NovelToon NovelToon
Menikahi Perempuan Gila?

Menikahi Perempuan Gila?

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Kyky Pamella

"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MPG_3

Malam pertama yang oleh banyak orang dianggap sakral, penuh harap, dan sering kali ditunggu dengan degup jantung tak sabar bagi pengantin baru, justru menjadi malam paling dingin tak berujung.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada bisikan malu-malu.

Tidak pula sentuhan yang biasanya menjadi awal dari sebuah kehidupan baru.

Yang ada hanyalah perdebatan panjang, suara-suara yang meninggi, dan kata-kata yang saling melukai tanpa darah namun meninggalkan bekas lebih dalam dari luka fisik.

Malam yang seharusnya melahirkan banyak bibit unggul, justru melahirkan kesepakatan-kesepakatan kaku yang disusun tanpa rasa, ditandatangani oleh ego, dan disepakati oleh dua orang asing yang kebetulan berstatus suami istri.

Setelah pertengkaran itu, Narendra pergi. Tanpa pamit. Tanpa penjelasan. Tanpa sedikit pun rasa bersalah yang terlihat di wajahnya.

Pintu apartemen tertutup dengan bunyi yang tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat dadaku terasa kosong. Aku berdiri mematung di ruang tengah, menatap pintu itu cukup lama, sampai akhirnya kesadaranku kembali utuh.

Aku tidak mengejarnya. Aku tidak menangis. Dengan langkah tenang, meski jari-jariku sedikit gemetar, aku mengambil ponsel dan menghubungi Ardi.

Bukan untuk menanyakan keberadaan Narendra.

Melainkan untuk meminta bantuan membuka pintu kamar yang terkunci.

---

Tak sampai lima belas menit kemudian, bel apartemen berbunyi. Ardi sudah berdiri di depan pintu dengan wajah canggung, seolah sadar bahwa kehadirannya di tengah situasi ini bukanlah perkara sederhana.

Rupanya ia juga tinggal di apartemen yang sama, hanya berbeda lantai. Aku mempersilahkannya masuk tanpa banyak kata.

Ardi langsung menuju kamar sebelah kanan—langkahnya mantap, seolah sudah sangat hafal dengan tata letak ruangan ini. Tangannya menekan tombol darurat di panel pintu, memasukkan serangkaian angka.

Klik .Pintu terbuka.

Aku menyandarkan tubuh ke dinding, menyilangkan tangan di dada. Dalam kepalaku, berbagai kemungkinan berkelebat—dan semuanya mengarah pada satu nama.

“Jadi,” ucapku akhirnya, suaraku tenang namun dingin, “siapa nama perempuan yang akan menjadi maduku, Ar?”

Ardi menoleh cepat. Wajahnya jelas terkejut.

“Maksud Ibu Rayna…?”

Aku melangkah mendekat, menatapnya lurus tanpa berkedip.

“Jangan berpura-pura tidak tahu,” kataku datar. “Kamu lebih paham tentang pernikahan rumit ini dibanding siapa pun. Bahkan mungkin lebih paham daripada suamiku sendiri.”

Ardi terdiam cukup lama. Napasnya berat.

“Namanya Ajeng, Bu.”

Aku menghela napas pendek, lalu terkekeh pelan.

“Ayolah Ar, kamu jelas tau aku tidak bertanya soal nama. Aku bertanya tentang posisinya.”

Ia menunduk, akhirnya menyerah.

“Ajeng Hafsari,” katanya lirih. “Mereka sudah bersama tiga tahun. Sejak tahun pertama, mereka berniat menikah. Tapi orang tua Pak Naren menolak.”

“Alasannya?”

“Latar belakang keluarga,” jawabnya pelan. “Bu Ajeng lahir tanpa ayah. Ibunya dulu… pekerja seks komersial.”

Aku mengangguk pelan. Tak ada ekspresi terkejut. Dunia ini sudah terlalu kejam untuk membuatku kaget.

“Lanjut.”

“Bu Farah memberi syarat agar Bu Ajeng bisa diterima sebagai menantu. Tapi syarat itu tidak terpenuhi.”

Ardi menatapku ragu. “Itulah sebabnya Pak Naren akhirnya menyetujui pernikahan dengan Ibu.”

Hatiku tidak perih. Justru terasa dingin—terlalu dingin.

“Hanya itu?” tanyaku tajam.

Ardi menggeleng.

“Bu Farah dan Pak Toro mengancam mencoret Pak Naren dari daftar pewaris tunggal. Semua harta akan disumbangkan ke yayasan amal, dan mereka berdua akan menghabiskan masa tua di panti jompo.”

Aku tertawa kecil, getir.

“Jadi ini soal harta,” ucapku pelan.

“cih, seorang putra tunggal konglomerat bersedia dijodohkan hanya karena soal harta. apa dia tidak terlalu serakah Ar? " cibirku

“Tunggu, Bu Rayna.” Ardi buru-buru menyela. “Bukan seperti itu.”

Aku menatapnya, memberi isyarat agar ia melanjutkan.

“Pak Naren tidak takut kehilangan harta,” katanya mantap. “Usahanya sendiri sudah lebih dari cukup. Yang ia takutkan hanyalah kehilangan orang-orang yang ia cintai.”

