NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertunangan

Gedung The Grand Ballroom malam itu menjelma menjadi benteng kemewahan yang tak tertembus. Ribuan bunga krisan putih dan tulip impor menyulut aroma harum yang memabukkan, sementara lampu gantung kristal membiaskan cahaya keperakan yang jatuh di atas karpet beludru merah. Di luar, barisan limosin mengular, dan puluhan wartawan dari berbagai media hiburan serta ekonomi berkumpul di balik barikade, kamera mereka berkilat-kilat seperti serbuan kunang-kunang listrik.

​Malam ini bukan sekadar pesta. Ini adalah proklamasi. Elang Dirgantara, pria yang selama satu dekade terakhir menjadi teka-teki paling gelap di jagat bisnis dan sosialita, akhirnya menyingkap tirainya.

​Di ruang rias pribadi yang dijaga ketat oleh empat pengawal berbadan tegap, Laras duduk mematung. Ia mengenakan kebaya modern berwarna biru safir yang bertahtakan ribuan payet kristal—warna yang senada dengan cincin pertunangan di jari manisnya. Wajahnya cantik luar biasa, namun matanya memantulkan kekosongan yang kontras dengan keriuhan di luar sana.

​Maya berdiri di pojok ruangan, tangannya bersedekap. Sejak Laras pulang membawa cincin itu dua hari lalu, Maya hampir tidak bicara. Kecewa adalah kata yang terlalu sederhana untuk menggambarkan perasaannya. Ia merasa dikhianati, bukan karena Laras mencintai Elang, tapi karena Laras mengambil keputusan sebesar itu tanpa sepatah kata pun diskusi dengannya—satu-satunya orang yang memegang sisa-sisa kewarasan Laras.

​"Kamu terlihat seperti pengantin yang akan diarak menuju tiang gantungan, Ras," suara Maya pecah, tajam dan dingin.

​Laras menoleh pelan. "Ini demi Sydney, May. Ini satu-satunya jalan."

​"Sydney?" Maya tertawa pahit, suaranya naik satu oktav. "Kamu menukar seluruh hidupmu, kebebasanmu, dan namamu demi satu panggung? Kamu pikir setelah cincin ini melingkar, Elang akan membiarkanmu menari dengan bebas di Australia? Dia baru saja membeli hak paten atas jiwamu, Laras!"

​"Dia mencintaiku dengan caranya, May," bisik Laras, meski suaranya sendiri terdengar ragu.

​"Dia tidak mencintaimu. Dia mengoleksimu. Dan kamu... kamu membiarkan dirimu dibeli," Maya melangkah menuju pintu, tidak sanggup lagi berada di ruangan yang sama. "Aku selalu mengira kita adalah rekan, sepasang sahabat yang saling menjaga. Tapi ternyata, kamu lebih memilih menjadi budak di istana daripada merdeka bersamaku."

​Pintu tertutup dengan debuman pelan, meninggalkan Laras dalam kesunyian yang mencekam tepat sebelum pintu lain terbuka dan Elang masuk. Pria itu tampak gagah dalam setelan tuxedo hitam yang dibuat khusus di London. Ia menghampiri Laras, meletakkan tangannya di bahu wanita itu, dan menatap pantulan mereka di cermin.

​"Waktunya menunjukkan pada dunia siapa pemilikmu, Laras," ucap Elang, sebuah seringai kemenangan menghiasi wajahnya.

*

​Saat pintu ballroom terbuka dan Elang menuntun Laras masuk, suasana seketika menjadi hening sebelum akhirnya pecah oleh riuh rendah bisikan. Kehadiran mereka adalah jawaban telak bagi segala desas-desus yang selama ini mengitari nama Elang Dirgantara.

​Selama bertahun-tahun, Elang adalah sasaran empuk gosip di klub-klub eksklusif. Ada yang berbisik bahwa dia adalah seorang playboy dingin yang hanya mengoleksi wanita untuk dibuang dalam semalam. Ada desas-desus jahat yang menyebutnya sebagai pria penyuka sesama jenis karena tak pernah terlihat serius dengan wanita mana pun. Bahkan, ada spekulasi medis yang menyebutnya mandul, atau rumor gelap yang mengatakan dia adalah penganut BDSM yang menyiksa pasangannya di ruang bawah tanah apartemennya.

