NovelToon NovelToon
Suami Mafiaku

Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:CEO / Action / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Black Rose Operation

Udara malam di pelabuhan tua itu terasa asin dan menggigit. Jennie berdiri di dermaga yang sepi, cahaya lampu kuning yang berkedip-kedip memberikan kesan dramatis pada gaun hitam yang ia kenakan. Di balik ketenangannya, ia tahu bahwa ribuan pasang mata mungkin sedang membidiknya dari kegelapan gudang-gudang kontainer.

Ia tidak membawa senjata api secara terbuka, hanya sebuah pemancar kecil di telinganya dan pisau lipat yang tersembunyi.

"Aku sudah di posisi, Lim," bisik Jennie pada mikrofon tersembunyi.

"Tim Alfa sudah mengepung area luar. Hans berada di gedung sebelah barat dengan sniper. Jangan lakukan gerakan gegabah, Jennie. Jika ada yang salah, segera tiarap," suara Limario terdengar berat dan penuh kecemasan di telinganya.

Tiba-tiba, suara tepuk tangan menggema dari balik kontainer biru yang besar. Vasco muncul, tidak lagi mengenakan setelan jas pesta, melainkan jaket taktis militer. Ia tidak sendirian; sepuluh orang bersenjata lengkap mengelilinginya.

"Keberanianmu luar biasa, Nyonya Vincentius," puji Vasco dengan senyum sinisnya yang khas. "Atau haruskah aku menyebutnya keputusasaan seorang ibu?"

Jennie melangkah maju, dagunya terangkat tinggi. "Kau menginginkan aku, Vasco. Kau pikir aku bisa memberikanmu kejayaan karena aku tahu apa yang akan terjadi. Lepaskan obsesimu pada anak-anakku, dan kita bisa bicara."

Vasco tertawa terbahak-bahak. "Kau pikir aku hanya menginginkan ramalanmu? Tidak, Jennie. Aku menginginkan kehancuran garis keturunan Vincentius yang telah mengkhianatiku dulu. Tapi... ada satu hal yang membuatku penasaran. Bagaimana rasanya mengetahui bahwa orang yang paling kau percayai di jaringan The Rose-mu adalah orang yang memberiku kunci masuk ke mansionmu?"

Jantung Jennie seakan berhenti berdetak. Ia mencoba tetap tenang. "Jangan mencoba mengadu domba, Vasco. Jaringanku bersih."

"Benarkah?" Vasco mengeluarkan sebuah tablet dan memutar sebuah rekaman suara.

Di dalam rekaman itu, suara seorang wanita terdengar sangat jelas sedang memberikan koordinat jalur pelarian anak-anak: "Anak-anak akan lewat jalur dapur pukul 20.15. Pastikan ledakan itu cukup untuk memicu kepanikan."

Jennie membeku. Itu suara Siska, asisten pribadinya di jaringan The Rose. Orang yang ia selamatkan dari kemiskinan dan ia anggap sebagai tangan kanannya.

"Lim... Siska... dia pengkhianatnya," bisik Jennie dengan nada bergetar ke arah mikrofon.

Tidak ada jawaban dari Limario. Hanya suara statis yang terdengar.

"Lim? Limario, kau dengar aku?" Jennie mulai panik. Ia menyentuh pemancar di telinganya, namun benda itu terasa panas.

Vasco menyeringai. "Sinyalmu sudah aku blokir sejak lima menit yang lalu, Jennie. Limario sekarang sedang sibuk menghadapi 'kejutan' kecil di titik Alpha. Kau sendirian di sini."

Tiba-tiba, Siska keluar dari kegelapan di belakang Vasco. Wajahnya tidak lagi terlihat ramah seperti biasanya. "Maafkan aku, Nyonya. Tapi Vasco menjanjikan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh Vincentius: Kebebasan dari dunia hitam ini."

"Kau menjual anak-anakku demi kebebasan?" desis Jennie. Matanya berkilat dengan amarah yang murni. "Kau membuat kesalahan besar, Siska."

Sementara itu, di sebuah rumah aman yang dirahasiakan, Kenzhi sedang duduk di samping tempat tidur Arkano yang terlelap. Tiba-tiba, pintu kamar didobrak oleh dua orang pria bertopeng.

