NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Potongan Kertas Berharga

Tangan kanan Sukma terangkat tinggi di udara.

Plak!

Bukan tangan Sukma yang mendarat di pipi Surti.

Kardi melompat dari teras samping. Kepalan tangannya langsung menghantam wajah Karyo dengan tenaga penuh. Karyo tersungkur menabrak kurungan ayam di sudut halaman. Debu mengepul tebal menutupi memar di pelipis pria penakut itu.

"Banci Koen, Karyo!" Kardi mencengkeram kerah baju kakaknya erat-erat, mengangkat tubuh lemas itu separuh melayang.

"Ibu dewe dihina bojomu, Koen meneng ae?! Dadi lanang ndak duwe aji!"

Surti menjerit histeris. Gulungan uang puluhan ribu di tangannya terlepas jatuh ke tanah.

Sukma menginjak uang itu, menunduk, lalu memungutnya tenang. Ia berjalan mendekati Bulik Karto yang masih gemetar hebat menahan tangis.

"Simpen sing rapat, Bulik." Sukma menyodorkan gulungan uang itu ke telapak tangan wanita tua tersebut. "Duit gae nikahan Sri ojo dilebokne nang ngisor kasur maneh."

Bulik Karto memeluk uang itu di dadanya, mengangguk cepat sambil terus sesenggukan.

Sukma berbalik, meraih stang sepeda onthelnya. Urusan keluarga Karto biar diselesaikan Kardi. Ia langsung mengayuh sepedanya meninggalkan pekarangan kacau itu. Pikirannya sekarang terpusat pada rencana menjual tumpukan padi dari ruang spasialnya besok pagi, menutupi biaya renovasi rumah orang tuanya sebelum ada warga yang curiga.

Di tempat lain, piring seng melayang menghantam dinding kayu rumah utama keluarga Priyanto.

Nasi jagung berhamburan mengotori lantai tanah yang lembap.

Napas Pak Parno tersengal kasar. Dada kerempeng pria tua itu naik turun menahan amarah yang meledak. Matanya melotot menatap anak ketiganya.

"Pisah omah?! Koen wani ngomong pisah omah nang ngarepku?!"

Priyambodo berdiri tegak di ruang tengah. Tas kain lusuh berisi baju-bajunya dan Wati sudah tersampir kuat di bahu kanannya. Pria itu tidak menunduk lagi. Sorot matanya tajam membalas tatapan ayahnya.

Lasmi memukuli pahanya sendiri, meratap palsu di depan pintu kamar.

"Iki pasti gara-gara Sukma! Betina siluman iku sing ngajari Koen ngelawan wong tuo kan?!" Lasmi menunjuk-nunjuk wajah Priyambodo penuh kebencian.

"Sukma iku wes ngentekne harta masmu gae mbangun omah bapakne! Koen malah manut ae dibodohi!"

Pak Parno menghentikan gerakannya. "Sukma mbangun omah?!"

"Iyo, Pak!" Ningsih ikut memanaskan suasana, menyembul dari arah dapur sambil mengelap tangannya ke celemek kotor.

"Tadi pagi aku denger teko bakul sayur. Bapakne Sukma dapet bata merah sama genteng teko pabrik, wis lunas kabeh! Lek ngga nyolong hartanya Trisno sing harusnya gae kene, teko endi maneh?!"

Harga diri Pak Parno sebagai kepala keluarga besar bergejolak hebat, merasa diinjak-injak hingga rata dengan tanah.

Menantu perempuannya berani membawa lari harta suaminya dan memperkaya keluarga asalnya sendiri.

"Bocah kurang ajar! Tak ajar de'e saiki!"

Pak Parno menyambar gagang sapu lidi tebal dari kayu jati di sudut ruangan. Pria tua itu melangkah lebar-lebar keluar rumah, diikuti Lasmi, Ningsih, dan Jamilah yang tersenyum menang di belakang.

"Pak! Mandeg, Pak!" Priyambodo melempar tasnya, berusaha mengejar.

Baru dua langkah, Joko menerjang dari samping. Adik iparnya itu langsung mengunci leher Priyambodo dengan lengannya yang kekar, menyeret kakaknya itu menjauh dari pintu keluar.

