Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 anjing liar menyalak di depan pintu
Kayu Besi terbakar dengan tenang di dalam tungku batu yang retak. Tidak ada percikan liar, tidak ada asap hitam yang menyesakkan. Hanya nyala api biru kemerahan yang stabil, memancarkan gelombang panas yang merambat perlahan ke seluruh penjuru Aula Utama.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aula itu terasa hangat.
Su Lang duduk bersila di depan tungku. Matanya menatap lidah api yang menari, tetapi pikirannya melayang jauh. Di luar, angin malam menderu, mencoba menembus dinding kayu, namun kehangatan dari Kayu Besi seolah membentuk perisai tak kasat mata.
Tubuhnya yang lelah menjerit minta diistirahatkan. Otot-otot punggungnya yang tegang karena menyekop salju seharian kini mulai mengendur, memberikan sensasi nyaman yang membuai. Kelopak matanya terasa seberat timah.
Namun, Su Lang tidak tidur.
Di tangannya, dia menggenggam sekop kayu yang ujung besinya sudah ia asah sedikit menggunakan batu gerinda di dapur tadi sore. Itu bukan senjata. Itu alat tani. Tapi malam ini, itu adalah satu-satunya perpanjangan tangannya.
Peringatan Lin Xiaowan terngiang di kepalanya seperti lonceng kematian. Sekte Besi Hitam.
Mereka adalah sekte "Jalan Ortodoks" di atas kertas, tetapi cara kerja mereka tidak berbeda dengan bandit. Mereka merekrut preman desa, mengajari sedikit teknik penguatan tubuh kasar, lalu melepaskan mereka untuk memeras desa-desa di kaki gunung atas nama "uang perlindungan".
Sekarang, gurunya sudah mati. Harimau tua di gunung telah pergi, dan anjing-anjing liar mulai mencium bau daging segar.
Krak.
Suara itu pelan. Sangat pelan. Bukan suara angin yang menghantam dinding, bukan pula suara kayu bakar yang meletup. Itu suara salju yang dipijak.
Su Lang seketika menahan napas. Kantuknya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh adrenalin dingin yang membanjiri pembuluh darahnya.
Dia mematikan satu-satunya lentera minyak di sampingnya. Kegelapan total menyelimuti aula, kecuali pendar samar kemerahan dari celah tungku. Dia mundur perlahan, menyatu dengan bayang-bayang di balik pilar utama penyangga atap.
Langkah kaki itu semakin dekat. Bukan satu orang. Dua orang. Langkah mereka berat, tidak disembunyikan. Mereka tidak merasa perlu menyelinap. Siapa yang perlu menyelinap masuk ke kandang domba yang tak berdaya?
"Bangunan ini masih berdiri?" Sebuah suara kasar terdengar dari luar pintu utama. Nadanya penuh cemoohan. "Aku pikir salju kemarin sudah merubuhkannya."
"Jangan banyak bicara, Zhao Hu," suara kedua menimpali, lebih serak dan berhati-hati. "Cari mayat orang tua itu, pastikan dia benar-benar mati. Lalu cari plakat sekte dan surat tanahnya. Ketua ingin kita menguasai mata air spiritual di belakang gunung besok pagi."
Bam!
Pintu utama aula ditendang terbuka. Engsel tua yang berkarat menjerit kesakitan sebelum menyerah, membiarkan pintu itu menghantam dinding dengan keras. Angin salju berhembus masuk, membawa serta dua sosok manusia yang berdiri di ambang pintu, siluet mereka diterangi cahaya bulan yang pucat.
Zhao Hu berbadan besar, mengenakan rompi kulit beruang yang tidak bisa menutupi perut buncitnya. Di pinggangnya tergantung sebuah golok besar. Temannya, yang lebih kurus, memegang sebuah obor api.
Mereka melangkah masuk. Salju yang menempel di sepatu bot mereka mengotori lantai yang baru saja dibersihkan Su Lang kemarin.
"Kosong?" Zhao Hu menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. "Hei! Tikus kecil Su Lang! Keluar kau! Pamanmu Zhao datang membawakan salam!"
Suaranya menggema, memantul di dinding-dinding kosong.
