Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Masih linglung
Acara pernikahan itu selesai setelah akad nikah itu selesai, meskipun jamuan makan siang tetap tersedia di meja tapi sepasang pengantin yang baru saja sah sebagai suami istri itu meninggalkan tempat tersebut.
"Lo bawa motor gue aja, Bel!" Revan melempar kunci motornya dan memilih masuk ke mobil Amel yang sudah stand by di dekat mereka.
"Nggak usah buru-buru, nyantai dulu, kenalan dulu!" ledek Abel sambil cengengesan.
Revan hendak menghajar sahabatnya yang ngomong sembarangan di situasi yang canggung itu.
"Lo nggak papa kan tinggal di rumah kontrakan gue?" tanya Revan sebelum mobil itu melaju.
Amel hanya bisa menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan itu. Sekarang dia baru sadar telah mengambil keputusan gegabah dengan menerima sahabat sepupunya untuk menjadi pengganti Doni.
"Maaf ya gue belum kepikiran beli rumah karena memang awalnya gue belum pengen nikah dalam waktu deket ini!"
"Gue punya rumah kok!" Amel.menyahut.
"Nope, gue laki, gue nggak mau numpang di rumah istri!" Revan menggeleng dan melajukan mobilnya menuju ke rumah kontrakannya.
"Maksud gue, gue nggak masalah kita mau tinggal dimana, gue ngikut aja!" ucap Amel mencoba mengurai masalah yang mungkin saja tercipta tentang tempat tinggal mereka nanti.
"Lo kerja atau masih kuliah?" tanya Amel setelah keduanya terdiam cukup lama.
"Kerja sambil kuliah juga, gue buka warung kopi sederhana sama Abel sama Eza juga!" jawab Revan.
Amel ber-o ria tanpa suara. "Kalau lo?" tanya Revan.
"Gue buka toko home made perhiasan imitasi, berdua sama Sasi!" jawab Amel.
"Sasi kakaknya Abel?"
"Iya, Sasi kakaknya Abel!"
"Oh!" Hanya itu tanggapan yang terlontar dari bibir Revan lalu keduanya kembali terdiam sampai mereka masuk ke dalam pekarangan sebuah rumah yang relatif sederhana tapi terkesan sejuk dan rapi.
"Turun!" perintah Revan sambil turun dari dalam mobil itu.
Amel mengikuti Revan turun dari dalam mobilnya dan membuntuti di belakang Revan.
Revan memasukkan kuncinya di pintu itu lalu mendorongnya hingga pintu itu terbuka sempurna.
"Masuk, gue turunin barang lo dulu!" Revan balik lagi ke mobil itu dan membuka bagasi untuk menurunkan barang bawaan Amel.
Amel memindai rumah itu yang secara keseluruhannya terbilang rapi untuk ukuran pria muda seperti Revan.
"Maaf kalau gue nggak punya banyak perabot karena gue lebih banyak menghabiskan waktu di warkop sana!"
"It's oke, ini cukup kok!" Amel duduk di sofa bed yang terletak di ruang tamu tersebut.
"Di sini cuman ada satu kamar, nanti gue bisa tidur di sofa bed ini!"
Amel mengangguk sekali lagi. "Gue boleh lihat dapurnya?" ijin Amel.
"Boleh!" Revan mengangguk lagi sambil menunjukan dapur mungil yang hanya memiliki beberapa perabot penting di sana seperti gelas, piring dan sendok.
"Nanti kita belanja apa yang lo butuhin, jujur gue nggak pernah masak!" ucap Revan dan lagi-lagi Amel mengangguk.
Amel butuh kopi kalau dia butuh begadang untuk lembur mengerjakan design perhiasan yang dipesan oleh pelanggannya.
Dan Amel juga butuh memasak sarapannya sendiri sebelum dia mulai beraktivitas.
"Aku boleh pakai dapurnya kan?" tanya Amel sambil mencatat beberapa perabot yang dia butuhkan termasuk kulkas yang belum ada di tempat itu.