​Segala hal negatif, segala stigma tentang kegilaan dan kelainan Elang, seolah luruh saat orang-orang melihat cara dia menatap Laras. Elang tidak menatapnya seperti seorang majikan kepada bawahan, atau pria kepada mainannya. Ia menatap Laras dengan tatapan yang sangat intens, protektif, dan penuh pemujaan yang posesif.

​"Lihat mereka," bisik seorang sosialita di barisan depan. "Elang terlihat begitu... terobsesi. Rumor tentang dia mandul atau gay sepertinya hanya sampah. Lihat cara dia memegang pinggang wanita itu. Dia seperti tidak mau membiarkan oksigen sekalipun lewat di antara mereka."

​Elang membawa Laras ke atas panggung kecil yang telah disiapkan. Di hadapan mikrofon, di depan para pemegang saham, kurator seni, dan kamera televisi, Elang menggenggam tangan Laras erat-berlian biru di jari Laras berkilau di bawah lampu panggung.

​"Malam ini," suara Elang menggema, penuh otoritas, "saya ingin mengumumkan secara resmi bahwa Laras Maheswari bukan hanya penari utama di yayasan saya. Mulai malam ini, dia adalah tunangan saya. Wanita yang akan mendampingi hidup saya selamanya."

​Tepuk tangan membahana, namun bagi Laras, suara itu terdengar seperti jeruji besi yang baru saja dikunci. Ia tersenyum ke arah kamera, sebuah senyum yang telah ia latih selama berjam-jam, sementara di dalam hatinya, ia merasakan beban yang sangat berat. Ia telah menjadi jawaban atas skandal Elang; ia telah menjadi tameng bagi reputasi pria itu.

​*

​Di sudut ruangan yang gelap, dekat pintu keluar, Maya berdiri dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat Laras yang sedang dipeluk oleh Elang, dikelilingi oleh lampu kilat dan sorakan palsu dari orang-orang yang hanya memuja kekuasaan.

​Maya tahu, ini bukan sekadar pertunangan. Ini adalah penyerahan kedaulatan. Dengan pengumuman publik ini, Laras tidak akan pernah bisa lari. Jika ia mencoba meninggalkan Elang, seluruh dunia akan mencarinya. Jika ia mencoba membangkang, nama besarnya sebagai penari akan dihancurkan oleh mesin media milik Elang.

​"Inilah akhirnya," gumam Maya pada dirinya sendiri.

​Ia teringat masa-masa mereka makan mie instan berdua di kamar kos yang sempit. Saat itu, mereka tidak punya apa-apa, tapi mereka punya mimpi dan kebebasan untuk menentukan arah langkah kaki mereka. Sekarang, Laras punya segalanya—berlian, gaun sutra, pengakuan dunia—tapi ia tidak punya lagi hak atas dirinya sendiri.

​Maya menyadari bahwa mulai besok, ia tidak akan lagi dipandang sebagai manajer atau sahabat. Di mata Elang, ia hanyalah pengganggu yang diberikan belas kasihan untuk tetap tinggal. Dan di mata publik, Laras bukan lagi "Laras sang penari", melainkan "Laras, tunangan Sang Elang".

​Saat acara dansa dimulai, Elang menarik Laras ke tengah lantai. Mereka berdansa dalam lingkaran cahaya, sementara orang-orang menonton dengan rasa iri. Elang membisikkan sesuatu di telinga Laras yang membuat wanita itu sedikit tersipu, namun Maya bisa melihat dari kejauhan bahwa tangan Elang tidak pernah lepas dari punggung Laras, mencengkeram kain kebaya itu seolah takut Laras akan menguap jika ia melonggarkan pegangannya sesenti saja.

​Publik mungkin merasa gosip negatif tentang Elang telah terpatahkan. Mereka melihat seorang pria sukses yang akhirnya menemukan cintanya. Namun Maya melihat kebenaran yang lebih gelap: Elang baru saja melegalkan sifat posesifnya di mata hukum dan masyarakat.

​Malam itu berakhir dengan pesta kembang api yang megah di luar gedung, namun di dalam hati dua orang wanita yang paling mengenali sosok Elang, perasaan yang ada hanyalah duka atas hilangnya sebuah kemerdekaan. Laras telah resmi menjadi milik Sang Elang, dan Maya tahu, Sydney hanyalah panggung sementara sebelum sangkar emas itu benar-benar tertutup rapat untuk selamanya.

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!