NovelToon NovelToon
Cuz I'M Your Home

Cuz I'M Your Home

Status: tamat
Genre:Menjadi Pengusaha / Cintamanis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:659
Nilai: 5
Nama Author: Hyeon Gee

Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

If you are tired and exhausted

and you need someone else

I will be there, I’ll treat you well so you can rest

I will stand behind you (Lirik Lagu U-Kiss - Love of A Friend)

Mendengar nada dering dan melihat nomor yang tertera di panggilan Whattsup-nya, Echa langsung meletakkan pisau dan meninggalkan pekerjaannya memotong daging.

“Halo, selamat siang. Kenapa, Pak?”

Usai menjauh dari kerumunan keluarganya yang tengah membantu di rumah mereka untuk acara malam kedua meninggal suaminya, dia menerima panggilan dari atasannya.

“Gak. Kemaren ada Kakakmu ke kantor Bapak. Dia bilang, kamu mau pensiun dini dari PNS-mu karena mau ikut dia ke Korea. Ini sudah yakin? Soalnya surat pengunduran dirimu sudah Bapak pegang. Tapi, lebih dari itu Bapak terima kasih untuk hadiah yang kamu kasi buat bantu nikahan anak Bapak,” jelas suara dari seberang.

“Ka…kak?” ucapnya setengah berbisik.

Ada kebingungan berkecamuk dalam pikirannya. Ada takut dan gelisah yang ia rasakan. Kata-kata surat pengunduran diri dan pensiun dini membuatnya sangat gelisah karena dia pun saat itu memiliki tunggakan pinjaman bank untuk membantu ekonomi keluarganya.

“Pa, Pak, maaf, kalau boleh tau Kakak saya namanya siapa yang menyerahkan surat pengunduran diri saya kemaren, Pak?” tanyanya gugup.

“Yosua.”

“Yo, Yosua?”

“Iya. Kakakmu Yosua. Orangnya ganteng banget, sampai anak-anak heboh. Hahaha…”

Tawa renyah atasannya tidak sedikitpun membuat Echa merasa tenang.

“Mmm…Pak. Saya, kan, masih ada ijin cuti sampai besok, ya, Pak. Boleh, kah, membahas soal ini waktu saya nemuin Bapak lagi? Saya merasa gak enak sebenarnya nyerahin suratnya lewat Kakak saya.”

“Iya, boleh. Gak apa-apa. Bapak mohon maaf gak bisa ngasi apa-apa, ya. Cuma bisa turut mendoakan.”

“Iya, Bapak. Terima kasih banyak. Saya tutup dulu, Pak. Selamat siang.”

“Oh! Iya, siang.”

Sejenak, usai telepon tertutup, Echa mengutak-atik ponsel dan menekan nomor Garra di aplikasi Cocotalk-nya.

“Hmm? Halo?”

Tampak sesaat Echa meneguk ludah kuat saat mendengar suara serak dan berat Garra. Sudah berapa tahun sejak terakhir mereka saling berkomunikasi melalui telepon dan kali ini, rasa gugup tiba-tiba menyelimutinya.

“K, Ko…eh! Anu, Gar, kamu punya temen yang namanya Yosua?”

Di sisi lain, Garra yang baru bangun dari tidurnya tidak langsung menjawab pertanyaan Echa.

“Bentar, Cha. Aku baru bangun.”

“Oh! I, iya. Aku matikan aja, ya, dulu. Kamu beres-beres aja du…”

“Gak usah. Nyantai, Cha. Bentar, aku nyari bajuku dulu.”

Di pihak Echa sendiri merasa tidak nyaman saat Garra mengatakan tentang mencari baju. Otaknya membayangkan hal yang sebenarnya tidak ingin dia bayangkan sampai ia menepuk-nepuk cukup kuat pipinya.

“Oh! Halo, Cha? Udah,” panggil Garra.

Garra melangkah ke dapur dengan kaos hitam tanpa lengan yang baru saja ia kenakan, dia menenteng ponsel dan mengenakan earphone bluetooth.

“Cha? Halo?”

“Oh! Iya, halo, Ko..eh, Gar. Iya.”