"Boleh, pakai aja!" jawab Revan.
"Thanks!"
"Um, gue habis ini masih ada kerjaan, kalau lo mau istirahat pakai aja kamarnya. Oh iya sekalian kalau lo mau share lemari gue juga boleh!"
"Iya!" Amel mengangguk lagi.
Lalu Revan hendak pergi meninggalkan rumah itu tapi sebelum dia benar-benar pergi panggilan Amel menghentikan langkahnya.
"Kalau lo mau pakai mobil gue, pakai aja, Van!"
"Nggak usah nanti malah repot soalnya motor gue dibawa Abel kan," tolak Revan.
"Oh, iya!"
Revan melambai kepada Amel setelah dia naik ke boncengan ojek online dan meninggalkan rumah itu.
"Asli canggung banget gue!" Amel menggusah nafasnya kasar saat melihat punggung lebar itu menghilang dari pandangan.
***
"Abel mana?" tanya Revan kepada Kiki yang menjaga warung itu seorang diri.
"Tadi ke belakang sama Eza!" jawab Kiki.
Revan melangkah memasuki kedai kopinya dan langsung menuju ke kedai bagian belakang yang dialih fungsikan sebagai markas mereka.
"Bajingann lo!" Revan menendang pantat Abel yang kebetulan sedang menungging sambil memperlihatkan sebuah video yang dia ambil saat Revan menikahi Amel tadi.
"Astaga, Van! Panttat gue tepos!" Abel tanpa rasa bersalah mengusap panttatnya yang terkena tendangan itu.
"Sepupunya Abel cantik juga ya, tahu gitu gue ikut tadi ke sana!" ucap Eza sambil meringis.
"Ngapain lo ikut kesana?" tanya Revan sambil mendaratkan panttatnya di sofa itu.
"Ya kalau lo nggak mau nikahin dia kan bisa gue gantiin, Van!" jawab Eza santai.
"Bacot!" Revan menendang tulang kering Eza.
Eza meringis lalu mengusap kakinya yang sakit. "Terus ngapain lo ke sini? Kok nggak ngehabisin malem pengantin lo sama bini lo?"
"Gue mau ngerjain proyeknya Pak Attar, deadlinenya mepet banget, gue kudu buru-buru selesaiin!" jawab Revan sambil meraih rokok di atas meja lalu menyalakanya.
"Oh, gue kira lo masih canggung satu atap sama Amel!" Ini yang bicara Abel.
Dengan mata tajamnya Revan melirik Abel dengan tatapan galak. Revan mengakui dia masih canggung berduaan dengan Amel.
Belum pernah bertemu hanya mengenal nama yang kadang sambil lalu disebut Abel dalam ceritanya.
"Tapi gue nggak habis pikir sama di Doni Doni itu, bisa-bisanya main kuda-kudaan sama cewek lain di belakang Amel. Dasar sarap!" maki Eza.
"Ya mungkin tuh laki cari pelarian, soalnya setahu gue Amel tuh lempeng banget kayak jalan tol!" ucap Abel.
"Ya iyalah lo bela-belain, secara dia kan sepupu lo!" celetuk Eza.
"Gue nggak bohong, gue pernah nggak sengaja ngedengerin curhatan dia ke Sasi, katanya batas pacaran dia tuh hanya gandengan tangan dan cium kening!" Abel membela diri.
"Wuih bener-bener langka tuh cewek!" puji Eza.
"Katanya dia sih takut mintanya nambah kalau dia mau dicium-cium gitu!" Abel berkata lagi.
"Tapi emang bener juga sih!"
"Berarti cocok ama lo, Van!" Tiba-tiba Eza menyeletuk.
"Apanya yang cocok?" tanya Revan bingung.
"Masih priwi sama pirjiki!" sahut Eza membuat Revan bangkit dan menganiaya Eza dengan sadisnya.
Ketiganya tertawa bersama sampai sebuah sapaan membuat ketiganya berhenti tertawa.
"Van, gue butuh ngomong sama lo!"