NovelToon NovelToon
V.I.P (KILL YOU)

V.I.P (KILL YOU)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Mata-mata/Agen / TKP / Psikopat itu cintaku / Agen Wanita
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”

Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?

Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VIP3

“OHOOOOY, BELLA KIM—”

BUGH!

Argghh!

Seorang pria tampan berperawakan tegap menjerit kencang manakala tinju Bella mendarat telak di perutnya. Wajah tegasnya kontan menegang, tubuh atletisnya membungkuk—jemarinya mencengkeram perut yang serasa diremas dari dalam.

Abirama, seorang detektif dari unit intelijen kepolisian, dikenal sebagai sosok karismatik sekaligus disiplin. Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, pengalaman panjang di berbagai operasi membuatnya dihormati banyak rekan. Sosok yang dulunya dikenal paling ceroboh, berubah menjadi sosok penuh ambisi dan penuh perhitungan.

Hari itu, ia baru saja menerima tugas baru, yakni menyelidiki misteri orang-orang yang hilang di Pulau Darasila. Beberapa laporan menyebutkan bahwa bukan hanya warga sipil yang lenyap tanpa jejak, melainkan juga sejumlah petugas kepolisian yang sebelumnya dikirim untuk menelusuri kasus tersebut. Kini, giliran Abirama yang harus menyeberang ke pulau itu, membawa beban tanggung jawab yang lebih berat daripada sekedar misi biasa.

Namun, sebelum sempat melangkah lebih jauh, pertemuannya dengan Bella Kimberly, yang tak lain merupakan sahabatnya sejak kecil, justru membuat suasana berubah ricuh. Alih-alih sambutan ramah, yang menyambutnya justru tinju keras Bella yang mendarat telak di ulu hatinya.

‘Udah lama nggak ketemu, kekuatan tangannya masih aja sama!’ gerutu Abirama di dalam hati sambil melempar tatapan tajam ke arah Bella.

Dan ketika mata mereka bertemu, Abirama terdiam sejenak, mencoba memahami situasi. Untungnya, sekarang ia adalah sosok yang cepat tanggap. Ia menilik sorot mata Bella yang waspada.

‘Ah ... ternyata lagi dalam misi penyamaran rupanya.’ Abirama bermonolog di dalam hati.

Senyum miring pun muncul di wajahnya, disusul tawa serak. “Hahaha ... maaf maaf. Saya pikir Anda itu sahabat lama saya yang sudah lama tak berjumpa karena dia terlalu sibuk di negeri antah berantah. Ternyata salah orang, ya?” Ia mengusap perutnya yang masih berdenyut ngilu, lalu melirik Bella dari ujung kepala hingga kaki dengan senyuman mengejek. “Lagipula, mana mungkin sahabat saya itu bisa berubah secantik ini? Dulu rambutnya saja berantakan sekali, banyak saljunya pula.”

Bola mata Bella memutar malas, ia mendengus pelan. “It's okay. Saya juga minta maaf. Tadi saya kira, Anda ini abang-abang tukang gendam yang modus tepuk-tepuk bahu, padahal niat hati mau merampok isi tas. Ternyata ... bukan, ya?”

“Alamak najisnyeee, wajah setampan ini dikira tukang gendam? Ih ih ih, tak patut.” Abirama bersedekap. “Kalau dilihat-lihat, wajah Anda tampak asing. Apa Anda bukan orang asli sini?”

Pria itu sengaja memancing, ia penasaran—kali ini, sahabatnya akan menyamar sebagai apa?

“Benar, saya seorang pendatang. Perkenalkan, nama saya Niken.” Bella mengulurkan tangannya dengan tenang, berlakon santai. “Saya seorang dosen pembimbing lapangan. Ditugaskan universitas untuk mendampingi mahasiswa KKN yang kebetulan sedang ditempatkan di pulau seberang dermaga ini.”

Abirama sempat menatap lama, sampai akhirnya ujung bibirnya terangkat. “Begitu, ya? Saya Abirama, panggil saja Rama, atau ... Justin Bieber juga boleh.”

