NovelToon NovelToon
Doa Terakhir Sang Kyai

Doa Terakhir Sang Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.

Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.

Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.

Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.

Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama Yang Tersembunyi

PONDOK — JAM 4 SORE

Pukul empat sore, akhirnya mereka bertiga berkumpul di tajuk.

Aisyah menceritakan semua yang ia dengar ketika berada di rumahnya. Tentang ritual mandikan tumbal malam ini. Tentang ritual pembukaan jalan besok pagi.

Fariz menceritakan apa yang ia lihat. Ayahnya yang dibawa pulang seperti boneka. Mata terbuka tapi pandangannya kosong. Dan melihat bayangan hitam yang mengepung rumahnya.

Rahman mengeluarkan semua tulisan Kyai Salman yang belum dibaca. Menyebarkannya di lantai. Lembaran demi lembaran. Kertas lusuh. Robek. Pudar.

Mereka mulai membaca.

Satu halaman. Dua halaman. Hingga sepuluh halaman.

Mencari petunjuk. Mencari cara. Mencari jawaban.

Tapi tidak ada.

Setengah jam berlalu.

Satu jam.

Satu jam setengah.

Kertas-kertas berserakan di sekeliling mereka. Beberapa sudah dibaca berkali-kali. Beberapa masih belum selesai karena tulisannya terlalu pudar.

"Man, sudah ketemu?"

Fariz bertanya sambil terus membuka setiap halaman. Aisyah membantu di sampingnya. Mencari petunjuk dari buku dan lembaran yang ada di hadapannya.

"Semua tulisan ini hanya mengatakan kalau Kyai Salman selalu kesulitan untuk melawan."

Rahman menjawab sambil membuka satu per satu lembaran yang ada di tangannya. Suaranya lelah. Frustrasi.

"Di sini juga tidak ada jawaban apa pun."

Aisyah menatap buku di tangannya dengan wajah yang pucat. Lelah. Dan hampir putus asa.

Mereka terdiam sebentar.

Hanya suara napas yang berat. Dan suara kertas yang dibalik pelan.

Lalu Fariz mengangkat kepala. Menatap ke luar jendela.

Semburat langit jingga sudah mulai tampak. Matahari perlahan turun. Berganti malam.

Dan malam ini, ritual akan dimulai.

Ia menatap kertas-kertas yang berserakan. Menatap Rahman dan Aisyah yang masih mencoba mencari. Tapi wajah mereka mengatakan hal yang sama.

Tidak ada.

Tidak ada cara yang ditulis Kyai Salman untuk melawan Dewi Kuasa.

Fariz menarik napas panjang. Lalu berdiri.

"Tidak ada waktu lagi." Suaranya keluar lebih keras dari yang ia maksud.

Rahman dan Aisyah mengangkat kepala. Menatapnya.

"Aku harus pulang. Menemui Bapak."

"Iz, tapi—"

"Aku tidak bisa diam di sini sementara Bapak ada di sana sendirian."

Fariz menatap mereka berdua.

"Kalau kita tidak punya cara untuk melawan, maka aku harus ambil tindakan langsung. Aku harus bawa Bapak keluar dari rumah itu sebelum mereka membawanya ke makam."

Rahman berdiri. "Iz, rumahmu dijaga bayangan hitam. Kamu tidak akan bisa masuk."

"Aku harus coba, Man."

Fariz berbalik. Berjalan ke pintu.

"Kalau aku tidak kembali dalam satu jam, kalian datang ke rumahku."

Lalu ia berlari keluar.

Meninggalkan Rahman dan Aisyah yang berdiri di tengah kertas-kertas berserakan.

RUMAH FARIZ

Fariz berhenti dua rumah sebelum rumahnya.

Bersembunyi di balik pagar. Mengintip.

Bayangan hitam masih ada. Berdiri di depan pintu. Mengepung halaman. Lebih banyak dari tadi sore. Seperti pasukan yang siap berperang.

