Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Lampu neon berwarna keunguan menyambut begitu mobil Rionegro memasuki area parkir club.
Bangunan itu tampak sama seperti yang ia ingat—tidak terlalu mencolok dari luar, namun selalu ramai begitu malam benar-benar hidup. Musik dengan dentuman bass yang samar sudah terdengar bahkan sebelum ia membuka pintu mobil.
Ia mematikan mesin, duduk beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.
Entah karena suasana malam yang terasa sedikit lebih padat dari biasanya… atau karena pikirannya masih belum sepenuhnya fokus pada tujuan ia datang.
Rionegro akhirnya keluar dari mobil, merapikan kemeja hitamnya secara refleks.
Udara malam terasa lebih lembap sekarang. Angin tipis membawa aroma hujan yang semakin jelas.
Lampu di depan pintu club memantulkan bayangan samar di lantai yang sedikit berkilau, seolah baru saja dibersihkan atau mungkin mulai terkena titik-titik air yang belum benar-benar terlihat.
Ia berjalan masuk dengan langkah tenang.
Petugas di depan pintu langsung membuka jalan setelah melihatnya.
Suasana di dalam club langsung terasa kontras.
Hangat, ramai, penuh suara percakapan yang saling bertabrakan dengan musik yang berdentum cukup keras, namun tidak sampai mengganggu.
Lampu bergerak pelan mengikuti irama musik.
Beberapa orang tampak tertawa lepas di sudut ruangan, sebagian lagi sibuk dengan percakapan mereka masing-masing.
Rionegro tidak berhenti di area utama.
Ia langsung berjalan menuju meja resepsionis kecil di sisi kanan ruangan.
Seorang petugas berpakaian formal langsung menoleh dengan senyum profesional.
“Selamat malam, ada yang bisa dibantu?” tanya staf tersebut
“Ruang VIP atas nama Salvatore,” ucap Rionegro singkat.
Petugas itu mengangguk kecil, tangannya bergerak cepat mengecek daftar di layar tablet.
“Baik. Ruang VIP atas nama Salvatore ada di lantai atas ruangan 05, Pak.” kata staf yang bertugas itu.
Ia memberi isyarat sopan ke arah tangga di sisi ruangan.
“Nanti tinggal lurus saja, ruangan kedua di sebelah kiri.” jelas staf tersebut.
“Terima kasih.”
Rionegro mengangguk tipis, lalu melangkah menuju arah yang dimaksud.
Tangga menuju lantai atas tidak terlalu ramai.
Hanya beberapa orang yang berlalu-lalang, sebagian tertawa pelan, sebagian lagi terlihat sibuk dengan ponsel mereka.
Suasana di lantai atas sedikit lebih tenang dibandingkan area utama.
Musik masih terdengar, namun lebih teredam.
Lebih privat.
Lebih nyaman untuk percakapan tanpa harus meninggikan suara.
Langkah Rionegro tetap stabil.
Tidak terburu-buru.
Namun juga tidak lambat.
Matanya sempat memperhatikan beberapa pintu VIP yang tertutup rapat.
Setiap pintu memiliki nomor kecil di sampingnya.
Lampu temaram di lorong membuat bayangan terlihat lebih panjang dari biasanya.
Ia hampir melewati salah satu pintu ketika gerakan kecil di ujung lorong tanpa sengaja menarik perhatiannya.
Seorang perempuan baru saja berjalan masuk ke salah satu ruang VIP.
Rambut panjang berwarna cokelat muda jatuh rapi hingga melewati punggungnya.
Langkahnya tenang.
Sederhana.
Namun entah kenapa terasa… familiar.
Rionegro sedikit memperlambat langkahnya.
Bukan karena sengaja.
Lebih karena refleks.
Pintu ruangan itu belum sepenuhnya tertutup ketika sosok itu sempat terlihat dari samping.
Cahaya lampu dari dalam ruangan menyinari wajahnya sekilas.
Dan hanya butuh satu detik bagi Rionegro untuk mengenalinya.
Yusallia.
Langkahnya sempat terhenti.
Tidak sepenuhnya berhenti.
Namun cukup untuk membuat pikirannya membutuhkan satu detik lebih lama untuk kembali sinkron dengan situasi di sekitarnya.
Ia tidak menyangka akan melihatnya di tempat seperti ini.
Bukan karena tidak mungkin.
Hanya saja, terasa terlalu kebetulan.
Yusallia sudah masuk sepenuhnya ke dalam ruangan sebelum Rionegro benar-benar bisa memastikan apakah ia harus menyapa atau tidak.
Pintu tertutup pelan.
Menyisakan lorong yang kembali tenang.
Rionegro berdiri sepersekian detik lebih lama.
Pikirannya sempat mengulang kembali potongan singkat pemandangan tadi.