Ia menarik napas panjang.

“Pak Naren tidak keberatan tidak menjadi ahli waris. Tapi ia tidak akan pernah membiarkan orang tuanya tinggal di panti jompo.”

Aku tersenyum sinis.

“Lalu Ajeng?”

“Berbeda, Bu.”

Nada Ardi terdengar getir. “Bu Ajeng mengancam akan meninggalkan Pak Naren jika ia tidak mewarisi kekayaan keluarga Admawijaya.”

Aku menggeleng pelan.

“Jadi dia sebucin itu. Sampai tak sadar bahwa perempuan yang dicintainya hanya mencintai hartanya.”

Ardi mengangguk.

“Ibu ingat mobil Tesla seri Y yang kemarin menjemput Pak Naren? Itu hadiah untuk Bu Ajeng. Agar ia tidak marah saat tahu Pak Naren sudah menikah.”

Aku tersenyum tipis—dingin dan penuh kendali.

“Terima kasih, Ardi. Informasimu… sangat berharga.”

Sebelum pergi, Ardi menyerahkan secarik kertas.

“Ini semua PIN pintu di apartemen ini, Bu. Supaya Ibu tidak perlu menunggu siapa pun jika ingin mengakses semua ruangan.” tukas Ardi sebelum pamit

Setelah ia pergi, aku berdiri sendirian di ruang tengah. Sunyi.

Aku melangkah ke kamar yang tadi dibuka Ardi. Benar saja—itu kamar Narendra.

Sebuah foto berukuran 5R terpajang di nakas. Narendra dan Ajeng, tersenyum lebar, seolah dunia hanya milik mereka berdua.

“Dasar manusia bucin yang durhaka,” gumamku sambil terkekeh kecil. “Foto pacar dipajang, foto orang tua tak ada satu pun.”

Foto itu kusimpan ke dalam laci. Aku tidak ingin mengotori pandanganku.

Aroma maskulin di kamar itu menyergap indra penciumanku. Hangat. Dalam. Menenangkan.

Aku menarik napas panjang.

Mas Raka adalah penggemar parfum nomor satu, namun seingatku tak ada yang wanginya seharum ini. Ini berbeda, wanginya lembut namun menusuk dalam. Dan entah mengapa, aku merasa nyaman. Terlalu nyaman.

Aku merebahkan diri di ranjangnya. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini terjadi, aku tidur tanpa beban.

---

Pagi datang tanpa permisi.

Aku terbangun dengan matahari yang sudah tinggi.

“Astaghfirullah… jam berapa ini?” aku gelagapan, melompat ke kamar mandi untuk mengambil wudhu

Setelah salat subuh, aku baru sadar, jika semalam Narendra tidak pulang.

aku tak mengambil pusing, aku lebih memilih merapikan koper dan menyusun pakaianku di lemari, dan memasak untuk sarapan.

Saat aroma masakan mulai memenuhi dapur, suara pintu terbuka terdengar. dengan cepat aku melangkah keluar.

“Astaghfirullah… Mas, kamu kenapa?!” suaraku tak sengaja sedikit memekik karena kaget

Narendra berdiri pucat, dipapah seorang perempuan.

Ajeng. aku segera tau itu dia, karena wajahnya sama persis seperti foto yang ada di kamar. hanya versi realnya terlihat lebih chubby

Tanpa ragu, tanpa izin, ia langsung membawa Narendra ke kamar. Bahkan sidik jarinya terdaftar di sana.

Dadaku nyeri—namun wajahku tetap tenang.

Aku mengikuti mereka. Ajeng membaringkan Narendra, lalu mulai membuka kancing kemejanya.

“Tunggu.” Suaraku tegas. “Apa yang kamu lakukan?”

“Tidak lihat bajunya basah?” Ajeng menantang. “Aku mau menggantinya.”

Aku melangkah maju, menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Dan matamu,” ucapku pelan namun menghantam, “tidak melihat bahwa istrinya berdiri tepat di depanmu?”

Di detik itu, aku tahu—ini bukan lagi tentang cinta.

Ini tentang harga diri.

Dan aku tidak berniat kalah.

1
Wina Yuliani
eng ing eng di gantung nih kita, kayak jemuran yg gk kering kering
plisss dong kk author tambah 1 lagi
Nurhartiningsih
woilahhh ..knp rayna??
lovina
kirain cwenya hebat taunya luluh jg bego...pasaran ceritanya..kirain beda..bkn hasil dari otak author haisl baca2 novel lain🤣, dan ini semua para author lakukan..
PanggilsajaKanjengRatu: coba baca punya aku kak, Siapa tau gak pasaran🤭 judulnya “Cinta Yang Tergadai ” ada juga soal cinta virtual yang berhasil ke pelaminan “Akara Rindu dalam Penantian”
total 1 replies
Nurhartiningsih
baru awal baca udah nyesek
Wina Yuliani
seru.... ceritanya ringan tp bikin gereget, penasaran, ada sedih tp ada manis manisnya juga, gaskeun lah pokonya mah 👍👍👍👍
Wina Yuliani
rayna yg di kasih kartu aku yg ikut kelepek2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!