Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Sementara itu di kediaman Markus dimana Sarah baru saja bangun dari tidurnya.
Ia membuka pintu kamarnya dan dikejutkan dengan pintu kamar Relia terbuka lebar.
"T-tidak! Ini tidak boleh terjadi," gumam Sarah yang langsung masuk ke kamar adiknya.
Ia melihat kamar Relia yang sudah kosong dan tidak ada keberadaan Relia yang semalam dihajar oleh Markus.
Wajah Saras langsung memucat dan takut jika Adiknya akan melaporkannya ke kantor polisi.
Ia segera kembali masuk ke kamarnya dan membangunkan suaminya.
"Markus! Bangun, Mas! Bangun!" Sarah mengguncang bahu suaminya dengan kasar, suaranya melengking tinggi dipenuhi kepanikan.
Markus mengerang, perlahan membuka matanya dengan malas.
Sisa kepuasan semalam masih membekas di wajahnya, namun melihat raut wajah istrinya yang pucat pasi seperti mayat, kantuknya seketika hilang.
"Apa sih, Sayang? Masih pagi..."
"Relia, Mas! Relia kabur!" teriak Sarah sambil menunjuk ke arah pintu kamar adiknya yang menganga di seberang lorong.
Markus terlonjak dari tempat tidur, ia berlari menuju kamar Relia dan mendapati ruangan kecil itu kosong melompong.
Ia melihat ke arah pintu depan yang tidak terkunci. Amarah langsung naik ke kepalanya, urat-urat di lehernya menegang.
"Bodoh! Bagaimana bisa dia kabur dalam keadaan seperti itu?!"
Markus menendang pintu kayu kamar Relia hingga berbunyi keras.
Ia teringat semalam ia terlalu percaya diri dan lupa mengunci pintu karena asyik bercengkerama dengan Sarah.
Sarah menggigit kuku jarinya, mondar-mandir dengan cemas.
"Mas, kalau dia lapor polisi bagaimana? Luka di punggungnya, itu bukti kuat. Kita bisa dipenjara!"
Markus terdiam sejenak, otaknya yang licik mulai berputar cepat.
Ia mencengkeram bahu Sarah, menatapnya dengan mata yang tajam dan dingin.
"Dengarkan aku. Dia tidak punya uang, tidak punya identitas, dan mentalnya hancur. Dia tidak akan berani ke polisi. Paling-paling dia pingsan di jalan atau bersembunyi di kolong jembatan."
"Tapi kalau ada yang menolongnya?"
"Maka kita harus menemukannya lebih dulu sebelum dia bicara pada siapapun," geram Markus.
Ia segera meraih kunci mobil dan jaketnya yang ada di meja makan.
"Cari tahu ke rumah sakit terdekat atau klinik 24 jam. Dengan luka seperti itu, dia pasti butuh bantuan medis. Kita akan cari di sepanjang jalan utama. Ingat Sarah, kalau ada yang bertanya, katakan Relia sedang depresi dan kabur dari rumah karena gangguan jiwa. Kita harus buat dia terlihat gila agar omongannya tidak dipercaya!"
Markus mulai melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit yang ada di dekat rumahnya.
Ia turun dari mobil dan menunjukkan foto Relia tiga tahun lalu.
Petugas keamanan mengatakan kalau ia tidak mengenal Relia.
Kemudian Markus kembali melajukan mobilnya ke rumah sakit lain
Markus berdiri di depan pintu kaca otomatis rumah sakit dengan raut wajah yang dipaksakan tampak cemas.
Ia mencegat seorang petugas keamanan yang berjaga di lobi.
"Pak, apa ada gadis muda yang masuk ke sini semalam? Namanya Relia. Dia adik ipar saya, dia sedang mengalami gangguan jiwa berat dan melarikan diri dari rumah," ucap Markus dengan nada suara yang dibuat bergetar, seolah ia adalah kakak ipar yang sangat peduli.
Ia menunjukkan foto Relia ke petugas keamanan yang sedang berjaga.
Petugas keamanan itu mengerutkan kening. Ia teringat gadis yang ambruk semalam dengan luka-luka mengerikan.
Tanpa banyak bicara, ia meminta Markus menunggu dan segera masuk ke dalam untuk memanggil Dokter Ariel yang memang sedang menangani kasus tersebut.
Di dalam Ruang Rawat Kenanga, suasana yang tadinya tenang seketika berubah mencekam.
Relia yang memiliki pendengaran yang sangat sensitif akibat trauma bertahun-tahun, mendengar suara yang sangat ia kenali dari kejauhan.
"D-dia datang....." bisik Relia.
Tubuhnya mendadak kaku, matanya terbelalak, dan napasnya mulai tersengal-sengal dimana tanda serangan panik (panic attack) sedang melanda.