"Meneng ae Koen, Mas! Ben wedokan iku sadar!"

Di rumah bata, Sinta terkikik kegelian.

Sukma melilitkan kain katun bermotif bunga ke kepala anak perempuan satu-satunya itu. Tangannya bergerak lincah mengikat simpul kupu-kupu besar di atas kepala Sinta.

"Nah, ayu tenan." Sukma menepuk bahu Sinta pelan.

Sigit dan Gito sudah menggendong tas kain kusam mereka. Syaiful sibuk mengunyah biskuit keras di sudut dipan bambu sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang pendek.

Brak!

Daun pintu depan tertendang lepas dari engsel karatan itu.

Sukma belum sempat memutar tubuhnya sepenuhnya.

Bugh!

Pukulan kayu jati yang keras menghantam kepala belakang Sukma tanpa ampun.

Pandangan Sukma seketika memutih. Rasa sakit yang tajam meledak di dalam tengkoraknya, tepat menghantam titik luka lamanya. Kakinya kehilangan tenaga. Tubuhnya oleng menabrak meja kayu di tengah ruangan, menjatuhkan piring-piring kaleng hingga berhamburan ke tanah.

"Ibuuu!" Sinta menjerit histeris.

Pak Parno mengangkat gagang sapunya tinggi-tinggi. Napasnya menderu kasar seperti banteng liar yang mencium bau darah.

"Wedokan maling! Tak pecah kepalamu saiki lek Koen ndak ngaku nyolong harta keluwargo kene!"

Bugh! Pukulan kedua melayang deras ke arah punggung Sukma. Wanita itu sengaja memutar bahunya, menjadikan tubuhnya tameng demi melindungi Sinta yang menangis meronta-ronta di pelukannya.

Sigit menerjang maju. Anak berusia sembilan tahun itu menubruk kaki kakeknya sendiri dengan tenaga penuh layaknya anjing liar yang melindungi tuannya. Gito ikut melompat, menancapkan giginya kuat-kuat di lengan Pak Parno.

"Ojo pukul ibuku! Kakek jahat!" raung Sigit sekuat tenaga, air matanya bercampur ingus membasahi pipi kotornya.

Di luar pintu, Lasmi berkacak pinggang tersenyum puas. Jamilah dan Ningsih saling menyenggol lengan, kegirangan melihat Sukma tak berdaya di lantai tanah.

Darah segar merembes perlahan dari pelipis Sukma, mengalir hangat melewati sudut matanya. Pandangannya mulai kabur berkunang-kunang.

Jamilah maju selangkah memasuki rumah. Tangannya terjulur, berniat menjambak rambut Sukma yang sudah berantakan.

"Rasain Koen, maling!"

Gagang kayu Pak Parno terangkat lagi, bersiap menurunkan pukulan ketiga.

Satu tangan besar dan kekar mencengkeram ujung sapu itu sekuat tenaga besi.

Cengkeraman itu memutar pergelangan tangan Pak Parno dengan paksa. Terdengar bunyi tulang bergemeretak pelan. Pria tua itu meringis kesakitan, melepaskan senjatanya seketika. Gagang kayu jati itu direbut, lalu dilempar kasar hingga menabrak dinding anyaman bambu dan terbelah dua.

Suasana mendadak hening. Hanya terdengar isak tangis Syaiful yang meringkuk ketakutan di sudut dipan.

"Ojo wani-wani nyentuh bojoku."

Suara bariton itu berat, sangat dingin, membawa aura intimidasi yang langsung membekukan seisi ruangan.

Sutrisno.

Pria itu berdiri menjulang di ambang pintu. Pakaian dinas lapangan lorengnya masih melekat rapi, ransel hijau besar tersampir di satu bahu. Sepatu lars hitamnya dipenuhi debu jalanan. Bau asap kereta api berbaur dengan aroma khas tembakau cengkeh.

Kereta militernya menuju perbatasan baru akan berangkat tengah malam nanti.