Dengan wajah tetap tenang, Bella menggeleng pelan. “Make nih orang.”

“Pfftt!” Abirama tertawa kecil. “Baiklah, Bu Dosen. Kalau begitu, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik di sini. Pulau ini bukan tempat yang ramah.”

Bella sempat hendak menjawab, tapi deru kapal yang merapat membuatnya menutup kembali kata-kata yang tadi hendak keluar.

“Kayaknya kapal kita sudah siap,” ujar Abirama singkat.

Bella hanya mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju papan kayu untuk naik. Sesekali suara burung camar bercampur dengan teriakan awak kapal.

Di atas dek, keduanya duduk bersisian. Abirama melirik sebentar, lalu terkekeh kecil.

“Dosen pembimbing lapangan, ya? Boleh juga.”

Bella menatap lurus ke laut, tapi, suaranya menyahut pelan. “Yah, tiap orang punya perannya masing-masing. Kau juga begitu, ‘kan?” Wanita itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke sisi telinga Abirama. “Berhati-hatilah, Ram. Jangan percaya pada siapapun yang kau temui nanti, firasat ku ... bener-bener buruk.”

Abirama mengangguk pelan, lalu memilih diam. Kapal pun mulai bergerak, meninggalkan dermaga dengan percakapan yang masih menggantung.

...***...

Amerika—

Edwin duduk sendirian di ruang kerjanya yang dipenuhi berkas-berkas pasien. Lampu meja menerangi wajahnya yang letih. Tangannya bergerak pelan, meraih bingkai foto pernikahan di sisi laptop—potret Bella tersenyum dengan gaun sederhana, berdiri di samping dirinya yang gagah.

Drrtt! Drrtt!

Ponselnya bergetar di atas meja, Edwin meletakkan kembali bingkai foto tersebut dan lekas meraih ponselnya.

Satu pesan dari Bella masuk yang mengabarkan—

Bella : Aku bertemu Abirama di sini, hahaha!

Ingatannya pun menyeruak—tentang Abirama, sahabatnya yang pernah terang-terangan menyatakan perasaannya pada Bella sebelum mereka resmi menikah.

“Dasar bujang tua sialan!” Tatapan Edwin pun sontak mengeras. “Kau pasti lagi nyuri-nyuri kesempatan sekarang, ‘kan?!”

“Di mana sebenarnya Bella ditugaskan?” dengusnya kesal. “Aku akan menyusul ke sana! Nggak akan aku biarin si bujang tua itu menggatal sama istriku yang super cantik dan hot itu!”

Secepat kilat Edwin membuka laptop, masuk ke akun email Bella—membuka kotak masuk dan menelusuri pesan satu persatu. Sampai akhirnya, mata amber itu fokus membaca satu pesan dari Badan Intelijen Nasional.

“Pulau ... Darasila?” kerongkongannya serasa tercekat, darahnya berdesir. “Pulau Darasila?!”

Secepat kilat Edwin menutup laptopnya. Ia meraih ponsel dan segera menghubungi nomor Bella.

‘Bella harus segera keluar dari sana!’ Edwin menggigit ujung jarinya sampai berdarah, demi menjaga pikirannya tetap jernih.

Sekali, dua kali, belasan kali—sayangnya panggilan itu tidak tersambung. Edwin menatap layar ponsel tanpa ekspresi. Ia beralih menghubungi Abirama. Namun berakhir sama, panggilan itu tak juga tersambung.

“Tentu saja mereka sudah mengacaukan sinyalnya,” gumamnya datar. “Bella pasti sudah tiba di pulau itu.”

Merasa tak punya pilihan lain, ia pun akhirnya menghubungi Rico. Dan saat suara berat Rico menyambutnya dari ujung telepon—

“Ya, Tuan?”

“Jemput anak-anak, Ric,” ujar Edwin datar. “Bawa Bintang dan Langit pulang sekarang.”

“Nghh? Sekarang? Memangnya ada apa, Tuan?” tanya Rico terheran-heran.

