Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.8 Night Whisper yang Pertama
Kami berhenti di tepi sungai kecil itu setelah berlari cukup jauh. Air mengalir pelan di antara bebatuan licin. Lumut hijau tua menempel di permukaan batu. Kabut masih menyelimuti segalanya, tapi sudah mulai menipis sedikit di dekat air. Aku menekan lutut dengan kedua tangan, mencoba mengatur napas yang tersengal. Dada naik-turun cepat. Tenggorokan terasa kering dan sedikit perih karena udara malam yang dingin.
Nyx berdiri di sampingku. Napasnya lebih tenang dibandingkan aku. Tubuhnya yang baru saja berubah terlihat lebih ringan. Ia bisa menjaga kecepatan tanpa terlihat kesulitan. Ekor hitamnya melengkung pelan di belakang. Telinganya berdiri tegak, mendengar sesuatu yang tidak bisa kudengar.
Aku mengusap keringat di dahi dengan lengan baju. Kain seragam sudah lembab karena embun dan keringat. Aku menarik napas dalam-dalam. Udara di dekat sungai terasa lebih segar. Bau tanah basah bercampur lumut. Aku menarik selimut dari bahu, membukanya, lalu menyelimuti bahu Nyx terlebih dahulu sebelum menyelimuti diriku sendiri.
“Kita istirahat di sini sebentar,” kataku pelan. Suaraku masih agak tersengal. “Mereka masih jauh. Kita perlu mengatur napas. Dan kau perlu menjelaskan apa yang terjadi di dalam gua tadi.”
Nyx mengangguk kecil. Ia duduk di batu besar di tepi sungai. Kakinya yang lebih panjang membuat ia bisa menjuntaikan kaki hingga hampir menyentuh air. Aku duduk di sampingnya. Batu itu dingin di pantat, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin duduk. Lutut masih terasa kaku. Aku menggosok lutut kanan dengan tangan kiri secara pelan.
Nyx menatap air sungai. Cahaya perak samar dari matanya memantulkan di permukaan air. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara.
“Di dalam gua… aku bertemu dengan bagian dari diriku yang selama ini tertidur,” katanya pelan. “Ukiran Bulan di tengah ruangan itu… bukan sekadar simbol. Itu adalah pengingat. Cahaya yang tetap menyala di tengah kegelapan. Mama pernah bilang bahwa darah kami bukan kutukan. Itu warisan. Warisan untuk menjaga keseimbangan.
Aku mendengarkan tanpa memotong. Aku hanya menatap air sungai. Permukaannya bergerak pelan. Ada riak kecil setiap kali angin lewat.
Nyx melanjutkan. Ia menyentuh dada sendiri dengan tangan kanan.
“Ketika darahku menyentuh ukiran Bulan itu, aku merasakan aliran. Darahku mengalir lebih cepat. Lebih hangat. Tubuhku terasa berat sejenak. Lalu ringan. Tulang-tulangku seperti memanjang. Otot-ototku seperti menyesuaikan. Aku bisa merasakan tinggi badanku bertambah. Bahuku melebar sedikit. Pinggang menjadi lebih ramping. Kaki menjadi lebih panjang. Semua itu terjadi dalam hitungan menit.”
Aku menoleh ke arahnya. Wajahnya sekarang lebih dekat dengan tinggi bahuku. Sebelumnya aku harus menunduk cukup dalam untuk menatap matanya. Sekarang cukup dengan menoleh sedikit saja.
“Kau bilang masih tiga belas tahun,” kataku pelan. “Tapi tubuhmu… sudah seperti remaja empat belas atau lima belas tahun. Hampir menyamai Cae.”
Nyx mengangguk. Ia menyentuh lengan sendiri.
“Ini hanya sebagian kecil dari potensi penuhnya,” jawabnya. “Guardian of the Night bukan hanya tentang kegelapan. Ada cahaya di dalamnya. Cahaya Bulan yang tetap menyala meski malam paling gelap sekalipun. Kekuatan itu mulai mengalir. Tapi belum sepenuhnya. Tubuhku hanya menyesuaikan agar bisa menampung lebih banyak nanti.”
Aku mengangguk pelan. Aku menggosok tangan. Telapak tangan terasa dingin. Aku hembuskan napas ke telapak tangan. Hangat sebentar. Lalu dingin lagi. Aku menggosok tangan lagi. Lebih keras. Sampai terasa hangat sedikit.
“Kau merasakan apa sekarang?” tanyaku. “Selain tubuh yang berubah.”
Nyx diam sejenak. Ia menutup mata. Ekornya melengkung pelan di belakang. Telinganya bergerak kecil, seolah mendengar sesuatu yang jauh.
“Aku bisa mendengar lebih jelas,” katanya pelan. “Suara angin. Suara air sungai. Suara daun yang bergesekan. Dan… suara langkah kaki. Mereka masih mengikuti. Tapi tidak terlalu dekat. Mereka berhenti di reruntuhan. Seolah sedang mencari sesuatu.”
Aku menoleh ke arah belakang. Kabut terlalu tebal untuk melihat apa pun. Aku hanya mendengar suara air sungai yang mengalir pelan. Dan hembusan angin yang membawa bau asap samar dari kejauhan.
