saya Pak Surya, dari manajemen investasi Global Prime. Kami telah mengamati perkembangan 'Ruang Temu' di media sosial dan laporan tren bisnis lokal."

Hana mempersilakan pria itu duduk di meja pojok yang lebih tenang. "Ada urusan apa pihak investasi sebesar Global Prime mendatangi kafe kecil seperti ini, Pak?"

Pak Surya meletakkan sebuah dokumen di atas meja. "Kami tertarik untuk mengakuisisi merek 'Ruang Temu'. Kami melihat potensi besar untuk menjadikannya waralaba nasional. Kami menawarkan dana segar yang sangat besar, renovasi total dengan standar internasional, dan posisi bagi Anda sebagai konsultan kreatif dengan gaji yang... saya jamin, jauh lebih besar dari keuntungan kafe ini dalam setahun."

Hana membaca dokumen itu sekilas. Angka yang tertera memang fantastis—cukup untuk membuatnya menjadi wanita kaya raya dalam semalam tanpa perlu lelah menyeduh kopi setiap pagi. Namun, ada satu poin yang membuatnya mengernyit.

"Di sini tertulis bahwa seluruh kendali konsep dan kurasi kegiatan komunitas akan diambil alih oleh dewan direksi?" tanya Hana.

"Tentu saja," jawab Pak Surya dengan nada meremehkan. "Bisnis harus dijalankan secara efisien. Kelas-kelas gratis untuk wanita yang Anda adakan itu tidak menghasilkan laba. Kami akan mengubah lantai dua menjadi area VIP atau ruang rapat eksklusif yang bisa disewakan."

Hana menutup dokumen itu perlahan. Ia teringat wajah wanita-wanita yang menangis lega di lantai dua kemarin. Ia teringat semangat Sari yang akhirnya bisa membiayai kuliah adiknya dari bekerja di sini. Ia teringat setiap serat kayu yang dipahat Raka dengan cinta, bukan dengan hitungan laba-rugi yang dingin.

"Terima kasih atas tawaran Anda, Pak Surya," ucap Hana dengan nada bicara yang sangat tenang namun tak tergoyahkan. "Tapi 'Ruang Temu' bukan sekadar merek yang bisa dijual. Tempat ini adalah jiwa saya. Tujuan utama saya bukan untuk menjadi nasional dalam waktu singkat, melainkan untuk memberikan ruang bagi mereka yang tidak punya tempat. Jika Anda ingin menghilangkan kelas-kelas wanita itu, maka Anda ingin menghilangkan jantung dari tempat ini. Saya menolak tawaran Anda."

Pak Surya tampak terkejut. "Ibu Hana, Anda harus realistis. Sentimentalitas tidak akan bertahan lama di dunia bisnis. Anda akan menyesal menolak peluang emas ini."

"Mungkin bagi Anda ini peluang emas, tapi bagi saya, ini adalah tawaran untuk menjual kembali kebebasan saya ke dalam penjara yang baru, meskipun penjara itu dilapisi emas," balas Hana. "Silakan nikmati kopi Anda, Pak. Kopi itu adalah suguhan dari saya."

Hana berdiri dan kembali ke balik bar, meninggalkan pria itu yang tampak kesal karena egonya terluka. Di sudut ruangan, Raka yang sedari tadi mengawasi, memberikan jempol dengan senyum bangga.

Sore harinya, setelah Pak Surya pergi dengan kekecewaannya, Hana duduk di teras belakang bersama Raka. Langit mulai berwarna keunguan, memberikan suasana syahdu pada taman kecil mereka.

"Kamu berani sekali tadi," ucap Raka sambil menyeruput kopi hitamnya.

"Aku belajar satu hal dari Aris, Ka," jawab Hana. "Bahwa uang yang banyak tanpa kendali atas hidup sendiri adalah bentuk perbudakan yang paling halus. Aku tidak ingin kembali ke sana. Aku lebih suka memiliki ruko kecil ini tapi aku tahu setiap jengkalnya adalah milikku dan bermanfaat bagi orang lain."

"Itu sebabnya aku mencintaimu, Na. Kamu tidak bisa dibeli," bisik Raka.

Hana menatap Raka. "Ka, aku terpikir untuk membuka cabang kedua. Tapi bukan dengan investor besar. Aku ingin menggunakan sistem kerja sama dengan para wanita yang sudah lulus dari kelas literasi kita. Kita buat koperasi. Mereka memiliki saham di sana, mereka yang mengelola, dan kita memberikan bimbingannya."

Mata Raka berbinar mendengar ide itu. "Itu brilian! Itu benar-benar pemberdayaan. Aku bisa bantu menyiapkan furniturnya dengan harga produksi, atau kita bisa ajarkan mereka cara membuat dekorasi sendiri."

Percakapan mereka tentang masa depan terus mengalir. Namun, kedamaian itu sedikit terusik ketika ponsel Hana kembali berdering. Nama yang muncul di layar membuatnya menghela napas panjang.

Maya.

"Halo, May? Ada kabar terbaru?"

"Hana, aku baru dapat informasi dari teman di kepolisian," suara Maya terdengar serius di seberang sana. "Aris sudah dipindahkan ke lapas untuk menjalani sisa masa tahanannya. Tapi ada hal lain... Mama Sarah. Dia baru saja dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung ringan. Katanya, dia terus memanggil namamu."

Hana memejamkan mata. Rasa lelah yang sempat hilang kini kembali menyerang. "May, aku sudah mengirimkan bantuan makanan dan obat-obatan setiap bulan melalui kurir. Apakah itu belum cukup?"

"Aku tahu kamu sudah sangat baik, Na. Tapi pengacaranya bilang, Mama Sarah depresi berat karena kehilangan gaya hidupnya dan merasa kesepian. Dia ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf secara langsung."

Hana terdiam cukup lama. Ia melihat ke arah Raka yang menatapnya dengan penuh pengertian. Ia tahu, memaafkan di dalam hati adalah satu hal, tapi bertemu kembali dengan orang yang pernah menghancurkan mentalnya adalah hal lain.

"Aku akan memikirkannya, May. Tapi tidak sekarang. Aku sedang membangun sesuatu yang positif di sini, dan aku tidak ingin racun dari masa lalu masuk kembali ke dalam hidupku sekarang," jawab Hana tegas.

Setelah menutup telepon, Hana menyandarkan kepalanya di bahu Raka. Ia menyadari bahwa perjalanannya menuju Bab 60—sebuah kehidupan yang benar-benar stabil—masih penuh dengan kerikil. Tapi kali ini, ia tidak lagi berjalan dengan kaki yang gemetar. Ia memiliki Raka, ia memiliki komunitasnya, dan yang terpenting, ia memiliki dirinya sendiri.

"Jangan dipikirkan terlalu berat, Na," bisik Raka sambil mengelus rambut Hana. "Masa lalu hanya punya kekuatan jika kamu memberinya panggung. Sekarang, panggung ini adalah milikmu."

Hana tersenyum. "Ya. Ini panggungku."

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!