Fariz menarik napas dalam-dalam.

Memberanikan diri.

Lalu melangkah keluar.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Tiba-tiba bayangan-bayangan itu bergerak.

Seperti tertarik oleh sesuatu. Tubuh mereka yang tadinya berdiri tegak, sekarang bergerak ke atas. Seperti asap yang tersedot.

Fariz berhenti. Menatap ke atas.

Kabut di atas rumah berputar lebih cepat. Menarik bayangan-bayangan itu ke dalam pusaran. Lalu menyebarkannya kembali. Menutupi seluruh pekarangan rumah dengan kabut tebal yang warnanya lebih gelap dari sebelumnya.

Fariz mengerti.

Mereka berkumpul. Ritual sudah dimulai.

"Bismillah."

Kata itu terucap dari mulutnya. Bukan karena takut. Tapi karena ia tahu kalimat itu pernah menolongnya. Pernah menyelamatkannya dari serangan supernatural.

Ia melangkah masuk ke dalam kabut.

Begitu kakinya menyentuh halaman rumah, semuanya berubah.

Bisikan terdengar di telinganya. Kata-kata dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Bahasa Jawa kuno. Atau lebih tua dari itu. Nadanya seperti doa. Tapi terasa terbalik. Terasa salah.

Tanah di bawah kakinya berdenyut. Seperti ada jantung yang berdetak di dalam tanah. Perlahan. Teratur. Mengikuti ritme yang membuatnya mual.

Udara berubah kering. Panas. Seperti api yang tidak terlihat menyala di sekelilingnya.

Napasnya sesak. Keringat mulai bercucuran di pelipis. Kakinya gemetar.

Tapi ia tidak berhenti.

Terus melangkah. Menuju pintu. Satu langkah. Satu lagi.

Setiap langkah terasa berat. Seperti ada yang menarik kakinya ke bawah. Seperti tanah mencoba menahannya.

Tapi ia terus maju.

Sampai tangannya menyentuh gagang pintu.

Membukanya.

"Pak!"

Teriaknya saat masuk ke dalam rumah.

Tapi tidak ada jawaban.

"Bapak! Ibu!"

Ia berjalan cepat ke kamar Sucipto. Kosong.

Ke kamar Ratna. Kosong juga.

Ke belakang rumah. Tidak ada siapa-siapa.

Fariz berdiri di tengah rumah. Menatap sekeliling. Napasnya belum teratur. Keringat masih bercucuran.

Lalu ia mendengar sesuatu.

Suara pintu depan terbuka.

Gelak tawa.

Suara Sucipto. Dan Ratna.

Fariz berbalik cepat.

"Bapak!"

Ia berlari ke arah mereka.

Sucipto dan Ratna berdiri di pintu. Tertawa. Seperti baru pulang dari suatu tempat yang menyenangkan.

Tapi ada yang aneh.

Pakaian Sucipto sudah berubah. Tidak lagi mengenakan pakaian serba hitam. Sekarang pakaian biasa. Seperti tidak ada apa-apa.

Dan tatapannya. Mata Sucipto menatap Fariz. Tajam. Terlalu tajam untuk ayahnya yang biasanya lembut.

Fariz berhenti.

Sesuatu tidak beres.

"Pak, ayo kita pergi sekarang."

Ia mencoba menarik tangan Sucipto.

Tapi Ratna tiba-tiba tertawa.

Keras. Mencekam.

Bukan tawa ibunya. Tawa yang berbeda. Tawa yang membuat bulu kuduk berdiri.

Fariz melepaskan tangan ayahnya. Mundur selangkah.

Menatap Ratna.

Wajah Ratna berubah.

Perlahan.

Senyumnya yang tadi terlihat normal, sekarang jadi aneh. Terlalu lebar. Seperti senyum yang dipaksakan oleh sesuatu yang tidak tahu cara tersenyum.