Su Lang tidak bergerak. Dia menekan punggungnya ke pilar kayu yang dingin. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga dia takut suaranya akan terdengar oleh mereka. Dia tahu tingkat kekuatan mereka.
Mereka bukan kultivator sejati yang bisa memanipulasi Qi. Mereka berada di ranah Body Tempering (Penempaan Tubuh). Zhao Hu mungkin berada di Tahap 3, memiliki kekuatan setara dua ekor sapi jantan. Temannya mungkin Tahap 2.
Bagi kultivator tingkat tinggi, mereka adalah sampah. Bagi Su Lang yang masih manusia biasa, mereka adalah monster yang bisa mematahkan lehernya dengan satu tangan.
"Ada api," si kurus menunjuk ke tungku. "Masih hangat. Dia ada di sini."
Zhao Hu menyeringai, memperlihatkan gigi kuningnya. Dia berjalan menuju altar, tempat plakat nama-nama leluhur Sekte Aliran Abadi berjejer. Dengan santai, dia mengambil sebuah dupa, mematahkannya, lalu meludah ke lantai.
"Keluar, bocah!" Zhao Hu berteriak lagi. "Serahkan surat tanah dan plakat ketua, dan mungkin aku akan membiarkanmu turun gunung dengan kaki utuh. Jika aku harus mencarimu..." Dia mencabut goloknya, menggoreskannya ke meja altar hingga meninggalkan bekas dalam. "...aku akan memotong telingamu dulu."
Darah Su Lang mendidih. Meja altar itu dibuat oleh gurunya dengan tangan sendiri. Itu adalah tempat paling suci di sekte ini.
[Ding.]
Suara sistem berbunyi tiba-tiba, hampir membuat Su Lang terlonjak.
[Misi Darurat: Pertahanan Kehormatan]
Kondisi: Musuh menerobos Aula Utama dan menodai Altar Leluhur. Kehormatan sekte sedang diinjak-injak.
Target: Usir penyusup. Jangan biarkan mereka mengambil Plakat Sekte.
Hadiah: Teknik Bela Diri Dasar: "Langkah Bayangan Awan" (Manual), 5 Poin Dedikasi.
Hukuman Gagal: Plakat hancur. Sistem dinonaktifkan permanen. Kematian pengguna.
Hukuman mati.
Su Lang menghela napas panjang tanpa suara. Tidak ada pilihan lari.
Dia melihat posisi Zhao Hu. Pria besar itu berdiri tepat di bawah balok kayu yang kemarin Su Lang perbaiki. Ada satu genting kaca di atas sana yang longgar, tempat Su Lang menumpuk sisa-sisa paku berkarat dalam sebuah kantong kain berat sebagai pemberat sementara.
Itu jebakan yang tidak disengaja. Tapi sekarang, itu satu-satunya harapan.
Su Lang meraba lantai, menemukan sebuah batu kerikil kecil. Dengan gerakan cepat pergelangan tangan, dia melempar batu itu ke sudut berlawanan ruangan, ke arah tumpukan genting bekas.
Trak.
Kepala Zhao Hu dan si kurus tersentak menoleh ke arah suara.
"Di sana!" teriak si kurus.
Saat perhatian mereka teralihkan, Su Lang melangkah keluar dari balik pilar. Dia tidak menyerang mereka. Dia berlari menuju tali penahan tirai usang yang terikat di tiang dekat pintu. Tali itu terhubung ke kerangka atap di atas Zhao Hu.
Su Lang menarik tali itu sekuat tenaga, lalu menyentaknya lepas dari pasak penahan.
Di atas, kantong kain berisi ratusan paku berkarat dan sisa besi yang Su Lang gunakan sebagai pemberat atap kehilangan tumpuannya.
Brukk!
Kantong seberat dua puluh kilogram itu jatuh tegak lurus, menghantam bahu kanan Zhao Hu dengan suara krak yang mengerikan.
"ARGHHH!"
Jeritan Zhao Hu membelah malam. Dia ambruk, goloknya terlepas. Bahunya miring dalam sudut yang tidak wajar. Tulang selangkanya hancur seketika. Paku-paku berkarat menghambur keluar, beberapa menancap di kulit leher dan wajahnya.