Edwin berdiri sambil memijit keningnya, berjalan mondar-mandir di ruang kerja. “Bawa saja mereka pulang sekarang. Siapkan pakaian, dokumen, dan kebutuhan penting. Kita akan kembali ke Indonesia.”

Meskipun masih bingung, tetapi suara di seberang langsung mengiyakan. “Baik, Tuan.”

Begitu sambungan terputus, pandangan Edwin kembali jatuh ke foto Bella di meja.

“Tunggu aku, Bell. Aku akan datang.”

...***...

Kapal kayu tua baru saja berlabuh di dermaga Pulau Darasila. Bella, Abirama, dan beberapa anggota timnya segera mengantri menuruni kapal.

Bella sempat menoleh pada awak kapal yang tadi mengarahkan mereka. Matanya tanpa sengaja tertumbuk pada sebuah tatto di pergelangan tangan pria itu—ukiran huruf V.I.P yang tampak samar di balik kulit legamnya.

‘Tatto itu ....’

Seketika kening Bella berkerut. Ingatannya melayang pada tatto serupa yang pernah ia lihat di pergelangan tangan Edwin, suaminya. Darahnya seketika berdesir, firasat buruk langsung menghantamnya.

‘Edwin ... kekacauan apa yang sudah kau perbuat kali ini?’ giginya bergemelatuk, benaknya penuh akan prasangka.

“Bu Niken?!”

Bella tersentak mendengar suara Abirama memanggilnya.

“Anda mau tetap berada di kapal?” tanya Abirama.

Bella mencoba menanggapinya dengan senyuman tipis. Ia buru-buru turun dan mereka pun segera mengikuti seorang pekerja lokal menuju penginapan sederhana yang dianjurkan oleh awak kapal. Bangunan dari papan kayu yang dicat kuning telur, penginapan dengan tujuh kamar berukuran kecil yang terkesan pengap.

Seorang petugas penginapan berusia paruh baya dengan kemeja kusut, menyambut mereka dengan senyum tipis. Ia meminta identitas satu per satu untuk didata. Bella memperhatikan gerak-geriknya yang tampak canggung. Sesaat kemudian, pria itu menghela napas kecil sambil menggeleng.

“Mohon maaf, jaringan kami sedang eror. Identitas masing-masing tamu, terpaksa saya tahan sementara ... saya harus mendata secara manual. Nanti biar saya yang antar identitas kalian langsung ke kamar,” ucapnya datar, sebelum memanggil pekerja lain untuk menunjukkan kamar tamu masing-masing.

“Di tahan? Harus sampai sebegitunya?!” sungut Abirama, keningnya berkerut curiga.

Bella masih bungkam. Manik legamnya justru diam-diam menyorot pada ukiran tatto di pergelangan tangan petugas penginapan—ukiran yang lagi-lagi sama persis dengan milik suaminya. Firasatnya semakin tak enak, tapi, wajahnya tetap tenang.

“Jika memang terkendala, apa boleh buat,” akhirnya Bella bersuara, menghentikan kicauan Abirama. “Perjalanan saya ke pulau ini cukup menguras tenaga. Saya butuh lekas istirahat. Jika identitas saya sudah selesai didata manual, silakan antar ke kamar. Saya akan menunggu.”

Sambil berkata begitu, kakinya diam-diam menginjak sepatu Abirama—memberi kode untuk melakukan hal yang sama.

Abirama terperanjat, untungnya ia cepat tanggap. Ia tersenyum masam sambil menepuk pelan meja registrasi. “Kalau begitu, kami ikuti prosedur saja. Pastikan identitas kami terdata dengan benar dan segera dikembalikan. Saya harap tidak ada kesalahan dalam prosedur ini.”

Petugas itu sekilas mengangguk, lalu memberi instruksi pada petugas lain untuk membawa para tamu ke kamar.

Setibanya di kamar, Bella segera menutup pintu dan memastikannya terkunci rapat. Tatapannya mengedar ke segala arah, tangannya bergerak cepat menggeledah isi tas — lalu mengeluarkan sebuah benda pipih seukuran ponsel, berwarna hitam doff. Di bagian atasnya terdapat layar kecil dengan garis-garis frekuensi yang bergerak naik-turun, sementara sisi sampingnya dipenuhi tombol mungil.

