"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Begitu motor Radit memasuki jalan utama yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari kompleks rumahku, aku menepuk bahunya pelan. Suara deru mesin motor besarnya membuatku harus sedikit berteriak.
"Dit, turunin di depan situ aja!" kataku sambil menunjuk sebuah halte yang sudah mulai sepi.
Radit memperlambat lajunya, lalu menepi dengan mulus. Begitu motor berhenti, aku langsung turun dan melepas helm, merapikan rambutku yang sedikit berantakan tertiup angin.
"Loh, nggak sampai depan rumah, Fis? Tanggung banget," tanya Radit sambil menatapku heran. Ia masih duduk di atas motornya, mesinnya masih menyala halus.
"Nggak perlu. Gue mau jalan kaki sedikit biar pikiran lebih jernih," jawabku datar sambil menyodorkan helm padanya. "Makasih buat tumpangannya. Dan makasih juga buat akting lo di parkiran tadi."
Radit tertawa tipis, ia menerima helm itu lalu menaruhnya di jok belakang. "Gue nggak sepenuhnya akting, Fis. Tapi kalau itu yang lo butuhin buat bikin si Guntur panas, gue siap jadi partner lo kapan aja."
"Gue bakal ingat itu," balasku pendek.
Radit mengangguk, lalu memakai kembali kacamata hitamnya. "Oke. Jangan lupa pesan Alan soal latihan debat besok. Jangan sampai kalah sama emosi lo sendiri."
Tanpa menunggu jawabanku, Radit menggeber motornya dan melesat pergi, meninggalkan kepulan asap tipis di depanku. Aku menghela napas panjang, menatap jalanan aspal yang masih lembap. Aku sengaja minta turun di sini karena aku tidak ingin Radit—atau siapa pun—tahu di mana tepatnya benteng pertahananku berada. Aku belum siap membiarkan "orang luar" masuk ke ruang pribadiku.
Aku mulai berjalan menyusuri trotoar menuju rumah. Keheningan jalanan sore ini terasa kontras dengan keributan di parkiran tadi.
Aku mempercepat langkah saat gerbang rumah sudah terlihat. Begitu kunci kuputar, aku langsung menyelinap masuk.
"Fis? Sudah pulang, Sayang? Kok telat—"
Suara Bunda dari arah dapur hanya tertangkap sekilas di telingaku. Aku tidak berhenti, bahkan tidak menoleh. Aku terus melangkah menaiki tangga dengan cepat, menghiraukan panggilan Bunda yang kedua kalinya. Saat ini, aku tidak punya energi untuk berbasa-basi atau mengarang cerita tentang kenapa seragamku sedikit kusut.
Braakk.
Pintu kamar kututup rapat, lalu segera kukunci. Aku menyandarkan punggung di balik pintu, memejamkan mata erat-erat sementara jantungku masih berpacu karena sisa emosi di parkiran tadi. Kamar ini—dengan aroma linen dan tumpukan buku yang berantakan—adalah satu-satunya tempat di mana aku tidak perlu berpura-pura kuat.
Aku melempar tas ke sembarang arah dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidur. Langit-langit kamar yang putih bersih seolah memantulkan kembali bayangan wajah Guntur yang memerah dan tawa tipis Radit.
"Sial," umpatku lirih sambil menutupi wajah dengan bantal.
Aku ingin merasa menang karena berhasil membalas Guntur, tapi yang kurasakan justru lubang kosong yang semakin menganga. Akting di depan umum ternyata jauh lebih melelahkan daripada latihan debat mana pun.
Tiba-tiba ponselku bergetar,ada pesan masuk dari Bintang laki-laki yang ku pacari beberapa bulan lalu
Bintang: sudah sampai rumah fis? Beberapa hari ini aku akan sibuk di lab,karena akan ada lomba antar sekolah,kamu jangan lupa makan dan istirahat ya i love you afisa!!!!
Aku hanya menatap layar yang menyala itu dengan tatapan kosong. Kalimat manis Bintang yang biasanya membuatku tersenyum, kali ini terasa hambar, bahkan sedikit menyesakkan. "I love you," katanya. Seharusnya aku merasa beruntung memiliki pacar yang perhatian seperti dia, tapi di saat kepalaku hampir pecah karena urusan Guntur, perhatian Bintang justru terasa seperti beban tambahan.
Aku meletakkan ponsel itu dalam posisi terbalik di atas kasur. Tidak ada niat sedikit pun untuk mengetik balasan. Aku sedang tidak punya energi untuk berpura-pura menjadi pacar yang manis atau menceritakan betapa kacaunya hariku.
Tok, tok, tok.
"Fis? Kamu di dalam?" Suara Bunda kembali terdengar dari balik pintu, kali ini lebih pelan tapi penuh selidik. "Bunda buatkan cokelat panas. Kamu nggak apa-apa, kan?"
Aku memejamkan mata erat-erat, menahan napas agar tidak terdengar sedang menangis atau marah. "Aku nggak apa-apa, Bun. Cuma capek, mau langsung tidur," sahutku berusaha sedatar mungkin.
Langkah kaki Bunda perlahan menjauh, meninggalkanku kembali dalam keheningan. Aku berguling ke samping, menatap seragam sekolahku yang tersampir di kursi belajar. Besok ada latihan debat. Besok aku harus bertemu Radit lagi—si partner akting yang terlalu percaya diri itu. Dan yang paling buruk, besok aku harus menghadapi tatapan tajam Guntur yang pasti belum selesai dengan urusannya.
Duniaku terasa seperti panggung sandiwara yang melelahkan. Di sekolah aku harus jadi Afisa yang tangguh, di depan Bintang aku harus jadi pacar yang pengertian, dan di rumah aku harus jadi anak yang baik-baik saja.
Aku menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku, mencoba menulikan suara notifikasi ponsel yang kembali bergetar singkat. Entah itu dari Bintang, Alan, atau bahkan Radit, aku tidak peduli. Untuk saat ini, aku hanya ingin menghilang di balik bentengku sendiri.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2