"Bajingan!" Si kurus terkejut setengah mati. Dia mengayunkan obornya liar, mencoba melihat penyerang.
Su Lang tidak berhenti. Momen kejutan adalah satu-satunya senjatanya. Dia menerjang maju sambil menggenggam sekop kayunya seperti tombak. Targetnya bukan Zhao Hu yang sedang meraung di lantai, tapi si kurus yang masih berdiri.
Dia menusukkan ujung besi sekop itu ke arah perut si kurus.
Sayangnya, perbedaan kekuatan fisik itu nyata. Si kurus, meskipun kaget, memiliki refleks seorang praktisi Body Tempering. Dia melihat serangan itu. Dia tidak sempat menghindar sepenuhnya, tapi dia berhasil memiringkan tubuhnya.
Sekop itu tidak menembus perut, melainkan menghantam pinggangnya dengan keras.
"Bocah sialan!" Si kurus menggeram. Dia menendang.
Gerakan itu terlalu cepat untuk dilihat mata Su Lang.
Buagh!
Tendangan itu mendarat telak di dada Su Lang.
Rasanya seperti dihantam palu godam. Su Lang terpental ke belakang, melayang dua meter sebelum punggungnya menghantam pilar kayu. Pandangannya memutih sesaat. Rasa asin darah memenuhi mulutnya. Tulang rusuknya terasa retak.
Dia jatuh merosot ke lantai, terbatuk-batuk hebat. Setiap tarikan napas terasa seperti pisau yang diputar di dalam dadanya.
"Kau..." Zhao Hu berusaha bangkit, wajahnya pucat pasi, keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di dahinya. Matanya merah nyalang penuh dendam. "Kau patahkan tulangku... Aku akan membunuhmu! Aku akan mengulitimu hidup-hidup!"
Si kurus membuang obornya, mencabut belati dari pinggangnya. Dia melangkah mendekati Su Lang yang terkapar. "Kau punya nyali, Nak. Tapi nyali tidak bisa menahan pisau."
Su Lang mencoba bangkit, tapi kakinya lemas. Rasa sakit di dadanya melumpuhkan. Apakah ini akhirnya? Mati konyol di tangan dua preman kroco?
Tangannya meraba lantai, mencari apa saja. Jarinya menyentuh sesuatu yang hangat.
Bara api.
Ketika dia terpental tadi, kakinya menyenggol tungku, membuat beberapa bongkah Kayu Besi yang membara menggelinding keluar.
Si kurus sudah berada dua langkah di depannya, mengangkat belati tinggi-tinggi untuk menghabisi mangsanya.
Su Lang tidak berpikir. Insting bertahan hidup mengambil alih. Dia mencengkeram bongkahan arang Kayu Besi yang masih membara merah itu dengan tangan telanjangnya.
Kulit telapak tangannya mendesis, bau daging terbakar menguar seketika. Rasa sakitnya luar biasa, melebihi sakit di dadanya, tapi rasa sakit itu justru membuat pikirannya jernih seketika.
"Mati!" teriak si kurus sambil mengayunkan belati.
Su Lang melempar bongkahan bara itu tepat ke wajah si kurus.
"AAAAHHH!"
Si kurus menjerit, menjatuhkan belatinya. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Bara api itu menempel di kulit pipi dan matanya, membakar daging. Kayu Besi memiliki sifat panas yang tahan lama dan sulit padam.
Dalam kekacauan itu, Su Lang memaksakan dirinya berdiri. Dia tidak lari. Lari berarti mati nanti. Dia harus mengakhiri ini sekarang.
Dia mengambil sekopnya lagi. Dengan sisa tenaga terakhir, diiringi teriakan yang merobek tenggorokannya, dia mengayunkan bagian datar sekop itu sekuat tenaga ke arah kepala si kurus yang sedang buta karena panik.
Dugh!
Suara hantaman kayu bertemu tengkorak.
Si kurus terhuyung, matanya berputar ke belakang, lalu dia ambruk ke lantai, pingsan seketika.