Alat pendeteksi sinyal.

Perangkat standar yang biasa dipakai untuk melacak kamera tersembunyi dan alat penyadap aktif.

Bella menekan satu tombol, layar alat itu menyala. Bella menimpa alat tersebut dengan ponselnya demi menghindari curiga, lalu ia mengarahkan alat tersebut ke sepanjang dinding, meja, bawah ranjang, hingga ke lampu tidur — tentunya ia melakukan semua itu dengan gerakan tenang serta terukur.

Ketika melewati lukisan murah yang tergantung miring, indikator pada alat itu melonjak. Sinyalnya dialihkan langsung ke earpiece di telinga Bella, menghasilkan dengungan pelan yang tak terdengar oleh siapa pun selain dirinya.

Bella segera berbalik. Tatapannya datar saat menelisik lukisan kuda itu dari jarak dekat.

Di bagian mata kuda, tersembunyi sebuah lubang kecil yang mustahil tertangkap oleh mata awam.

‘Satu kamera di sana. Sialan, tempat apa ini?’ batinnya geram, namun ekspresi wajah tetap terjaga.

Bella meraba tepi lukisan itu sejenak, cukup lama untuk terlihat wajar. “Aku harus memberitahu petugas untuk memperbaiki posisi lukisan ini,” gumamnya berpura-pura santai.

Lalu ia berbalik, melangkah menuju kamar mandi. Begitu pintu tertutup, alat pendeteksi itu kembali berdengung di earpiece Bella.

Matanya segera memindai seisi ruangan tanpa gerakan mencurigakan. Tatapannya tertuju pada cermin buram di atas wastafel yang pantulannya terlihat biasa saja.

Bella mendekat. Ujung jarinya menyusuri sisi cermin, mengetuknya pelan. Bunyi pantulnya terdengar padat, tak berongga. Indikator di alat itu melonjak lagi.

‘Ada lagi!’ desisnya dalam hati.

Ia memutar keran, membiarkan air mengalir deras sebagai kamuflase suara, lalu meraih sikat gigi yang disediakan pihak penginapan. Rautnya tetap datar, seolah tak ada hal ganjil sedikit pun.

“Cokelat apa sih yang diberikan pria tadi padaku?” gumamnya pelan. “Lidahku sampai terasa lengket.”

Bella membasahi sikat gigi itu, memencet pasta secukupnya, lalu mulai menyikat giginya dengan gerakan santai—bahkan sempat mencondongkan wajah ke cermin, menguap kecil seperti orang yang kelelahan setelah seharian beraktivitas.

Di balik sikap polos itu, matanya bergerak cepat, menangkap pantulan samar di sudut cermin. Lensa kecil itu mengintai dari balik celah, merekam setiap gerak-geriknya.

‘Kalian pikir ... aku sebodoh itu?’

Ia berkumur, memuntahkan busa ke wastafel, lalu menepuk-nepuk pipinya ringan—akting sempurna sebagai seorang tamu biasa yang sama sekali tak menyadari dirinya sedang diawasi.

Setelah memastikan tak ada lagi sudut yang luput dari pemindaian, Bella merapikan tasnya dan mengeluarkan sebungkus roti. Ia menghela napas pendek, lalu melangkah keluar kamar seolah tak terjadi apa-apa.

Beberapa langkah kemudian, ia berhenti di depan kamar Abirama. Bella mengetuk pintu dengan santai.

Tok ...

Tok ...

Pintu terbuka. Abirama masih mengenakan kaus sederhana, wajahnya sedikit heran saat melihat Bella berdiri di ambang pintu.

Tanpa basa-basi, Bella menyodorkan sebungkus roti ke dadanya.

“Terima kasih buat cokelatnya tadi,” ucapnya ringan.

Abirama mengernyit. “Cok—”

Cup!

Bella tiba-tiba mengecup pipi pria itu. Sentuhan singkat—cukup untuk membuat tubuh Abirama seperti disambar arus listrik. Tekanan darahnya naik, jantungnya berdetak tak beraturan. Pria yang sejak lahir melajang itu seketika membeliak.