Kenzhi tidak berteriak. Ia teringat kata-kata ayahnya: "Jangan biarkan mereka membuatmu jatuh di lantai lagi."

Saat pria pertama mencoba meraihnya, Kenzhi yang baru berusia 8 tahun itu merunduk dengan gerakan balet yang lincah. Ia mengambil pisau pemberian Limario dari balik bantalnya dan menyabet paha pria itu dengan akurasi yang mengejutkan.

"ARGH!" pria itu terjatuh.

Kenzhi segera menekan tombol darurat di dinding. "Hans! Ada penyusup di sektor C!" serunya melalui interkom kamar.

Hans, yang ternyata sengaja disiapkan Limario sebagai cadangan di rumah aman (bukan di pelabuhan seperti yang dipikirkan Vasco), segera masuk dan menghabisi para penyusup. Hans menatap Kenzhi dengan bangga. "Kerja bagus, Nona Muda."

Kembali ke pelabuhan, Vasco merasa sudah menang. Ia memberi isyarat pada anak buahnya untuk mendekati Jennie. "Tangkap dia. Bawa dia ke kapal."

Namun, Jennie justru tersenyum tipis. "Vasco, kau bilang aku bisa melihat masa depan? Ada satu hal yang tidak kau tahu tentang masa depanku yang sekarang."

"Apa itu?" tanya Vasco curiga.

"Aku bukan umpan yang lemah. Aku adalah peledaknya."

Jennie menekan tombol di jam tangannya. Tiba-tiba, lampu sorot dari kapal-kapal kontainer di sekitar mereka menyala serentak, menyilaukan mata pasukan Vasco. Dari dalam kontainer-kontainer yang tadinya dianggap kosong, puluhan pasukan elit pimpinan Limario keluar dengan senjata terhunus.

Limario berjalan keluar dari kegelapan, memegang senapan serbu. "Kau pikir aku akan membiarkan istriku sendirian? Aku sudah tahu tentang Siska sejak dua jam yang lalu, Jennie. Kami membiarkannya memberikan informasi palsu tentang keberadaanku."

Limario menembak kaki Siska tanpa ragu, membuat wanita itu jatuh tersungkur. "Pengkhianat tidak punya tempat di keluargaku."

Vasco yang terpojok mencoba menarik pelatuk pistolnya ke arah Jennie, namun sebuah peluru dari sniper jauh menembus bahunya terlebih dahulu.

"Ini untuk Kenzhi," gumam Limario sambil berjalan mendekati Vasco yang terjatuh.

Limario melangkah mendekat, sepatu boot-nya berderap di atas beton pelabuhan yang basah. Ia berdiri di antara Jennie dan Vasco yang kini tak berdaya. Amarah yang sedingin es terpancar dari wajahnya.

"Lim, cukup," ucap Jennie pelan sambil menyentuh lengan suaminya. Ia bisa merasakan otot-otot Limario yang tegang, siap untuk menghabisi Vasco detik itu juga. "Kita butuh dia hidup-hidup untuk tahu siapa yang berdiri di belakang The Serpent's Hand."

Limario menurunkan moncong senjatanya, namun ia menendang pistol Vasco menjauh ke laut. "Bawa dia ke ruang bawah tanah markas pusat. Pastikan dia tidak mati sebelum bicara," perintah Limario pada pasukannya.

Siska, yang mengerang kesakitan karena luka di kakinya, menatap Jennie dengan air mata yang bercampur dengan rasa benci. "Kau... kau selalu punya segalanya, Jennie. Kau menyelamatkanku hanya untuk menjadikanku bayanganmu!"

Jennie menatap mantan asistennya itu dengan tatapan datar. "Aku tidak pernah menjadikanmu bayangan, Siska. Aku menjadikanmu tangan kananku. Tapi kau memilih untuk menjadi tangan kiri iblis." Jennie berbalik, tidak sudi menatap Siska saat Hans menyeret wanita itu pergi.

Dalam perjalanan pulang di dalam mobil lapis baja, suasana sangat sunyi. Limario menggenggam tangan Jennie erat-erat, seolah takut jika ia melepasnya, Jennie akan menghilang.

"Hans baru saja melaporkan situasi di rumah aman," kata Limario memecah keheningan. "Kenzhi... dia melukai salah satu penyusup untuk melindungi Arkano."

