Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.
Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.
Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Arwah Pertama Muncul
Hujan malam itu tidak sekadar menetes—ia mengguyur dengan ritme yang memekakkan telinga, seolah menabuh drum raksasa di atas desa. Rina berdiri di halaman rumah, tubuhnya basah kuyup, notebook di tangan, pena siap. Ia menatap tanah basah yang telah menjadi papan tulis arwah—nama-nama dan simbol kuno muncul berganti-ganti, seakan memiliki kesadaran sendiri.
Tiba-tiba, tanah di depannya retak. Dari celah-celah itu muncul sosok pertama yang benar-benar nyata: seorang arwah pria muda dengan mata kosong, tubuh basah, dan pakaian compang-camping. Ia berdiri menatap Rina, tapi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Namun aura kemarahannya begitu kuat hingga Rina merasa kakinya menempel di tanah basah.
“H… siapa kamu?” Rina berbisik, suaranya hampir tenggelam oleh hujan deras.
Arwah itu menunjuk ke notebook Rina, kemudian menunjuk dirinya sendiri. Sebuah bisikan terdengar di telinganya—bukan suara dari mulut arwah, tapi langsung masuk ke pikirannya:
"Tuliskan namaku… sebelum hujan menutup segalanya."
Rina menelan ludah. Pena di tangannya bergerak sendiri seakan dipandu oleh energi dari arwah itu. Huruf-huruf membentuk nama pria itu di halaman notebook: “Arman…” Begitu nama itu tertulis, arwah pria itu bergerak lebih dekat, menatapnya dengan intens.
“Kenapa kalian… kenapa harus menulis nama kalian?” Rina bertanya lagi, mencoba memahami.
Bisikan itu menjawab, “Tanah… ingat… hujan… melupakan kami artinya kalian juga akan ikut terseret…”
Rina terdiam. Ia mulai menyadari pola: setiap arwah yang muncul memiliki kaitan dengan nama mereka yang tertulis di tanah basah dan hujan yang terus turun. Tidak menulis nama mereka berarti mereka tidak akan tenang—dan bisa saja mereka menuntut lebih banyak korban.
Tiba-tiba, arwah Arman mengangkat tangan dan menunjuk arah rumah tua di ujung desa. Dalam pandangannya, Rina menangkap bayangan simbol-simbol merah samar yang menempel di tanah dan dinding rumah itu. Pria tua yang ia temui di toko ritual dulu pernah menyinggung simbol itu, tapi malam ini, Rina melihat sendiri bahwa simbol itu adalah kunci untuk menenangkan arwah.
Rina menarik napas panjang. Ia harus bergerak cepat. Arman mendekat, wajahnya kosong tapi penuh penantian, dan hujan yang terus membasahi tubuhnya seolah menyalurkan energi gaib dari tanah ke arwah itu.
“Kalau aku tidak melakukan apa yang kalian mau… apa yang akan terjadi?” Rina bertanya, suaranya bergetar.
Bisikan itu berganti menjadi suara serak dan lebih keras:
"Kau akan melihat lebih banyak dari kami… kau akan merasakan sakit kami… dan hujan ini akan menulis namamu sendiri, jika kau menolak."
Rina merasa tanah di sekitarnya bergetar. Lumpur di kaki-kakinya bergelembung, dan bayangan lain mulai muncul di tepi halaman—arwah lain, lebih samar, menunggu namanya ditulis. Ia menyadari satu hal menakutkan: hujan ini bukan hanya air—ia adalah medium yang menghubungkan dunia orang mati dan dunia manusia, dan ia sedang menulis takdirnya sendiri.
Dengan keberanian yang tersisa, Rina menunduk, menulis nama Arman dan simbol yang muncul di pikirannya dengan cermat di notebook. Begitu selesai, hujan di sekelilingnya terdengar sejenak menenangkan, arwah itu tersenyum samar, lalu perlahan memudar ke dalam tanah, meninggalkan Rina sendiri, basah dan gemetar.
Malam itu Rina belajar sesuatu yang mengerikan: menulis nama bukan sekadar ritual—ia adalah satu-satunya cara untuk berkomunikasi dan menenangkan arwah. Dan semakin lama ia menunda, semakin banyak arwah yang akan muncul, masing-masing menuntut untuk diakui, untuk disebutkan, untuk ditulis.
Saat Rina kembali ke rumah, tubuhnya menggigil bukan hanya karena hujan, tapi karena kesadaran bahwa kutukan ini jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan. Dan malam ini hanyalah permulaan.