Ariel baru saja akan menenangkan Relia ketika petugas keamanan mengetuk pintu dan membisikkan sesuatu padanya.
"Dokter,tolong aku. Dia akan mengatakan kalau saya gila." Relia merosot dari ranjangnya, jatuh berlutut di lantai sambil memeluk kaki Ariel.
Ia menangis sesenggukan, suaranya parau karena ketakutan yang luar biasa.
"Aku tidak gila! Demi Tuhan, Dokter, aku tidak gila! Dia yang membuatku begini! Tolong jangan biarkan dia membawaku kembali ke neraka itu.Aku lebih baik mati sekarang daripada harus kembali!"
Ariel merasakan getaran hebat dari tubuh Relia yang sedang memeluk kakinya.
Ia menunduk, menatap Relia dengan tatapan yang sangat protektif.
"Tenang, Relia. Tarik napasmu. Saya ada di sini."
Ariel kemudian menoleh ke arah petugas keamanan.
"Jangan izinkan pria itu masuk ke area bangsal ini. Katakan padanya pasien sedang dalam penanganan khusus dan tidak bisa diganggu oleh siapa pun, termasuk keluarga, tanpa izin saya sebagai dokter penanggung jawab."
"Tapi Dok, dia bilang dia walinya dan membawa bukti foto," jawab petugas itu ragu.
"Saya yang bertanggung jawab penuh," tegas Ariel dengan nada otoritas yang tidak bisa dibantah.
Sebagai seorang CEO dari jaringan rumah sakit tersebut, ia memiliki kekuasaan lebih dari sekadar dokter biasa.
"Arahkan dia ke ruang tunggu administrasi. Saya sendiri yang akan menemuinya."
Ariel berlutut di depan Relia, memegang bahu gadis itu dengan lembut namun mantap.
"Relia, dengarkan saya. Tatap mata saya."
Relia mendongak dengan wajah yang basah oleh air mata dan keringat dingin.
"Kamu aman di sini. Di rumah sakit ini, kata-kata saya adalah hukum. Markus tidak akan bisa menyentuhmu seujung kuku pun selama kamu berada dalam perlindungan saya. Mengerti?"
Relia mengangguk pelan, meski napasnya masih belum teratur.
Ariel berdiri, merapikan jas dokternya, dan memasang wajah dingin yang biasanya ia gunakan di ruang rapat direksi.
Ia melangkah keluar menuju ruang tunggu, di mana "monster" yang menghancurkan hidup pasiennya sedang bersembunyi di balik topeng kepedulian.
Markus sedang duduk dengan kaki yang bergoyang tidak sabar ketika ia melihat seorang pria tinggi dengan aura yang sangat dominan berjalan ke arahnya.
"Anda yang mencari Relia?" tanya Ariel dingin dengan kedua tangannya masuk ke saku jas putihnya.
Markus langsung berdiri, mencoba memasang wajah sedih.
"Iya, Dok! Syukurlah dia ada di sini. Saya kakaknya. Dia kabur semalam, Dok. Dia memang agak terganggu mentalnya sejak orang tuanya meninggal. Kami sangat khawatir dia mencelakai dirinya sendiri."
Ariel menatap Markus dari atas ke bawah, mempelajari bahasa tubuh pria di depannya.
Ia melihat bekas kemerahan di punggung tangan Markus akibat hantaman atau gesekan saat menyiksa semalam.
"Gangguan jiwa, ya?" Ariel tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya.
"Menarik. Karena sebagai psikiaternya, saya justru menemukan hal lain. Saya menemukan bukti penganiayaan fisik yang sangat sistematis. Luka cambukan, lebam, dan tanda-tanda kekerasan seksual."
Wajah Markus mendadak kaku saat mendengar perkataan dari Ariel.
"Apa maksud Dokter? Dia itu gila, dia sering menyakiti dirinya sendiri! Dia sering berhalusinasi!"
"Luka di punggungnya tidak mungkin dilakukan oleh tangannya sendiri, Tuan Markus," potong Ariel tajam. "Dan berdasarkan undang-undang perlindungan saksi dan korban, saat ini Relia berada di bawah perlindungan medis dan hukum pihak rumah sakit. Anda tidak diizinkan menemuinya."
"Saya keluarganya! Anda tidak punya hak menghalangi saya!" bentak Markus yang mulai kehilangan kesabaran.
"Saya punya semua hak di rumah sakit ini, Tuan Markus. Dan jika Anda tidak segera meninggalkan area ini, saya akan meminta staf saya untuk menyerahkan bukti visum yang baru saja kami selesaikan langsung ke pihak kepolisian saat ini juga." ucap Ariel tegas.
mudah"an relia selamat