NovelToon NovelToon
Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ali Rayyan

Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.

Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.

Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Barisan Pertama

Halaman depan aula orientasi Hoshikawa Elite Senior High School kini dipenuhi barisan panjang siswa baru. Petugas sekolah mengarahkan mereka dengan sistematis, memastikan setiap orang berdiri sesuai nomor registrasi sementara yang tertera di gelang identitas digital masing-masing.

Suasana ramai, penuh bisik-bisik, tawa, dan keluhan kecil.

“Panas sekali…”

“Kenapa harus berbaris lama begini?”

“Katanya sekolah elit, tapi tetap saja upacara…”

Sebagian siswa terlihat antusias, sebagian lainnya sudah tampak kelelahan bahkan sebelum orientasi dimulai. Ada yang sibuk memperkenalkan diri, ada yang menilai penampilan siswa lain secara diam-diam, dan ada pula yang hanya menatap layar ponsel.

Di tengah barisan, Douma Amatsuki berdiri santai dengan kedua tangan di saku celana. Posturnya tegap, ekspresinya tenang, sesekali matanya bergerak mengamati gedung-gedung sekolah yang menjulang elegan di sekeliling aula.

Bangunan akademik utama berlapis kaca reflektif, lapangan latihan tampak luas dengan teknologi proyeksi simulasi, dan koridor penghubung antar gedung terlihat seperti fasilitas universitas tingkat tinggi.

“Lumayan,” gumam Douma pelan.

Beberapa siswa yang berdiri tidak jauh darinya melirik diam-diam.

Sejak ia turun dari mobil tadi, perhatian belum benar-benar hilang. Bahkan kini, beberapa siswa senior yang berdiri di balkon lantai dua terlihat ikut mengamati.

Salah satu senior berbisik pada temannya, “Itu dia yang tadi.”

“Yang rambut putih itu?”

“Iya.”

Ketika salah satu dari mereka tanpa sengaja bertemu pandang dengan Douma, jantungnya berdetak aneh. Tatapan Douma tidak marah, tidak agresif, namun entah mengapa terasa seperti tekanan tipis yang sulit dijelaskan.

“Kenapa rasanya… aneh?” gumamnya.

Senior lain mencoba tersenyum meremehkan. “Ah, paling cuma tampang saja. Orang seperti itu biasanya lemah dan suka cari perhatian.”

Namun beberapa detik kemudian, tanpa alasan jelas, ia sendiri justru mengalihkan pandangan lebih dulu.

Perasaan tidak nyaman itu membuat sebagian dari mereka mulai kesal.

“Kenapa kita malah yang ciut?”

“Aura orang itu menyebalkan…”

Tanpa sadar, rasa tidak suka kecil mulai tumbuh—lahir dari campuran iri, gengsi, dan sesuatu yang tidak mereka pahami.

Sementara itu, suara langkah berat terdengar dari sisi aula.

“Baiklah, semuanya!”

Suara lantang menggema sebelum sosoknya terlihat.

Seorang pria berkulit sedikit gelap, bertubuh kekar atletis, berjalan menuju depan barisan sambil memegang pengeras suara portabel. Seragam olahraga sekolah yang ia kenakan memperlihatkan jelas bahu lebar dan lengan kuatnya.

Ia berhenti tepat di depan siswa baru, lalu tersenyum lebar.

“Perkenalkan! Nama saya Ryuji Takamura, pembina khusus olahraga pria di sekolah ini!”

Beberapa siswa langsung bersorak kecil. Energi pria itu terasa sangat berbeda—keras, bersemangat, seperti orang yang benar-benar bersahabat dengan sinar matahari sepanjang hidupnya.

“Wajah saya mungkin agak gelap,” lanjutnya sambil tertawa, “itu karena saya terlalu sering berkencan dengan matahari!”

Tawa spontan muncul dari barisan.

“Baik! Mari kita buat momen ini meriah!” teriaknya.

“YEAHHH!” beberapa siswa laki-laki menjawab dengan semangat.

“Huuu… akhirnya yang seru muncul!”

Sebagian siswa ikut bersorak, sebagian lain hanya menghela napas pasrah, sementara beberapa tetap memasang ekspresi datar.

Di tengah keramaian ekspresi itu, Douma tetap berdiri santai, hanya memperhatikan sesekali tanpa menunjukkan reaksi berlebihan.

Dari sisi kanan aula, sekelompok siswa senior pria yang mengenakan jaket organisasi olahraga sedang berbincang.

“Katanya anak yang rambut putih itu juga siswa baru beasiswa.”

“Serius?”

“Entahlah. Tapi rumor ketampanannya sudah sampai ke klub basket.”