Di jendela rumah, bayangan wanita berambut panjang muncul lagi, menatapnya diam-diam. Kali ini, matanya penuh peringatan: “Rina… semakin lama kau menunda, semakin banyak yang akan menunggu…”
***
Hujan tidak berhenti selama tiga hari berturut-turut.
Rina tahu itu bukan kebetulan.
Air mengalir di selokan seperti urat nadi desa, membawa lumpur, daun mati, dan sesuatu yang lebih berat—aroma busuk yang tidak berasal dari bangkai hewan. Setiap kali hujan turun, tanah di halaman rumahnya selalu berubah. Bekas nama Arman yang telah ditulis di notebook tidak lagi muncul, tetapi nama-nama baru mulai menekan permukaan tanah, seperti ingin keluar.
Rina duduk di lantai ruang tamu, dikelilingi lilin-lilin kecil. Notebook terbuka, penuh coretan simbol, nama, dan tanggal kematian yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Tangannya pegal, matanya perih, tapi ia tidak berani tidur.
Karena setiap kali ia memejamkan mata—
—ia mendengar mereka.
Bisikan itu datang dari bawah lantai.
“Belum… belum semua…”
“Kami masih di sini…”
“Jangan salah tulis…”
Rina menutup telinganya, tapi suara itu tidak berasal dari udara. Ia datang dari dalam kepalanya sendiri.
Tiba-tiba, ketukan terdengar dari pintu belakang.
Tok.
Tok.
Tok.
Bukan ketukan manusia. Terlalu pelan. Terlalu teratur.
Rina berdiri perlahan, mengambil payung meski berada di dalam rumah—sebuah refleks bodoh, tapi ia butuh sesuatu untuk dipegang. Saat pintu dibuka, hujan langsung menyambutnya bersama sosok pria tua yang pernah ia lihat sebelumnya—yang memperingatkannya di halaman.
“Kau sudah menulis satu,” kata pria itu tanpa basa-basi. “Sekarang mereka tahu kau bisa mendengar.”
“Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini?” Rina hampir berteriak. “Kenapa hujan? Kenapa tanah?”
Pria itu melangkah masuk tanpa izin. Ia membuka sepatu, meninggalkan jejak lumpur berbentuk simbol aneh di lantai kayu.
“Karena dulu,” katanya pelan, “desa ini menulis dosa di tanah, bukan di ingatan.”
Rina membeku.
Pria itu duduk, menatap notebook Rina, lalu mengangguk pelan. “Kau sudah melanggar satu aturan.”
“Apa?” Rina panik.
“Kau menulis nama tanpa tahu akhir ceritanya.”
Lampu ruang tamu berkedip. Dari balik dinding, terdengar suara seperti kuku menggaruk kayu.
Pria tua itu melanjutkan, suaranya dingin: “Dengar baik-baik. Kutukan ini punya aturan. Tidak tertulis. Tapi dilanggar, kau mati—perlahan.”
Ia mengangkat satu jari.
“Pertama. Jangan menulis nama sebelum hujan turun. Arwah hanya bisa dipanggil saat tanah basah.”
Dua jari.
“Kedua. Jangan pernah menulis nama arwah yang belum siap pergi. Mereka akan menempel padamu.”
Tiga jari.
“Ketiga—dan yang paling penting—jangan pernah menulis namamu sendiri.”
Darah Rina terasa mengalir mundur.
“Ada yang pernah melakukannya?” tanyanya lirih.
Pria itu menatap lantai. Lama. Terlalu lama.
“Ya. Dan desa ini masih membayarnya.”
Tiba-tiba, suara tangisan perempuan pecah dari dapur. Rina menoleh—air mengalir dari sela-sela lantai, membentuk genangan kecil. Dari genangan itu, muncul bayangan wajah seorang perempuan—wajah yang sama dengan yang sering ia lihat di jendela.
“Dia yang pertama,” kata pria tua itu. “Yang menulis semua nama… saat hujan paling panjang.”
Bayangan itu menatap Rina dan membuka mulutnya.
Bukan untuk berteriak.
Tapi untuk berbisik:
“Kau hampir seperti aku…”
Notebook Rina jatuh ke lantai, terbuka pada halaman kosong terakhir. Perlahan—tanpa disentuh siapa pun—pena bergerak sendiri.
Menulis satu huruf.
R
Rina menjerit.
Pria tua itu menghantam pena hingga patah. Hujan di luar berhenti sejenak.
“Hati-hati,” katanya tegas. “Mereka sudah mulai menulis balasan.”
Malam itu, Rina mengerti satu hal yang mengerikan:
Kutukan ini bukan hanya meminta nama orang mati.
Ia perlahan menyiapkan nama orang hidup.
Dan hujan… adalah waktunya.