Jennie tersentak. "Dia terluka?"

"Secara fisik, hanya goresan. Tapi secara mental..." Limario menghela napas berat. "Dia tidak menangis, Jennie. Dia justru bertanya pada Hans apakah dia bisa belajar cara memegang pisau dengan lebih benar."

Hati Jennie mencelos. Inilah yang paling ia takutkan. Ia kembali ke masa lalu untuk memberikan anak-anaknya kehidupan yang damai, namun dunia gelap ini seolah terus menarik mereka masuk.

Sesampainya di rumah aman, Jennie langsung menuju kamar Kenzhi. Ia menemukan putri kecilnya yang berusia 8 tahun itu sedang duduk di tepi tempat tidur, menatap pisau perak pemberian ayahnya yang kini tergeletak di atas meja nakas.

"Kenzhi..." panggil Jennie lembut.

Kenzhi menoleh. Wajahnya yang cantik tampak pucat di bawah lampu tidur. "Mummy... tadi orang itu ingin mengambil Arka. Aku hanya ingat kata Daddy, aku tidak boleh membiarkan siapa pun menyentuhnya."

Jennie memeluk putrinya erat, mencium rambutnya yang masih beraroma debu mesiu. "Kau melakukannya dengan sangat baik, Sayang. Mummy bangga padamu."

"Mummy," suara Kenzhi bergetar untuk pertama kalinya malam itu. "Apakah aku orang jahat karena aku tidak merasa takut saat melukainya? Aku merasa... jika aku tidak melakukannya, kita semua akan mati."

Jennie terdiam. Pertanyaan itu menghunjam jantungnya. Di usia 8 tahun, Kenzhi sudah memahami hukum rimba dunia mereka. Jennie menatap ke arah pintu, di mana Limario berdiri dalam bayang-bayang, mendengarkan percakapan mereka dengan raut wajah yang sulit diartikan.

Satu jam kemudian, telepon Limario bergetar. Sebuah pesan video dari tim interogasi di markas pusat masuk. Dalam video itu, Vasco yang sudah babak belur tertawa kecil ke arah kamera.

"Kau pikir ini sudah berakhir, Limario? Aku hanyalah pembuka jalan. Ayahmu tidak hanya meninggalkan janji darah denganku. Dia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar di sebuah brankas di Swiss. Sesuatu yang akan membuat istrimu yang 'bisa melihat masa depan' itu gemetar ketakutan. Cari tahu tentang Proyek Chronos... dan kau akan tahu kenapa Jennie Ruby Jane benar-benar ada di sini."

Jennie yang ikut melihat video itu merasa seluruh tubuhnya mendingin. Proyek Chronos? Nama itu tidak pernah ada dalam ingatannya yang dulu.

"Lim... apa itu Proyek Chronos?" tanya Jennie dengan suara bergetar.

Limario menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. "Itu adalah nama penelitian rahasia yang didanai ayahku sebelum dia meninggal. Penelitian tentang manipulasi kesadaran dan... memori waktu."

Jennie menutup mulutnya. Mungkinkah kembalinya dia ke masa lalu bukan sebuah keajaiban ilahi, melainkan hasil dari eksperimen manusia yang gelap?

1
Gustinur Arofah
sangat menakjubkan ceritanya, syukaa🤗🤗🤗🤗
Ratna Wati
Ini Ceritanya Masih Lanjut Ngga?
Rubyred
ceritanya menarik aku suka lanjut
Rubyred
cerita yang menarik dan bagus penuh intrik dan misterius
Umi Zein
mummy Kya mayat yg di awetkan. /Shy//Shy/mommy lebih baik panggilan nya/Chuckle//Smile/
Umi Zein
looh kan udh balik dr RS. kok Ruang VIP RS?!😂😂
Umi Zein
Kaka judulnya bisa bahasa Indonesia aja gak?!😭😭 soalnya aku syediih karna gak ngerti🤣🤣🤣
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan alurnya tidak bertele-tele, penulisan rapi jd enak bacanya🤗🤗🤗🤗
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan satset tanpa bertele-tele, jd setiap baca slalu deh degan dan tidak mudah di tebak alurnya🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!