Su Lang berdiri terengah-engah, tubuhnya bergoyang mau jatuh. Tangan kanannya melepuh mengerikan, hangus dan berdarah. Dadanya sakit luar biasa.
Dia menoleh ke arah Zhao Hu.
Pria besar itu masih terduduk di lantai, memegangi bahunya yang hancur. Wajahnya yang tadi penuh arogansi kini pucat pasi karena horor. Dia melihat temannya yang jatuh dalam sekejap. Dia melihat Su Lang yang berdiri seperti iblis, dengan satu tangan hangus dan mata yang memancarkan kegilaan dingin.
Su Lang tidak mengatakan apa-apa. Dia menyeret langkahnya mendekati Zhao Hu, ujung sekopnya bergesekan dengan lantai kayu, menimbulkan suara srek... srek... yang mengerikan.
"Ja-jangan..." Zhao Hu mundur dengan memgesotkan pantatnya. Keberaniannya hancur. Preman selalu berani menindas yang lemah, tapi mereka takut pada orang gila. Dan Su Lang malam ini terlihat gila. "Jangan bunuh aku! Sekte Besi Hitam akan tahu! Tetua akan datang!"
Su Lang berhenti tepat di depan Zhao Hu. Dia mengangkat sekopnya tinggi-tinggi.
"Sampaikan pesan ini pada Tuanmu," suara Su Lang rendah, serak, bercampur darah. "Satu langkah lagi murid Sekte Besi Hitam melewati gerbangku... kalian semua akan berakhir menjadi pupuk bagi pohon plum di halaman belakang."
Brak!
Su Lang menghantamkan sekopnya ke lantai, tepat satu inci di depan selangkangan Zhao Hu.
Zhao Hu menjerit ketakutan, air seni merembes membasahi celananya.
"PERGI!" bentak Su Lang. "BAWA TEMANMU DAN PERGI!"
Zhao Hu tidak perlu disuruh dua kali. Dengan tangan kiri menyeret temannya yang pingsan, dia terseok-seok lari keluar dari aula, menuruni tangga, menghilang ke dalam kegelapan malam bersalju. Jejak darah dan rasa malu tertinggal di belakang mereka.
Su Lang menatap pintu yang terbuka. Dia menunggu satu menit. Dua menit.
Setelah yakin mereka benar-benar pergi, sekop di tangannya jatuh. Lututnya menyerah. Dia ambruk ke lantai dingin, tepat di samping ceceran darah musuhnya.
[Misi Darurat Selesai: Pertahanan Kehormatan.]
[Evaluasi Pertempuran: Kemenangan Tipis. Penggunaan lingkungan sangat baik. Keberanian luar biasa.]
[Hadiah: Manual "Langkah Bayangan Awan" telah dikirim.]
[Poin Dedikasi: 7/100]
Su Lang tidak peduli pada notifikasi itu. Pandangannya mulai kabur. Rasa sakit di tangan kanannya yang terbakar mulai terasa tak tertahankan, berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Napasnya pendek-pendek.
Dia sekarat. Atau setidaknya, dia akan mati jika membiarkan luka-luka ini.
Tubuh fana-nya tidak bisa menahan trauma sebesar ini. Rusak tulang rusuk, luka bakar tingkat tiga, kelelahan ekstrem, dan hipotermia yang mengancam karena pintu terbuka lebar.
Tangannya yang kiri, yang masih utuh, gemetar merogoh saku jubah. Dia mengeluarkan botol porselen pemberian Lin Xiaowan.
"Pil Bening Embun..." bisiknya.
Dia awalnya ingin menunggu sampai tubuhnya prima untuk meminumnya agar penyerapannya maksimal. Tapi sekarang, dia tidak punya pilihan. Dia butuh energi obat itu untuk bertahan hidup, bukan untuk kultivasi.
Dia membuka sumbat botol dengan gigi. Tanpa ragu, dia menenggak ketiga butir pil itu sekaligus.
Gila. Orang biasa menelan tiga pil kultivator sekaligus adalah tindakan bunuh diri. Energi yang meledak bisa menghancurkan pembuluh darah.
Tapi Su Lang bertaruh pada satu hal: Sistem.
