Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Garis kapur biru itu terputus tepat di tengah pola lingkar pinggang. Felysha Anindhita menatap patahan kapur kecil yang menggelinding di atas meja potong, lalu berhenti tepat di samping penggaris besi miliknya. Ia tidak segera memungutnya. Jemarinya masih menekan permukaan kain muslin putih yang terasa dingin di bawah telapak tangannya. Suara bising dari Studio 4 kampus Institut Français de la Mode ini mendadak terasa menjauh, tertutup oleh dengung di telinganya yang muncul setiap kali bayangan telepon Julian tadi malam melintas di kepalanya.
Felysha menarik napas pelan, merasakan paru-parunya terisi udara yang berbau sisa uap setrika dan serat kain yang beterbangan. Ia meraih patahan kapur tadi, membuangnya ke wadah plastik kecil di sudut meja, lalu mengambil kapur baru yang masih tajam ujungnya. Ia membungkuk lagi, memastikan pandangannya sejajar dengan garis pola kertas yang sudah ia sematkan jarum pentul. Gerakannya sangat lambat, seolah-olah ia sedang membedah sesuatu yang sangat rapuh.
"Fely, kamu sudah mengulang bagian itu lima kali dalam satu jam terakhir."
Sophie berdiri di samping meja Felysha, memegang segelas kopi kertas yang masih mengepul. Ia menyesap kopinya sedikit, lalu menyandarkan pinggulnya pada tepian meja kayu yang permukaannya sudah penuh dengan bekas goresan gunting. Sophie mengenakan baret merah dan kemeja oversized garis-garis, penampilannya selalu terlihat santai sekaligus modis, kontras dengan Felysha yang hari ini hanya mengenakan turtleneck hitam dan celana bahan yang kaku.
Felysha tidak langsung menyahut. Ia menyelesaikan tarikan garis kapurnya sampai ke ujung pola. Setelah meletakkan kapur jahit itu, ia meluruskan punggungnya, merasakan tulang belakangnya yang berbunyi pelan karena terlalu lama membungkuk.
"Aku hanya ingin memastikan jatuhnya kain ini pas, Sophie," jawab Felysha pelan. Ia merapikan beberapa jarum pentul yang posisinya sedikit miring.
"Jatuhnya sudah pas sejak tiga puluh menit yang lalu," Sophie meletakkan gelas kopinya di atas meja Felysha, untungnya cukup jauh dari kain muslin. Ia menoleh ke arah jendela besar studio yang memperlihatkan pemandangan atap-atap gedung Paris di bawah langit kelabu. "Kamu terlihat... berbeda hari ini. Lebih banyak diam dari biasanya. Ada masalah di apartemen?"
Felysha menggeleng. Ia meraih gunting kainnya, memosisikan bilahnya di tepi kain. "Hanya kurang tidur saja."
"Kurang tidur karena tugas, atau kurang tidur karena memikirkan kencan malam minggu?" Marc tiba-tiba muncul dari balik manekin kayu, membawa gulungan kain sutra berwarna midnight blue. Pria asal Italia itu selalu punya cara untuk masuk ke dalam percakapan tanpa diundang. Ia meletakkan kainnya di meja sebelah, lalu menaikkan alisnya ke arah Felysha. "Aku dengar ada bar baru di daerah Marais yang suasananya sangat romantis. Kamu harus keluar sesekali, Fely. Hidup di Paris bukan hanya soal jarum dan benang."
Marc tertawa, lalu mulai memotong kainnya dengan gerakan yang jauh lebih bebas daripada Felysha. Di studio ini, Felysha memang dikenal sebagai mahasiswi yang paling rajin, namun juga yang paling tertutup. Di saat teman-temannya menghabiskan waktu istirahat dengan berdiskusi tentang desainer favorit atau gosip kencan semalam di kafe pinggir jalan, Felysha lebih sering memilih untuk tetap di depan manekinnya, mengerjakan detail-detail yang sebenarnya sudah sempurna.
"Felysha bukan tipe orang yang suka bar yang berisik, kan?" Sophie menanggapi ucapan Marc, lalu kembali menatap Felysha. "Tapi Marc benar soal satu hal. Kamu butuh suasana baru. Bagaimana kalau besok sore kita ke Jardin du Luxembourg? Aku dengar bunga-bunganya sedang cantik. Kita bisa membawa buku sketsa ke sana."
Felysha menggerakkan guntingnya. Krek. Krek. Bunyi bilah logam yang membelah serat kain muslin itu terasa sangat nyata di telinganya. "Aku harus menyelesaikan toile ini untuk evaluasi Madame Claire hari Senin, Sophie. Mungkin lain kali."
"Lain kali itu kata favoritmu minggu ini," Sophie mendesah, ia mengambil kembali kopinya. "Apa tunanganmu itu menelepon lagi?"
Gunting di tangan Felysha terhenti. Ia tidak menoleh, namun bahunya tampak sedikit menegang. Jemarinya meremas pegangan gunting dengan tenaga yang sedikit lebih besar.
"Dia hanya ingin memastikan jadwal kuliahku tidak berantakan," jawab Felysha singkat.
"Dengan cara menelepon setiap dua jam sekali?" Sophie menggelengkan kepala, suaranya mengandung nada protes yang tidak disembunyikan. "Itu bukan perhatian, Fely. Itu pengawasan. Kamu di Paris untuk belajar menjadi desainer, bukan untuk menjadi asisten pribadi yang harus melapor setiap saat."