Sesaat Garra tertawa geli mendengar sahutan Echa usai ia meneguk air es-nya.

“Apa, Me?”

“Heh! Aku gak sengaja.”

“Iya, iya. Kenapa?” sahut Garra yang masih tersenyum geli.

“Gak. Kamu punya temen namanya Yosua, kah? Aku di telepon atasanku di rumah sakit barusan. Katanya, ada orang ngaku Kakakku, namanya Yosua, dia nyerahin surat pengunduran diri atas namaku,” jelas Echa yang terdengar memelas, “Gar, kalo ini memang kerjaanmu, tolong dipikir ulang. Aku masih ada tunggakan bank 150 juta dengan gadai SK. Belum angsuran kecil lain yang totalnya hampir 50 juta. Suamiku sudah gak ada, mau aku kasi makan apa anakku. Rouwheen masih kec…”

“Nikah sama aku,” ujar Garra datar.

“Ni, nikah? Gar, gila kamu. Kuburan suamiku bahkan belum ke…”

“Kamu gak punya pilihan, Cha. Seluruh hutangmu yang totalnya hampir 250 juta itu sudah kubayar lunas.”

“Lu, lunas? Kamu lunasin semuanya tanpa ngomong apa-apa sama aku?”

Ada nada sedih serta kesal yang tertahan, terdengar dari suara Echa yang membuat Garra sesaat memejam, seakan ia bisa merasakan apa yang Echa rasakan detik itu.

“Aku tutup teleponnya. Aku gak mau benci kamu. Tapi, kasi aku waktu.”

TUUUT!

“Haaa…”

Garra terlihat tenang, ia menarik salah satu kursi meja makan dan duduk sambil menikmati sisa air es-nya serta memandangi matahari pagi yang sudah memanjat cukup tinggi.

“Aku gak mau maksa. Tapi, aku tau kamu gak bisa lari kalo soal balas budi, Me. Haaa…”

Sejenak, ia mengutak-atik ponsel, menyalakan musik dan beranjak dari kursi menuju halaman rumah. Dilihatnya Min Gyu dan Joo Heon sudah sangat berkeringat.

“Bangun cukup siang hari ini, Bosku?” sindir Min Gyu.

“Cih,” cibir Garra yang langsung merebut dumbbell yang dipegang Joo Heon, “padahal aku mau ngomong sendiri hari ini. Tapi, malah keduluan orang itu.”

“Siapa?” tanya Joo Heon.

“Marwan,” sahut Garra dingin.

Tampak Joo Heon meneguk ludah kuat, firasatnya yang mengatakan jika mereka melakukan sedikit kesalahan membuatnya hanya bisa tertunduk.

“Echa bilang, orang itu hubungin dia. Aku gak tau apa yang dia bahas sama orang itu tapi, dia nanya, kenal atau gak sama Yosua.”

“Haaa…nanti aku bereskan.”

Ucapan Min Gyu yang berusaha menengahi membuat Joo Heon sedikit lega.

“Aku gak nyalahkan kalian tapi, aku selalu bilang, apapun yang menyangkut dia, aku mau kita gerak hati-hati. Aku mau dia tau dari aku, biar aku yang jelaskan semua. Bukan dari orang lain. Dia benci sesuatu yang kaya gitu.”

“Ya, tapi, gimana, orang itu yang bikin masalah. Gak mungkin Yeon Jun ngelakuin kesalahan. Dia orang yang detail. Kamu kenal kita semua. Bahkan lebih dari diri kita sendiri,” ujar Min Gyu penuh harap.

“Ma, maaf, Kak,” ujar Joo Heon penuh sesal.

“Nasi udah jadi Bubur. Aku nemuin Echa dulu. Masalah orang itu kita tunggu keputusan Echa aja. Kalian tolong urus proses pembangunan klinik sama pelatihan anak-anak itu nanti kalo mereka setuju.”

Segera keduanya menggangguk singkat dan hanya memandangi langkah Garra yang sudah berjalan ke kamar mandi.

1
Amiera Syaqilla
beautiful story💕
goyangi13: thank u 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!