Ia mati sebagai manusia biasa…
dan terlahir kembali di dunia kultivasi sebagai bayi fana tanpa latar belakang.
Namun, bersama jiwanya, ia membawa sebuah rahasia besar—
Kitab Dao Surgawi.
Sebuah harta karun yang mampu meningkatkan pemahaman terhadap teknik dan mantra,
membuat yang mustahil menjadi mungkin. Harta yang menantang langit itu sendiri!
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya,
di mana klan kuat menginjak yang lemah,
dia memulai langkahnya dari nol.
Tanpa bakat luar biasa.
Tanpa dukungan siapa pun.
Hanya dengan satu kitab… dan tekad untuk naik ke puncak Dao.
Ini adalah kisah tentang perjalanan seseorang yang menantang langit itu sendiri!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hdibibu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.8 - Awal Turnamen
Ling Yuanli tidak menjawab. Kedua orang tuanya meninggal oleh sekelompok Binatang Yao yang tiba-tiba muncul dan menyerang kota Luyin.
Tidak ada kultivator yang menjaga kota Luyin saat itu.
Saat itu, dia berusia tujuh tahun. Dan adiknya, Ling SI, baru berusia dua tahun. Ingatan itu masih segar dalam kepalanya. Dia ingat bagaimana kedua orang tuanya tanpa ragu mengorbankan nyawanya demi melindunginya dan Ling Si.
Tatapan penuh kasih dari ibunya dan ekspresi tegas ayahnya masih membekas jauh di benaknya.
Air mata menetes dari mata Ling Yuanli. Dia terkejut, dan buru-buru mengusap matanya.
“Tuan muda…” Ling Xin ingin berbicara, namun kalimatnya tertahan. Dia hanya terdiam melirik punggung pemuda yang berusaha tegar itu.
“Jangan khawatir,” Ling Yuanli menyahut. Suaranya normal. Setenang biasanya.
Seorang kultivator tidak boleh larut dalam emosi! Atau dia akan tenggelam dalam cobaan Hati Setan.
Bingung dengan apa yang ingin ia lakukan, Ling Yuanli lalu berjalan berkeliling rumah itu. Dia mengunjungi kamarnya., kamar orang tuanya dan kamar adiknya.
Dan saat mencapai pintu kamar di lantai dua, tubuhnya berhenti mendadak.
“Yue Xue,“ ucapnya, pelan.
Seorang wanita seusianya muncul dalam benaknya. Senyumnya yang lembut, matanya yang hangat dan parasnya yang cantik masih membayangi pikirannya.
“Kau pergi ke mana?” renungnya.
Dia menemukan gadis itu dalam keadaan sekarat saat berusia 14 tahun. Karena belas kasihan, dia mengizinkannya menetap di rumah.
Gadis itu merupakan seorang kultivator tingkat Ketiga. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya. Ingatannya hilang. Selain namanya, dia tidak mengingat apa pun lagi.
Yue Xue baik padanya. Dia bahkan merawat Ling Si dengan lembut. Dia seperti sosok ibu bagi adiknya. Dan dia menguasai sebuah Mantra penyembuhan. Berkatnya, Ling Si dapat bertahan dari kutukannya setiap hari.
Ling Yuanli bahkan menyembunyikan kebenarannya dari klan. Para Tetua pasti akan mengusirnya jika tahu kultivator asing tinggal di wilayah Klan Ling.
Namun dua tahun yang lalu, dia menghilang secara tiba-tiba. Tidak ada yang tahu ke mana perginya. Dia bahkan tidak meninggalkan sebuah surat.
“Kau…” Ling Yuanli hendak menyentuh gagang pintu, namun berhenti. Dia lalu berbalik pergi.
“Tanganmu lah yang harus membuka pintu itu,” gumamnya pelan.
Dia tidak punya perasaan pada Yue Xue. Baginya, wanita itu seperti saudarinya.
Ling Yuanli berjalan mengitari rumah. Kenangan demi kenangan kembali melintas di pikirannya.
Dan tanpa ia sadari, malam pun tiba.
Ling Si kembali. Gadis itu langsung berlari saat mengetahui kakaknya ada di rumah.
“Kakak!” teriaknya bahagia saat melihat Ling Yuanli.
Ling Yuanli langsung khawatir. Dia buru-buru mendekatinya dan menggenggam tangannya. “Kenapa kau berlarian? Ini sudah malam!” tegurnya.
Ling Si menggembungkan bibirnya. “Heheh… karena kau datang.”
Ling Yuanli menepuk kepalanya dan mendesah tak berdaya. Dia mengalirkan energi Qi-nya dan menekan energi abu-abu yang mulai terpancar di sekitar tubuh Ling Si.
“Penyakitmu kambuh saat malam. Seharusnya kau beristirahat,” Ling Yuali menatapnya lembut.
“Kakak, jangan khawatir. Obat yang kau kirim masih ada. Saya sudah memakannya,” ucap Ling Si.