Felysha menarik napas panjang, lalu melanjutkan potongannya. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan pada Sophie bahwa telepon dari Julian bukan sekadar pengawasan. Itu adalah gema dari kontrak yang menyelamatkan rumah ibunya. Setiap bunyi getaran ponsel di tasnya adalah pengingat bahwa kebebasannya di Paris ini dibayar dengan harga yang sangat spesifik.
"Dia hanya cemas karena aku sendirian di sini," Felysha mencoba memberikan pembelaan yang terdengar masuk akal, meskipun di dalam hatinya ia tahu itu bohong.
"Cemas itu wajar, tapi kamu sudah dewasa," Marc menyela lagi sambil menyematkan jarum pada kain sutranya. "Lihat kami. Kami jatuh cinta, kami patah hati, kami bertengkar dengan pacar kami di pinggir jalan sampai menangis, tapi kami tetap punya ruang untuk bernapas. Kamu... kamu seperti selalu menahan napas, Fely."
Felysha meletakkan guntingnya saat potongan kain lengan itu selesai. Ia mengangkat kain putih tersebut, memperhatikannya di bawah lampu studio yang terang. Kain itu tampak bersih, tanpa noda, dan tepiannya terpotong sangat rapi. Namun, saat ia melihat bayangan dirinya sendiri di permukaan meja kayu yang mengilap, ia menyadari ucapan Marc ada benarnya. Ia memang jarang tertawa lepas. Ia jarang membicarakan impiannya dengan semangat yang sama seperti Sophie atau Marc.
"Mungkin aku hanya belum terbiasa dengan ritme di sini," gumam Felysha, lebih kepada dirinya sendiri.
"Maka biasakanlah diri dengan kesenangan, bukan cuma dengan beban," Sophie menepuk bahu Felysha pelan sebelum beranjak menuju mesin jahit. "Aku akan menunggumu di depan gerbang besok sore jam empat. Kalau kamu tidak datang, aku akan menyeretmu keluar dari studio ini."
Felysha hanya bisa memberikan senyum tipis sebagai balasan. Ia kembali ke manekinnya, mulai menyematkan potongan kain muslin tadi pada bagian bahu. Ia menggunakan jarum pentul satu per satu, menusukkannya ke permukaan manekin dengan suara klik halus yang berulang. Ia fokus pada jatuhnya kain, pada bagaimana serat-serat itu membentuk lekukan yang ia inginkan.
Namun, di sela-sela konsentrasinya, ia melihat teman-teman sekelasnya di sudut ruangan sedang tertawa sambil melihat foto di layar ponsel. Mereka tampak begitu ringan. Mereka membicarakan tentang kencan buta yang gagal, tentang pria Prancis yang memberi mereka bunga di stasiun metro, dan tentang rencana kencan di bawah Menara Eiffel.
Bagi mereka, Paris adalah latar belakang dari cerita cinta yang manis. Bagi Felysha, Paris adalah dekorasi mewah dari sebuah pengasingan yang disepakati.
Felysha meraba kalung perak tipis di lehernya, pemberian ibunya sesaat sebelum ia berangkat ke bandara. Ia teringat pesan ibunya yang selalu sama di setiap telepon mingguan: Jangan membuat Julian marah, Fely. Ingat semua kebaikannya pada kita.
Ia memejamkan mata sejenak, merasakan dinginnya jarum pentul di antara ibu jari dan telunjuknya. Ia ingin menjadi seperti Sophie, yang bisa mengeluh tentang tugas sambil tertawa membahas rencana akhir pekan. Ia ingin menjadi seperti Marc, yang bisa dengan bebas membicarakan perasaannya. Namun, setiap kali ia ingin melangkah keluar dari zona amannya, bayangan tumpukan utang ayahnya selalu muncul sebagai tembok besar yang menghalangi.
Ponsel di saku celananya bergetar. Felysha tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa yang mengirim pesan. Ia hanya menghela napas, menaruh jarum pentulnya kembali ke bantalan jarum di pergelangan tangannya, lalu merogoh saku.
Julian: Aku sudah mengirimkan bunga ke apartemenmu. Penjaga bilang bunga itu sudah sampai. Jangan lupa difoto dan kirimkan padaku. Aku ingin melihatmu tersenyum hari ini.
Felysha menatap pesan itu selama beberapa detik. Ia tidak merasa bahagia mendapatkan bunga. Ia justru merasa terbebani karena harus berpura-pura tersenyum dan mengambil foto sebagai bukti bahwa ia menghargai pemberian Julian. Ia menyimpan kembali ponselnya tanpa membalas.
Ia kembali ke manekinnya. Tangannya bergerak menyusun lipatan kain di bagian dada gaun percobaan itu. Ia bekerja dalam diam, di tengah studio yang riuh dengan suara mesin jahit dan tawa mahasiswa lain. Felysha sadar, meskipun ia berada di ruangan yang sama dengan Sophie dan Marc, ada jarak yang sangat jauh yang memisahkan dunianya dengan dunia mereka. Jarak yang ia buat sendiri untuk melindungi rahasia dan rasa takutnya.
Hari itu, Felysha mengerjakan tugasnya sampai studio hampir kosong. Ia hanya ditemani oleh suara detak jam dinding dan gema langkah kakinya sendiri saat berjalan mengambil penggaris atau benang. Di tengah kesunyian itu, ia menyadari satu hal. Ia sudah sangat mahir menyembunyikan perasaannya, sampai-sampai ia sendiri mulai lupa bagaimana rasanya menjadi gadis yang benar-benar bahagia.