Bola matanya perlahan berubah. Warna putih menyebar. Menutupi iris. Sampai seluruh bola mata jadi putih.

Kulitnya jadi pucat. Seperti darah mengalir keluar dari wajahnya.

Urat-urat di tangannya menonjol. Berwarna kehitaman. Seperti ada sesuatu yang mengalir di dalam yang bukan darah.

Lalu suara keluar dari mulutnya.

Berlapis.

Suara Ratna di luar. Tapi ada suara lain di dalam. Lebih berat. Lebih tua. Lebih dingin.

"Kamu pikir kamu siapa, anak muda?!"

Fariz mundur lagi. Menatap ibunya yang bukan lagi ibunya.

"Lepaskan ibuku!"

Teriaknya sambil menunjuk Ratna.

Tubuh Ratna bergerak. Anggun. Terlalu anggun untuk Ratna yang biasanya sederhana. Seperti gerakan penari istana. Atau putri raja.

Ia berjalan ke sofa. Duduk dengan anggun. Memutar rambut Ratna dengan jari yang urat-uratnya menghitam.

"Mereka memanggilku Dewi Kuasa."

Suara itu bicara pelan. Tapi jelas.

"Tapi itu hanya sebutan untuk yang tidak mengenalku."

Ia tersenyum. Dingin.

"Kamu boleh memanggilku dengan nama asliku."

Jeda sebentar.

"Ratu Kalaputih."

Fariz terkesiap mendengar nama itu.

Ratu Kalaputih.

Nama yang tidak pernah ia dengar di tulisan Kyai Salman. Nama yang tidak pernah disebutkan siapa pun. Nama asli yang selama ini tersembunyi di balik sebutan "Dewi Kuasa".

Selama ini mereka bahkan tidak tahu nama musuh yang mereka hadapi.

"Fariz..."

Ratu Kalaputih berdiri. Berjalan mengelilingi Fariz dengan langkah yang pelan.

"Usiamu masih terlalu muda. Dan kau mudah diperdaya oleh orang yang kau anggap sebagai Kyai?"

Ia tertawa. Keras. Sangat mencekam. Menakutkan. Membuat bulu kuduknya kembali merinding.

"Kalau aku tidak menolong ayahmu, mungkin hari ini kau tidak akan ada di dunia ini."

Fariz menatapnya dengan rahang yang menegang. Tangan mengepal di sisi tubuh.

Lalu Ratu Kalaputih berhenti di depannya. Mengulurkan tangan.

"Ikutlah denganku malam ini, Fariz. Dan kau akan menjadi penguasa berikutnya."

Tatapan Fariz begitu tajam menatap Ratu Kalaputih.

Tidak ada rasa takut sedikit pun.

Tidak ada lagi rasa hangat yang biasanya menjalar di dadanya saat ia takut. Bukan karena perlindungan itu hilang. Tapi karena ia tidak takut lagi.

Ia berdiri di sini dengan mantap. Menatap ibunya yang dirasuki dengan tatapan yang tidak bergetar. Dengan tekad yang tidak goyah.

Kini Fariz, dengan hati yang tenang, meminta pertolongan kepada Sang Maha Kuasa.

"Ya Rabbku... aku berlindung dari godaan iblis yang ada di hadapanku..."

Angin kencang tiba-tiba bertiup di dalam ruangan.

Semua benda berjatuhan. Vas bunga pecah. Bingkai foto jatuh dari dinding. Tirai berkibar liar.

Tubuh Ratna terangkat. Satu jengkal ke atas tanah. Rambut berkibar ke atas. Mata yang putih menatap Fariz dengan marah.

Dan Sucipto yang tadi berdiri diam di samping, tiba-tiba berubah.

Tubuhnya memudar. Jadi asap putih. Lalu menghilang.

Bukan Sucipto yang nyata.