“Ap—”

Abirama kembali menahan kalimatnya manakala bibir Bella kembali mendekat, ia menahan napas, sekujur tubuhnya mendadak meriang hingga kepalanya gemetar.

‘Dia akan menciumku? Kami akan berciuman? Dia bosan dengan monster itu?’

Ketika bibir Bella semakin mendekat, Abirama refleks mematung.

‘A-a ahhh, aku belum sikat gigi!’

Namun, wajah Abirama mendadak memerah ketika bibir Bella berbelok arah. Alih-alih melabuhkan sebuah ciuman, justru bibir perempuan itu mendekat ke arah telinganya.

“Kita diawasi, Ram. Setiap tempat di penginapan ini punya telinga,” desis Bella pelan. “Hati-hati dengan ucapanmu. Jangan bicara sembarangan.”

.

.

Sementara itu di meja resepsionis, setelah memastikan para tamu berada di kamarnya, petugas tadi buru-buru membawa tumpukan identitas para tamu ke sebuah ruangan kecil di belakang meja resepsionis. Di sana berdiri sebuah mesin pemindai biometrik berukuran sedang, mirip gabungan antara printer dan layar komputer modern. Ia meletakkan satu per satu identitas ke dalam slot pemindai. Cahaya biru keunguan menyapu permukaan kartu, diikuti dengan bunyi—

BIP!

Pada layar, data nama, wajah, dan nomor identitas Niken, Abirama, serta seluruh timnya muncul lengkap, kemudian otomatis tersinkronisasi.

Dalam hitungan detik, data mereka terkirim. Di layar monitor, muncul logo dengan simbol V.I.P—sebuah jaringan gelap yang entah sebuah organisasi, komunitas, atau sindikat internasional, tak ada yang benar-benar tau.

Yang pasti, di berbagai penjuru dunia, ponsel milik orang-orang penting dari beragam negara bergetar serentak. Di layar ponsel mereka, sebuah pesan masuk—berisi foto Bella, Abirama, dan anggota tim lainnya. Di bawah setiap foto, sudah tertera angka, yakni harga nyawa mereka.

Dan sebuah pesan balasan masuk ke sistem penginapan Pulau Darasila, pesan dari username MR.KEE.

MR. KEE : “Perempuan itu untukku.”

*

*

*

1
Sriwahyuu
cepat sembuh author kesayangan kami😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
amiinnnn
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
jadi sedih otor. semoga ga ada yang bahaya yah. cepat sembuh dan pulih.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
belum taaauuuuu dia
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
izzz jabir kalilah kau babang.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar si babang, masih aja nakal
Anna
Cepet pulih mentor terbaikk kuhhhh, mau selama apapun Anda hiastus. Saya akan tetap setia menunggu 🫶
Anna
Dinda heyyyy tolong. Bahkan Mas Edwin saja di bikin semapot tanpa menyentuh ama Mbak Bella. 🤣
Anna
Definisi peduli tapi gengsi🫢🤣
jay naomi
semoga cepat sembuh semangat othor q.
Wenty Lucia Wardhani
cepat sehat author kesayangan....🥰🥰🥰
youyouen Rahayu
syafakillah kak semg ALLAH mengangkat segala penyakit kak author,diberikan kesehatan seperti semua dn bisa berkarya lagi,love you kak author semngtt sellu yaaa akn ku nanti setiap upnya,dengan sesabar mungkn,maaf ya kak author kalau aku sellu mengintip trs🙈🙈 di cerita ini.
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
😂😂
CallmeArin
semoga segera di angkat penyakitnya Thor 🤲🏻
Sayuri
aamiin ya Allah 🥺
Sayuri
y Allah kget q :(
k dehwa lekas sembuh 😩
Sayuri
kmu blm tw ja bu bella gmn din.. klo tau, bs trcngang
Sayuri
yg hcker kpal selam itu y tor?
Sayuri
/Joyful/
Sayuri
ber berbagi apa papa ed?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!