“Kita harus terus bergerak,” kataku. “Tapi kau perlu istirahat dulu. Tubuhmu baru saja berubah. Pasti terasa aneh.”
Nyx menggeleng pelan. Ia berdiri. Kakinya yang lebih panjang membuat ia terlihat lebih tinggi dari sebelumnya. Ia mengulurkan tangan ke arahku.
“Aku baik-baik saja, Kak Ely. Malah terasa lebih kuat. Lebih ringan. Mari kita lanjut. Aku ingin mencoba sesuatu.”
Aku menggenggam tangannya. Tangan yang sekarang lebih panjang dan lebih hangat. Aku berdiri. Lutut masih terasa kaku. Aku menggosok lutut kanan lagi. Lalu mengikuti langkahnya.
Kami berjalan menyusuri tepi sungai. Air mengalir pelan di sebelah kiri. Kabut mulai menipis sedikit. Angin malam menyentuh wajah. Dingin. Tapi tidak lagi menusuk seperti tadi.
Nyx berhenti tiba-tiba. Ia mengangkat tangan kanan. Telapak tangan menghadap ke depan. Matanya menutup. Ekornya melengkung lebih tinggi. Telinganya berdiri tegak.
“Aku… merasakan sesuatu,” bisiknya. “Seperti bisikan. Night Whisper. Kekuatan yang selama ini tertidur.”
Aku berdiri di sampingnya. Aku tidak bicara. Hanya menatap telapak tangannya yang terangkat. Ada cahaya perak samar yang mulai muncul di ujung jari. Cahaya itu berdenyut pelan. Seperti detak jantung kecil.
Nyx membuka mata. Cahaya perak di matanya semakin terang. Ia menarik napas dalam. Dada naik-turun pelan.
“Night Whisper…” bisiknya lagi. “Ini adalah bisikan malam. Kekuatan untuk mendengar apa yang tersembunyi. Melihat apa yang disembunyikan. Dan… berbicara dengan bayangan.”
Cahaya perak di telapak tangannya membesar sedikit. Ia membentuk bola kecil yang berputar pelan. Bola itu tidak panas. Tidak dingin. Hanya terasa… hidup. Seperti ada angin kecil yang berputar di dalamnya.
Aku menatap bola itu. Cahayanya menerangi wajah Nyx. Wajah yang sekarang lebih dewasa. Lebih mirip Cae. Tapi tetap Nyx.
“Kau bisa mengendalikannya?” tanyaku pelan.
Nyx mengangguk. Ia menggerakkan jari. Bola cahaya itu bergerak mengikuti gerakan jarinya. Ia mengangkat bola itu ke atas kepala. Cahaya perak menerangi kabut di sekitar kami. Kabut itu seperti mundur sedikit. Memberi ruang untuk kami bernapas lebih lega.
“Aku hanya bisa sebagian kecil sekarang,” katanya. “Tapi aku bisa mendengar mereka. Mereka berhenti di reruntuhan. Mereka sedang mencari jejak darahku. Mereka tahu aku sudah mengambil kekuatan. Tapi mereka tidak tahu ke mana kita pergi.”
Aku mengangguk pelan. Aku menggosok tangan lagi. Telapak tangan terasa hangat sekarang. Mungkin karena cahaya perak itu.
“Kita harus terus bergerak,” kataku. “Mereka akan menyusul jika kita terlalu lama di sini.”
Nyx mengangguk. Ia menurunkan tangan. Bola cahaya perak itu menghilang perlahan. Namun cahaya di matanya tetap ada. Samarm. Tapi nyata.
“Kita lanjut ke selatan,” katanya. “Ada desa kecil di ujung sungai. Kita bisa istirahat di sana sampai pagi.”
Aku mengangguk. Aku mengikuti langkahnya. Kakinya yang lebih panjang membuat ia bisa berjalan lebih cepat. Aku mempercepat langkah untuk mengimbangi. Lutut masih terasa kaku. Tapi aku tidak mengeluh.
Kami berjalan menyusuri tepi sungai. Air mengalir pelan di sebelah kiri. Kabut mulai menipis sedikit. Angin malam menyentuh wajah. Dingin. Tapi tidak lagi menusuk seperti tadi.
Aku melirik Nyx di sampingku. Tubuhnya yang baru terasa lebih kuat. Lebih mantap. Tapi matanya masih sama. Mata yang selalu mencari aku ketika ia takut. Mata yang sekarang penuh harapan.
“Kau tahu,” kataku pelan sambil berjalan. “Tubuhmu berubah. Tapi kau tetap Nyx. Itu yang membuatku lega.”
Nyx tersenyum kecil. Ia menggenggam tanganku lebih erat.
“Aku tahu, Kak Ely. Dan aku senang kau tetap di sampingku. Meski aku berubah.”
Kami terus berjalan. Malam masih panjang. Tapi kali ini, aku tidak merasa sendirian.
Dan Nyx… Nyx sudah mulai menjadi sesuatu yang lebih.
Night Whisper yang pertama sudah terbangun.
Dan itu baru permulaan.