Kepulangannya beberapa waktu lalu yang singkat ternyata belum cukup menenangkan batinnya. Instingnya memaksa kakinya mampir sekali lagi sore ini, hanya untuk memastikan rumah batanya benar-benar aman sebelum ditinggal bertugas lama.

Dan inilah yang ia temukan. Neraka di dalam rumahnya sendiri.

Mata Lasmi terbelalak lebar. Tangannya langsung memukul-mukul dadanya sendiri. Air mata palsu keluar secepat kilat.

"Trisno! Anakku! Koen mbalik maneh, Le! Nek Koen ndak mampir saiki, Bapakmu iki wes mati digigit bojomu!" ratap Lasmi melengking menembus telinga.

"Sukma iku wes ngeruki hartamu gae keluwargane dewe! Biyadah tenan wedokan iku!"

Sutrisno tidak menoleh sedikit pun pada ibunya.

Ia memutar tubuh, merendahkan posisinya berjongkok di depan Sukma. Matanya terkunci pada darah kental yang menetes dari pelipis istrinya.

Tangannya yang kasar dan penuh kapalan terulur pelan, mengangkat dagu Sukma. Ibu jarinya mengusap lembut noda darah di sudut dahi wanita itu.

"Sakit?" Suaranya pelan, bergetar menahan sesuatu yang siap meledak.

Sukma menepis pelan tangan pria itu. "Urus bapakmu. Omahku jadi kotor."

Sigit berlari memeluk kaki Sutrisno. Wajah anak sulung itu merah padam menahan amarah dan tangis yang tumpah ruah.

"Bapak! Kakek sama Nenek jahat! Ibu ndak maling! Ibu jualan dewe gae beli beras kita!" raung Sigit, jarinya menunjuk lurus ke arah Lasmi.

Gito ikut mengangguk kuat, air matanya tak kalah deras. "Ibu sing rawat kita kabeh! Nenek biarin kita kelaparan nang kandang kambing! Ojo marahi Ibu!"

Dada Sutrisno bergemuruh kencang. Kepalan tangannya memutih. Laporan surat dari Kades Darman dan Carik Tejo minggu lalu, pemandangan menyedihkan anak-anaknya saat ia pulang diam-diam beberapa hari lalu, dan kekacauan sore ini merangkai satu kesimpulan menjijikkan di depan matanya sendiri.

Keluarganya bukan sekadar mengabaikan anak-anaknya. Mereka berniat menghabisi nyawa istrinya.

Sutrisno bangkit berdiri perlahan. Matanya menatap tajam seluruh anggota keluarganya yang kini mulai beringsut mundur ketakutan melihat aura gelap pria itu.

"Joko nang endi?" Suara Sutrisno memotong udara yang tegang.

Lasmi gelagapan, napasnya tertahan. "Adikmu... adikmu nang omah, Le. De'e loh WIS ngenteni surat sakti teko Koen. Lak Koen janji ate ngekei surat rekomendasi ben Joko iso dadi Carik desa..."

Sutrisno tersenyum sinis. Tangannya merogoh saku dada kemeja lorengnya. Menarik selembar amplop cokelat tebal berstempel resmi kesatuan militer. Amplop yang selama berminggu-minggu ditunggu-tunggu oleh Joko bak jimat penentu masa depannya untuk duduk di kursi pemerintahan desa.

Tanpa berkedip, Sutrisno merobek amplop itu menjadi dua. Lalu empat. Lalu delapan bagian kecil.

Potongan kertas berharga itu ia hamburkan ke udara, jatuh berserakan menutupi lantai tanah yang kotor.

Jamilah menjerit histeris melihat masa depan suaminya hancur berkeping-keping. "Mas Trisno! Opo sing Koen lakokne?! Iku masa depane Mas Joko!"

"Keluarga sing ngegebugi bojoku koyok kewan ndak pantas dadi Carik." Sutrisno menendang sisa kertas di dekat sepatunya.

"Kita kabeh wes pisah Kartu Keluarga. Ojo wani-wani nginjak pekarangan iki maneh, atau bukan cuma impian Joko sing tak hancurno..."

1
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
SENJA
pinter sukma 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!