Hanya jin samaran. Anak buah Ratu Kalaputih yang menyamar untuk menjebak Fariz.

"Jangan melawanku, Fariz!"

Suara Ratu Kalaputih mengancam. Lebih keras sekarang. Lebih marah.

Tubuh Ratna bergerak maju. Tangan terangkat. Seperti akan mencekik.

Tapi sebelum tangan itu menyentuh Fariz, suara lain terdengar.

Dari belakang tubuh Ratna.

"Laa ilaha illallah, laa ilaha illallah... wala haula wala quwwata illa billahil aliyyil adziim!"

Rahman.

Berdiri di belakang Ratna dengan tasbih di tangan. Menempelkan tasbih itu ke punggung Ratna.

Seketika tubuh Ratna ambruk.

Jatuh ke lantai. Tidak bergerak.

Fariz berlari mendekat. Berlutut di samping ibunya.

"Ibu!"

Ratna masih bernapas. Wajahnya sudah kembali normal. Mata sudah tidak putih lagi. Urat-urat sudah tidak menghitam.

Hanya pingsan.

Fariz menatap Rahman dengan napas yang terengah.

"Man... dari mana kamu—"

"Aku mengikutimu dari jauh, Iz." Rahman menjawab sambil menarik napas. "Aku kuatir kamu masuk sendirian. Dan ternyata benar. Rumahmu sudah jadi pusat ritual. Aku hampir tidak bisa masuk karena kabut terlalu tebal. Tapi aku dengar suaramu berteriak dari dalam."

Ia memasukkan tasbih kembali ke saku.

"Iz, Bapakmu baru saja pergi menuju makam."

Rahman menatap Fariz serius.

"Sekarang hanya niat dan ketulusanmu yang bisa menggagalkan perjanjian itu."

Ia mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Kertas lusuh yang sudah ia cari sejak tadi sore. Baru ditemukan beberapa menit sebelum ia memutuskan mengikuti Fariz.

Rahman Menyerahkannya kepada Fariz.

Fariz membuka kertas itu dengan tangan yang gemetar.

Membaca tulisan Kyai Salman yang pudar tapi masih terbaca.

"Perjanjian hanya bisa diputus oleh darah yang sama dengan darah yang membuat perjanjian.

Anak dari yang membuat perjanjian harus berdiri di tempat persembahan saat ritual dimulai.

Bukan dengan kekuatan. Bukan dengan ilmu.

Tapi dengan niat yang tulus dan penyerahan penuh kepada Allah.

Berdiri di sana. Dan nyatakan penolakan.

Bukan karena takut kehilangan.

Tapi karena menyerahkan sepenuhnya kepada-Nya.

Hanya itu yang bisa memutus ikatan yang sudah ratusan tahun berjalan."

Fariz menatap kertas itu cukup lama.

Lalu ke Rahman.

"Aku harus ke makam. Sekarang."

Rahman mengangguk. "Aku ikut."

"Tidak, Man." Fariz menggeleng. "Kamu jaga Ibu. Pastikan ia tidak apa-apa."

Ia berdiri. Melirik ibunya yang masih pingsan di lantai.

"Kalau aku tidak kembali dalam dua jam, bawa Ibu ke pondok. Jangan biarkan ia sendirian."

Rahman menatapnya dengan wajah yang khawatir. Tapi ia mengangguk.

Fariz berbalik. Berjalan ke pintu.

Keluar dari rumah. Masuk ke dalam kabut yang masih menutupi halaman.

Menuju makam.

Menuju tempat di mana ayahnya akan dijadikan tumbal.

Menuju tempat di mana ia harus memutus perjanjian yang sudah ratusan tahun mengikat desa ini.

Dengan hanya niat dan ketulusan.

Tidak ada yang lain.

1
Was pray
shalat magrib 2 rakaat? shalat model baru kah?
kang adhie: oalaaah kayaknya aku typo
thx u kak udh remind
aku coba perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!