Ling Yuanli menggeleng pelan. Dia melirik wajah adiknya yang bersemangat, dan beban yang ia alami selama ini surut begitu saja.
Dia tahu gadis ini pandai menyembunyikan emosinya. Dia selalu memasang wajah ceria di luar.
Dia kembali menepuk kepalanya dan dalam hati bersumpah, “sedikit lagi... penyakitmu akan segera sembuh.”
Dia lalu menemaninya berisitirahat. Kali ini, berkat kehadirannya, Ling Si tertidur lelap.
Dia terjaga sepanjang malam. Menyalurkan Qi-nya setiap kali energi Yin muncul di tubuh adiknya.
Ling Yuanli meliriknya dalam hening. Indra Ilahinya dengan hati-hati mendeteksi tubuhnya. “Beruntung jiwanya kuat. Energi Qi Yin tidak mampu menggerogotinya terlalu jauh.”
Dia selalu merasa aneh dengan kondisi adiknya. Nalurinya selalu mengatakan ada yang salah dengan tubuhnya.
Kekuatan jiwa Ling Si terlalu kuat untuk ukuran manusia normal! Jiwanya bahkan melampaui kebanyakan kultivator tahap Awal Pemurnian Qi.
Keesokan paginya, Ling Yuanli bangkit dari meditasinya. Dia melirik Ling Si, yang saat itu masih tertidur lelap.
“Sudah waktunya,” gumamnya pelan dan meninggalkan kota Luyin.
Satu jam kemudian, dia tiba di gunung klan.
Aliran kultivator sudah memenuhi dasar gunung. Mata Ling Yuanli menyipit. Dia melihat banyak wajah asing.
“Para kultivator dari luar klan datang lebih cepat dibanding acara sebelumnya.”
Tidak ada yang akan melewatkan kesempatan ini. Bagi mereka, acara ini adalah hiburan.
Dan bagi Klan Ling, acara ini untuk meningkatkan prestise dan menunjukkan kekuatan klan.
Ling Yuanli berjalan mendekat. Dan dia melihat beberapa kultivator tanpa malu-malu mendirikan tenda untuk berjualan.
Patroli klan berkeliaran dengan mata elang di sekitar tempat itu. Tatapan mereka mengawasi setiap pengunjung dengan waspada.
Ling Yuanli langsung berjalan mendaki puncak dan menuju lapangan latihan yang luas. Kursi penonton dibangun mengelilingi lapangan itu. Tampak seperti stadion bola kecil.
“Oh, lihat siapa ini,” tawa kecil mengganggu lamunannya.
Dia menoleh, dan alisnya mengernyit. “Yuanping? Ku pikir kau sudah mati di luar sana.”
Ling Yuanping terdiam. Bahasa orang ini terlalu kasar.
Dia mendengus dingin. Auranya terpancar keluar. “Mulutmu masih setajam biasanya, ya. Semoga saja kekuatanmu setajam mulutmu.”
Mata Ling Yuanli menyipit saat merasakan aura itu. “Tingkat Keenam?”
“Terkejut?” Ling Yuanping terkekeh.
“Tidak,” Ling Yuangli menjawab singkat. “Menjadi anjing sang jenius memang memberikan banyak sumber daya.”
“Kau….” Ling Yuanping hampir meledak marah.
Tepat saat itu, sebuah suara dingin menyela mereka. “Yuanping, kau masih belum belajar. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam adu mulut.”
Ling Yuanli menoleh, dan melihat seorang pria botak berjalan di belakang Ling Yuanping. Berusia 23 tahun. Tubuhnya yang tinggi dan kekar menjulang di antara mereka.
“Yuanlong…” mata Ling Yuanli menyipit dingin. Dia mengenalnya. Orang ini adalah yang tertua kedelapan di generasi mereka.
“Saudara kesepuluh,” Ling Yuanlong terkekeh. “Sudah lama. Dan kau masih terjebak di tingkat Kelima?”
“Sepertinya kau sangat malas,” ucap Ling Yuanlong. Suaranya mengejek. “Atau… apa kau kekurangan sumber daya? Kasihan.”
“Anjing yang lain,” Ling Yuanli mencemooh dingin. Orang-orang ini sering mengganggunya. Mereka bahkan sering merebut misi yang telah ia pilih di masa lalu.
Hubungan mereka sudah sangat buruk.
Ling Yuanlong menyipitkan mata berbahaya. Dia mendengus. “Tunggu saja di arena. Ku harap tulang-tulangmu cukup kuat agar tidak patah.”
“Yuanping, ayo pergi temui yang lain,” ucapnya, saat dia pergi bersama Ling Yuanping.
Ling Yuanli hanya melirik mereka dalam diam. Dia tidak takut pada siapa pun. Bahkan jika itu Ling Yuanlong, yang dipuji oleh sesama generasinya karena berhasil menguasai lima teknik, yang di mana satu di antaranya telah mencapai Prestasi Kecil.