Seorang siswa bertubuh tinggi, berwajah tampan, menyandarkan bahu ke dinding sambil mendengarkan. Rambutnya tertata rapi, aura atletisnya jelas terlihat bahkan saat ia diam.

Namanya Haruto Kanzaki, wakil kapten organisasi basket sekolah sekaligus siswa kelas II-A pria—kelas elit yang hanya diisi siswa dengan prestasi akademik dan non-akademik tertinggi.

“Menarik,” katanya singkat. “Aku ingin melihat sendiri seperti apa dia.”

Kembali ke depan aula, Takamura kembali mengangkat pengeras suara.

“Sebelum kalian resmi menjadi bagian dari sistem kelas di sekolah ini, ada satu hal penting yang harus kalian ketahui!”

Barisan mulai hening.

“Di Hoshikawa Elite High School, kelas tidak dibentuk sembarangan. Semua diurut berdasarkan kemampuan nyata kalian!”

Beberapa siswa langsung menegang.

“Kelas A diperuntukkan bagi siswa yang unggul di bidang akademik dan non-akademik sekaligus.”

“Kelas B untuk mereka yang unggul di akademik.”

“Kelas C untuk mereka yang unggul di bidang non-akademik.”

Suasana mulai berbisik-bisik.

“Serius langsung ditentukan hari ini?”

“Wah, aku belum siap…”

“Bagus! Dari tadi aku menunggu ini!”

Takamura tersenyum lebar, lalu berkata lantang:

“Hari ini kita akan langsung melakukan Aptitude Comprehensive Assessment Test — tes kebolehan terpadu untuk menentukan kelas kalian!”

“WOAH!”

“Sekarang juga?!”

“Menegangkan sekali…”

“Bagus! Tidak perlu menunggu lama!”

Reaksi siswa bercampur—antusias, takut, gugup, dan penasaran.

Douma hanya mengangkat alis sedikit.

“Cepat juga,” gumamnya.

Di sudut area aula, agak jauh dari barisan, seorang gadis duduk tenang di kursi tunggu luar. Ia tidak ikut berdiri bersama siswa lain. Kakinya disilangkan anggun, tangannya memegang tablet tipis, namun matanya sesekali terangkat mengamati barisan.

Namanya Aurelia Kazehaya.

Putri bungsu satu-satunya dari keluarga konglomerat Kazehaya—keluarga yang memiliki saham besar di berbagai perusahaan teknologi, industri energi, bahkan beberapa institusi pendidikan swasta elit. Namanya dikenal luas di kalangan sosialita, dan kehadirannya di sekolah ini saja sudah cukup membuat banyak pihak memperhatikannya.

Namun Aurelia tampak tidak tertarik dengan perhatian.

Wajahnya cantik, mulus, dengan ekspresi tenang hampir dingin. Aura elegan dan percaya dirinya membuat banyak orang secara alami menjaga jarak hormat.

Tatapannya bergerak kembali ke arah barisan siswa.

Berhenti pada satu orang.

Douma Amatsuki.

Ia mengamatinya beberapa detik tanpa ekspresi.

“Sejauh ini… aman,” pikirnya. “Dia tidak berlebihan. Tidak mencoba menarik perhatian.”

Ia memiringkan kepala sedikit.

“Tapi aura orang itu aneh.”

Bukan aura menekan, bukan pula aura sombong—melainkan sesuatu yang terasa terlalu stabil, terlalu tenang, seolah keramaian di sekitarnya tidak benar-benar menyentuhnya.

Aurelia menutup tabletnya perlahan.

“Menarik.”

Di depan aula, Takamura kembali berseru, “Baiklah! Setelah ini kalian akan diarahkan ke area pengujian awal! Tunjukkan kemampuan terbaik kalian!”

Sorakan kembali terdengar.

Beberapa siswa mengepalkan tangan penuh semangat.

Beberapa lainnya menelan ludah gugup.

Sebagian lagi mulai berdoa pelan.

Douma menghela napas kecil.

“Hari pertama langsung tes besar… sekolah ini memang tidak santai.”

Ia melirik ke balkon atas sekali lagi. Beberapa senior masih memperhatikannya. Tatapan mereka kini bukan hanya penasaran—ada sedikit tantangan di dalamnya.

Douma hanya memalingkan wajah tanpa peduli.

Langit di atas aula tampak cerah, namun entah mengapa, bagi sebagian orang yang memiliki insting tajam, hari itu terasa seperti awal sesuatu yang tidak biasa.

Tes penentuan kelas akan segera dimulai.

Dan tanpa seorang pun menyadari sepenuhnya, di antara ratusan siswa baru yang berdiri di sana, terdapat seseorang yang kehadirannya saja sudah cukup untuk mengubah keseimbangan dunia—meski ia sendiri hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!