"Sistem," panggilnya dalam hati. "Kau tidak ingin tuanmu mati konyol setelah menyelesaikan misimu, kan? Bantu aku menyerap ini."
Tidak ada jawaban verbal. Tapi sedetik kemudian, panel status baru muncul.
[Terdeteksi lonjakan Energi Spiritual murni.]
[Kondisi tubuh pengguna: Kritis.]
[Mengaktifkan Mode Darurat: Asimilasi Paksa.]
Boom!
Panas meledak di dalam perut Su Lang. Bukan panas api, tapi panas arus energi yang liar. Rasanya seperti menelan tiga ekor ular api yang kemudian menyebar, merayap masuk ke setiap pembuluh darah, setiap otot, dan setiap tulang yang retak.
Su Lang mengerang, tubuhnya melengkung di lantai seperti udang. Keringat bercampur darah kotor (impurities) mulai merembes keluar dari pori-porinya.
Energi pil itu menghantam sumbatan di meridiannya. Jebol. Satu meridian terbuka.
Menghantam tulang rusuk yang retak. Rasa gatal luar biasa muncul saat tulang itu dipaksa menyatu kembali dengan kecepatan tinggi.
Menghantam tangan kanannya yang hangus. Kulit mati mengelupas, digantikan jaringan baru yang merah muda dan sensitif.
Rasa sakit penyembuhan ini sepuluh kali lebih menyakitkan daripada rasa sakit luka itu sendiri. Su Lang menggigit bibirnya hingga berdarah agar tidak pingsan. Dia harus tetap sadar. Dia harus memandu energi ini.
Dia memaksa tubuhnya duduk dalam posisi meditasi. Dia mengingat teknik pernapasan dasar yang diajarkan mendiang gurunya.
Tarik. Tahan. Arahkan ke Dantian.
Buang kotoran.
Asap hitam tipis mulai keluar dari lubang hidung dan telinganya. Itu adalah kotoran duniawi yang telah menumpuk di tubuhnya selama dua puluh tahun.
Satu jam berlalu.
Dua jam.
Angin di luar masih menderu, tapi di dalam aula, aura di sekitar Su Lang mulai berubah. Udara di sekitarnya bergetar pelan. Salju yang masuk lewat pintu yang terbuka tidak menyentuh kulitnya, melainkan meleleh satu inci sebelum mendarat.
Saat fajar menyingsing, cahaya matahari pertama menyinari wajah Su Lang yang kini tertutup lapisan kotoran hitam berminyak.
Dia membuka mata.
Matanya jernih. Lebih jernih dari sebelumnya. Kelelahan itu hilang. Rasa sakit itu hilang.
Dia mengangkat tangannya. Tangan kanannya sembuh total, kulitnya mulus seperti bayi, meski sedikit lebih pucat. Dia mengepalkan tinju. Dia bisa merasakan aliran udara yang mengikuti gerakannya.
Dia melihat ke dalam dirinya. Di pusat perutnya, di Dantian-nya, ada kabut tipis berwarna putih yang berputar pelan.
Qi.
Dia bukan lagi manusia biasa.
[Selamat. Pengguna telah memasuki Ranah Qi Condensation - Tingkat 1.]
[Jalur menuju keabadian telah terbuka.]
Su Lang berdiri. Tubuhnya terasa ringan, seolah beban gravitasi berkurang separuhnya. Dia memandang pintu aula yang masih menganga rusak.
"Sekte Besi Hitam," gumamnya. Suaranya tenang, tapi dinginnya melebihi badai salju di luar.
Dia berjalan ke pintu, menatap ke arah kaki gunung yang tertutup kabut pagi.
"Kalian menginginkan perang? Baik. Aku akan memberi kalian perang. Tapi di gunung ini... akulah aturannya."
Su Lang berbalik, mengambil sekopnya yang tergeletak. Sekop itu retak di bagian gagangnya akibat hantaman semalam. Dia meletakkannya di samping altar, seolah itu adalah pedang pusaka.
Mulai hari ini, Sekte Aliran Abadi bukan lagi sekadar reruntuhan. Mulai hari ini, ini adalah benteng. Dan Su Lang adalah rajanya.