Rambut panjang itu.
Cara berjalan yang tidak terburu-buru.
Ekspresi wajah yang sekilas terlihat tenang.
Sama seperti yang ia ingat.
Ia sempat berpikir apakah ia hanya salah lihat.
Namun perasaan familiar itu terlalu jelas untuk diabaikan.
Pertemuan pertama saat hujan deras.
Pertemuan kedua di cafe.
Dan sekarang…
Di tempat yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Rionegro menghela napas pelan.
Tidak ada alasan baginya untuk berhenti lebih lama di lorong itu.
Ia bahkan tidak yakin apakah menyapa di tengah situasi seperti ini akan terasa tepat.
Apalagi ia tidak tahu dengan siapa Yusallia datang malam ini.
Teman?
Rekan kerja?
Atau seseorang yang lain.
Logika sederhana mengatakan ia sebaiknya melanjutkan langkahnya saja.
Dan itulah yang ia lakukan.
Langkahnya kembali stabil menuju ruang VIP yang disebutkan petugas tadi.
Pintu kedua di sebelah kiri.
Lampu kecil di samping pintu menampilkan nomor ruangan.
Suara percakapan samar sudah terdengar dari dalam.
Terdengar cukup ramai.
Rionegro meraih gagang pintu.
Mengetuk pelan dua kali sebagai tanda sopan sebelum masuk.
“Masuk!” terdengar suara dari dalam.
Begitu pintu terbuka, suasana hangat langsung terasa.
Ruangan VIP itu cukup luas dengan sofa besar berbentuk setengah lingkaran di tengah.
Meja kaca di depannya sudah dipenuhi beberapa minuman dan camilan ringan.
Lampu berwarna hangat membuat suasana terasa lebih santai dibandingkan area utama club.
Revano adalah orang pertama yang menyadarinya.
“Wah akhirnya muncul juga,” katanya santai.
Beberapa kepala langsung menoleh ke arah pintu.
Axel yang duduk di sudut langsung mengangkat tangan sedikit. “Tumben lo telat.”
Rionegro menutup pintu di belakangnya. “Belum telat.”
Jevano tertawa kecil. “Jam sembilan lewat sepuluh itu definisi telat buat sebagian orang.”
“Buat sebagian,” jawab Rionegro tenang.
Alexander menyenggol bahu Revano pelan.
“Udah gue bilang juga dia pasti tetep datang jam segini.” kata Alexander.
Revano mengangkat alis.
“Minimal dia datang.” kata Revano
Rionegro berjalan mendekat, menyapa satu per satu dengan anggukan kecil.
Tidak terlalu formal.
Namun tetap menunjukkan kehadirannya.
Axel bangkit sedikit dari duduknya untuk menepuk bahu Rionegro singkat. “Minum dulu baru ngomong.”
Rionegro duduk di salah satu sofa kosong. “Air aja.”
Axel mendecak pelan.“Club, bro.”
“Gue nyetir.” Balas Rionegro.
Revano tertawa kecil. “Masih aja.”
Alexander menuangkan minuman ke gelas, lalu mendorong satu gelas ke arah Rionegro.
“Yaudah air dulu. Nanti kita lihat perkembangan.” kata Alexander.
Rionegro hanya mengangguk tipis.
Percakapan langsung kembali mengalir seperti biasanya.
Topik ringan.
Sebagian besar bercanda.
Sebagian lagi membahas hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Axel sempat menjelaskan bagaimana ia memesan ruangan VIP ini lebih awal karena akhir pekan biasanya penuh.
Jevano menimpali dengan cerita singkat tentang pekerjaannya yang melelahkan sebagai kepala rumah sakit yang baru.
Revano beberapa kali melontarkan komentar santai yang membuat suasana tetap hidup.
Rionegro mendengarkan lebih banyak daripada berbicara.
Seperti biasa.
Namun kehadirannya tetap terasa.
Sesekali ia merespon.
Sesekali ia tersenyum tipis ketika percakapan mulai semakin tidak masuk akal.
Suasana santai seperti ini sebenarnya tidak sepenuhnya buruk.
Hanya saja, pikirannya sempat kembali ke lorong tadi.
Bayangan rambut cokelat panjang itu muncul lagi sekilas.
Yusallia berada di ruangan yang tidak terlalu jauh dari sini.
Kemungkinan hanya beberapa langkah saja.
Kebetulan yang terasa terlalu tepat.
Namun Rionegro tidak mengatakan apa-apa.
Ia tidak menyebut nama itu.
Tidak bertanya.
Tidak mencoba mencari tahu.
Setidaknya, belum.
Malam masih panjang.
Dan entah kenapa, perasaan samar itu kembali muncul.
Seolah malam ini belum selesai menyiapkan kejutan.